; Rezim Semakin Represif: Kriminalisasi Ulama dan Ormas Islam untuk Pecah Belah Umat - Muslimah News

Rezim Semakin Represif: Kriminalisasi Ulama dan Ormas Islam untuk Pecah Belah Umat

Umat Islam dihadapkan pada upaya adu domba oleh rezim. Situasi politik yang memanas jelang 22 Mei nanti, dalam situasi Ramadan, menjadi ajang untuk memecah belah umat. Upaya tersebut tampak dari kriminalisasi ulama.


Oleh: Ratu Erma R

MuslimahNews, FOKUS — Sejatinya, Ramadan adalah bulan meningkatkan ibadah, pengabdian pada Allah SWT. Setiap Muslim hendaknya bersikap taat kepada seluruh titah Allah SWT. Karena itu bulan Ramadan tidak saja dihiasi dengan ibadah individu tapi juga ibadah perjuangan untuk membela kepentingan umat Islam. Ibadah dakwah untuk menegakkan seluruh hukum Allah SWT. Karena perintah dari Allah untuk menerapkan hukum Islam secara totalitas, sudah sangat jelas dalam Alquran.

Namun upaya perjuangan ini, selalu menemui tantangan. Terutama dari pemimpin yang mengaku sebagai Muslim. Umat Islam dihadapkan pada upaya adu domba oleh rezim. Situasi politik yang memanas jelang 22 Mei nanti, dalam situasi Ramadan, menjadi ajang untuk memecah belah umat.

Upaya tersebut tampak dari kriminalisasi ulama. Mantan Ketua GNPF-MUI Bachtiar Nasir akan diperiksa Bareskrim sebagai tersangka dalam kasus tindak pidana pencucian uang. Bachtiar menilai penetapannya sebagai tersangka bersifat politis. Setelah itu upaya penangkapan Ustaz Haikal Hasan yang terpaksa terbang ke luar negeri, dan pelimpahan berkas perkara Gus Nur di pengadilan Palu. Ketiganya adalah ulama vocal yang rajin mengkritik kebijakan rezim.

Adanya penangkapan ulama dan tokoh 212, serta pernyataan yang provokatif terkait WNI keturunan Arab, diibaratkan seperti menyiram bensin di atas api. Mestinya pemerintah tidak melakukan tindakan represif.

Hal lain adalah upaya pembiaran terhadap beredarnya dua petisi online di awal Ramadan yang menggugat keberadaan HTI dan FPI. Yang satu ajakan untuk menyetujui tindak pengusiran HTI dan ajakan penolakan perpanjangan izin FPI. Alasannya adalah, FPI disebut kelompok radikal, pendukung kekerasan, dan pendukung HTI. Dan kita tahu bahwa ada kelompok dari umat Islam yang dipelihara rezim untuk melanggengkan kegundahan ini. Memprovokasi umat untuk menolak perjuangan kebangkitan Islam. Rezim merasa bahwa kriminalisasi menjadi alat ampuh untuk membungkam langkah dan suara umat. Tujuannya tidak lain, menghalangi kebangkitan Islam dan peran umat Islam dalam konstelasi politik nasional.

Wajib disadari bahwa sikap penguasa Muslim ini disebabkan oleh ideologi yang dianutnya. Meski mengaku Muslim, namun mereka menerima ide sekularisasi agama. Mereka meyakini bahwa jika agama Islam digunakan untuk mengatur urusan masyarakat akan menimbulkan mala petaka. Sebab mereka telah menjadikan orang-orang kafir sebagai teman dalam menjalankan peran mereka. Bahkan posisi Indonesia dalam kancah politik dunia sebagai negara pengekor Barat, menyebabkan kendali kebijakan politiknya di tangan kapitalis sekuler.

Allah telah mengigatkan dampak dari pertemanan dengan kafir dan sifat mereka dalam QS Ali Imran ayat 118: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi…

Musuh Islam senantiasa ingin bahwa umat ini jauh dari memahami Islam yang sebenarnya. Mereka sebarkan pemahaman, standar, nilai-nilai hidup dari ideologi mereka. Dan melakukan penyesatan terhadap syari’ah Islam. Agar alam berpikir umat Islam dilingkupi ide dan pemahaman kapitalis sekuler. Agar mereka selanjutnya bisa menguasai segala kebaikan dari sumber daya alam negeri Muslim.

Demi tujuan itu, mereka melancarkan strategi dengan :(1) Mencengkram pemimpin Muslim untuk mengeluarkan kebijakan politik yang menguntungkan musuh dan merugikan umat Islam. (2) Memberdayakan tokoh agama yang rida dengan sekularisasi untuk mengacaukan umat. (3) Menguasai media untuk menutupi mata dan telinga umat dari kebenaran sejati. (4) Mengekalkan ketergantungan negeri Muslim kepada asing dengan hutang berdalih investasi. (5) Memanfaatkan ketidaktahuan umat terhadap ideologi Islam hakiki, dengan penyesatan berpikir.

Karenanya umat wajib menyadari bahwa seluruh kekacauan dan pelecehan umat Islam pangkalnya adalah sebab pengaturan politik sekuler oleh rezim yang dikendalikan musuh Islam. Sistem demokrasi yang dijajakan Barat ke negeri Muslim adalah pangkal masalah.

Demokrasi kapitalis tidak menghendaki Islam bangkit dan memimpin. Islam hanya ditempatkan pada area sangat individual. Tak ada larangan untuk salat, zakat, sedekah, puasa, haji. Jika pun Muslim berbisnis, akan diawasi. Jika Islam tampil dalam urusan politik publik, diharuskan menggunakan topeng, sehingga berwajah moderat. Bukan wajah asli Islam yang sebenarnya. Sebab hukum-hukum politik publik semisal Khilafah, hukum sanksi, hukum pergaulan sosial, ekonomi, hukum jihad, dsb harus disembunyikan dari umat. Dilakukan dengan cara penyesatan berpikir, yaitu hukum-hukum tersebut dikesankan ‘garang’ karena akan mengancam perdamaian dan keamanan dunia.

Upaya mereka menjegal Islam sangat serius dan sungguh-sungguh. Baik melalui penjajahan fisik dan juga pemikiran. Ketika mereka bersungguh-sungguh menjegal Islam, maka kita pun wajib kuat berkonfrontasi. Bukan dengan peperangan fisik, tetapi dengan shira’ul fikri (pergulatan pemikiran), kita lawan seluruh penyesatan terhadap pemahaman Islam, kita ungkap strategi penjajahan mereka dan menyusun dukungan umat Islam yang telah memahami hakikat Islam sebagai idelogi. Dan pertarungan ini baru akan berakhir hingga Islam menang dengan izin Allah.

Perjuangan hakiki kita adalah mengembalikan Islam pada posisinya, sebagai ideologi saheh yang mengatur percaturan hidup manusia di dunia.
Ramadan, bulan turunnya Alquran sumber hukum kehidupan dunia, menjadi reminder kewajiban umat tertinggi yaitu dakwah mengembalikan kehidupan Islam dalam naungan Khilafah.[]

Sumber gambar: Gelora News

Bagaimana menurut Anda?