; Pemimpin dalam Islam, Demokratis??? - Muslimah News

Pemimpin dalam Islam, Demokratis???

Jika kemudian disimpulkan bahwa Rasulullah adalah pemimpin demokratis atau bahkan dikatakan bahwa Rasulullah mengajarkan apa yang kita kenal saat ini dengan istilah demokrasi, maka sungguh tidaklah tepat. Karena sesungguhnya demokrasi merupakan sebuah istilah yang memiliki makna dan pemahaman tertentu, yang jika kita cermati justru bertentangan dengan Islam.


Oleh: Najmah Saiidah

MuslimahNews FOKUS — Sebuah tulisan menarik, yang memaparkan tentang kepemimpinan Rasulullah Saw di Republika.co.id, Nabi Muhammad Saw merupakan suri teladan yang sempurna. Semua pemimpin hingga akhir zaman seyogyanya meniru sifat-sifat beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Dalam tulisan tersebut menyebut bahwa Rasulullah Saw mengajarkan demokrasi dan digambarkan bagaimana Rasulullah Saw adalah pemimpin yang demokratis, memosisikan manusia berkedudukan sama di hadapan Allah. Pembedanya hanyalah iman dan ketakwaan. Rasulullah Saw meluruhkan kasta-kasta sosial yang selama ini membelenggu masyarakat Arab. Dalam statusnya sebagai pemimpin, Rasulullah Saw ikut membangun masjid Quba, mesjid pertama umat Islam bersama dengan para sahabat dan kaum Muhajirin serta kaum Anshar. Dengan tangannya sendiri, Sang Kekasih Allah itu memindahkan batu, menggali tanah, dan meletakkan pondasi untuk terwujudnya rumah ibadah itu. Selama di Madinah, Rasulullah Saw selaku pemimpin politik dan spiritual memantapkan penerapan Islam di tengah masyarakat yang heterogen. Keberagaman disatukannya melalui persaudaraan (ukhuwah) di dalam iman dan agama. (Republika.co.id, 24 April 2019)

Ada hal yang menarik yang harus kita cermati dalam tulisan tersebut, apa yang dipaparkan tentang gambaran kepemimpinan Rasulullah Saw pada tulisan tersebut benar adanya. Hanya saja jika kemudian disimpulkan bahwa Rasulullah adalah pemimpin demokratis atau bahkan dikatakan bahwa Rasulullah mengajarkan apa yang kita kenal saat ini dengan istilah demokrasi, maka sungguh tidaklah tepat. Karena sesungguhnya demokrasi merupakan sebuah istilah yang memiliki makna dan pemahaman tertentu, yang jika kita cermati justru bertentangan dengan Islam.

Padahal apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw seluruhnya bersumber dari wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT kepada. beliau, sehingga bisa dipastikan tidak akan bertentangan dengan Islam. Dari sini saja, dapat kita simpulkan bahwa tidak mungkin Rasulullah mengajarkan demokrasi, karena demokrasi bertentangan dengan Islam. Rasulullah terjaga dari hal demikian.

Demokrasi Bertentangan dengan Islam

Demokrasi merupakan lafadz dan istilah Barat yang digunakan untuk menunjukkan pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat. Rakyat dianggap penguasa mutlak dan pemilik kedaulatan, yang berhak mengatur urusannya sendiri, serta melaksanakan dan menjalankan kehendaknya sendiri. Rakyat tidak bertanggung jawab kepada kekuasaan siapapun, selain kekuasaan rakyat. Rakyat berhak membuat peraturan dan Undang-undang sendiri –karena mereka adalah pemilik kedaulatan– melalui para wakil rakyat yang mereka pilih. Rakyat berhak pula menerapkan peraturan dan undang-undang yang telah mereka buat, melalui para penguasa dan hakim yang mereka pilih dan keduanya mengambil alih kekuasaan dari rakyat, karena rakyat adalah sumber kekuasaan. Setiap individu rakyat –sebagaimana individu lainnya– berhak menyelenggarakan negara, mengangkat penguasa, serta membuat peraturan dan undang-undang.

Demokrasi tegak atas 4 prinsip kebebasan, yaitu kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan kepemilikan, kebebasan bertingkah laku. Demokrasi harus mewujudkan kebebasan tersebut bagi setiap individu rakyat, agar rakyat dapat melaksanakan kedaulatanya dan menjalankannya sendiri.

Sedangkan Islam sangat bertolak belakang dengan demokrasi dalam hal ini. Islam berasal dari Allah, yang telah diwahyukan-Nya kepada rasul-Nya Muhammad Saw, bukan buatan manusia. Islam menyatakan bahwa kedaulatan adalah di tangan syara’, bukan di tangan umat. Sebab, Allah SWT sajalah yang layak bertindak sebagai Musyarri’ (pembuat hukum). Umat secara keseluruhan tidak berhak membuat hukum, walau pun hanya satu hukum saja. Setiap Muslim dalam berbuat dan bertingkah laku wajib untuk mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Tidak berhak untuk membuat aturan sekehendaknya.

