Islam Tidak Fleksibel atau Lunak, Tidak Pula Berevolusi atau Berubah

Aturan-aturan dan Undang-undang Islam telah datang untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan dirinya sebagai manusia, dan mengatur hubungannya dengan Tuhannya melalui akidah dan ibadah, hubungannya dengan dirinya sendiri dalam urusan makanan dan pakaian, serta hubungannya dengan orang lain dalam pemerintahan, muamalah, pernikahan, dan peradilan.


Oleh: Bara’ah Manasrah

MuslimahNews, ANALISIS — Ketetapan dan kebijaksanaan Allah memutuskan bahwa junjungan kita Muhammad Saw adalah penutup para Nabi dan Rasul, dan risalahnya adalah risalah universal yang abadi bagi semua umat manusia. Allah SWT mengatakan:
وما أرسلناك إلا كافة للناس بشيرا ونذيرا
Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan…”[QS. Saba: 28]

Dan bahwa Din ini adalah Kebenaran yang menghilangkan kepalsuan, dan kebaikan yang menghancurkan kejahatan, seperti dijelaskan oleh At-Tabari dalam Tafsir-nya dari ayat:
هو الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا
Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.”(QS. Al-Fath: 28)

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Alquran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (QS. At Taubah: 33)

Ayat ini mengandung makna bahwa Dialah yang mengutus Rasul-Nya Muhammad Saw dengan bukti yang jelas, Din Kebenaran, yakni Islam, untuk menyeru ciptaan-Nya agar mengikutinya, untuk dimenangkan-Nya atas segala agama.

Melalui firman-Nya: ﴿هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ﴾ “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Alquran) dan agama yang benar.” [At-Taubah: 33] Allah SWT menyatakan bahwa Dialah yang mengutus Rasul-Nya Muhammad Saw dengan bukti yang nyata, Dinul Haq, yaitu Islam, untuk menyeru makhluk-Nya untuk mengikuti beliau. ﴿لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ﴾ “Untuk dimenangkan-Nya atas segala agama.” (At Taubah: 33)

Allah SWT menurunkan Din ini untuk menghancurkan semua keyakinan, sehingga tidak ada Din lain yang hadir kecuali Islam. Peristiwa itu akan terjadi ketika Isa bin Maryam turun lagi, dan membunuh Dajjal. Maka semua keyakinan akan menjadi tidak diterima kecuali Din Allah yang dikirim kepada Muhammad Saw, dan Islam akan menang atas semua agama. Dan firman-Nya ﴿وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيداً﴾ “Cukuplah Allah sebagai saksi” [Al-Isra: 96]. Dan Allah berfirman bahwa Dia menjadi saksi.

Allah SWT telah menyempurnakan Din-nya dan menyempurnakan risalah-Nya. Allah SWT berfirman:
﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِيناً﴾
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (QS. Al Maidah: 3)

﴿وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَاناً لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ﴾
Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. AN – Nahl 89)

Aturan-aturan dan Undang-undang Islam telah datang untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan dirinya sebagai manusia, dan mengatur hubungannya dengan Tuhannya melalui akidah dan ibadah, hubungannya dengan dirinya sendiri dalam urusan makanan dan pakaian, serta hubungannya dengan orang lain dalam pemerintahan, muamalah, pernikahan, dan peradilan.

Ajaran Islam dan hukum-hukumnya didasarkan pada pemisahan antara kebenaran dan kebatilan. Islam berusaha mengubah masyarakat secara mendasar, termasuk ajaran, ide-ide, adat dan sistem yang rusak, bukan dengan tambal sulam, bermanis muka atau terlibat dalam status-quo. Sejak hari pertama Rasulullah Saw menyebarkan dakwahnya, beliau menyeru manusia dengan teguh dan percaya diri. Beliau menghadapi kekufuran dan kaum kafir dengan kekuatan, keteguhan dan keberanian sempurna. Beliau menegakkan dakwah yang menantang melalui turunnya Alquran dengan ayat-ayat yang menyerang pemikiran, tuhan-tuhan dan jalan hidup kaum kafir yang buruk dan mencela tradisi dan adat mereka. Ketika merujuk pada berhala, Allah SWT berfirman:
﴿إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُونَ﴾
Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya.” (QS. Al Anbiya: 98)

Dan ketika Allah SWT merujuk pada taklid buta mereka kepada nenek moyang dan menyucikan apa yang mereka warisi, Allah SWT berfirman:
﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ﴾
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al Baqarah: 170)

Dan ketika Allah SWT membicarakan tentang muamalah yang rusak, Allah SWT mencela kecurangan dalam menimbang:
﴿وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ * الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ * وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ﴾
Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al Mutafifin: 1-3)

Ketika kaum Kafir berupaya untuk berkompromi dengan Rasulullah Saw, mereka menawarkan kepada beliau agar menyembah berhala-berhala mereka selama satu tahun dan mereka akan menyembah Allah SWT selama satu tahun berikutnya, jawaban beliau sangat teguh sebagaimana wahyu dari-Nya:
﴿قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ * لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ * وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ * وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ * وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ * لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ﴾
Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kaafiruun : 1-6)

Ketika pembesar Qurays menawarkan kepada Rasulullah Saw untuk menghentikan dakwahnya, beliau menjawab dengan tegas:
«يَا عَمُّ، وَاَللَّهِ لَوْ وَضَعُوا الشَّمْسَ فِي يَمِينِي، وَالْقَمَرَ فِي يَسَارِي عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يُظْهِرَهُ اللَّهُ، أَوْ أَهْلِكَ فِيهِ مَا تَرَكْتُهُ»

Wahai pamanku, Demi Allah. Seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, agar aku menghentikan dakwah ini, niscaya aku tidak akan menghentikan dakwah ini hingga Allah memenangkannya atau aku binasa.”

Kemudian berbagai suku menerima untuk memberi beliau dukungan (Nusrah) untuk mendirikan negara Islam dengan syarat bahwa mereka mengambil kekuasaan setelah beliau (wafat). Beliau tidak menerima hal tersebut. Karena hukum Allah tidak menerima kompromi dalam penerapan dan kedaulatannya, dan aturan Islam tidak fleksibel sampai-sampai harus disesuaikan dengan kenyataan dan diambil manfaatnya, serta sebagian darinya diambil sementara yang lain ditolak.
﴿أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ﴾
Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat..” (Al-Baqarah: 85)

Dan aturan-aturan Islam tidak berkembang untuk diubah dan dimodifikasi setiap kali keadaan berubah sehingga hukum Allah berubah seiring perubahan waktu atau tempat. Para Sahabat (ra) memahami makna ini; Abu Bakar ash-Shiddiq berperang melawan para murtadin. Beliau berkata, “Demi Allah, aku akan memerangi orang-orang yang memisahkan antara sholat dan zakat, dan demi Allah, jika mereka akan mencegahku mengambil kambing (untuk zakat) yang mereka berikan kepada Rasulullah, aku akan memerangi mereka karena tidak memberikannya.” Ini tidak berarti bahwa Islam tidak memiliki solusi untuk masalah-masalah yang muncul seirinh kehidupan manusia. Sebaliknya, Syariah datang dalam nash-nash dan dalil yang lebih umum, spesifik dan restriktif, sehingga para qadhi dapat mengekstraksi dalil-dalil syara pada masalah yang muncul setelah mempelajari realitasnya.

Islam tidak dibagi menjadi ekstrim dan moderat, tetapi Islam yang diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah adalah satu dan aturannya jelas di dalam Alquran dan Sunnah, namun label-label ini menyesatkan manusia dan mengacaukan mereka dari Diin yang sesungguhnya. “Islam Moderat” ditujukan kepada Islam yang berlandaskan pada negeri-negeri Barat, khususnya Amerika. Mereka ingin Islam dipersempit menjadi agama spiritual yang tak mempunyai sistem dan negara yang berasal darinya, menerima hukum buatan manusia, bukan Allah. Adapun “Islam Radikal” ditujukan untuk membiaskan gambaran tentang Islam dan menghubungkannya dengan kekerasan dan kerusakan untuk memukul mundur manusia darinya dan juga untuk memudarkan gambaran tentang Muslim yang mengemban ajaran Tuhannya yang tidak berkompromi dengan mereka

Dengan mempromosikan konsep-konsep Islam yang menyesatkan dan melenceng dari ketentuan syara ini, mereka ingin membuat Islam sesuai dengan aturan Kufur, menjadikan Islam dan Muslim tidak memiliki identitas yang jelas, dan bahwa Islam dan kaum Muslim tidak akan bangkit kembali untuk mengambil alih dan memimpin dunia lagi. Kaum kafir memahami bahwa kembalinya Islam kepada kekuasaan di bawah sebuah negara berarti kepunahan peradaban mereka dan keruntuhan negara-negara mereka, seperti apa yang terjadi dengan Persia dan Romawi sebelumnya. Kemudian orang-orang dan bangsa-bangsa akan berada di dalam wadah peleburan di bawah Islam dan diperintah oleh pemerintahan Islam, dan akan menyebabkan kembalinya negara Islam sebagai negara terkemuka yang tak terbantahkan di dunia. Mereka memang terus membuat makar, lagi dan lagi, tetapi Allah juga membuat makar-Nya, dan Allah adalah sebaik-baik Pembuat Makar. Dan janji Allah kepada kita tentang pemberdayaan dan suksesi (dalam kekuasaan) akan tercapai, insya Allah.

﴿وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ﴾
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)[]

#من_الظّلمات_إلى_النّور
#DarknessToLight
#KegelapanMenujuCahaya

Apa komentar Anda?