Maaf, Audrey, Bukanlah yang Pertama (Dan Mungkin Bukan yang Terakhir)

Kekerasan di level remaja sudah lintas gender. Pelakunya bukan hanya anak lelaki, tapi juga remaja putri. Kasus Audrey juga bukan kasus pertama kekerasan dilakukan sesama remaja putri. Sudah sering viral video kekerasan antar remaja putri. Anak-anak perempuan di tanah air juga seperti hilang sifat kelembutannya, berubah jadi beringas.


Oleh: Iwan Januar

MuslimahNews, ANALISIS — Ranah Twitter sedang ramai dengan tagar #JusticeForAudrey. Siswi SMP di Pontianak bernama Audrey menjadi korban kekerasan oleh sejumlah siswi SMA. Bermula dari cekcok layaknya remaja, perang kata-kata, beralih jadi kekerasan. Audrey kini harus dirawat di rumah sakit. Petisi justice for Audrey kabarnya sudah ditandatangani 2 juta lebih netizen. Para pelaku sendiri sudah diamankan pihak kepolisian.

Saya seperti sudah speechless untuk bahas masalah ini. Sudah berulang kali saya menulis dan berbicara persoalan kekerasan di dunia remaja kita. Di situs ini, juga di sejumlah acara parenting, talk show remaja, saya sampaikan kalau Indonesia darurat kekerasan remaja. Mereka adalah pelaku sekaligus korban. Pelakunya remaja dan korbannya juga remaja.

Kita semua tahu kalau Audrey bukanlah korban yang pertama, dan bukan yang paling mengenaskan. Ada Yuyun, siswi SMP yang diperkosa beramai-ramai oleh segerombolan remaja lalu dibunuh dan jasadnya dibuang ke jurang. Remaja yang melakukan kekerasan di tanah air juga tak pernah surut dengan beragam kasus. Memukuli guru sampai menjadi anggota gang motor yang membegal korban.

Ini belum termasuk cyberbully. Seiring remaja kita banyak menggunakan medsos, kekerasan secara verbal/tulisan di media sosial cenderung meningkat. Enteng saja remaja kita ngata-ngatai lawan bicara di medsos dengan sumpah serapah seperti ‘bangs*t’, ‘anj*ng’, dsb. Cyberbully sama dengan bully di dunia nyata, berdampak serius pada kesehatan mental anak. Tercatat sejumlah kasus korban sampai mengambil keputusan bunuh diri karena tak tahan di-bully oleh kawan-kawannya di dunia maya.

Kekerasan di level remaja sudah lintas gender. Pelakunya bukan hanya anak lelaki, tapi juga remaja putri. Kasus Audrey juga bukan kasus pertama kekerasan dilakukan sesama remaja putri. Sudah sering viral video kekerasan antar remaja putri. Anak-anak perempuan di tanah air juga seperti hilang sifat kelembutannya, berubah jadi beringas.

Saya tak bosan mengatakan kalau kekerasan oleh remaja berawal dari disfungsi orangtua di rumah. Banyak orangtua tidak paham dan tidak fokus dalam mendidik anak. Banyak orangtua hanya berperan sebagai pabrik anak dan mesin ATM ketimbang sebagai pendidik pertama dan utama untuk anak.

Banyak orangtua hanya tahu melahirkan dan memberi makan anak ketimbang menjalankan fungsi tarbiyah/pendidikan pada anak. Banyak lelaki tidak paham kalau ia harus menjalankan fungsi ayah dan bukan hanya menjadi ayah. Para ‘ayah’ macam ini hanya mengandalkan uang atau kekerasan dalam membersamai anak. Minim peran sebagai pendidik. Kalaulah tidak memanjakan anak dengan fasilitas, mereka hanya bisa memarahi anak. Miskin solusi dan tidak menginspirasi.

Bagaimana dengan para ibu? Mohon maaf, tidak sedikit juga perempuan yang baru bisa menjadi ibu tapi belum menjalankan peran sebagai ibu. Mereka tahu cara melahirkan, tapi bingung atau cuek dalam pendidikan anak. Banyak ibu yang menyenangkan sebagai teman jalan, teman makan, teman bermain, tapi belum menjadi pendidik yang menyenangkan dan inspiratif untuk anak-anak mereka.

Dari disfungsi orangtua, anak-anak tumbuh dengan jiwa antisosial; pemarah, tak mau kalah, dan miskin empati.

Remaja kita juga punya ‘pengasuh’ lain; lingkungan dan negara. Kedua pengasuh ini sekarang juga sedang krisis. Sama-sama alami disfungsi. Lingkungan sosial remaja penuh budaya hedonisme. Anak-anak kita jauh dari jiwa kepahlawanan, kesetiakawanan, karena digeser dengan figur macam Dilan. Tragisnya, figur fiktif dan negatif macam Dilan justru dijadikan panutan oleh negara. Di Bandung, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, meresmikan Taman Dilan. Entah apa maksud dan tujuannya, padahal tokoh Dilan dalam film itu tak menggambarkan kepahlawanan sama sekali, jauh dari adab. Sementara di Bandung banyak tokoh panutan yang bisa dikenalkan pada generasi muda seperti Muhammad Thaha, Otto Iskandar Dinata atau Dewi Sartika. Sekedar informasi untuk orangtua, sudah beberapa kali ujian sekolah dikeluarkan soal seputar K-Pop juga Dilan. Apa faedahnya untuk pengembangan karakter anak-anak kita? Inilah kepandiran pemerintah dalam mengedukasi anak muda.

Suka atau tidak suka, kita harus menuntut negara bertanggung jawab dalam persoalan ini. Negara adalah ‘orangtua terbesar’ bagi para pemuda. Negara memiliki daya lebih kuat untuk menuntut dan mengikat remaja. Dengan kekuatan dan kekuasaannya negara bisa mendisplinkan para remaja, termasuk membentuk karakter kasih sayang pada mereka. Namun seberapa besar negara sudah berperan? Saya berani katakan; teramat minim.

Alih-alih menanamkan nilai positif dan menguatkan nilai agama, negara justru menakut-nakuti pelajar – dan orang tua mereka – dengan ancaman radikalisme, tapi tidak membangun awareness pada tawuran, pergaulan bebas, kekerasan, dsb. Lebih menjengkelkan lagi negara malah menggelar kompetisi game online ketimbang meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah-sekolah.

Negara ini masih saja mengambil peran kuratif, ketimbang preventif. Tak kapok menjadi pemadam kebakaran daripada mencegah asal usul api. Penyelesaian yang diambil juga tak memberikan efek jera pada para pelaku. Beberapa kali kekerasan oleh remaja dimediasi untuk damai, atau pelaku dimasukkan rumah pembinaan seperti dalam kasus pemerkosaan terhadap mahasiswi di kampus UGM, solusi yang diberikan menguntungkan pelaku, sedangkan korban mengalami penderitaan fisik maupun mental.

Jadi, mohon maaf, Audrey bukanlah yang pertama dan amat kecil kemungkinan menjadi yang terakhir.[]Iwanjanuar.com

%d blogger menyukai ini: