Cara Khilafah Melindungi Perempuan

Islam memprioritaskan pemeliharaan terhadap perempuan sejak kelahirannya, sehingga hal itu membawa pengasuhan yang baik dan memelihara pintu bagi orang tuanya untuk memasuki Jannah.


MuslimahNews, FOKUS — Hal terbaik bagi mereka yang ingin memberikan solusi untuk masalah kekerasan dalam rumah tangga adalah memikirkan kembali dan membangun kembali pandangan yang tercerahkan melalui penelitian mendalam dan mendetil pada akar penyebab masalah ini dan menyelesaikannya, kami menyebutkan beberapa di bawah ini:

⦁ Meniadakan pengadopsian nilai-nilai kebebasan liberal dan konsep-konsep non-Islam yang datang dari pikiran bebas dari pengekangan yang membangun hubungan antara perempuan dan laki-laki berdasarkan tingkah laku dan keinginan dan menghilangkan konsep ditetapkan oleh Sang Pencipta, dan inilah yang memuliakan watak individu, mendorong keegoisan, dan melahirkan perilaku bermusuhan karena konflik kepentingan, dengan demikian, mengakibatkan perpecahan keluarga, penolakan, dan celah dalam hubungan di antara para anggotanya. Selain itu, kebebasan-kebebasan ini mengiklankan pencapaian bagian terbesar dari kesenangan pribadi dan perasaan suka cita walaupun itu berarti melakukan tindakan yang rendah, meminum alkohol, dan menyalahgunakan narkoba. Diketahui bahwa efek dari ini tak hanya berkaitan dengan orang yang kecanduan, tetapi juga melampaui dirinya melalui suasana hatinya yang berubah-ubah dan ketidakmampuan untuk mengendalikan perilakunya sehingga merugikan orang-orang terdekatnya. Juga, membiarkan kebebasan ini menjadi liar dan menyebabkan kurangnya kepercayaan di antara pasangan, kecemburuan yang tidak terkendali, dan suasana tegang, dengan demikian, mengarah pada penggunaan bahasa kekerasan sebagai sebuah reaksi.

⦁ Menentukan status perempuan dan merendahkan posisinya di masyarakat dengan menjadikannya objek dan menjualnya, karena hampir tidak ada iklan komersial yang tidak memplester perempuan setengah telanjang di posternya atau menunjukkan bagian tubuhnya di sebelah produk secara berurutan untuk mengiklankannya atau mengeksploitasi sisi kewanitaannya di toko-toko, klub, atau tempat-tempat kopi…

Apa yang dituntut oleh iklan serakah ini terhadap perempuan itu dan memberikan tekanan besar padanya dengan dalih mengejar ketinggalannya dari laki-laki dan menjadi mandiri secara finansial hanyalah kekerasan dan penghinaan terhadap diri perempuan dengan menghilangkan nilai kemanusiaan, membebani di luar kemampuannya, dan mendorongnya untuk berjalan di jalur prostitusi dan amoralitas. Selain praktik-praktik busuk dan adat istiadat serta tradisi warisan yang salah di beberapa daerah yang tidak berhubungan dengan Islam dalam bentuk apa pun, mereka merampas hak-hak paling sederhana bagi perempuan itu sama seperti pendidikan, melepaskan haknya dalam menyatakan pendapatnya atau menikahkannya tanpa kemauannya, atau mengeluarkannya dari hak waris, dan perilaku lain yang menggambarkan bahwa otoritas laki-laki dalam memimpin keluarganya adalah standar yang menunjukkan kejantanan dan haknya untuk melakukan apa pun yang disukainya apakah diizinkan atau dilarang, sambil memaksa perempuan tersebut untuk menerima karena laki-laki adalah kepala keluarga, dengan demikian, menciptakan lingkungan yang penuh kekerasan dalam berbagai perlakuannya.

Baca juga:  Feminisme Gagal Menyelamatkan Perempuan, Islam Jangan Dikambinghitamkan

⦁ Tidak adanya gagasan yang jelas tentang hak dan tanggung jawab yang ditempatkan untuk masing-masing pihak dalam lembaga perkawinan, dan tidak adanya sistem pembagian peran yang dilambangkan kepada setiap orang di dalamnya, dan jalinan peran, ternyata menciptakan suasana penuh stres dan konflik. Kurangnya solusi yang diperlukan untuk menghidupkan kembali keseimbangan dalam keluarga pasti mengarah pada argument-argumen yang berlangsung secara konstan.

Adalah anugerah Allah SWT atas umat manusia bahwa Dia memberikan batasan dan dasar bagi hubungan keluarga yang juga berperan sebagai langkah-langkah pencegahan bagi keluarga Muslim dengan pagar kekebalan melawan kekerasan dalam rumah tangga, dan inilah yang dipandu oleh Islam untuk menciptakan lingkungan keluarga yang aman:

⦁ Membangun taqwa dalam jiwa masyarakat, sehingga siapa pun yang mencapai itu, akan menyadari kewajiban yang dibebankan kepadanya dan menyadari Tuhannya dalam kehidupan pribadi dan umum. Rasulullah SAW bersabda: «مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ» “‘Seorang hamba yang diserahi Allah untuk memimpin rakyat lalu ia mati pada hari kematiannya ketika ia menipu rakyatnya Allah pasti akan mengharamkannya masuk surga”(HR. Muslim).

Hadist ini adalah bukti besarnya tanggung jawab yang ditempatkan pada setiap pemimpin dan laki-laki pada umumnya bersama keluarganya, terkhusus dia harus mempertahankan hak-hak perempuan, memenuhi apapun yang dia butuhkan untuk mereka, dan memperlakukan istri dan anak-anaknya dengan baik. Juga, perempuan itu bertanggung jawab atas rumahnya dan bertanggung jawab atas mereka yang tinggal bersamanya.

Taqwa adalah pengatur untuk sisi kecenderungan, tingkah laku, dan keinginan yang dilalui oleh keluarga ini. Dengan Taqwa, orang tersebut ingat bahwa ia adalah ciptaan Sang Pencipta dan merupakan hamba-Nya, sehingga dia akan dihukum karena tidak menaati perintah-Nya, dan dia akan diberi pahala ketika mengikuti jalan lurus yang benar.

⦁ Memperbaiki pandangan tentang perempuan dari perspektif Islam dan menetapkan status khusus dan peringkat bergengsi bagi mereka yang telah dibuat secara khusus oleh Allah SWT dan Rasululah Saw. Oleh karena itu, Rasululah Saw memperlakukan istri, anak-anak, anggota keluarga, dan kerabatnya dengan perbuatan-perbuatan terbaik dan hal-hal tersebut yang mendekatkan mereka, dan yang terbaik dari orang-orang sebagaimana Rasululah SAW bersabda: «خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِه، وَأَنَا مِنْ خَيْرِكُمْ لأَهْلِي» “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap istrinya, dan aku yang terbaik terhadap istriku.” [HR. Ibnu Majah dari Ibnu Abbas ra, Shahih Ibni Majah: 1608].

Baca juga:  Maraknya Kekerasan dalam Keluarga, Bukti Gagalnya Negara Penuhi Kemaslahatan Keluarga

Islam memprioritaskan pemeliharaan terhadap perempuan sejak kelahirannya, sehingga hal itu membawa pengasuhan yang baik dan memelihara pintu bagi orang tuanya untuk memasuki Jannah, seperti yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Abbas, semoga Allah merahmati mereka berdua, berkata: Rasululah SAW bersabda: مَنْ وُلِدَتْ له ابنةٌ فلم يئِدْها ولم يُهنْها، ولم يُؤثرْ ولَده عليها -يعني الذكَر- أدخلَه اللهُ بها الجنة» “Siapa pun yang memiliki seorang anak perempuan yang lahir untuknya dan dia tidak menguburkannya atau menghinanya, dan tidak memanjakan anak laki-lakinya melebihi anak perempuannya, Allah akan mengizinkan dia untuk memasuki Jannah karena anak perempuannya. “(HR. Ahmad, dikoreksi oleh Al-Hakim).

Jika anak perempuan itu tumbuh dewasa, dia dijaga dan dirawat oleh pengasuhan penjaganya; ayah bersikap protektif, dan dia melindunginya dari bahaya. Jika dia menikah, dia dihargai dan dihormati dan suaminya harus memperlakukannya dengan baik, bersikap baik padanya, dan bersikap lembut padanya. Allah SWT berkata: ﴿وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ﴾ “Dan hiduplah bersama mereka dalam kebaikan.” [An-Nisa: 19], dan Rasulullah Saw menasehati semua kebaikan bagi mereka ketika Rasulullah Saw mengatakan: “Bertindak baiklah terhadap perempuan” (HR. Ibn Majah).

Nabi Saw juga menyerukan para suami untuk bersikap ofensif terhadap istri mereka, dan mengabaikan kekurangannya, dan untuk menghargai kebajikannya sehingga hidup menjadi lebih baik: «لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ» “Seorang mukmin tidak boleh membenci perempuan mukminah (istrinya), jika ia tidak menyukai darinya salah satu perilakunya, maka dia menyukai darinya perilakunya yang lain” (HR. Muslim).

⦁ Melarang seksualisasi perempuan dan memerangi pandangan tentang perempuan sebagai inferior seolah-olah dia hanya sebuah tubuh dan komoditas, dan dilarang untuk menganggap perempuan sebagai objek seksual yang tersedia; melainkan, dia harus dilindungi dari degradasi dan penghinaan ini. Oleh karena itu, perlu untuk mewajibkan para perempuan atas pakaian Syariah, melarang pemakaian make-up di depan pria asing.

⦁ Mengorganisir hubungan antara laki-laki dan perempuan, melarang pertemuan rahasia, melarang perempuan bergaul bebas dengan laki-laki asing, dan memastikan tidak ada atmosfer khusus yang dapat mengarah pada hubungan tidak sah atau perilaku yang meragukan yang dapat memicu kecemburuan, membangkitkan keraguan, mengguncang masalah kepercayaan, dan merujuk pada kekerasan. Juga, Islam mewajibkan para penganut laki-laki dan perempuan untuk menundukkan pandangan mereka dan menjaga kesucian mereka sehingga keduanya menjadi fondasi kuat dari hubungan yang sehat antara laki-laki dan perempuans yang didasarkan pada rasa hormat dan kehidupan bersama daripada memandangnya sebagai maskulinitas sebagai feminitas

Baca juga:  Konsisten Mencerdaskan Perempuan

⦁ Mengelola bangunan keluarga dengan Islam yang mendistribusikan peran anggota keluarga secara tersinkronisasi yang menjamin kurangnya konflik. Jadi, penting untuk meningkatkan kesadaran atas hak dan tanggung jawab setiap anggota keluarga, menyadari hebatnya tanggung jawab yang diberikan kepada mereka, dan bersiap untuk membawanya dengan ruang dialog dan mempertimbangkan pendapat satu sama lain.

⦁ Membangun segitiga kehidupan perkawinan: istirahat, cinta, dan belas kasihan. Allah SWT berfirman: وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” [TQS. Ar-Rum: 21].

Istri adalah tempat perlindungan sang suami di mana dia menemukan kenyamanan dan merasa aman dengannya, dan sebaliknya. Jika suaminya mencintainya, dia akan memperlakukannya dengan baik, dan jika dia membencinya, dia akan memperlakukannya dengan belas kasih dari pada menindasnya.

Penting juga untuk mengukuhkan konsep yang benar mengenai otoritas laki-laki bahwa itu semua adalah seluruh berkah dari Allah SWT pada istri khususnya dan keluarga pada umumnya. Melalui otoritas ini, laki-laki itu berkewajiban untuk melakukan dua tugas yang sangat penting: merawat keluarganya dengan hal yang terbaik untuknya seperti menafkahinya, mengarahkannya, merawatnya, dan mempertahankannya, dan melindunginya dengan memberikan keamanan kepada para anggota keluarganya dan menghentikan segala bahaya terhadapnya, karena dia wajib membela mereka bahkan jika itu mempertaruhkan nyawanya, dan Rasulullah Saw bersabda: «وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ» “Barang siapa terbunuh karena melindungi keluarganya, maka dia (mati) syahid.” (HR. At-Tirmidzi)

⦁ Mengizinkan perceraian terjadi meskipun itu adalah tindakan halal paling buruk karena Islam menjadikannya halal untuk keadaan yang disebabkan ketegangan keluarga dan jalan untuk berpisahnya pasangan dengan cara yang baik jika kecocokan lenyap. Perceraian membutuhkan pelepasan pasangan dengan cara terbaik yang mungkin tanpa kekerasan atau caci maki setelah semua metode rekonsiliasi telah habis, dan ketika menjadi mustahil bagi pasangan tersebut untuk terus hidup bersama lagi.[]

— Diedit dari sumber: naskah orasi Konferensi Perempuan Internasional, Tunisia, Oktober 2018 berjudul: Keluarga: Tantangan dan Solusi Islam

#Khilafah_Pelindungku_Perisaiku
#Khilafah_MyGuardian_MyShield
#الخلافة_رعاية_وحماية

Bagaimana menurut Anda?