Ikhlas Bersedekah

Mereka bersedekah seperti orang yang tak pernah takut miskin. Sebaliknya, mereka jor-joran bersedekah justru karena takut banyaknya harta malah menjadi beban di akhirat. Mereka tak sempat lagi memikirkan balasan yang bakal Allah berikan. Apalagi sekadar balasan duniawi.


MuslimahNews.com — Banyak Muslim bersedekah dengan niat yang beragam. Juga dengan kadar keikhlasan yang berbeda.

Ada yang bersedekah karena berharap pujian. Sekadar untuk pencitraan. Ada yang karena faktor kepentingan: Pilkada, Pemilu, atau Pilpres, misalnya. Ada yang karena berharap dapat imbalan berupa pengembalian rezeki yang berlipat dari apa yang disedekahkan. Ada juga orang yang bersedekah karena berharap hajat atau kebutuhannya terwujud: lancar usaha, tembus tender/proyek, naik pangkat, lulus ujian, sembuh dari sakit, digampangkan jodoh, segera dapat momongan, dll.

Tentu benar. Allah SWT akan membalas amal sedekah kita berlipat ganda (Lihat, misalnya, QS al-Baqarah [2]: 261). Demikian pula yang dijelaskan oleh Baginda Nabi saw. dalam banyak hadisnya. Alhasil, tidak salah jika kita bersedekah dengan berharap balasan berlipat ganda, sebagaimana yang telah Allah SWT janjikan. Namun, jika bersedekah sebatas itu, biasanya: Pertama, sedekah yang dikeluarkan hanyalah sebatas untuk mendapatkan ’balasan’ yang kita inginkan. Kedua, tak selalu Allah membalas sedekah kita dengan balasan yang bersifat duniawi. Sebab boleh jadi balasannya dalam bentuk lain yang tidak kita ketahui (Lihat: Al-Haitsami, Majma’ az-Zawa’id, V/282). Ketiga, pada saat Allah SWT memberikan balasan tak sesuai harapan ’duniawi’ kita, sangat mungkin kita akan kecewa.

*****

Kadar keikhlasan orang bersedekah pun bisa berbeda-beda. Ada yang benar-benar ikhlas 100 persen. Ada yang kurang dari itu. Bahkan ada yang tidak ikhlas sama sekali. Tentu mengukur kadar keikhlasan orang bersedekah sulit bagi kita. Itu termasuk masalah hati. Itu bukan ranah yang bisa dinilai manusia. Apalagi Rasul Saw. pernah bersabda, “Umirtu an ahkuma bi zhâhir walLâhu yatawalla sara’ir.” (Musnad asy-Syafii). Intinya, kita hanya bisa menilai yang lahiriah. Ada pun yang tersembunyi (batiniah) hanya Allah yang bisa menilai.

Namun demikian, yang batiniah kadang tercermin dalam wujud lahiriahnya. Misal, kita tentu mengenal kepribadian agung Rasulullah Saw. dan para Sahabat Rasulullah Saw. Baik dari aspek ubudiah, muamalah, akhlak, dakwah, jihad, termasuk dalam bersedekah. Rasul Saw. dan para Sahabat tentu orang-orang yang ikhlas dalam beramal, termasuk dalam bersedekah, dengan kadar yang luar biasa.

Suatu ketika, misalnya, Baginda Nabi Muhammad Saw. mendapat hadiah harta dari kaum Fadak yang dibawa oleh empat ekor unta. Sebagian harta itu kemudian beliau gunakan untuk bayar utang yang sudah jatuh tempo. Bilal segera beliau tugasi untuk membayarkan utang tersebut, sementara beliau menunggu di masjid.

Setelah seluruh utang itu dibayar, Bilal segera kembali menemui beliau. Baginda Nabi Saw. kemudian bertanya, “Masih adakah harta yang tersisa?” “Ya, masih ada sedikit,” jawab Bilal. Beliau lalu memerintahkan, “Bagikanlah harta itu sampai habis hingga aku bisa merasa tenang. Aku tidak akan pulang ke rumah sebelum harta itu dibagikan semuanya.

Bilal pun pergi untuk membagi-bagikan harta yang tersisa kepada fakir miskin. Selepas shalat isya, Baginda Nabi Saw. bertanya lagi, “Masih adakah harta yang tersisa?” Bilal menjawab, “Masih, karena belum ada lagi orang yang memerlukannya.”

