Akhiri Islamofobia dengan Khilafah

Islamofobia sengaja dihadirkan oleh Barat untuk menjauhkan umat dari kemuliaan yang hakiki, yang tak akan mungkin diraih dengan sistem Kapitalis yang rusak dan merusak. Islamofobia didesain secara sengaja oleh Barat dengan target menghancurkan Islam dan kaum Muslimin. Jalan satu-satunya untuk menghentikannya adalah dengan menghancurkan supremasi Barat di dunia. Tentunya butuh kekuatan yang seimbang.


Oleh: Retno Sukmaningrum

MuslimahNews, FOKUS — Ramadan tinggal beberapa minggu lagi. Namun menyambut Ramadan pada tahun ini ada suasana yang berbeda bagi beberapa saudara-saudara Muslim yang hidup di negeri-negeri Eropa. Suasana ini yang dari tahun ke tahun makin mereka rasakan. Rasa takut, kuatir, terdiskriminasi, pandangan rasis dari lingkungan, itulah yang mereka rasakan. Terlebih pasca kejahatan teroris di New Zeeland, memberi dampak yang mendalam bagi mereka.

Tepat satu satu minggu pasca kejahatan teroris di Christchurch,di Inggris-polisi West Midlands telah mengkonfirmasi tim kontra-terorisme mereka sedang menyelidiki serangan terhadap lima masjid di Birmingham yang dirusak oleh palu godam. Menurut laporan media lokal, satu masjid di kota itu diserang – jendelanya dihancurkan. Motivasi di balik serangan-serangan ini tidak jelas tetapi serangan-serangan ini dirancang untuk meningkatkan ketakutan Muslim akan kerentanan.

Di Denmark, Pemimpin partai sayap kanan Denmark Starm Kurs, Rasmus Paludan, membakar salinan Alquran, Jumat (22/3/19). Hal itu dia lakukan sebagai bentuk protesnya atas sejumlah Muslim yang menunaikan shalat Jumat di depan gedung parlemen negara tersebut. Dilaporkan laman Anadolu Agency, sejumlah Muslim di Denmark menggelar aksi solidaritas untuk para korban penembakan dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, pekan lalu. Mereka berkumpul dan sempat menunaikan shalat Jumat di muka gedung parlemen Denmark.

Namun aksi itu diprovokasi kelompok sayap kanan ekstrem Denmark. Mereka mendatangi lokasi tempat para Muslim menunaikan shalat sambil membawa bendera Israel. Rasmus Paludan, yang juga berupaya menghasut, kemudian membakar salinan Alquran.

Menjadi sasaran rasisme, pandangan sisnis dan kebencian, bukanlah hal baru yang dihadapi oleh kaum Muslimin di Eropa. Kejahatan terorisme di Christchurch adalah masalah bom waktu saja. Mengapa? Di New Zeeland sendiri yang dinobatkan sebagai negara paling nyaman ke-8 di dunia, masalah rasisme terhadap kaum Muslimin tidak pernah sepi. Masyarakat Muslim di Selandia Baru telah lama mengalami islamofobia, jauh sebelum tragedi Christchurch beberapa pekan lalu yang merenggut 50 nyawa. Pada tahun 2016, seorang penganut supremasi kulit putih lokal bahkan mengirim kepala babi ke Masjid Al Noor, dan mengatakan, “Lakukan pembantaian.

Komentar rasis tidak hanya dilakukan di antara anggota masyarakat, namun politisi-politisi mereka menunjukkan hal yang sama. Bahkan lebih parah, sebagaimana komentar politisi sayap kanan, Partai One Nation New Zealand, Fraser Anning pasca peristiwa Christchurch. Meski Anning tidak secara eksplisit mengatakannya, komentarnya menyiratkan bahwa umat Islam memikul tanggung jawab atas penembakan di Selandia Baru karena tindakan umat Islam di berbagai tempat lain. “Penyebab pertumpahan darah sebenarnya di jalan-jalan Selandia Baru hari ini adalah program imigrasi yang memungkinkan kaum fanatik Muslim untuk bermigrasi ke Selandia Baru.”

Baca juga:  Menggelikan, Benar-benar Menggelikan

Selain Anning, ada Bob Katter-politisi yang bersikap rasis. Katter mengaku bahwa dia sangat kecewa dengan masalah migrasi yang menurutnya telah membawa masuk orang-orang “dari luar negeri, dari negara tanpa demokrasi dan aturan hukum, orang-orang tanpa tradisi egaliter dan latar belakan non-Judeo-Kristen.”

