; Siapa yang Mengebom Rumah Sakit di Suriah? - Muslimah News

Siapa yang Mengebom Rumah Sakit di Suriah?

Tapi kami tahu siapa mereka dan kami tidak takut menyebut mereka: rezim Suriah dan Rusia.


MuslimahNews, FEATURE — Nama saya Rashed al-Ahmad. Saya seorang apoteker yang berasal dari Kurnaz, sebuah desa kecil di pedesaan provinsi Hama Suriah. Saya melarikan diri dari rumah saya bertahun-tahun yang lalu untuk menghindari penahanan atau pembunuhan oleh rezim karena menyediakan obat-obatan untuk para pengunjuk rasa yang terluka.

Pada tahun 2014, saya pindah dengan keluarga saya ke desa terdekat di luar kendali rezim yang bernama Kafr Nabouda dan mendapatkan pekerjaan di sebuah fasilitas kesehatan dasar. Saya bekerja di sana sampai satu setengah bulan yang lalu ketika rezim, yang didukung oleh Rusia, membombardir desa dan menghancurkan klinik, memaksa kami untuk melarikan diri lagi.

Saya dulu menghabiskan banyak waktu di tempat kerja, melakukan semua yang saya bisa untuk melayani komunitas baru saya. Saya tidak pernah berpikir bahwa Rusia dan rezim akan menargetkan kami. Klinik itu kecil dan sebagian besar pasien kami adalah anak-anak dan orang tua.

Sepuluh hari setelah serangan itu, dalam sebuah briefing kepada Dewan Keamanan PBB tentang serangan di Suriah barat laut, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat, Mark Lowcock, menyebut Kafr Nabouda, saat ia mendata fasilitas kesehatan di barat laut Suriah yang telah diserang. Saya berharap dia akan menyebut dan mempermalukan para pelaku, tetapi dia tidak melakukannya. Sejak pidato itu, dia masih belum mengutuk rezim Suriah atau pendukungnya, Rusia, yang bertanggung jawab atas penghancuran klinik.

Sekitar tiga tahun yang lalu, dokter di pusat kesehatan saya harus memutuskan apakah akan berbagi koordinat bangunan dengan PBB. Sebagai bagian dari mekanisme deconfliction (penetapan suatu area menjadi area terlarang bagi target/sasaran dalam perang/konflik), PBB berbagi koordinat fasilitas kemanusiaan dengan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik Suriah, termasuk rezim dan Rusia. Harapannya adalah bahwa kedua sekutu, satu-satunya yang memiliki kemampuan udara dalam konflik, kemudian akan menghindari menargetkan bangunan-bangunan ini.

Orang-orang di sini menceritakan lelucon tentang mekanisme deconfliction. Sebuah rumah sakit yang dilindungi oleh mekanisme itu justru dibom; PBB bertanya kepada Rusia apakah mereka melakukannya; Rusia mengatakan bahwa mereka tidak bermaksud membom rumah sakit tetapi toko roti di dekatnya.

Itu adalah humor gelap tetapi ini adalah kenyataan di Suriah di mana pemboman rumah sakit tampaknya tidak lagi menjadi kejahatan dan menyebut para pelaku tampaknya tidak lagi menjadi tugas PBB. Semua kejahatan dikaitkan dengan pelaku yang tidak dikenal, terlepas dari semua informasi, foto, dan kesaksian yang tersedia yang memberikan bukti jelas bagi siapa yang harus disalahkan.

Sejak konflik dimulai pada 2011, setidaknya ada 516 serangan terhadap fasilitas kesehatan yang dilakukan oleh rezim dan Rusia, menewaskan 890 pekerja medis.

Tiga perempat rumah sakit di Suriah utara dibangun setelah pemberontakan dimulai. Kami membangunnya dan telah membangunnya berkali-kali, karena rezim Suriah terus menerus membom mereka. Kami berjuang untuk melakukan ini setiap saat karena sumber daya yang terbatas, tetapi kami harus melakukannya, jika tidak, kami tidak dapat menyediakan layanan kesehatan dan kami membiarkan orang-orang dengan penyakit yang dapat diobati untuk mati.

Meskipun mengetahui risikonya, dokter kami mempercayai PBB dan percaya bahwa berbagi koordinat akan menjamin keamanan kami. Setelah banyak pertimbangan, tahun lalu mereka menghubungi PBB dan memberikan informasi yang dibutuhkan.

Dalam penjelasannya, Lowcock mengatakan bahwa 18 fasilitas kesehatan telah ditargetkan dalam dua minggu. PBB memiliki koordinat sembilan dari mereka (termasuk klinik kami) dan telah meneruskannya ke Rusia dan rezim. Lowcock dan timnya tahu betul siapa yang bertanggung jawab atas serangan itu, tetapi telah memilih untuk tidak menyebutkannya atau secara terbuka mempertanyakan efektivitas mekanisme deconfliction dan menyelidiki kemungkinan penggunaan data yang diberikan PBB untuk secara sengaja menargetkan fasilitas kemanusiaan.

Sejak 26 April, ketika Rusia dan rezim memulai kampanye pemboman mereka di Idlib dan provinsi Hama utara, 29 pusat kesehatan telah menjadi target dan 49 telah menangguhkan layanan mereka. Serangan udara terus-menerus telah memicu gelombang perpindahan kolektif lainnya, dengan 300.000 orang terpaksa mengungsi melintasi barat laut. Setidaknya 352 warga sipil telah terbunuh.

Istri saya, ketiga anak saya dan saya sekarang tinggal di sebuah kamp untuk pengungsi internal di dekat perbatasan Turki. Saya khawatir tentang orang-orang sakit di desa saya: di mana mereka sekarang dan bagaimana mereka merawat penyakit mereka? Apa yang akan terjadi pada pasien-pasien ini yang resepnya saya hafal?

Hari ini, saya hidup dengan hati nurani yang berat bahwa satu tahun yang lalu kami mungkin melakukan kesalahan dengan memberikan koordinat klinik kami kepada PBB. Sudah jelas sekarang bahwa institusi yang seharusnya melindungi kami, warga sipil, telah mengecewakan kita. Dan yang menambah perih terhadap luka kami adalah bahwa mereka bahkan tidak akan menyebut nama mereka yang mengebom kami, membunuh kami dan menghancurkan rumah, rumah sakit, dan sekolah kami setiap hari.

Tapi kami tahu siapa mereka dan kami tidak takut menyebut mereka: rezim Suriah dan Rusia.[] Al-Jazeera/Seraamedia

Bagaimana menurut Anda?