Kebijakan-kebijakan Anti-Islam di Denmark akan terus Berlanjut, Apapun Hasil Pemilu

 

Yang menyedihkan adalah ketika umat Islam tidak menyadari hal ini. Tidak akan mendatangkan manfaat dari melawan perintah-perintah Allah SWT, dan berpartisipasi dalam pemilihan ini adalah legitimasi sistem kapitalis sekuler.


Oleh: Suliman Lamrabet

MuslimahNews, KOMPOL — Selama pemilihan parlemen di Dermak berlangsung, sorotan masif terhadap Rasmus Paludan telah menjadi tabir asap untuk banyak kaum Muslimin. Sementara kampanyenya berjalan ia membakar dan melempar salinan Alquran di berbagai bagian negara dan mengancam akan mendeportasi Muslim, politisi terkemuka, termasuk perdana menteri, telah menjauhkan diri darinya. Seyogyanya, karena kebijakannya tidak konstitusional. Seolah-olah konstitusi telah menghentikan pemerintah dari menyerang dan mendiskriminasi umat Islam, dan seolah-olah kita telah melupakan pelarangan niqab dan deportasi ke negara-negara menggunakan penyiksaan, kebijakan-kebijakan yang merupakan berhala-berhala palsu mereka, konstitusi dan konvensi internasional seharusnya mencegah dan melindungi.

Komentar:

Salah satu argumen sentral untuk mengajak umat Islam berpartisipasi dalam pemilihan adalah jika kita tidak melakukannya, maka kita bertanggung jawab atas arah perubahan masyarakat yang telah diambil, dan yang bisa menjadi lebih buruk di masa depan. Premis yang mendasarinya adalah bahwa kita umat Islam dapat mengubah realitas politik jika kita berpartisipasi dalam sistem.

Mayoritas di parlemen secara de facto mengnyampingkan konstitusi untuk menargetkan Muslim, dan kaum Muslim berharap mendapatkan kondisi lebih baik dengan Demokrat Sosial, Mette Frederiksen sebagai perdana menteri adalah hal yang sangat keliru. Dia telah mengumumkan niatnya untuk menutup semua sekolah Muslim! Dan ketika ditanya mengenai masalah konstitusional dia menjawab, “Hukum bukan ukuran yang eksak. Bagi kami, model spesifik tidak menentukan.

Kita juga ingat bahwa dia telah menyerang Imam dan menyatakan pertarungan melawan mereka. Jadi, tidak masalah perdana menteri mana yang terpilih, dia akan melakukan segala kekuatan untuk menargetkan kaum Muslimin. Hanya caranya yang berbeda. Perjuangan melawan Islam adalah kebijakan tetap dan umum.

Selanjutnya, Paludan, orang-orang ini akan tampak masuk akal dan sopan. Semua ini membantu untuk menjaga agar mitos tetap hidup, bahwa itu membuat perbedaan bagi umat Islam untuk memilih dalam sistem sekuler, yang menjadikan seseorang sebagai legislator, saat kenyataan jelas menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan dalam politik nyata dengan politik blok. Dan yang terpenting, mereka semua siap untuk mengubah kerangka hukum dan menantang apa yang disebut aturan hukum untuk memerangi Islam dan kaum Muslimin.

Buku yang baru-baru ini diterbitkan “Persons perish – power persists” adalah pemetaan elite kekuasaan di Denmark. Seperti di negara-negara kapitalis lainnya, itu menunjukkan bahwa kekuatan nyata dipusatkan di tangan sekelompok kecil orang dengan jaringan yang kuat dan koneksi yang erat di persimpangan antara bisnis, serikat pekerja dan politisi. Dalam beberapa kasus, hubungan tersebut secara khusus terbukti, ketika raksasa pengiriman Maersk menuntut pemberhentian perubahan pajak perusahaan yang diumumkan dan digunakan untuk melakukan kunjungan rutin ke perdana menteri. Sistem kapitalis telah membuat lingkungan penguasa memengaruhi arah politik negara, tergantung kepentingan mereka.

Yang menyedihkan adalah ketika umat Islam tidak menyadari hal ini. Tidak akan mendatangkan manfaat dari melawan perintah-perintah Allah SWT, dan berpartisipasi dalam pemilihan ini adalah legitimasi sistem kapitalis sekuler.[]Sumber

%d blogger menyukai ini: