; Ramadan Pergi, Apa Tanggung Jawab kita sebagai Muslim? - Muslimah News

Ramadan Pergi, Apa Tanggung Jawab kita sebagai Muslim?

Gangguan bisa datang dalam bentuk cinta dunia, berlari mengejar kesenangan materi hanya untuk terengah-engah karena menjadi haus yang tak terpadamkan. Gangguan lain mungkin terjadi ketika seseorang menjadi tidak dapat merasakan dekatnya ganjaran Jannah atau azab Neraka; akibat hilangnya jawwil iman (suasana iman dan ruhiyah). Gangguan berikutnya adalah keputusasaan dari Rahmat Allah.


Oleh: Manal Brader

MuslimahNews.com — Islam sebagai sebuah ideologi telah menentramkan hati dan menjawab pikiran yakni semua pertanyaan mendasar manusia, hal ini terbukti dengan banyaknya orang yang kembali memeluk Islam di seluruh dunia. Karena itu, kita sebagai umat Islam perlu menyadari bahwa waktu adalah esensi terpenting untuk “mengambil untung” dari amal terbaik dengan cara terbaik untuk membuat lingkaran lebih besar (dari umat yang sadar). Oleh karena itu langkah pertama adalah bagaimana mewujudkan tujuan ini dengan menjauhi gangguan (distraksi) yang nyata dan disengaja.

Apa saja gangguannya? Dan bagaimana kita tahu bahwa kita dipengaruhi oleh ganguan tersebut?

Gangguan bisa datang dalam bentuk cinta dunia, berlari mengejar kesenangan materi hanya untuk terengah-engah karena menjadi haus yang tak terpadamkan. Gangguan lain mungkin terjadi ketika seseorang menjadi tidak dapat merasakan dekatnya ganjaran Jannah atau azab Neraka; akibat hilangnya jawwil iman (suasana iman dan ruhiyah). Gangguan berikutnya adalah keputusasaan dari Rahmat Allah.

Setiap orang dimintai pertanggungjawaban oleh Allah bahwa kita sebagai Muslim diwajibkan menentang kekufuran, di saat yang sama kaum kafir menghabiskan waktu, tenaga, dan uang dalam jumlah yang tak terukur untuk memadamkan kebangkitan Islam dan menghilangkan ancaman Islam. Hal ini seharusnya lebih memberi motivasi bagi kita kaum Muslim untuk mengambil pelajaran dari para nabi di masa lalu dan para Sahabat ra tentang bagaimana melawan dan bertahan dalam penyebaran Islam. Sekaligus mendorong kita untuk menjadi lebih berani dan lebih percaya diri daripada sebelumnya dalam pemikiran Hizbut Tahrir yang diambil dari Akidah mendorong kita ke garis depan.

Keputusasaan adalah sesuatu yang harus kita tolak. Kita tidak boleh putus asa hanya karena seseorang tidak merasakan hasilnya segera atau apa yang sering mereka sebut sebagai “tertundanya Nushrah (kemenangan)”. Untuk menghilangkan perkataan ini, kita harus menolak ini dengan sepenuh hati… Karena kita sesungguhnya tidak tahu kapan “tanggal kadaluwarsa” atau penunjukan untuk itu dianggap tertunda. Namun klaim ini muncul dari kritik orang lain terhadap metodologi Hizbut Tahrir dan mereka yang menilai para pengemban dakwah dari Hizbut Tahrir. Rasulullah Saw memberi kita amanah (kepercayaan). Rasul bersabda:

«أَلا فَلْيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ مِنْكُمُ الْغَائِبَ ، فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ»
Hendaklah yang menyaksikan (ini) menyampaikan kepada mereka yang tidak hadir karena yang diinformasikan mungkin memahaminya (apa yang telah saya katakan) lebih baik daripada yang mendengar (langsung).”[]Fareastern Muslimah/ Sumber

Bagaimana menurut Anda?