; Khilafah Mengancam Keberagaman, Hoax yang Jahat - Muslimah News

Khilafah Mengancam Keberagaman, Hoax yang Jahat

Sejak Islam dan Khilafah hilang dari realitas kehidupan umat akibat konspirasi Barat dan para anteknya, keindahan Islam ini tak lagi nampak. Bahkan selama ini Islam dan Khilafah terus difitnah sebagai agama sumber kekerasan dan sumber konflik berkepanjangan.


MuslimahNews, EDITORIAL — Salah satu narasi negatif yang berkembang di tengah umat tentang Khilafah adalah bahwa Khilafah mengancam keberagaman. Atas dasar itulah, sebagian kalangan mempropagandakan bahwa Khilafah tak mungkin diterapkan di Indonesia dan dunia yang plural. Bahkan ide ini harus ditolak mentah-mentah karena akan menjadi sumber intoleransi, biang perpecahan bahkan memicu pertumpahan darah di tengah rakyat. Namun, benarkah demikian?

Khilafah adalah ajaran Islam.
Didefinisikan sebagai kepemimpinan umum atas kaum Muslim di seluruh dunia yang akan menerapkan hukum-hukum Islam secara kaffah di berbagai aspek kehidupan.

Khilafah merupakan sistem pemerintahan warisan Rasulullah Saw yang telah tegak menaungi umat manusia di dunia selama belasan abad. Bahkan Khilafah berhasil tampil sebagai role model sistem kenegaraan yang mampu memberi manfaat dan kebaikan bagi umat non Muslim, baik yang memilih hidup sebagai warga negara sebagai ahludz dzimmah, maupun yang hidup di luar negara Khilafah sebagai muahid (yang terikat perjanjian), serta musta’min (yakni orang kafir yang masuk ke negeri Islam dengan jaminan).

Kehebatan Khilafah banyak dicatat dalam sejarah peradaban bangsa-bangsa di dunia. Hanya saja, musuh-musuh Islam terutama dari kalangan negara pengemban kapitalisme terus berusaha menyembunyikan sejarah ini rapat-rapat.

Mereka bahkan terus menebar stigma negatif dan virus fobia tentang Islam dan Khilafah demi menjauhkan umat dari cita-cita mengembalikannya dalam realitas kehidupan. Mereka berharap umat Islam tetap hidup dalam dominasi sistem kufur dan orang kafir, karena hanya dengan cara itulah, penjajahan kapitalisme atas dunia Islam yang kaya raya akan terus berlangsung dengan aman tanpa perlawanan.

Ada beberapa sejarawan yang telah dengan sangat baik menggambarkan kehebatan Khilafah dalam menjamin kesejahteraan, menyelesaikan problem pluralitas dan memberi model toleransi tingkat tinggi. Di antaranya adalah Thomas Walker Arnold, seorang sejarawan berkebangsaan Inggeris yang hidup antara tahun 1864 hingga 1930.

Dalam bukunya yang terkenal, The Preaching of Islam, Arnold menuliskan bagaimana perlakuan yang diterima oleh non-Muslim yang hidup di bawah pemerintahan Daulah Utsmaniyah. Dia menyatakan, “Sekalipun jumlah orang Yunani lebih banyak dari jumlah orang Turki di berbagai provinsi Khilafah yang ada di bagian Eropa, toleransi keagamaan diberikan pada mereka, dan perlindungan jiwa dan harta yang mereka dapatkan membuat mereka mengakui kepemimpinan Sultan atas seluruh umat Kristen”.

Arnold juga menjelaskan; “Perlakuan pada warga Kristen oleh pemerintahan Ottoman -selama kurang lebih dua abad setelah penaklukkan Yunani- telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa. Kaum Kalvinis Hungaria dan Transilvania, serta negara Unitaris (kesatuan) yang kemudian menggantikan kedua negara tersebut juga lebih suka tunduk pada pemerintahan Turki daripada berada di bawah pemerintahan Hapsburg yang fanatik; Kaum protestan Silesia pun sangat menghormati pemerintah Turki, dan bersedia membayar kemerdekaan mereka dengan tunduk pada hukum Islam. Kaum Cossack yang merupakan penganut kepercayaan kuno dan selalu ditindas oleh Gereja Rusia, menghirup suasana toleransi dengan kaum Kristen di bawah pemerintahan Sultan.

Selain Arnold, William James Durant (1885-1981), seorang sejarawan berkebangsaan Amerika dalam buku yang dia tulis bersama Istrinya Ariel Durant, The Story of Civilization, juga mengatakan, “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka.

Di luar Arnold dan Will Durrant, ada pula Mary McAleese, Presiden ke-8 Irlandia yang menjabat dari tahun 1997 sampai 2011. Dia juga seorang anggota Delegasi Gereja Katolik Episkopal untuk Forum Irlandia Baru pada 1984 dan anggota delegasi Gereja Katolik ke North Commission on Contentious Parades pada 1996. Dalam pernyataan persnya terkait musibah kelaparan di Irlandia pada tahun 1847 (The Great Famine), yang membuat 1 juta penduduknya meninggal dunia. Terkait bantuan itu, Mary McAleese berkata:

Sultan Ottoman (Khilafah Utsmani) mengirimkan tiga buah kapal, yang penuh dengan bahan makanan, melalui pelabuhan-pelabuhan Irlandia di Drogheda. Bangsa Irlandia tidak pernah melupakan inisiatif kemurahan hati ini. Selain itu, kita melihat simbol-simbol Turki pada seragam tim sepak bola kita.”

***

Jika diteliti lebih lanjut maka akan ditemukan banyak sekali catatan sejarah emas Khilafah atau negara Islam dalam menciptakan harmoni dan kebahagiaan hidup, bukan saja bagi warga Muslim tapi juga kaum non muslim yang hidup sebagai warga negara Islam. Kalaupun ada catatan kelam perlakuan negara kepada entitas non Muslim yang sering dijadikan alasan untuk menolak gagasan Khilafah seperti yang terjadi pada entitas yahudi di masa Rasulullah Saw, maka seharusnya sejarah itu dibaca dalam konteks yang utuh. Yakni sebagai bentuk aktivitas politik negara dalam menghadapi pengkhianatan besar entitas yahudi atas perjanjian yang sudah dilakukan antara mereka dan negara. Dan hal itu bisa dipahami keabsahannya.

Terlebih faktanya, tragedi yang terjadi di masa Rasulullah Saw beserta kasus-kasus lain yang sering dipakai untuk menyudutkan ide Khilafah tersebut ternyata tak pernah menyurutkan bangsa-bangsa di dunia, baik sebagai individu maupun sebagai entitas, untuk berbondong-bondong menerima Islam, baik sebagai keyakinan mereka, maupun sebagai sistem hidup mereka.

Terbukti pula, Islam dan kekuasaannya pelan tapi pasti terus menyebar ke berbagai penjuru dunia, menyatukan bangsa-bangsa yang hidup dengan budaya perang dan kebanggaan akut akan ikatan-ikatan kesukuan, serta mengubah mereka menjadi umat yang satu pemikiran, satu perasaan dan satu standar kehidupan sebagai masyarakat Islam dan sebagai warga negara daulah Islam (Khilafah).

Di dalam Daulah Islam, semua warga negara, baik muslim maupun non Muslim bisa hidup berdampingan secara damai. Kaum non Muslim ridha dihukumi dengan hukum-hukum Islam dalam urusan-urusan publik mereka, karena mereka merasakan bahwa ekses penerapan hukum-hukum publik Islam tersebut justru membawa kebaikan bagi mereka. Apalagi dalam perkara yang terkait dengan urusan aqidah dan privat, mereka dibiarkan bebas menjalankannya sesuai keyakinan dan hukum agama mereka. Bahkan terlarang bagi siapapun untuk turut campur dalam urusan ibadah dan privat mereka, kecuali jika mereka secara atraktif mendakwahkan kekufuran kepada umat Islam. Jika hal ini terjadi, maka negara tidak akan sungkan-sungkan mengambil tindakan sebagai bentuk pengurusan dan penjagaan atas aqidah dan agama rakyatnya yang Muslim.

Mereka kaum non Muslim, merasakan betapa jizyah yang mereka berikan kepada negara, dengan nominal tak seberapa justru dibalas dengan kompensasi tak terhingga oleh negara. Yakni berupa perlindungan atas kehormatan, harta, bahkan nyawa.

Mereka hanya dituntut seperti halnya umat Islam dituntut untuk taat pada penguasa yang menerapkan hukum-hukum Allah, seperti hukum ekonomi Islam yang mengharamkan trandaksi ribawi dan akad-akad rusak, juga tunduk pada hukum pergaulan yang mengharamkan hubungan bebas tanpa batas antara laki-laki dan perempuan, tunduk pada sistem sanksi Islam yang menindak tegas perbuatan-perbuatan kriminal yang merugikan masyarakat, dan hukum-hukum publik lainnya.

Penerapan hukum Islam kaffah ini bahkan dengan sendirinya mampu menjadi solusi tuntas atas pluralitas dan heterogenitas yang justru dalam sistem di luar Islam kerap menjadi sumber konflik tak berkesudahan. Karena sistem Islam, memberi jaminan yang sama atas kesejahteraan, keamanan, harta, kehormatan, bahkan nyawa bagi seluruh warga tanpa kecuali.

Ini niscaya dikarenakan ajaran Islam dan Khilafah datang dari Dzat yang menciptakan kepelbagaian. Yakni Allah SWT Dzat Yang Mahaadil, Maha Sempurna, Mahatahu dan Maha Bijaksana. Allah SWT menurunkan syariat Islam kepada Rasulullah Saw sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia, apapun warna kulit, agama, ras, dan segala latar belakang mereka.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. (TQS. al-Anbiya [21]: 107)

Sejak Islam dan Khilafah hilang dari realitas kehidupan umat akibat konspirasi Barat dan para anteknya, keindahan Islam ini tak lagi nampak. Bahkan selama ini Islam dan Khilafah terus difitnah sebagai agama sumber kekerasan dan sumber konflik berkepanjangan.

Namun, apapun fitnah dan makar mereka untuk menghancurkan Islam, manusia lambat laun akan sadar bahwa Islam tak seperti yang dipropagandakan. Terlebih mereka tak bisa memungkiri, bahwa berbagai kekerasan dan kerusakan yang demikian fenomenal terjadi hari ini, justru terjadi pada saat Islam dan Khilafah sedang tidak diterapkan dalam kehidupan. Mereka pun akan sadar bahwa penerapan sistem sekuler kapitalis demokrasi neolib-lah sumber segala kerusakan, karena sistem ini lahir dari akal manusia yang lemah dan terbatas, bahkan menjadi jalan segelintir orang merefleksikan kerakusan.

Oleh karenanya, jangan percaya hoax dan apa yang dilontarkan musuh tentang Islam dan Khilafah. Karena mereka diuntungkan oleh kondisi umat yg serba kacau dan lemah. Dan mereka tahu jika Islam dan Khilafah tegak, maka penjajahan dan hegemoni mereka atas dunia akan berakhir dengan sendirinya.[]SNA

Bagaimana menurut Anda?