Dari penjelasan ini semakin jelaslah bahwa kepemimpinan yang diajarkan Rasulullah Saw bukanlah demokratis dan Rasulullah pun tidak mengajarkan demokrasi. Tetapi apa yang dilakukan Rasulullah sebagai pemimpin umat Islam, semata-mata adalah menjalankan apa yang yang diperintahkan oleh Allah SWT. Demikian halnya apa yang dilakukan oleh Khulafaur Rasyidin, Khalifah sepeninggal Rasulullah Saw, mereka menjalankan kekuasaan semata-mata menjalankan apa yang diperintahkan Allah dan yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Pemimpin dalam Islam

Pemimpin di masa Islam tegak, memahami bahwa tanggung jawab itu dunia akhirat. Artinya, di dunia dia bertanggung jawab atas nasib rakyat. Dia wajib menjaga agama rakyatnya supaya tetap dalam tauhid dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Dia juga wajib memelihara agar urusan sandang, pangan, dan papan rakyatnya bisa tercukupi. Demikian juga kebutuhan kolektif mereka seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan terjaga. Sehingga rakyat bisa mengeluh kepada Imam daerah bilamana kebutuhan mereka tak tercukupi atau kepada Imam negara ketika Imam daerah abai pemeliharaan terhadap kebutuhan mereka. Mereka juga paham bahwa tanggung jawab mengurus urusan rakyat ini akan dimintai pertanggungjawabannya hingga ke akhirat.

Rasulullah Saw. menegaskan dalam sebuah riwayat hadits, “Tidaklah seorang manusia yang diamanati Allah SWT untuk mengurus urusan rakyat lalu mati dalam keadaan dia menipu rakyatnya melainkan Allah mengharamkan surga bagi dia.”(HR. Bukhari).

Khalifah Umar r.a, pernah berkata : “Aku sangat khawatir akan ditanya Allah SWT kalau seandainya ada keledai terpeleset di jalanan di Irak, kenapa aku tidak sediakan jalan yang rata”. Ungkapan tersebut menunjukkan kesadaran khalifah Umar bin Khaththab yang sangat tinggi terhadap nasib rakyatnya. Kalau keledai jatuh saja beliau sangat takut, apalagi bila manusia yang jatuh akibat jalan yang tidak rata.

Begitulah, ketika sistem Islam diterapkan secara sempurna sebagai panggilan akidah, kita akan menemukan berbagai kebaikan, kesejahteraan dan keadilan serta kepedulian para pemimpin. Kitapun akan melihat pemimpin-pemimpin yang dicintai dan mencintai rakyatnya yang kemudian bersama-sama mencintai Allah SWT. dan Rasul-Nya, serta saling berwasiat dalam ketaqwaan dan saling menasehati dalam kesabaran. Sangat kontras dengan era kepemimpinan saat ini.

Jika seorang penguasa bertakwa kepada Allah, takut kepadaNya dan selalu merasa terawasi oleh-Nya dalam keadaan rahasia dan terang-terangan maka semua itu akan mencegahnya bersikap tirani terhadap rakyatnya. Meskipun demikian, takwa tidak menghalanginya bersikap tegas dan disiplin. Karena, dalam penjagaannya terhadap Allah, dia senantiasa berpegang pada perintah dan larangan-Nya.

Allah memerintahkan seorang penguasa untuk bersikap lemah lembut dan tidak menyusahkan rakyatnya. Diriwayatkan dari Aisyah : Aku mendengar Rasulullah saw bersabda : “Ya Allah, barangsiapa memimpin umatku, lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkan dia. Barangsiapa memimpin umatku lalu dia bersikapmlemah lembut terhadap mereka, maka bersikaplah lemah lembut terhadapnya.“ (HR Muslim)

Allah pun memerintahkan seorang penguasa agar menjadi pemberi kabar gembira dan agar dia tidak menimbulkan antipati. Diriwayatkan dari Abu Musa, dia berkata: dulu Rasulullah Saw jika mengutus seseorang dalam suatu urusan, beliau bersabda : “Berilah kabar gembira dan jangan menimbulkan antipati. Mudahkanlah dan jangan mempersulit”.

Demikianlah gambaran seorang pemimpin yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ini semua akan dapat kita saksikan dalam sistem Khilafah yang menerapkan syariah Islam secara sempurna. Allahu a’lam bi ash-shawab.[]

Bagaimana menurut Anda?