Unicorn tak Layak Dibanggakan, Ini Alasannya

“Revolusi Industri 4.0 pertama kali melanda sektor jalan tol, kedua, PT Pos Indonesia karena sudah tidak ada lagi pengantar surat. Ribuan orang itu. Pada akhirnya kementerian-kementerian pun setuju dengan revolusi industri ini, padahal pada akhirnya yang terdampak adalah rakyat.”


MuslimahNews, FEATURE —Yang kita lihat saat ini sebenarnya adalah kesejahteraan palsu,” tukas Dr Rini Syafri dalam agenda Bincang Hangat bersama Umi Irene Handono, Jakarta, Jumat (22/3/2019).

Kalau kapitalisme ini mau bertahan, dia harus melakukan komersialisasi ilmu dan teknologi. Jadi, mindsetnya memang adalah mindset kapitalis. Akhirnya, riset hari ini mengikuti kepentingan korporasi. Dengan ini, penelitian dasar akan tersingkir,” tambahnya.

Sebagian orang berpendapat bahwa kemajuan teknologi di negara-negara maju patut menjadi contoh yang ditiru untuk menjadi kiblat perubahan bangsa Indonesia, namun Rini Syafri berpendapat bahwa tak layak kita membandingkan dengan negara yang menganut ideologi yang sama selain Islam, “Bandingkan dengan yang semestinya yaitu standar yang sudah dibuat oleh Allah. Kita ini ditetapkan oleh Allah fasilitas pelayanan publik harus murah, kita harus menggunakan standar dari Allah. Mindset kita, harus kita ubah.”

Rini menjelaskan, dalam sistem kapitalisme demokrasi ini teknologi justru membuat stres meningkat, karena dia mengukuhkan kapitalisasi dan semakin menjauhkan hak-hak rakyat terhadap pemenuhan hajat hidup. Pun saat ini teknologi menyingkirkan kemanusiaan seseorang, padahal seharusnya memudahkan orang dalam ketaatan kepada Allah.

Selain aspek kemanusiaan dan posisi ilmu yang dikapitalisasi, dalam forum tokoh Muslimah itu Rini juga membahas bagaimana seharusnya negara berperan dalam merancang perkembangan teknologi melalui penerapan sistem berbasis ideologi Islam.

Dalam Khilafah, rumah sakit itu tersebar dari kota hingga desa. Bahkan ada rumah sakit berjalan yang dibawa sejumlah unta hingga 40 ekor unta dipenuhi pelayanan kesehatan zaman itu. Gratis, dan berkualitas. Sementara hari ini ada ribuan bahkan ratusan ribu ibu-ibu yang membutuhkan teknologi ketika dia ingin melahirkan. Yang kita lihat adalah pelayanan kesehatan semakin mahal dan diskriminatif. Tunduk pada kepentingan bisnis BPJS kesehatan sebagai operatornya, dan kepentingan bisnis korporasi kesehatan lain,” tegas Rini.

Umi Irene Handono yang juga menjadi pembicara dalam forum itu menyatakan bahwa sebagai manusia harus senantiasa taat dan terus berbenah diri tentang ilmu kehidupan sebagaimana yang diinginkan Allah, sehingga teknologi dan kehidupan berjalan selaras saling menyejahterakan, “Allah perintahkan kita untuk mengelola hidup. Apakah kita sudah mampu? Kalau kita tidak paham, maka peradaban manusialah yang akan dihabisi oleh teknologi,” ujarnya.

Salah satu yang disoroti forum itu dalam perkembangan RI 4.0 adalah berkembangnya unicorn di Indonesia. Iffah Ainur Rochmah, Direktur Muslimah Media Center yang menjadi pembicara pertama sempat menyatakan bahwa sejatinya unicorn tumbuh di tengah perlambatan ekonomi.

Iffah menyebutkan, yang paling banyak menikmati keuntungan pasar Indonesia adalah asing. “Diakui 90 persen barang yang diperjualbelikan unicorn e-commerce adalah impor, mematikan daya saing UMKM. Juga kerawanan penyalahgunaan data konsumen bagi kepentingan asing,” ujarnya.

Mereka mengejar valuasi dengan sengaja rugi dengan strategi ‘burning money’ dan ‘cut loss’ untuk menggaet pengguna dengan target kenaikan valuasi 20 kali lipat per 3 tahun. Alhasil terjadi dominasi pasar, mematikan yang bermodal lebih kecil,” tegas Iffah.

Iffah lalu memperingatkan bahaya agar rakyat tak terbuai kesejahteraan semu, “Kalau basis ekonomi kita diarahkan ke sana, ini berbahaya, kita harus sadar bahwa ini model kapitalistik. Jangan dibayangkan bahwa ini akan menjadi solusi bagi persoalan perlambatan ekonomi, pengangguran, dan lainnya. Karena hanya akan memunculkan masalah baru dalam fundamental ekonomi kita.”

Lebih jauh, Mirah Sumirat, Presiden Presiden Aspek (Asosiasi Pekerja) Indonesia memapar dampak langsung yang dialami ribuan pekerja yang menjadi ‘korban’ dilegitimasinya kebijakan RI 4.0 oleh rezim.

Dia menyebut sekira 20 ribu orang pekerja di-PHK massal, “Ini bermula di regulasi keputusan pemerintah melalui kementerian PUPR. Pemerintah ini luar biasa,” katanya.

Revolusi Industri 4.0 pertama kali melanda sektor jalan tol, kedua, PT Pos Indonesia karena sudah tidak ada lagi pengantar surat. Ribuan orang itu. Pada akhirnya kementerian-kementerian pun setuju dengan revolusi industri ini, padahal pada akhirnya yang terdampak adalah rakyat,” papar Mirah dalam forum itu.

Menurut Mirah, regulasi yang diterapkan rezim jelas tak memihak kepada rakyat khususnya para pekerja. “Kalau pro rakyat, dia harus memberikan payung hukum. Ketika negara menerima secara bebas (RI. 4.0), dia harus menyiapkan segala sesuatunya. Apakah menguntungkan rakyat? Pemerintah harus mengubah kurikulum karena tak kompatibel dengan era saat ini, pelatihan untuk rakyat, jaminan sosial gratis tanpa kecuali, tunjangan pengangguran dan dicarikan pekerjaan.

Penciptaan dalam era robotisasi dan digitalisasi teknologi saat ini, kata Mirah, tak boleh diarahkan untuk menghilangkan peran manusia. Bahkan Mirah pun mengungkap bahwa ini adalah bisnis yang akan menciptakan pengangguran massal ke depannya.[]

%d blogger menyukai ini: