; Menakar Konsep NKRI Bersyariah – Muslimah News

Menakar Konsep NKRI Bersyariah

Pelaksanaan syariah kaffah tidak cukup diterapkan oleh individu dan jamaah. Akan tetapi harus ada institusi yang mempunyai kekuasaan untuk penerapan syariat Islam secara keseluruhan yaitu negara. Wahasil kalau negara dikatakan bersyariah, maka wajib menerapkan syariah Islam secara kaffah tanpa kecuali.


Oleh: Rahma Qomariyah

MuslimahNews, FOKUS — Pada Agustus 2018 Habib Rizieq Shihab dalam Sebuah video memaparkan NKRI Bersyariah dalam 17 poin utama. Secara ringkas Habib menyampaikan NKRI Bersyariah adalah negara yang berketuhanan, melindungi umat Islam dan umat beragama lain, menjamin produk halal, menolak neoliberalisme, dan menolak produk atau aktivitas yang dilarang agama. (VOA Indonesia)

Suaramuslim.net menyebutkan secara rinci 17 point NKRI bersyariah yang dimaksud Habib Rizieq adalah NKRI yang beragama; Berketuhanan, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur ,tunduk dan patuh kepada hukum Tuhan Yang Maha Esa, yaitu hukum Allah swt; Berkemanusiaan yang adil dan beradab; Menjaga persatuan Indonesia; Mengedepankan musyawarah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sesuai amanat asas kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyaratan perwakilan; Menolak neolib sosialis, maupun neolib kapitalis untuk mewujudkan asas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia; Menjamin setiap umat beragama untuk menjalankan ibadah dan syariat agamanya masing-masing; melindungi rakyat dari segala maksiat; Menghadirkan pejabat yang amanat dan tidak khianat; Melindungi umat Islam sebagai rakyat mayoritas Indonesia dari mengkonsumsi segala produk yang haram; Mencintai dan menghormati para ulama beserta santri; Pribumi sebagai tuan di negeri; Menghargai dan melindungi madrasah dan pesantren; Anti korupsi, anti miras, anti narkoba, anti judi, anti pornografi, anti pornoaksi, anti prostitusi, anti LGBT, anti teroris, anti separatis, anti fitnah, anti kebohongan, anti kemungkaran, anti kezaliman; Berdasarkan Pancasila dan UUD 18 Agustus 1945 asli yang dijiwai Piagam Jakarta 22 Juni 1945 sesuai amanat Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Inti dari 17 poin NKRI Bersyariah adalah kerinduan pada negara yang dijalankan dengan Pancasila dan UUD 18 Agustus 1945 asli yang dijiwai Piagam Jakarta 22 Juni 1945 sesuai amanat Dekrit Presiden 5 Juli 1959.(Suara Muslim)

Merespon hal tersebut Nadirsyah Hosen, intelektual Muslim yang juga pengajar hukum di Universitas Monash, Australia, menyebut, syariah juga sudah memperoleh tempat yang cukup di Indonesia. Aceh diistimewakan terkait syariah, perbankan syariah dijalankan, ada jaminan halal, haji diurus dengan baik, zakat juga diurus lembaga resmi.

Sementara itu Ketua Umum PPP, Romahurmuziy menyampaikan tujuan PPP dalam bahasa yang singkat adalah NKRI bersyariah. Tapi bukan berarti kita ingin mengubah republik ini menjadi Khilafah, tapi memastikan syariat-syariat yang diperlukan oleh umat Islam dituangkan menjadi undang-undang dan Peratuan daerah (PERDA)
Romahurmuziy menyampaikan itu pada hari ulang tahun PPP Ke-46 di Jakarta, 6 Januari lalu. Dia menyebut, syariat Islam yang dituangkan dalam konstitusi itu antara lain undang-undang terkait minuman keras, RUU pesantren dan pendidikan agama.(VOA Indonesia)

Dari sini bisa disimpulkan pendapat Nadirsyah Hosen dan Romahurmuziy tentang konsep NKRI bersyariah adalah penerapan syariah pada sebagian kecil urusan umat yaitu ibadah dan muamalah yang tidak menyentuh sedikitpun kewajiban Negara menerapkan syariah yang berkaitan dengan sistem ekonomi, sistem keuangan, sistem politik, sistem hukum, sistem sanksi dan sistem pemerintahan, hubungan luar negeri, mengemban dakwah ke seluruh dunia.

Adapun konsep Aceh bersyariah adalah di samping menerapkan hukum syariah, hukum nasional sekaligus aturan adat secara bersamaan. Penerapan syariah dibatasi hal-hal terkait keagamaan, seperti konsumsi minuman memabukkan atau tindak asusila, diatur dalam qanun jinayat. Inipun hanya berlaku bagi warga Muslim. Bagi warga nonmuslim, hukum syariah ini menjadi pilihan ketika dia melakukan pelanggaran. Hukum syariah di Aceh tidak memaksa warga nonmuslim berpakaian menurut cara Islam, tapi ada aturan adat yang harus diikuti dalam berpakaian maupun tata krama kemasyarakatan secara umum.(VOA Indonesia)

Konsep Syariah dalam Alquran

Imam Asy Syaukani dalam kitab tafsir Fathul qadir menafsirkan surat al Jatsiyah ayat 18:
{ ثُمَّ جعلناك على شَرِيعَةٍ مّنَ الأمر فالمراد بالشريعة هنا : ما شرعه الله لعباده من الدين ، والجمع شرائع ، أي : جعلناك يا محمد على منهاج واضح من أمر الدين يوصلك إلى الحق
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama Islam ), maka yang dimaksud dengan syariah di sini adalah adalah apa (urusan Agama Islam) yang telah disyariatkan oleh Allah untuk hambaNya dan seluruh syariat. Maksudnya Kami menjadikan untukmu Muhamad (syariat) berdasarkan manhaj yang jelas yaitu urusan agama Islam yang menyampaikan kepada kebenaran. (Imam Asy Syaukani, Fathul qadir, tafsir QS. Jatsiyah ayat18).

Dari penafsiran surat al Jatsiyah ayat 18 dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: Pertama, syariah itu bersumber dari agama Islam. Kedua, syariah itu adalah seluruh aturan berkaitan dengan seluruh urusan yang telah disyariatkan Allah untuk hambaNya. Ketiga, syariah memakai manhaj yang jelas, mampu mengantarkan kepada kebenaran. Dengan diterapkan syariah Islam akan membawa kemaslahatan/rahmat bagi semua. Firman Allah surat al Anbiya’ ayat 107:
{وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ}
Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Kalau kita perhatikan aturan/syariah yang ada dalam Alquran dan Hadis, maka kita akan mendapati konsep syariah meliputi dua hal: (a) Berkaitan dengan pemikiran. Yaitu konsep pemikiran syariah Islam itu lengkap secara keseluruhan urusan agama Islam meliputi akidah, ibadah, akhlak, pakaian, makanan, sistem pemerintahan, system ekonomi, sistem pergaulan, sistem pidana, sistem ekonomi, sistem pendidikan dan politik. (b) Berkaitan dengan metode pelaksanaan pemikiran Islam. Yaitu bagaimana pemikiran syariah Islam itu dilaksanakan/diterapkan meliputi edukasi, sosialisasi dan sanksi bagi yang melanggarnya.

Syariah Islam mengatur semua hubungan manusia, baik dengan Allah, dengan dirinya sendiri maupun dengan sesama manusia. Syariah Islam mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT yaitu dalam urusan akidah, tauhid dan ibadah. Syariah Islam juga mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri yaitu urusan makanan, minuman, pakaian dan akhlak. Sementara hubungan manusia dengan manusia lain, yaitu sistem pemerintahan, sistem ekonomi, sistem pergaulan, sistem pidana, sistem ekonomi, sistem pendidikan dan politik. (Abdullah, Muhammad Husain Dirasat fi Al Fikri Al Islamiyah, Aman: Darul Bayariq, 1990)

Adapun berkaitan dengan siapa yang diseru Allah untuk melaksanakan hukum/ syariah, maka adakalanya individu seperti shalat, zakat dan haji. Adakalanya yang diseru Allah adalah jamaah misalnya berdakwah, shalat jumat, dan shalat hari raya. Adakalanya Negara misalnya menerapkan system ekonomi, sistem pemerintahan, sistem sanksi, hubungan luar negeri, mengemban dakwah ke seluruh dunia.

Selanjutnya Melaksanakan kewajiban menerapkan syariah Islam harus menyeluruh dan tidak boleh memilih-milih yang dinilai dibutuhkan dan relevan. Allah mewajibkan kepada kaum Muslimin untuk menerapkan syariah/aturan/hukum Islam secara menyeluruh/ kaffah, yaitu mengambil seluruh pegangan/pedoman Islam dan seluruh syari’ah, serta menjalankan seluruh perintah-Nya, dan meninggalkan seluruh larangan-Nya. Firman Allah surat Albaqarah ayat 208:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (208) فَإِنْ زَلَلْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (209) }
يقول تعالى آمرًا عباده المؤمنين به المصدّقين برسوله: أنْ يأخذوا بجميع عُرَى الإسلام وشرائعه، والعمل بجميع أوامره، وترك جميع زواجره ما استطاعوا من ذلك.
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu (Albaqarah 208). Allah SWT memerintahkan hamba-Nya yang beriman kepada-Nya, membenarkan Rasul-Nya: agar mengambil seluruh pegangan Islam dan seluruh syari’ah, dan menjalankan seluruh perintah-Nya, dan meninggalkan seluruh larangan-Nya sesuai dengan kemampuannya. (Ibn Katsir, Tafsir Ibnu Katsir Juz I, hlm 565)

Syariah Islam harus sebagai pedoman bagi kita saat beraktivitas dalam seluruh urusan kehidupan, baik urusan dunia maupun akhirat. Syariah Islam sebagai pedoman saat beribadah, makan-minum, bergaul, berekonomi, berhukum, berpolitik, berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat dan bernegara. Karenanya pelaksanaan syariah kaffah tidak cukup diterapkan oleh individu dan jamaah. Akan tetapi harus ada institusi yang mempunyai kekuasaan untuk penerapan syariat Islam secara keseluruhan yaitu negara.

Wahasil kalau negara dikatakan bersyariah, maka wajib menerapkan syariah Islam secara kaffah tanpa kecuali. Baik syariah Islam yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT yaitu akidah, tauhid dan ibadah. Syariah Islam juga mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri yaitu makan, minuman, pakaian dan akhlak. Dan hubungan manusia dengan manusia lain: sistem pemerintahan, sistem ekonomi, sistem pergaulan, sistem pidana, system ekonomi, sistem pendidikan dan sistem politik.

Mengenai sumber, maka syariah/ aturan Islam hanya bersumber dari sumber yang telah ditetapkan agama Islam. Adapun sumber atau dalil penetapan aturan/syariah adalah Alquran Hadis Ijma Shahabat dan Qiyas.

Dengan demikian Negara bersyariah tidak cukup hanya menerapkan syariah Islam dalam sebagian aspek kehidupan tertentu dan meninggalkan sebagian yang lain. Misalnya seluruhnya peraturan akan diterapkan kecuali sistem pemerintahan dan sistem ekonomi. Apalagi hanya menerapkan sebagian kecil hukum Islam, selebihnya bukan hukum Islam. Terdapat kecaman yang keras bagi yang tidak melaksanakan hukum Islam secara kaffah, yaitu dianggap mengikuti langkah-langkah setan. Firman Allah surat Albaqarah ayat 208 yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.[]

Bagaimana menurut Anda?