; Bukan Sekadar Penguasa Hasil Pencitraan, Umat Butuh Seorang Negarawan - Muslimah News

Bukan Sekadar Penguasa Hasil Pencitraan, Umat Butuh Seorang Negarawan

Riuh rendahnya situasi politik jelang pemilu di negeri ini sesungguhnya menyisakan banyak tanya. Akankah lahir dari rahim demokrasi ini sosok pemimpin yang diharapkan? Akankah modal iklan dan pesta yang puluh trilyunan ini mampu menjadi jalan terpilihnya penguasa yang akan menyejahterakan rakyat dan menjadikan negeri ini besar berdaulat?


MuslimahNews, EDITORIAL — Melihat potret wajah Indonesia dari waktu ke waktu memang nampak kian memprihatinkan. Kemerdekaan yang tiap tahun dirayakan, sesungguhnya tak mencerminkan realitas tentang telah tegaknya kedaulatan.

Pergantian rezim demi rezim pun demikian. Dari masa ke masa, tak ada yang berubah kecuali kondisi yang kian mundur ke belakang dan tetap langgengnya sistem sekuler demokrasi yang terbukti banyak memunculkan kemudharatan.

Namun hebatnya, pesta demokrasi yang seringkali berujung pada kekecewaan ini terus ditapaki umat dengan begitu sabar. Super sabar!

Salah satu alasannya, bisa jadi karena ada sebagian rakyat yang kadung percaya, satria piningit, ratu adil atau bahkan Khalifah dan Imam Mahdi yang dijanjikan, akan lahir dari sistem demokrasi yang mereka agung-agungkan. Hingga tak heran jika sistem rusak ini dengan setia terus mereka pertahankan. Tak peduli betapapun mereka berulang dikecewakan. Karena bagi mereka, menikmati janji dan mimpi-mimpi tentang kesejahteraan adalah bagian dari perjuangan.

Memang bukan rahasia, jika dari masa ke masa, nyaris tak ada penguasa demokrasi yang berhasil menunaikan apa yang mereka janjikan. Alih-alih menjadi pelayan umat, nyaris setiap rezim justru sibuk membangun dinasti kekuasaan dan pengaruh politik demi kepentingan pribadi dan para kroni. Sebagiannya lagi, bahkan tak malu memilih menjadi pelayan kepentingan asing, daripada melayani rakyatnya sendiri.

Tapi lucunya setiap rezim selalu bicara tentang pencapaian dan kemajuan, padahal yang ada adalah kegagalan. Ini dimungkinkan, karena kekuasaan mereka tegak bukan karena kemampuan dan kesadaran, tapi karena ambisi dan pencitraan.

Mereka selalu mengatakan, ekonomi bertumbuh hingga digit sekian. Dan kemiskinan pun, sedikit demi sedikit bisa dientaskan. Tapi apa yang terjadi?

Nyatanya, ekonomi indonesia tak pernah sungguh-sungguh mengalami perbaikan. Kemiskinanpun tak pernah berkurang. Semuanya selalu serba semu. Karena ekonomi kapitalis yang bertumpu pada keharaman seperti riba dan ekonomi non ril layaknya gelembung balon yang terus membesar dan setiap saat siap meledak.

Gap sosial pun kian melebar. Namun mereka terus berusaha menutupnya dengan mengotak atik standar kemiskinan. Lalu di saat sama pembangunan infrastruktur dilakukan dengan jorjoran, itupun dengan dana hasil utang, bukan karena berhasil mengelola kekayaan alam yang luar biasa besar.

Akhirnya angka kemiskinan pun seolah-olah terus berkurang. Dan rakyat nampak sudah menikmati kesejahteraan. Padahal nyatanya, mayoritas rakyat tetap hidup dengan penuh kegetiran. Sulit memenuhi kebutuhan hidup meski untuk standar minimal. Apa-apa mahal, termasuk pendidikan dan kesehatan.

Begitupun dengan politik. Setiap rezim mengklaim paling mampu menjaga wibawa dan kedaulatan. Nyatanya dari waktu ke waktu yang berkuasa tetaplah sama. Yakni si para cukong pemilik modal beserta juragan asing, yang denhan berbagai cara berhasil menjerat kaki dan tangan penguasa hingga mudah tunduk tak berdaya. Sementara di saat sama, berhasil membunuh rakyat pelan-pelan dengan jebakan utang yang harus mereka bayar melalui beban pajak yang kian tak masuk di akal.

Di bidang sosial budaya, penguasa demokrasi ternyata tak mampu mencegah krisis moral yang kian parah. Sekularisme dan demokrasi yang dipertahankan, membuat paham-paham rusak seperti permisivisme dan liberalisme seolah menjadi agama baru yang menumbuh-suburkan budaya dan tata pergaulan yang jauh dari ketinggian akhlak. Perzinahan, perampokan, pembunuhan, pelecehan seksual, pornografi, korupsi dll, nyaris jadi berita harian dan menjadi life style generasi kekinian.

Sistem hukum yang diterapkan pun, nyaris tak bergigi. Tak berefek jera bagi para pelaku kriminalitas. Tumpul ke atas tapi selalu tajam ke bawah. Bahkan tak bisa ditutup-tutupi jika hukum kini telah menjadi alat kekuasaan dan alat politik untuk menekan rakyat dan pihak oposisi.

Itulah realita yang terjadi. Alih-alih makin sejahtera, kehidupan umat justru kian sengsara. Dan biang keroknya, tak lain karena penerapan sistem demokrasi yang memang hanya mampu melahirkan para penguasa sekuler, dan tak mampu melahirkan negarawan hakiki sebagaimana yang ada dalam sistem kepemimpinan Islam.

Penguasa dan negarawan jelas berbeda. Dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan, negarawan adalah orang yang ahli dalam kenegaraan; ahli dalam menjalankan negara (pemerintahan); pemimpin politik yang secara taat asas menyusun kebijakan negara dengan suatu pandangan ke depan atau mengelola masalah negara dengan kebijaksanaan dan kewibawaan. Sedangkan penguasa artinya orang yang menguasai; orang yang berkuasa (untuk menyelenggarakan sesuatu, memerintah).

Sehingga wajar jika realitasnya, penguasa cederung menuntut pelayanan. Mereka memimpin rakyat karena ambisi dan kesempatan. Sementara negarawan justru bertindak sebagai pelayan. Karena mereka memimpin umat dengan penuh kesadaran dan visi besar.

Seorang penguasa cenderung akan menjadikan kekuasaan sebagai alat meraih kepentingan pribadi dan kelompoknya. Sementara negarawan justru menjadikan kekuasaan untuk meraih kebaikan bagi rakyat yang dipimpinnya.

Penguasa jamak lahir dalam sistem yang jauh dari nilai-nilai Islam. Sementara negarawan, tumbuh subur dalam sistem kepemimpinan Islam. Bahkan sosok negarawan dalam sistem Islam tak hanya mewujud pada orang yang duduk di kekuasaan, tapi juga pada rakyat kebanyakan. Mereka adalah orang-orang yang paham bagaimana hidup harus dijalankan dan paham kemana kepemimpinan harus diarahkan. Mereka siap dipimpin dan siap memimpin dengan Islam.

Benih-benih negarawan sebagaimana dikehendaki Islam akan lahir apabila ditanamkan tiga bekal yang hanya berasal dari akidah Islam. Yaitu: (1) sudut pandang menyeluruh dan khas tentang kehidupan, itulah akidah Islam yang menentukan visi misi hidup seseorang. (2) sudut pandang tertentu tentang kebahagiaan hakiki bagi masyarakat, yang dalam Islam tak lain adalah teraihnya keridaan Allah yang hanya bisa dicapai dengan tunduk dan taat pada perintahNya. (3) keyakinan akan sebuah peradaban (hadlarah) yang akan diwujudkan, yang tak lain adalah peradaban Islam yang hanya akan mewujud melalui penegakkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan.

Implikasi dari tiga bekal ini adalah munculnya kepekaan dan ketajaman ihsas (penginderaan) yang terbentuk pada sosok negarawan, karena ia memiliki sudut pandang yang tajam dan perspektif Islam yang khas yang membuatnya mampu menyadari kerusakan di sekelilingnya dan mampu memimpin perubahan besar pada zamannya.

Inilah yang menyebabkan kepemimpinan Islam saat ditegakkan, mampu melahirkan peradaban yang luar biasa cemerlang. Negara Islam yang dipimpin negarawan sejati, tampil sebagai negara yang berwibawa, berdaulat, bahkan adidaya. Dia memfungsikan diri sebagai penebar risalah yang dengannya dunia akan diliputi oleh kebaikan. Rakyatnya pun hidup makmur sejahtera, hingga taraf yang tak mampu dicapai oleh peradaban manapun di dunia. Bahkan tak hanya manusia, kebaikannya pun dirasakan oleh alam semesta.

Kisah-kisah negarawan sejati dalam kepemimpinan Islam terserak dalam kitab-kitab sejarah. Dan siapapun yang jujur pada diri dan ilmunya akan mengakui bahwa sosok Rasulullah Saw dan para khalifah setelahnya, bahkan hingga akhir kekhilafahan adalah sosok-sosok negarawan sejati yang patut menjadi teladan.

Mereka memimpin dengan landasan iman dan kesadaran akan beratnya pertanggungjawaban. Hingga tak jarang mereka akhirkan kepentingan diri dan keluarga semata karena ingin memastikan rakyat tak menderita dan negara dalam keadaan terjaga. Mereka melayani umat dengan sepenuhnya, sekaligus melindungi mereka sebagaimana seorang gembala pada gembalaannya.

Kalaupun ada cerita penguasa zalim di sepanjang sejarah peradaban Islam, maka itu hanya kasus saja. Karena bagaimanapun sistem islam adalah sistem manusia yang tak mungkin lepas dari penyimpangan penerapannya. Faktanya, kalaulah ini disebut cacat, maka cacat ini tertutup oleh keagungan sejarahnya.

Berbeda dengan sistem demokrasi yang memang sudah cacat dari asasnya. Sistem ini sulit melahirkan sosok sebagaimana yang ada dalam kepemimpinan Islam, karena paradigmanya adalah kebebasan dan materialisme yang menafikan soal pertanggungjawaban di hari kekekalan.

Itulah mengapa, dalam sistem ini kekuasaan menjadi hal yang diperebutkan. Karena dengan kekuasaan, mereka punya jalan memiliki kekayaan dan kedudukan. Tak masalah mereka korbankan banyak modal, termasuk untuk pencitraan. Karena toh jika kelak berkuasa, mereka punya banyak kesempatan untuk mencari kembalian berikut dengan keuntungan. Wajar jika urusan umat justru mereka abaikan.

Layaklah jika balasan bagi keduanya jauh berbeda. Pemimpin adil dalam Islam, Allah janjikan keridhaan dan perlindungan di kekekalan. Sementara bagi penguasa khianat yang lumrah dalam demokrasi harus siap di akhirat diseret oleh belenggu kezaliman yang dilakukan dan diharamkan masuk dalam surganya Allah SWT.

Sungguh yang kita butuhkan hari ini bukan sekedar penggantian seorang penguasa. Yang kita butuhkan adalah tampilnya seorang negarawan yang hanya mungkin lahir dalam kepemimpinan Islam dan dipersiapkan dengan pembinaan Islam[] SNA

Sumber gambar: PCMA

Bagaimana menurut Anda?