Katter menegaskan, “Anda tidak perlu secerdas Albert Einstein untuk memahami bahwa kita sebagai warga Australia sedang ditenggelamkan oleh program migrasi massal yang bertujuan melucuti kekayaan bangsa kita,” yang menurutnya telah merampas upah dan kesejahteraan Australia.

Islamophobia by Design

Barat membangun narasi, bahwa munculnya islamofobia adalah akibat ulah kaum Muslimin sendiri. Narasi ini diaminkan oleh aktivis liberal. Mereka sampaikan satu sebab munculnya islamofobia di Eropa adalah beberapa serangan bom mematikan oleh para jihadis Muslim di Eropa, yang dikampanyekan sebagai teroris. Serangan-serangan bom bunuh diri atau melalui tembakan bersenjata oleh komunitas Muslim tertentu itu menyebabkan Eropa masih gamang untuk melepas islamofobia. Hal ini-yang menurut mereka menjadi salah satu alasan, Turki kesulitan diterima menjadi anggota Uni-Eropa.

Di sisi lain, mereka juga menyampaikan bahwa islamofobia muncul di Eropa karena disebabkan oleh banyaknya imigran asal Timur Tengah yang jelas hamper semuanya beragama Islam. Mereka kemudian mengasosiasikan kebenciannya terhadap para imigran tersebut kepada kaum Muslim. Mereka berpandangan bahwa imigran Muslim telah secara konsisten menunjukkan diri mereka sebagai pihak yang paling tidak mampu berasimilasi dan berintegrasi. Harusnya mereka mau beradaptasi dengan nilai-nilai dan budaya Barat, namun nyatanya sulit diwujudkan. Jadi menurut mereka adalah wajar, jika Barat menganggap imigran adalah bukan bagian dari mereka karena mereka tidak mau membaur.

Narasi yang dibangun oleh Barat tersebut itulah sejatinya yang sengaja mereka bangun terhadap Islam dalam kaum Muslimin. Yakni stigma buruk akan ajaran Islam dan keberpegang- teguhan kaum Muslimin terhadap syariat Islam. Munculnya islamofobia di Eropa makin terasa karena derasnya opini akan narasi tersebut. Puncaknya, islamofobia menjangkiti dunia setelah peristiwa serangan 11 September 2001 di New di New York.

Baca juga:  Simbol

Bentuk-bentuk islamofobia yang terjadi di Eropa dan Barat akhir-akhir ini kian beragam bentuknya. Mulai pelarangan pemakaian burka (cadar penutup muka) bagi Muslimah di Prancis, diskriminasi terhadap pelaksaan ibadah umat Muslim (termasuk pendirian tempat ibadah umat Muslim), pemeriksaan ekstra ketat -di setiap imigrasi transportasi darat, laut, dan udara terhadap mereka yang beragama dan memiliki nama-nama Islam, atau mereka yang berasal dari negara yang mayoritas penduduknya Muslim-, hingga penembakan brutal kepada jamaah kaum Muslimin di New Zeeland, juga pembakaran kaum Muslimin di Mali. Dan entah makar apalagi yang akan mereka timpakan.

Yang memprihatinkan, islamofobia tidak hanya dihembuskan di negeri Barat, namun sekarang juga dibawa ke wilayah kaum Muslimin sendiri. Termasuk Indonesia. Ustaz Adnin Armas –salah satu pendiri INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations)- menyebutkan, islamofobia bisa jadi tidak hanya terjadi di Eropa dan Amerika, tetapi juga di Indonesia. “Indikasinya sudah muncul. Orang-orang yang ingin berkontribusi dan mencintai agama ini bisa dituduh konservatif, fundamentalis, radikal, anti kemajuan, anti Barat, anti NKRI, dan fitnah-fitnah serupa,” ucapnya.

Islamofobia sengaja dihadirkan oleh Barat untuk menjauhkan umat manusia dari Islam. Mereka mendudukkan seolah Islam dan kaum Muslimin-lah sumber bencana di muka bumi hari ini. Keteguhan kaum Muslimin memegang nilai-nilai dan aturan Islam-lah yang mereka pandang sebagai penghambat pembauran budaya di tengah umat. Oleh karenanya Barat menaruh hormat dan terima kasih kepada Paus Fransiskus, yang membuka ruang dialog dengan komunitas Muslim. Secara elegan, Paus Fransiskus sudi datang ke Semenanjung Arab pada tanggal 3-5 Februari 2019, atas undangan Putra Mahkota Abu Dhabi, Shaikh Mohammad bin Zayed Al Nahyan. Ia adalah Paus Katolik pertama yang mengunjungi Semenanjung Arab.

Tidak hanya berkunjung, bersama dengan Grand Syaikh Al Azhar, Dr Ahmed At-Tayyeb, Paus Fransiskus menandatangani deklarasi “Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Berdampingan”. Sebuah dokumen yang berisi maha pentingnya relasi antar umat beragama melawan tindakan kekerasan, kebencian, dan ekstremisme. Paus Fransiskus memberi kabar pada dunia, dan orang-orang Europa khususnya, untuk menghentikan segala bentuk islamofobia dan memulai jalan damai dengan membuka ruang dialog lintas iman secara luas. Menurut Barat, sejarah panjang islamofobia niscaya menjadi sirna jika ruang dialog lintas iman dibuka, untuk merajut persaudaraan sejati. Benarkah demikian?

Islamofobia akan Hilang dengan Hadirnya Junnah

Munculnya islamofobia adalah design busuk Barat. Begitu pula solusi yang dihadirkan untuk menghilangkan islamofobia dengan cara dialog antar agama adalah rancangan mereka. Pertemuan para petinggi agama, Paus Katolik dan Grand Syekh Al Azhar untuk membuka ruang dialog pun masuk dalam rangkaian kerja mereka.

Oleh karenanya, mengikuti solusi yang mereka tawarkan-tak lain hanyalah mengikuti tabuhan gendang mereka. Bukan menghadirkan solusi bagi kaum Muslimin. Sebaliknya-justru masuk dalam jebakan baru. Betapa tidak, dengan membuka dialog antar agama akan mendistorsi ajaran-ajaran Islam. Islam akan disejajarkan dengan agama yang lain-yang notabenenya tidak mengatur segala aspek kehidupan. Islam akan dimandulkan ketika disejajarkan dengan agama yang lain.

Islamofobia yang menjangkiti dunia tak akan mungkin selesai dengan solusi ala barat. Karena Barat sendirilah yang ada di balik rancangan jahat islamofobia tersebut. Kerusakan kehidupan akibat diterapkannya sistem demokrasi kapitalis yang digawangi Barat, berupaya dialihkan mengalihkan kesalahan dan kebencian kepada Islam dan kaum Muslimin.

Islamofobia sengaja dihadirkan oleh Barat untuk menjauhkan umat dari kemuliaan yang hakiki, yang tak akan mungkin diraih dengan sistem Kapitalis yang rusak dan merusak. Islamofobia didesain secara sengaja oleh Barat dengan target menghancurkan Islam dan kaum Muslimin. Jalan satu-satunya untuk menghentikannya adalah dengan menghancurkan supremasi Barat di dunia. Tentunya butuh kekuatan yang seimbang.

Tidak cukup personal atau kelompok, tapi harus berupa institusi negara, yakni Khilafah. Khilafah lah yang akan menjadi junnah/perisai bagi kaum Muslimin dari setiap teror dan serangan musuh-musuh Islam. Di belakang Khalifah pula kaum Muslimin akan berperang melawan setiap pihak yang merusak kehormatan Islam dan kaum Muslimin.

Baca juga:  Enam Negara di Eropa Resmi Melarang Penggunaan Cadar

Namun kini, di saat Khilafah tengah diperjuangkan kembalinya di tengah umat, maka jalan satunya-satunya menghadapi islamofobia adalah istiqamah menepaki jalan dakwah ‘ala minhaji an nubuwwah. Dengan dakwah yang masif, akan terbuka mata umat akan kemuliaan Islam. Islam bukan agama teroris. Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Hanya dengan Islam, kehidupan manusia akan mulia. Sejarah telah membuktikan, bahwa Islam telah membawa kemuliaan dunia selam 13 abad lamanya. Bahkan kemajuan peradaban Barat yang sekarang ada, tidak mungkin hadir tanpa adanya konstribusi besar dari Islam dan kaum Muslimin.

Tanpa kehadiran para negarawan, ilmuwan dan cendikiawan Muslim yang telah mewariskan peradaban yang sangat agung, kemajuan peradaban Barat saat ini tidak mungkin terjadi. Sebab, merekalah sesungguhnya yang menjadi penghubung peradaban Yunani dan Romawi dengan peradaban Eropa saat ini.

Walhasil, bukan jalan tengah- dengan melakukan dialog antar agama sebagai solusi menghilangkan islamofobia. Karena sejatinya dialog antar agama, tak lain upaya mengibiri ajaran Islam. Wallahu a’lamu.[]

Bagaimana menurut Anda?