Sisi Gelap Unicorn

“Asing punya kepentingan apa? Mereka tentu melihat pasar Indonesia adalah pasar yang potensial, dan ini kemudian terbukti bahwa pasar virtual atau market place yang ada itu 93 persen menjual produk-produk impor. Nah apakah benar ini kemudian menjadi pasar bagi UMKM? Apakah benar ini kemudian akan menciptakan lapangan pekerjaan yang layak bagi anak negeri ini?”

MuslimahNews.comUnicorn hadir sebagai anak emas di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia, Iffah Ainur Rochmah, Direktur Muslimah Media Center mempertanyakan apakah unicorn ini layak dibanggakan? Itu dikupas dalam agenda Bincang Hangat bersama Umi Irene Handono di Jakarta, Jumat (22/3/2019).

“Dibanggakan itu kan karena dianggap karya anak bangsa ini bisa mengatasi beberapa masalah ekonomi, misalnya masalah tingginya pengangguran, atau kecilnya lapangan kerja, kemudian mandeknya pertumbuhan UMKM yang ditumbuhkan begitu banyak tapi pemasaran masih belum bagus, juga soal investasi,” papar Iffah.

Iffah melanjutkan, ukuran-ukuran yang dipakai ini, membuat seolah-olah dengan adanya unicorn yang mampu menarik investor dengan kumulatif angka investasi sangat mencengangkan, kemudian juga memiliki pelanggan sedemikian banyak, memberikan akses usaha kepada sekian banyak orang, ini seolah-olah bisa menyelesaikan masalah. Yakni terbuka lapangan pekerjaan, terbuka pasar untuk UMKM, dan ada suntikan dana investasi, dan seterusnya.

“Kalau dianggap membanggakan, di permukaan itu nampak membanggakan. Tapi karenanya kita perlu membedah lebih dalam, siapa sebenarnya yang punya peranan paling besar terhadap membengkaknya investasi di start-up unicorn ini, ternyata adalah asing,” ungkap Iffah.

Iffah lalu membeberkan bagaimana serbuan komoditas impor menyapu Indonesia, “Asing punya kepentingan apa? Mereka tentu melihat pasar Indonesia adalah pasar yang potensial, dan ini kemudian terbukti bahwa pasar virtual atau market place yang ada itu 93 persen menjual produk-produk impor. Nah apakah benar ini kemudian menjadi pasar bagi UMKM? Apakah benar ini kemudian akan menciptakan lapangan pekerjaan yang layak bagi anak negeri ini?”

“Oke, ada sejuta orang yang dipekerjakan sebagai driver ojek online, misalnya. Bukankah ini kalau kita melihat skema bisnisnya sebetulnya hanya memberikan kebaikan di awal, karena sebagaimana di negeri-negeri yang sudah lebih dulu mempraktikkan bisnis sejenis, justru industri ini adalah industri yang memeras keringat atau bahkan disebutkan sebagai perusahaan perbudakan,” tambah Iffah.

Jadi, kata Iffah, ada banyak potensi kerugian atau bahaya yang mencintai dari meningkatnya level start-up ini menjadi unicorn. “Karenanya kita kemudian bisa menjawab apakah ini pantas untuk dibanggakan?” Tutupnya.[]

Apa komentar Anda?
%d blogger menyukai ini: