Awas, Lho! Bohong itu Dosa! Apalagi Dilakukan Penguasa

Kebohongan, jelas merupakan dosa yang dicela. Sementara kebohongan yang dilakukan penguasa dan dukungan terhadapnya, tentu lebih besar lagi dosanya. Terlebih kebohongan itu dilakukan bersama sikap pembangkangan terhadap syariat Allah SWT. Juga diikuti oleh upaya-upaya menjauhkan umat dari perjuangan menegakkannya. Sebagaimana hari ini, hal itu sedang masif dilakukan oleh penguasa bersama para pendukungnya.


MuslimahNews, EDITORIAL — Alih-alih menguatkan performa, debat capres kedua justru malah makin membuka kedok kebohongan penguasa. Kepercayaan diri besar yang coba dinampakkan sepanjang debat, tetap tak mampu membendung kekesalan masyarakat atas manipulasi data yang digunakan untuk menutup apa yang terjadi sebenarnya.

Ya, rakyat memang pantas marah. Mereka menganggap sandiwara ini sudah kelewat batas. Apalagi semua kebohongan disampaikan dengan rasa bangga, seolah-olah Indonesia ini baik-baik saja. Tak ada karhutla, tak ada konflik agraria, impor beberapa bahan pangan tak seberapa, dan sebagainya, dan sebagainya.

Padahal fakta menunjukkan, semua serba sebaliknya. Karhutla, konflik agraria, impor besar-besaran sawit, padi dan jagung, bla bla bla, justru terjadi semuanya.

Bahkan senyatanya, Indonesia sedang menghadapi banyak soal. Mulai dari gap sosial yang makin lebar, barang-barang kebutuhan yang serba mahal, utang luar negeri yang makin mencengkeram, pembangunan infrastruktur yang diskriminatif dan salah sasaran, separatisme yang makin meradang, moral generasi yang makin hancur dan makin liberal, dan keruwetan lain yang kian menyempitkan kehidupan.

Tak heran jika sebutan The King of Liar atau The King of Hoax pun lantas disematkan pada Sang Penguasa. Bahkan tagar #UninstallJokowi dan semacamnya sempat beberapa waktu bertengger menjadi trending topic kelas dunia.

Baca juga:  Buzzer Politik yang Memanipulasi Data untuk Kepentingan Pihak Tertentu

Di era rezim sekuler, kebohongan memang nampak sudah menjadi jurus andalan untuk meraih atau mempertahankan kekuasaan. Penguasa atau calon penguasa, tak sungkan-sungkan membangun karir kekuasaannya atau menjaga eksistensi kekuasaannya di atas berbagai kebohongan. Ini nampak dari janji-janji manis dan pencitraan yang masif dilakukan saat kampanye jelang pemilihan. Namun ternyata banyak yang tak mampu direalisasikan saat sudah duduk di kursi kekuasaan.

Bahkan kebohongan pun seolah lekat dengan perilaku politik para pejabat dan jajaran di bawahnya. Hingga negeri ini pun nampak sulit keluar dari praktik-praktik negatif semacam budaya asal bapak senang, budaya manipulasi data, mark up ajuan anggaran, proyek-proyek fiktif dan berbagai perilaku koruptif lainnya. Ribetnya layanan publik yang kadung lekat menjadi brand image dalam birokrasi Indonesia pun tak lepas dari praktik yang berakar pada budaya bohong ini.

Ironisnya, semua praktik ini nyaris merata di semua level kekuasaan serta semua lingkup kelembagaan. Level pusat hingga daerah, serta dari lembaga eksekutif, legislatif, bahkan yudikatif dan kepolisian, semua tak steril dari praktik kebohongan dan kecurangan. Wajar jika karena banyaknya kasus korupsi di Indonesia, The World Economic Forum memberi Indonesia nilai 37 dari skor 0-100. Artinya, meski banyak yang kondisi korupsinya lebih buruk dari Indonesia, namun Indonesia tetap terkategori negara terkorup sedunia.

Dengan penerapan sistem demokrasi kapitalisme neoliberal yang tegak di atas paradigma sekularisme dan liberalisme, memang akan sangat sulit berharap kondisi ini bisa berubah. Sistem demokrasi kapitalisme neoliberal beserta paham-paham yang mendasarinya memang tak mengenal konsep halal haram. “Kebebasan bertindak dan berperilaku” telah menjadi salah satu nyawanya. Sehingga “tujuan menghalalkan cara” jadi mantra yang harus diwajarkan oleh semuanya.

Persoalannya, praktik-praktik semacam ini jelas telah menjauhkan umat dari kesempatan untuk memperoleh keberkahan hidup, baik sebagai individu, bagian dari keluarga, maupun dalam konteks sebagai sebuah masyarakat. Karena, keberkahan itu ada pada ketaatan, sementara pelanggaran terhadap syariat dipastikan akan membawa kesempitan.

Baca juga:  Reuni 212, Spirit Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Kebohongan, jelas merupakan dosa yang dicela. Sementara kebohongan yang dilakukan penguasa dan dukungan terhadapnya, tentu lebih besar lagi dosanya. Terlebih kebohongan itu dilakukan bersama sikap pembangkangan terhadap syariat Allah SWT. Juga diikuti oleh upaya-upaya menjauhkan umat dari perjuangan menegakkannya. Sebagaimana hari ini, hal itu sedang masif dilakukan oleh penguasa bersama para pendukungnya.

Rasul saw bersabda kepada Kaab bin ‘Ujrah:

أَعَاذَكَ اللَّهُ مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ. قَالَ: وَمَا إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ؟ قَالَ: أُمَرَاءُ يَكُونُونَ بَعْدِي لَا يَقْتَدُونَ بِهَدْيِي وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ لَيْسُوا مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُمْ وَلَا يَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ وَسَيَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِ

“Kaab bin ‘Ujrah, semoga Allah melindungi kamu dari imarat as-sufaha’ (kepemimpinan orang-orang bodoh).” Kaab bin ‘Ujrah bertanya, ”Apa itu imarat as-sufaha’, wahai Rasulullah saw.?” Beliau menjawab, ”Yaitu para pemimpin yang akan datang setelah aku. Mereka itu tidak mengikuti petunjukku dan tidak menjalankan Sunnahku. Siapa saja yang membenarkan perkataan mereka dan membantu kezaliman mereka, maka dia tidak termasuk golonganku dan aku pun bukan termasuk golongannya; dia juga tidak akan mendatangi aku di telagaku (pada Hari Kiamat kelak). Namun, siapa saja yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu kezaliman mereka, maka dia termasuk golonganku dan aku pun termasuk golongannya; dia juga akan mendatangi aku di telagaku (pada Hari Kiamat kelak).” (HR Ahmad).

Baca juga:  Khalifah sebagai Raa'in dan Junnah bagi Umat

Demikianlah Baginda Rasul Saw memberi peringatan tegas atas keberadaan para penguasa dzalim dan pembohong yang digelari imarat as-sufaha. Dan terhadap mereka kita diperintah untuk berlepas diri dan mengingkari semua kebohongannya.

Bahkan kita diperintah untuk terus memperjuangkan munculnya kepemimpinan Islam yang sesuai petunjuk syara. Yakni kepemimpinan yang siap mencampakkan sistem sekuler demokrasi kapitalis neoliberal dan menegakkan sistem Khilafah yang akan menegakkan syariatNya.

Hanya sistem inilah yang akan mencegah semua keburukan tersebab longgarnya ketaatan manusia kepada Rabb-nya. Sistem ini justru akan membimbing penguasa dan rakyatnya untuk tunduk pada perintah Allah dan menjalani hidup di atas ketaatan tersebut. Hingga sesuai janji-Nya, kehidupan manusia akan dilingkupi oleh keberkahan dan kemuliaan hidup, dan kaum Muslim pun akan kembali mulia. Menjadi sebaik-baik umat dan memimpin peradaban cemerlang sebagaimana sebelumnya.[]SNA

Tinggalkan Balasan