; Film Kucumbu Tubuh Indahku: Seni Bebas ala Demokrasi - Muslimah News

Film Kucumbu Tubuh Indahku: Seni Bebas ala Demokrasi

Kebebasan yang kemudian dilegitimasi dalam konsep HAM oleh PBB, di antaranya menjamin kebebasan berekspresi dan kebebasan individu. Kebebasan ini memberikan hak bagi setiap orang untuk menampakkan apa pun yang diinginkannya, berkesenian, mengambil budaya, bahkan menjadi apapun sekalipun bertentangan dengan nilai-nilai agama.


Oleh: Arini Retnaningsih

MuslimahNews, FOKUS — Meski digoyang kontroversi soal LGBT beberapa hari terakhir ini, produser, sutradara dan rumah produksi Kucumbu Tubuh Indahku tetap merasa film tentang perjalanan hidup seorang penari Lengger Lanang itu harus ditayangkan. (cnnindonesia.com, 02/05/2019)

Di beberapa tempat film ini telah dilarang beredar seperti di kota Depok, diikuti Palembang, Pontianak, Garut dan Kubu Raya di Kalbar. Di tempat lain, muncul tuntutan film ini turun layar seperti di Bekasi, Bogor dan Balikpapan. Bahkan beredar petisi mengenai larangan film tersebut diputar di bioskop di Indonesia yang ditanda tangani oleh 72 ribu orang. (beritautama.net, 26/04/2019)

Berbagai penolakan terhadap film ini disebabkan konten film yang bernuansakan LGBT. Film Kucumbu Tubuh Indahku itu mengisahkan tentang perjalanan penari Lengger Lanang bernama Juno di sebuah desa kecil di Jawa. Sebuah perjalanan tubuh yang membawa Juno menemukan keindahan tubuhnya.(Tirto.id)

Menanggapi aksi boikot terhadap film yang digarapnya, sang sutradara Garin Nugroho mengaku prihatin atas fenomena penghakiman massal tanpa dialog tersebut. Bahkan menurut dia, petisi atau pelarangan menonton sebuah karya seni (film) telah mengancam demokrasi.

Bagi saya, kehendak atas keadilan dan kehendak untuk hidup bersama dalam keberagaman tanpa diskriminasi dan kekerasan tidak akan pernah dibungkam dan oleh apapun, baik senjata hingga anarkisme massal tanpa proses keadilan,” kata dia (Republika.co.id, 25 April 2019)

Menurut Ifa sang produser film, tari Lengger Lanang yang ditampilkan adalah budaya asli Indonesia. Disebut-sebut budaya itu sudah ada sejak abad ke-18, bahkan tertulis di Serat Centhini. Dengan latar belakang bertema menumbuhkan spirit keberagaman budaya inilah film Kucumbu Tubuh Indahku berhasil memenangi Bisato D’oro Award dari Venice Independent Film Critic, Italia (2018), meraih penghargaan Film Terbaik di Festival Des 3 Continents, Prancis (2018), juga merebut hati juri Guadalajara International Film Festival di Meksiko (2019). Film itu pun mendapat anugerah dari UNESCO dalam Asia Pasific Screen Awards di Australia pada 2018. Hingga kini, tercatat film itu sudah diputar di setidaknya 31 festival film internasional. (cnnindonesia.com, 02/05/2019)

Ironis memang, di luar negeri film ini panen penghargaan namun di dalam negeri justru menuai hujatan. Inilah yang terjadi ketika standar yang dipakai adalah demokrasi.

Kebebasan Demokrasi yang Kebablasan

Kebebasan, atau disebut oleh Fareed dalam bukunya The Future of Freedom sebagai liberalisme konstitusional, merujuk pada tradisi Barat yang berupaya menjamin individu lepas dari tekanan pemerintah, agama, dan masyarakat. Kebebasan ini lantas diadopsi dalam sistem demokrasi yang dikembangkan Barat dan diekspor ke negeri-negeri lain tak terkecuali negeri Muslim seperti Indonesia.

Kebebasan yang kemudian dilegitimasi dalam konsep HAM oleh PBB, di antaranya menjamin kebebasan berekspresi dan kebebasan individu. Kebebasan ini memberikan hak bagi setiap orang untuk menampakkan apa pun yang diinginkannya, berkesenian, mengambil budaya, bahkan menjadi apapun sekalipun bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Karena itu tidak aneh jika orang memproduksi film berkonten LGBT yang mereka anggap sebagai salah satu hak dasar manusia. Dan tidak aneh pula film semacam ini mendapat banyak penghargaan internasional karena sesuai dengan nilai yang hendak mereka aruskan di negeri-negeri Muslim. Penghargaan ini merupakan semacam motivasi bagi negeri-negeri Muslim untuk memproduksi film-film sejenis.

Padahal sungguh ide kebebasan ini sangat absurd bila dikaitkan dengan hak asasi. Kebebasan ekspresi seksual misalnya. Bila kebebasan ini diakui, maka tidak hanya akan menimbulkan kerusakan seperti penyebaran HIV/AIDS, terputusnya keturunan dan sebagainya, namun juga melanggar hak orang lain. Mengapa? Pada dasarnya setiap orang punya hak juga untuk hidup bersih, lurus dan tidak mengalami penyimpangan seksual. Namun yang terjadi, para homo dan lesbi ini “menularkan” penyimpangan seksual mereka dengan melakukan sodomi dan hubungan lain pada orang yang bersih. Maka menjaga kebebasan mereka berarti melanggar hak kebebasan orang lain.

Inilah salah satu kelemahan bila aturan dibuat oleh manusia seperti halnya dalam demokrasi. Aturan tersebut belum tentu akan membawa kebaikan bagi semua orang. Bahkan bisa menghasilkan bencana besar bagi umat manusia.

Di antara bencana paling mengerikan yang menimpa seluruh umat manusia, ialah ide kebebasan individu yang dibawa oleh demokrasi. Ide ini telah mengakibatkan berbagai malapetaka secara universal, serta memerosotkan harkat dan martabat masyarakat di negeri-negeri demokrasi sampai ke derajat yang lebih hina daripada derajat segerombolan binatang!” (Al-’Allamah as-Syaikh Abdul Qadim Zallum)

Berbeda halnya jika aturan tersebut berasal dari yang menciptakan manusia, yang paling tahu karakter, sifat dan watak manusia. Paling tahu kelebihan dan kekurangan manusia. Aturan ini pasti akan membawa kebaikan pada manusia. Manusia hanya perlu yakin dan taat saja.

Karena itulah, sudah saatnya kita mencampakkan sistem demokrasi beserta segala idenya dan menggantikannya dengan aturan Allah, yaitu syariat Islam yang rahmatan lil’aalamiin.

Seni Budaya dalam Pandangan Islam

Ketika Rasulullah Saw diangkat sebagai Nabi, di jazirah Arab telah berkembang berbagai seni dan kebudayaan. Ada seni dan budaya yang beliau pertahankan, namun ada juga seni dan budaya yang ditinggalkan. Rasulullah Saw tetap melestarikan budaya memakai gamis dan surban bagi para lelaki, tapi beliau menyuruh perempuan meninggalkan budaya berpakaian terbuka dan menjadikan jilbab sebagai pakaian muslimah seperti yang Allah perintahkan. Beliau juga membolehkan permainan di hari raya, memainkan rebana di pesta pernikahan dan sebagainya. Namun Rasulullah Saw melarang patung-patung dan menggambar obyek bernyawa. Beliau juga melarang upacara meminta hujan dan menggantinya dengan shalat istisqa’.

Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah Saw berpatokan kepada syariat Allah dalam mempertahankan atau menghapuskan suatu seni budaya. Bila budaya tersebut tidak bertentangan dengan hukum Allah beliau tetap perbolehkan. Namun budaya yang mengandung kemaksiatan, kesyirikan dan dosa beliau larang.

Seperti inilah seharusnya sikap yang kita ambil dalam menghukumi suatu budaya dan seni. Budaya tarian lengger lanang, jelas bertentangan dengan syariat Islam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
لَعَنَ رَسُولُ اللهِ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat lelaki yang berpakaian seperti model pakaian wanita dan (melaknat) wanita yang berpakaian seperti lelaki.” (HR. Abu Dawud no. 4098, Ahmad 2/325)

Hadits ini diriwayatkan Ibnu Majah (no. 1903) dengan lafadz, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat wanita yang menyerupai lelaki dan (melaknat) lelaki yang menyerupai wanita.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,
لَعَنَ رَسُولُ اللهِ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat lelaki yang menyerupai wanita dan (melaknat) wanita yang menyerupai lelaki.” (HR. al-Bukhari no. 5885)

Inilah salah satu cara Islam menjaga kelurusan fitrah manusia. Laki-laki tetap dalam kelelakiannya dan perempuan tetap dalam keperempuanannya. Menyerupai saja tidak boleh apalagi meleburkan tubuh dalam dua identitas gender sekaligus, maskulin dan feminin.

Maka film Kucumbu Tubuh Indahku tampak sekali telah mengabaikan hukum-hukum Islam, khas paham sekuler yang menolak agama mengatur kehidupannya.

Memproduktifkan Seni dan Budaya

Islam tidak melarang umatnya dari seni dan budaya. Sebagaimana dalam riwayat Bukhari,
Orang-orang Habasyah bermain-main dengan alat-alat perang mereka. Rasulullah pun membentangkan sutrah agar mereka tidak melihat aku (‘Aisyah) sedangkan aku menonton mereka. Terus demikian sampai akhirnya aku (‘Aisyah) enggan melihat lagi.” (HR. Bukhari no. 5190)

Dikisahkan pernah suatu ketika Rasulullah didatangi seorang wanita bernama Shabihah ‘Arsy dan ia menabuh rebana di samping Rasulullah Saw. lantas Rasulullah Saw membiarkannya. Kisah lainnya tentang penyambutan kepada Rasulullah oleh para wanita Bani Najjar saat datang ke Madinah dan mereka menabuh rebana sembari menyanyikan dengan suara keras syair : “Kami adalah wanita dari Bani Najjar, Oh beruntungnya Muhammad sebagai tetangga.” Nabi Saw lantas menjawab: “Allah Maha mengetahui bahwa aku mencintai kalian.” Hal ini tidak lain merupakan bentuk ekspresi kebahagiaan mereka bisa melihat Rasulullah Saw. Dalam Hadits lain Rasulullah Saw bersabda : “Syiarkanlah pernikahan dan tabuhlah rebana.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Ulama telah sepakat akan kebolehan menabuh rebana, sebagaimana DR. Wahbah Az-Zuhaili menyebutkan dalam Fiqh Al-Islami juz 3 hal. 574: “Diperbolehkan menyenandungkan lagu yang mubah dan memukul rebana pada pernikahan berdasarkan Hadits Nabi “Syiarkan pernikahan dan mainkanlah rebana.

Abdurrahman Al Baghdadi (1991) menjelaskan panjang lebar tentang hukum seni dalam pandangan Islam. Bila tidak ada nash-nash yang secara jelas melarang, maka seni dan budaya adalah mubah jika digunakan dalam hal yang juga dibolehkan. Sebaliknya bila seni mengandung unsur-unsur haram atau mengantarkan pada keharaman maka hukumnya juga haram. Misalnya bermain musik sampai melupakan shalat, atau bernyanyi dengan lagu-lagu yang mengundang syahwat.

Dengan demikian dalam Islam, seni dan budaya harus memiliki nilai produktif. Misalnya, digunakan sebagai salah satu metode dakwah. Kita sering melihat bagaimana anak-anak bisa menghafal gerakan wudhu dengan cepat dengan menyanyikannya. Atau belajar bahasa Arab dengan melagukan perubahan tashrif pada ilmu nahwu dan sebagainya.

Begitupun lagu bisa dijadikan sebagai pembangkit semangat dan motivasi sebagaimana Rasulullah Saw dan para shahabat bernasyid saat menggali parit di Perang Khandaq.

Begitupula hukum film. Jika tidak ada konten dan proses pembuatan film yang bertentangan dengan hukum syara’ maka film adalah suatu hal yang mubah. Dan akan memiliki nilai produktif bila film ini dijadikan sebagai sarana pendidikan bagi kaum Muslimin dan dakwah Islam.[]

Bagaimana menurut Anda?