Baginda Nabi Saw. kembali tidur di masjid. Keesokan harinya, beliau bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama. Lalu dijawab oleh Bilal, “Tidak ada, ya Rasulullah. Allah telah memberkati Anda dengan ketenteraman jiwa. Semua harta itu telah habis dibagikan.” (Al-Kandahlawi, Fadhâ’il al-A‘mâl, hlm. 576)

Dalam riwayat lain, sebagaimana dituturkan oleh Anas ra.: Tidaklah Rasulullah Saw. dimintai apapun atas dasar Islam, kecuali beliau memberi. Pernah datang seseorang kepada beliau. Lalu beliau memberi dia harta sebanyak yang ada di antara dua gunung (karena begitu banyaknya harta yang diberikan, red.). Lalu orang tersebut kembali kepada kaumnya seraya berkata, “Wahai kaumku, masuk Islamlah kalian, karena sungguh Muhammad suka memberi dengan pemberian (yang banyak) seperti orang yang tidak pernah takut miskin.” (HR Muslim)

Tentu karena Baginda Rasulullah Saw. sendiri telah menegaskan, “Lâ yanqushu mâl[un] min shadaqat[in] (Harta tak akan berkurang sedikit pun karena sedekah).” (HR Muslim)

Bagaimana dengan Abu Bakar ra.? Semua tahu, ia adalah salah seorang Sahabat yang paling banyak berkorban harta untuk kepentingan dakwah dan jihad fi sabilillah. Sejak berhijrah bersama Rasulullah Saw., ia membawa seluruh hartanya sebanyak 6 ribu dirham (setara dengan Rp 350 juta). Tentu untuk keperluan perjuangan Islam.

Tengok pula Utsman bin Affan ra. Ia juga terkenal karena pengorbanan hartanya. Dalam Perang Tabuk ia pernah menyumbangkan 100 ekor unta dengan perlengkapannya (HR Ahmad). Bahkan menurut al-Baihaqi, itu ia lakukan sampai tiga kali sehingga total 300 unta beserta perlengkapannya (Lihat juga: Abu Nu’aim, Al-Hilyah, I/59).

Dalam kesempatan lain, Utsman bin Affan pernah menyumbang 10 ribu dinar (lebih dari Rp 20 miliar) untuk membantu Pasukan al-Usrah. Di luar itu, ia pernah menyedekahkan lagi 1000 dinar (lebih dari Rp 2 miliar) untuk biaya Perang ‘al-Usrah (HR al-Hakim) dan 700 uqyah emas (HR Abu Ya’la). Juga menyumbangkan 950 ekor unta dan 50 ekor kuda untuk Perang Tabuk (HR Ibn Asakir).

Tak kalah dengan Utsman ra., Abdurrahman bin Auf ra. pernah menjual tanahnya seharga 40 ribu dinar (lebih dari Rp 80 miliar). Seluruh hasil penjualan tanah itu ia bagi-bagikan kepada fakir-miskin, termasuk kepada para istri Nabi Saw. (HR al-Hakim). Ia pun pernah membebaskan sebanyak 30.000 budak wanita (HR Abu Nu’aim).

Pernah suatu saat Abdurrahman bin Auf datang ke Madinah sepulang berdagang dari Syam dengan membawa 700 ekor unta beserta barang-barang hasil dagangannya. Kabar tersebut sampai kepada Baginda Nabi Saw. Beliau lalu bersabda, “Aku melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dalam keadaan merangkak.” Sabda Rasul ini sampai ke telinga Abddurahman bin Auf. Ia lalu berkata, “Andai saja aku bisa masuk surga dengan cara berjalan.” Seketika, tanpa pikir panjang, ia segera menyedekahkan seluruh unta dan barang-barang hasil dagangannya itu yang baru saja tiba di Madinah (HR Ahmad).

Demikianlah fenomena sedekah Baginda Nabi Saw. dan para Sahabat yang mulia di atas. Mereka bersedekah seperti orang yang tak pernah takut miskin. Sebaliknya, mereka jor-joran bersedekah justru karena takut banyaknya harta malah menjadi beban di akhirat. Mereka tak sempat lagi memikirkan balasan yang bakal Allah berikan. Apalagi sekadar balasan duniawi.

Itulah cerminan dari kadar keikhlasan yang luar biasa dalam bersedekah. Sudahkah kita bersedekah—dengan kadar keikhlasan yang luar biasa—seperti mereka?

Wa mâ tawfîqi illâ bilLâh.[]

Apa komentar Anda?