Isra’ Mi’raj dan Logika Khilafah

Akal yang tunduk pada keimanan pasti meyakini bahwa tak ada yang sulit bagi Allah. Karena otoritas kekuasaan langit dan bumi sejatinya milik Allah. Allah akan memberikannya pada siapapun yang dikehendakinya dan akan mencabutnya dari siapa dikehendakiNya. Inilah yang menjadi benang merah antara peristiwa Isra’ Mi’raj dan kabar gembira akan tegak kembali Khilafah.


Oleh : Wardah Abeedah*

MuslimahNews, ANALISIS — Setiap peristiwa yang terjadi dalam sejarah Islam pastilah sarat makna mendalam. Sebagaimana peristiwa besar Isra’ Mi’raj. Ia memiliki nilai tinggi bagi mereka yang memandangnya dari kaca mata iman.

Peristiwa ini, menjadi ujian besar bagi keimanan kaum Muslimin kala itu. Di masa kehidupan masih primitif, safar hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki, ataupun mengendarai hewan tunggangan. Terlebih mukjizat berupa Alquran belumlah turun sempurna sehingga kebaikan-kebaikan Islam belum mewujud sempurna karena syariat Islam yang ditetapkan masih sebagian kecil saja. Bahkan syariat shalat fardhu lima waktu belumlah diturunkan.

Pagi itu, ketika matahari mulai naik, Muhammad Saw. menceritakan pengalaman spiritualnya. Pengalaman yang begitu mengesankan setelah bertubi-tubi ujian berupa kematian kedua orang terkasih dan pendukung terkuat dakwahnya. Menjadi penghibur pasca penolakan dan penghinaan menyakitkan pembesar Thaif.

Dalam semalam, Jibril mengajaknya ber-isra’ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Di masjid mulia ini, ia menjadi imam bagi para nabi yang diutus sebelumnya. Lalu atas izin Allah, dengan Buraq, Jibril as membawanya ke Sidratul Muntaha. Menyaksikan bagaimana balasan bagi mereka yang taat dan bagi pendosa. Bertemu dengan Allah untuk menerima sebuah ketetapan besar, kewajiban shalat lima waktu.

Kaum Qurays yang hatinya minus iman tak mempercayai perjalanan spiritual Sang Rasul, bahkan mencibirnya. Mereka menyangka bahwa nasib dakwah Muhammad Saw. akan tamat dengan peristiwa tak masuk akal ini. Berbeda halnya dengan reaksi Abu Bakar terhadap yang dikabarkan Muhammad Saw. “Jika demikian, maka benarlah ia!” Kalimat ini keluar dari lisan Abu Bakar yang kokoh aqidahnya. Ia mengucapkannya tanpa menunjukkan keheranan sedikitpun terhadap kabar ini.

Abu Bakar kemudian bergegas pergi ke Ka’bah untuk menjumpai Rasulullah Saw. Di sana dilihatnya kelompok manusia mencibir di sekeliling Rasulullah Saw. dengan suara ribut yang tiada menentu. Dilihatnya Rasulullah sedang duduk sambil tunduk dengan khusyuknya menghadap Ka’bah. Ia tidak merasa terganggu dengan berisiknya orang-orang bodoh tersebut.

Setibanya di sana, Abu Bakar pun menjatuhkan diri kepadanya sambil memeluknya, seraya berucap,
Demi bapak dan ibuku yang jadi tebusanmu hai Rasulullah! Demi Allah, sesungguhnya engkau benar……Demi Allah sesungguhnya engkau benar….

Inilah teladan keimanan yang begitu menakjubkan. Dari peristiwa ini, beliau kemudian dijuluki Ash-Shiddiq, yang membenarkan. Sebuah julukan mulia karena peristiwa Isra’ Mi’raj menjadikan tak sedikit kaum Muslimin murtad atas hasutan Abu Jahal dan kaum kafir Qurays. Perkara perjalanan mukjizat ini mengguncang kelompok kaum Muslimin yang juga kelompok dakwah Rasulullah. Sebagimana angin besar mengguncang pohon yang kokoh untuk menjatuhkan buah-buah busuknya.

Beginilah gambaran iman. Iman atau akidah adalah hasil dari proses berpikir cemerlang, bukan berpikir dangkal. Berpikir dangkal hanya mampu memahami dan meyakini apa yang mampu dijangkau oleh panca inderanya. Sedangkan berpikir cemerlang, ia bisa melihat dan memahami apa yang tak dijangkau indera.

Inilah wujud ketundukan dan keyakinan setiap mukmin. Tak menjadikan fakta yang diinderanya sebagai sumber hukum. Tak mencukupkan diri menilai sesuatu dari kaca mata akalnya sendiri.

Keimanan akan memaksa kita menyimpulkan bahwa manusia adalah lemah dan terbatas. Indera kita terbatas, akal kita terbatas. Akal dan hati wajib tunduk yakin bahwa Allah sajalah yang Mahabenar, Maha Mengetahui dan Maha segalanya. Bahwa apapun yang berasal dari Allah adalah baik dan benar.

Ketika mereka beriman terhadap surat Al-Isra’ ayat 1 dan An-Najm ayat 1-8 yang mengisahkan kejadian Isra’ dan Mi’raj, mereka juga mengimani kebenaran surat An-Nur 55 yang menyebutkan janji Allah akan berkuasanya kembali kaum mukminin kelak. Ketika mereka beriman terhadap ayat-ayat yang memerintahkan kewajiban shalat yang ditetapkan pada peristiwa Mi’raj, mereka juga meyakini perintah kewajiban berhukum dengan hukum Allah sebagaimana termaktub dalam surat Al-Ahzab 36, Al-Maidah 50, dan banyak surat lainnya. Mereka juga meyakini kewajiban potong tangan bagi pencuri dalam Al-Maidah 38 dan hukuman cambuk bagi pezina dalam An-Nur 2 yang turun di Madinah ketika Rasul memimpin Daulah Islam pertama.

Keimanan juga akan menjadikan kita membenarkan setiap perkataan utusan Allah. Isra’ Mi’raj yang tak mampu dicerna akal dan indera, akan diyakini kebenarannya oleh akal dan hati yang beriman. Kemudian menambah kokoh keimanannya.

Ketika Rasulullah Saw menetapkan hukum-hukum dan ajaran-ajaran Islam seperti jihad, pemerintahan (Imamah/Khilafah), ukhuwah, dan lainnya. Maka harusnya hati dan akal mukmin meyakini kebenarannya, menjalankannya, berbahagia dengannya dan mencintainya.

Begitupula ketika Rasulullah dahulu menjalankan sistem pemerintahan yang khas yakni Daulah Islam yang kemudian dilanjutkan oleh sahabat-sahabatnya yang mulia dan dikenal dengan sistem Imamah atau Khilafah. Wajiblah kita meneladaninya dengan sukacita.

Ketika Sang Rasul menjanjikan kembalinya sistem tersebut -atas izin Allah- kelak, hati dan akal yang tunduk beriman akan menyambutnya optimis. Berjuang untuk menyongsongnya, bukan malah menolaknya dengan alasan-alasan aqliy dan inderawi semata.

Logika Khilafah

Ide Khilafah, jika dinalar dengan akal lemah dan indera semata, bisa jadi akan dianggap utopis bahkan berbahaya. Dia menjadi utopis karena indera dan akal sebagian besar kaum Muslimin dibuat lupa sejarahnya. Bahwa mereka pernah berkuasa 13 abad memimpin dunia.

Khilafah dianggap berbahaya karena akal kaum Muslimin sudah puluhan tahun dijejali islamofobia. Sebuah strategi perang ideologi yang digencarkan Barat sejak insiden WTC 2001. Ia merupakan bagian dari program Global War on Terorism di era George W Bush. Sejak itu, Islam dan Muslim senantiasa mendominasi headline negatif di media mainstream di seluruh dunia. Serangan teror selalu dialamatkan kepada Islam sebagai tertuduh. Islam dan ajarannya dimonsterisasi hingga umat Islam takut dan minder dengan ajarannya yang mulia.

Sebagaimana Isra’ Mi’raj, janji tegaknya kembali Khilafah tak bisa dinalar dengan indera semata, karena saat ini kaum Muslimin belum menyaksikan berdirinya kembali Khilafah.

Namun perjuangan penegakan Daulah Islam kedua ini bisa dipahami dengan indera dan akal. Dengan cara menjejaki sejarah perjuangan Rasulullah dan sahabat-sahabatnya ketika berjuang untuk mendirikan Daulah Islam pertama di Madinah. Pun mampu dinalar dengan membandingkan secara jujur dan obyektif, antara ideologi Islam yang diterapkan dan diemban Khilafah, dengan ideologi kapitalisme yang diterapkan dan diemban oleh sistme pemerintahan demokrasi saat ini.

Dilihat dari kacamata iman, kembalinya Khilafah atas manhaj Nubuwwah bukanlah utopis. Rasulullah Saw bersabda,

Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah aala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan aadhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad)

Akal yang tunduk pada keimanan pasti meyakini bahwa tak ada yang sulit bagi Allah. Karena otoritas kekuasaan langit dan bumi sejatinya milik Allah. Allah akan memberikannya pada siapapun yang dikehendakinya dan akan mencabutnya dari siapa dikehendakiNya. Inilah yang menjadi benang merah antara peristiwa Isra’ Mi’raj dan kabar gembira akan tegak kembali Khilafah.

Sebagaimana firmanNya, “Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan (kekuasaan) langit dan bumi dan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).” (Al-Maidah 18)

Katakanlah, “Wahai Rabb Yang mempunyai kerajaan (kekuasaan), Engkau berikan kerajaan (kekuasaan) kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan (kekuasaan) dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. [Ali ‘Imrân/3:26]

Sehebat apapun makar kaum kafir, sebesar apapun persatuan dan dana mereka untuk menghancurkan Islam dan mencegah berdirinya Khilafah kedua, akal-akal dan hati-hati orang beriman tak akan gentar untuk tetap ber-wala’ (loyal) kepada Allah dan Islam. Allahu a’lam bis shawab.[]

*Forum Silaturahmi Ustadzah dan Muballighah

%d blogger menyukai ini: