Perempuan Butuh Kepemimpinan Islam

Oleh: Ustazah Rezkiana Rahmayanti (Politisi Muslimah)

MuslimahNews, FOKUS — Setiap hari media menampilkan informasi yang menyesakkan dada, begitu lalainya penguasa saat ini dalam melayani rakyatnya. Apalagi di penghujung tahun politik ini, rezim sibuk bertarung untuk mencari simpati rakyat agar bisa mempertahankan “kursi panas”. Rakyat disuguhi menu pencitraan yang menipu mereka, manis diucapan namun nol dalam penerapan. Rakyat sudah lelah mendengar janji-janji yang tak kunjung di tepati. Termasuk kalangan perempuan, sudah lelah di PHP oleh rezim yang gagal, tidak menempati janji, berbohong bahkan represif.

Butuh Kepemimpinan Islam

Islam adalah agama sekaligus Ideologi yang membahas seluruh aspek kehidupan dari A sampai Z, termasuk juga tentang kepemimpinan. Kepemimpinan dalam Islam memegang peranan penting, bahkan, Imam al-Ghazali menyebutkan sebagai saudara kembar. Islam menjadi pondasi kehidupan, sedangkan kepemimpinan, dengan kekuasaan yang ada di dalamnya, ibarat penjaga (pengawal)-nya. Tanpa kekuasaan, dengan kepemimpinannya, Islam akan lenyap. Begitulah, peranan penting kekuasaan dengan kepemimpinannya dalam Islam.

Sistem kepemimpinan Islam bukanlah hasil kesepakatan manusia, namun dibangun oleh landasan Ilahiyah dan di bawa oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam sirah nabawiyah, berdasarkan riwayat-riwayat yang terpercaya, telah disebutkan informasi akurat mengenai bentuk dan stuktur kepemimpinan yang dibangun Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Islam menetapkan, bahwa adanya pemimpin untuk mengurus urusan orang yang dipimpinnya. Maka, pemerintahan dan kekuasaan tidak identik dengan power (quwwah). Juga tidak boleh bergeser dari misinya untuk mengurus dan melayani, menjadi alat untuk menindas dan mengintimidasi. Untuk mengurus dan melayani memang dibutuhkan power, tetapi power tidak boleh menjadi tumpuan dan tujuan.
Kepemimpinan Islam bukan untuk mempertahankan kekuasaan tetapi untuk menjalankan hukum-hukum syara secara kaffah sebagai bentuk konsekuensi akidah Islam dan ketaatan secara total. Sehingga kepemimpinan Islam mampu mengurus seluruh urusan rakyatnya dan melindungi mereka dari kezaliman.

Kepemimpinan Islam adalah Amanah yang harus ditunaikan. Dari Abdullah ibn ‘Umar ra. Beliau berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Semua kalian adalah pemimpin dan akan ditanya (dimintai pertanggung jawabannya) kelak tentang kebajikanmu kepada rakyat yang kamu pimpin. Seorang Imam (Pejabat/ kepala/ketua) adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawabannnya nanti tentang kondisi rakyat yang dipimpinnya. Para (lelaki) suami adalah pemimpin di dalam keluarganya dan akan diminta pertanggung jawabannya tentang keluarga yang dipimpinnya. Para wanita (istri) adalah pemimpin di rumah tangga suaminya dan akan dimintai pertanggung jawabannya tentang keluarga yang dipimpinnya. Pelayan (pembantu) pun adalah pemimpin tentang harta benda majikannya dan akan dimintai pertanggung jawabannya kelak tentang harta benda majikan yang dipeliharanya. Pada dasarnya semua kamu adalah pemimpin yangakan dimintai pertanggung jawabannya nanti tentang hal yang dipimpinnya”. (Muttafaqun ‘alaih).

Kepada sahabat Abu Dzarrin, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menyampaikan pesan: “Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah suatu amanah, dan di hari kiamat akan mengakibatkan kerugian dan penyesalan kecuali mereka yang mengambilnya dengan cara yang baik serta dapat memenuhi kewajibannya sebagai pemimpin dengan baik” (HR Muslim). Amanah ini harus diserahkan kepada ahlinya, atau kepada orang-orang yang layak untuk diangkat sebagai pemimpin. Kepemimpinan bukanlah barang dagangan yang dapat diperjualbelikan. Karena itu, pada prosesnya, seorang calon pemimpin tidak dibeli oleh mereka yang menghendakinya, ataupun membeli dukungan dengan mengharap kemenangan. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Tunggu saat kehancurannya, apabila amanat itu disia-siakan. Para sahabat serentak bertanya, ‘Ya Rasulullah apa yang dimaksud menyia-nyiakan amanah itu?’ Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: Apabila sesuatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah tanggal kehancurannya.” (HR Bukhari).

Adanya hubungan cinta kasih antara pemimpin dan yang dipimpin adalah hubungan cinta kasih yang hakiki. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda “Sebaik-baiknya pemimpin kamu adalah mereka yang kamu cintai dan mereka pun mencintamu; kamu menghormati mereka dan merekapun menghormati kamu. Pun sejelek-jeleknya pemimpin kamu adalah mereka yang kamu benci dan mereka pun benci kepada kamu. Kamu melaknat mereka dan mereka pun melaknatmu.” (HR Muslim)

Ketika kekuasaan dan pemerintahaan itu didedikasikan untuk mengurusi urusan rakyatnya, maka seorang penguasa akan mencintai rakyatnya dengan sepenuh hati. Dia sanggup blusukan, bukan untuk menarik simpati, atau membangun opini, tetapi untuk melayani dan memberi solusi. Karena dia memberikan cinta kepada rakyatnya, dia pun dicintai. Dia mendoakan rakyatnya, maka dia pun sama, didoakan oleh rakyatnya. Tanpa diminta.

Itulah tipe pemimpin yang digambarkan dalam hadis Nabi, sebagai pemimpin terbaik. “Khiyaru a’immatikum al-ladzina yuhibbunakum wa tuhibbunahum, wa yushallunakum wa tushallunahum.” (Pemimpin kalian yang terbaik adalah pemimpin yang mencintai kalian, dan kalian pun mencintainya. Mereka mendoakan kalian, dan kalian pun mendoakan mereka).

Kepemimpinan Islam Melindungi dan Memuliakan Perempuan

Kepemimpinan Islam melalui penerapan sistem ekonomi, pendidikan, aturan sosial, media, dan yang lainnya, mampu memberikan jaminan perlindungan bagi perempuan dan anak. Semua ini terimplementasikan dalam bentuk rincian jaminan sebagai berikut:

1. Jaminan terhadap kehormatan
Melalui hukum-hukum yang menyangkut pergaulan dengan lawan jenis, Islam telah menjaga umatnya agar kehormatannya terlindungi. Islam mewajibkan perempuan dan laki-laki untuk menutup aurat. Bagi perempuan wajib untuk mengenakan jilbab dan kerudung ketika keluar rumah, menundukkan pandangan, tidak ber-tabarruj (berdandan berlebihan), tidak berkhalwat, bersafar lebih dari sehari-semalam harus disertai mahram, dan lain-lain. Dalam hukum-hukum tentang pernikahan, pelanggaran kehormatan, kekerasan kehormatan, kekerasan domestik dan penganiayaan terhadap istri, adalah perkara-perkara yang dilarang oleh Islam. Bahkan untuk menjaga kehormatan perempuan, Islam juga mengharamkan beberapa jenis pekerjaan yang mengeksploitasi perempuan, misalnya bintang film, model iklan, penari, penyanyi, dan lain-lain.

2. Jaminan kesejahteraan
Ketika perempuan mendapatkan tugas utama sebagai ibu serta pengatur rumah tangga dan penyelamat bahtera rumah tangga, maka perempuan tidak dibebani tugas untuk bekerja menafkahi dirinya sendiri. Tugas tersebut dibebankan kepada laki-laki (suaminya, ayahnya, ataupun saudaranya). Dengan kewajiban masing-masing dari ibu dan ayah, maka anak-anak akan terjamin kehidupannya. Namun demikian, perempuan tetap boleh bekerja dan memainkan peranan lain dalam kehidupan bermasyarakat, selain peran dalam keluarga seperti yang telah disebutkan. Keberadaan dokter, guru, perawat, hakim, polisi perempuan, adalah beberapa profesi yang dapat ditekuni perempuan dan sangat penting bagi keberlangsungan kesejahteraan masyarakat.

3. Jaminan untuk memperoleh pendidikan
Dalam Islam, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak. Bahkan sangat penting bagi perempuan muslimah untuk memiliki pendidikan islami setinggi mungkin. Merekalah yang nantinya akan menjadi sumber pengetahuan pertama bagi anak-anaknya.

4. Jaminan untuk berpolitik
Islam memerintahkan perempuan untuk beraktivitas politik dan beramar ma’ruf nahi munkar kepada penguasa (Q.S Ali Imran: 104, Q.S At-Taubah: 71). Perempuan dalam Islam memiliki hak untuk memilih Khalifah, memilih dan dipilih menjadi majelis umat, atau menjadi bagian dari partai politik Islam. Hanya saja, urusan yang berkaitan dengan kekuasaan pemerintahan tidak boleh dijabat oleh perempuan.

5. Jaminan untuk kelangsungan keturunan
Melalui hukum-hukum tentang nasab (juga hukum-hukum tentang pernikahan), Islam telah memuliakan perempuan dan laki-laki untuk memperoleh keturunan yang sah, bahkan kehidupan rumah tangga yang menentramkan. Melalui pernikahan syar’i, perempuan mendapatkan haknya sebagaimana laki-laki (suami) mendapatkan hak-haknya dari istri. Hal ini akan berpengaruh terhadap keturunan yang dihasilkan dikemudian hari. Keberlangsungan hidup anak-anaknya dan hak-hak anak lainnya, akan terjaga baik secara fisik maupun secara mental.

6. Jaminan ketika perempuan berada di ruang publik
Islam memuliakan perempuan dengan jaminan di bidang peradilan. Islam juga membolehkan perempuan untuk berjihad. Islam juga memuliakan perempuan dengan membolehkannya berkiprah diberbagai lapangan kehidupan, baik dalam struktur pemerintahan (yaitu selain penguasa dan qadhi mazhalim) maupun aktivitas umum lainnya. Semua itu tentu saja dilaksanakan dengan tetap menjaga pelaksanaan hukum syari’ah lainnya. Demikianlah jaminan Islam yang diberikan bagi umatnya. Semua itu tidak lain agar mereka menjadi makhluk mulia, terhormat dihadapan Allah subhanahu wa ta’ala dan manusia.

Peran Perempuan Mewujudkan Kepemimpinan Islam

Melalui Dakwah! Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 104)

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh perempuan Muslimah khususnya dalam mewujudkan Kepemimpinan Islam, di antaranya:

Pertama, Perempuan Muslimah menjadikan akidah dan hukum Islam sebagai landasan berpikir dan perbuatannya dalam seluruh aspek kehidupan, bukan kebebasan, materialisme yang berasal dari akidah sekularisme (memisahkan agama dalam kehidupan).

Perempuan menyakini secara mendalam bahwa hanya dengan menjadikan akidah dan hukum Islamlah AKAN TERWUJUD kepemimpinan Islam yang berkah dan membawa kemuliaan bagi umat.

Kedua, Perempuan (muslimah) harus bersama dengan jamaah yang memiliki tujuan menegakkan kalimah Allah secara kaffah dengan metode kenabian. Yaitu dengan cara membina dan menyebarkan pemikiran Islam yang jernih dan utuh (kaffah) di tengah-tengah umat, terutama di kalangan Muslimah lainnya; juga melakukan pergolakan pemikiran dan perjuangan politik, sehingga kesadaran akan rusaknya sistem kehidupan yang mengungkung mereka saat ini dan keharusan kembali kepada sistem Islam akan tersebar menyeluruh di setiap komponen umat, baik laki-laki maupun perempuan.

Ketiga, Aktivitas untuk mewujudkan kepemimpinan Islam harus memiliki kejelasan fikrah (konsep/pemikiran) dan thariqah (tatacara merealisasikan pemikiran), serta ikatan yang shahih di antara para aktivisnya, pergerakan perempuan (Muslimah) –sebagaimana juga pergerakan jamaah Islam yang menjadi induknya– harus memiliki wawasan politik global, dalam arti memiliki kesadaran bahwa umat Islam di dunia adalah umat yang satu, dan harus menjadi umat yang satu, baik secara pemikiran maupun secara politis. Sehingga perjuangan pergerakan muslimah tidak boleh terbatasi oleh sekat-sekat imajiner bernama negara, melainkan lebur dalam aktivitas pergerakan Muslimah dan umat Islam lainnya yang berjuang di seluruh pelosok bumi mewujudkan satu kepemimpinan politis yang menerapkan Islam atas seluruh umat.

Keempat, Aktivitas perempuan mewujudkan kepemimpinan Islam harus bersifat politis, yakni mengarahkan perjuangannya pada upaya optimalisasi peran politik perempuan di tengah-tengah masyarakat sesuai aturan Islam. Termasuk ke dalam konteks ini adalah mengarahkan upaya pemberdayaan politik perempuan pada target optimalisasi peran dan fungsi kaum perempuan sebagai pencetak dan penyangga generasi. Upaya optimalisasi seluruh peran perempuan, baik di sektor publik maupun domestik sesuai tuntunan syariah.

Pada tataran praktis, hal ini dilakukan dengan cara membina pemikiran dan pola sikap mereka dengan Islam, agar terbentuk Muslimah berkepribadian Islam tinggi, di samping mengarahkan mereka agar memiliki kesadaran politik Islam yang juga tinggi. Yakni dengan memahamkan mereka akan hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan pengaturan umat, serta mendorong mereka agar senantiasa mengikuti perkembangan peristiwa politik dalam dan luar negeri mereka, karena kesadaran politik Islam yang dimaksud adalah mereka memahami dan meyakini bahwa pemeliharaan urusan-urusan umat (politik dalam maupun luar negeri) harus diatur dengan syari’at Islam. Dengan cara inilah kaum Muslimah dipastikan akan mampu mendidik generasi pemimpin yang berkepribadian Islam mumpuni, cerdas dan berkesadaran politik tinggi. Dan jika ini berhasil, maka bisa dipastikan kepemimpinan Islam di dunia akan kembali ke tangan umat Islam, sebagaimana yang dulu pernah terjadi di masa-masa awal kebangkitan Islam.[]

#PerempuanRinduKepemimpinanIslam

#PerempuanButuhPemimpinJujurdanAmanah

Apa komentar Anda?
%d blogger menyukai ini: