Suramnya 2019 Ibarat Musim Gugurnya Bisnis Ritel

Revolusi industri dapat mengancam makin tingginya pengangguran di Indonesia. Hal ini tentu saja akan menambah beban masalah lokal maupun nasional.


Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si
(Koordinator LENTERA, Relawan Opini dan Media)

MuslimahNews, ANALISIS — Masih kaget dengan kabar tutupnya 26 gerai Giant milik PT Hero Supermarket Tbk (HERO), serta salah satu cabang toko ritel Central Department Store di Neo Soho Mall, akhir Januari ini dunia bisnis ritel ibarat kembali dirundung duka ekonomi. Yakni dengan ditutupnya Centro Department Store di kawasan Plaza Semanggi, Jakarta (kumparan.com, 29/01/2019). Fakta ini masih belum ditambah dengan kejadian pada 2018, ketika Matahari Department Store juga tercatat sebagai toko ritel yang harus rela menutup sejumlah gerainya.

Memang, pola belanja masyarakat telah sangat berubah. Di antara faktor yang seringkali ditudingkan adalah karena beralihnya minat masyarakat untuk belanja online. Meski tak dapat dipungkiri juga akan adanya faktor penurunan daya beli masyarakat. Hingga kemudian mereka enggan membelanjakan uangnya jika tanpa menghasilkan uang lagi, alias belanja barang yang diniatkan untuk dijual lagi secara online. Semata demi menambah uang biaya penghidupan sehari-hari.

Namun demikian, mari kita telaah lebih mendalam. Bahwa semua ini tak dapat dilepaskan dari fenomena arus global revolusi industri 4.0. Adalah Prof Klaus Schwab, Ekonom terkenal dunia asal Jerman, Pendiri dan Ketua Eksekutif World Economic Forum (WEF) yang mengenalkan konsep Revolusi Industri 4.0. Dalam bukunya yang berjudul “The Fourth Industrial Revolution”, Prof Schwab (2017) menjelaskan revolusi industri 4.0 telah mengubah hidup dan kerja manusia secara fundamental. Revolusi industri generasi ke-4 ini memiliki skala, ruang lingkup dan kompleksitas yang lebih luas. Kemajuan teknologi baru yang mengintegrasikan dunia fisik, digital dan biologis telah mempengaruhi semua disiplin ilmu, ekonomi, industri dan pemerintah. Bidang-bidang yang mengalami terobosoan berkat kemajuan teknologi baru diantaranya (1) robot kecerdasan buatan (artificial intelligence robotic), (2) teknologi nano, (3) bioteknologi, dan (4) teknologi komputer kuantum, (5) blockchain (seperti bitcoin), (6) teknologi berbasis internet, dan (7) printer 3D.

Baca juga:  Kita Butuh “New System”, Bukan “New Normal”

Di satu sisi mungkin benar, jika revolusi industri 4.0 membuka peluang yang luas bagi siapapun untuk maju. Teknologi informasi yang semakin mudah terakses hingga ke seluruh pelosok menyebabkan semua orang dapat terhubung di dalam sebuah jejaring sosial. Banjir informasi seperti yang diprediksikan futurolog Alvin Tofler (1970) menjadi realitas yang ditemukan di era revolusi industri saat ini. Informasi yang sangat melimpah ini menyediakan manfaat yang besar untuk pengembangan ilmu pengetahuan maupun perekonomian.

Namun yang tak boleh kalah waspada, revolusi industri generasi empat nyatanya tidak hanya menyediakan peluang, tapi juga tantangan bagi generasi milenial. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai pemicu revolusi industri juga diikuti dengan implikasi lain seperti pengangguran, kompetisi manusia vs mesin, dan tuntutan kompetensi yang semakin tinggi.

Menurut Prof Dwikorita Karnawati (2017), revolusi industri 4.0 dalam lima tahun mendatang akan menghapus 35 persen jenis pekerjaan. Dan bahkan pada 10 tahun yang akan datang jenis pekerjaan yang akan hilang bertambah menjadi 75 persen. Hal ini disebabkan pekerjaan yang diperankan oleh manusia setahap demi setahap digantikan dengan teknologi digitalisasi program. Dampaknya, proses produksi menjadi lebih cepat dikerjakan dan lebih mudah didistribusikan secara masif dengan keterlibatan manusia yang minim. Di Amerika Serikat, misalnya, dengan berkembangnya sistem online perbankan telah memudahkan proses transaksi layanan perbankan. Akibatnya, 48.000 teller bank harus menghadapi pemutusan hubungan kerja karena alasan efisiensi. Tak usah jauh-jauh, di Indonesia sendiri, sekitar 3 tahun lalu terjadi fenomena di mana ribuan sarjana terpaksa lebih memilih menjadi driver ojek online dibandingkan mencari pekerjaan lain.

Baca juga:  Cara Islam Menyejahterakan Dunia

Bahkan menurut survei McKinsey, sebuah korporasi konsultan manajemen multinasional, di Indonesia sebanyak 52,6 juta lapangan pekerjaan berpotensi digantikan dengan sistem digital. Dengan kata lain, 52 persen angkatan kerja atau merepresentasikan 52,6 juta orang akan kehilangan pekerjaan. Lapangan pekerjaan yang potensial diotomatisasikan di antaranya usaha pengolahan (manufacturing), perdagangan ritel, transportasi dan pergudangan, tenaga administrasi, konstruksi, layanan makanan dan akomodasi, pertanian, perikanan, dan kehutanan, serta layanan kesehatan dan keuangan/asuransi. Dengan demikian, revolusi industri dapat mengancam makin tingginya pengangguran di Indonesia. Hal ini tentu saja akan menambah beban masalah lokal maupun nasional.

Tak heran, jika bisnis ritel sedikit demi sedikit harus rela kehilangan gerai. Karena saat ini transaksi perdagangan toh tak harus di toko. Melainkan sudah cukup via ponsel pintar. Mencermati hal ini, ternyata harus ada mindset atau cara pandang yang diganti di sini. Karena bagaimana pun, teknologi adalah instrumen dalam menjalani hidup. Sifat asal teknologi sebagai madaniyah, yakni berupa bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang terindera yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan kata lain, madaniyah adalah produk kemajuan sains dan perkembangan iptek.

Tapi teknologi akan sangat berbahaya ketika dipacu sebagai alat ideologis oleh kapitalisme untuk mempercepat laju penebalan kantong-kantong laba korporasi. Justru di sinilah letak ketidakmanusiawian sistem otomasi tadi. Ketika sistem otomasi tidak dikelola dengan aturan kehidupan yang berstandar syariat Allah, maka bayangkan harus berapa banyak orang yang diputus hubungan kerjanya. Apalagi jika otomasi ini diadopsi sebagai instrumen penghasil uang oleh negara-negara adikuasa ekonomi. Laba produksi setinggi-tingginya memang akan diraih, dengan biaya produksi yang serendah-rendahnya. Begitulah cara kerja ideologi kapitalisme. Dan jika otomasi ini tercapai sempurna, maka sudah pasti jumlah pengangguran akan membludak.

Baca juga:  Investasi Asing Membuka Jalan Penjajahan

Seperti inikah cara suatu negara agar menjadi maju dengan otomasi teknologi sebagai citranya? Tentu saja tidak. Model negara seperti ini akan selalu gagal, bahkan segera mengalami kehancuran dari dalam. Dimulai dari kesenjangan sosial kemanusiaan, krisis muamalah dan interaksi, krisis akhlak dan moral, hingga sangat mungkin menimbulkan kepunahan massal warga negaranya.

Sekali sungguh, betapa urgennya membalut otomasi teknologi dengan aturan Sang Pemilik alam semesta. Karena toh otomasi itu digunakan untuk menjalani kehidupan di bumi Allah SWT ini, di mana manusia diamanahi Allah untuk mengelolanya. Jadi makin jelas, otomasi teknologi yang dikelola secara kapitalistik tidak akan pernah memberikan kemashlahatan bagi manusia, alih-alih efektivitas pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Inilah realitas pemanfaatan teknologi revolusi industri 4.0 di atas lanskap sistem kehidupan sekuler yang dihidupi oleh sistem ekonomi kapitalisme dan sistem politik demokrasi. Buktinya, petaka dan fasad pun tak henti mengancam kehidupan. Tragisnya, negara dan pemerintah yang seharusnya berfungsi sebagai junnah (pelindung umat) justru memfasilitasi bahkan bekerja untuk kemudahan berlangsungnya arus global ini.

Karenanya, kemajuan teknologi juga teknologi revolusi industri 4.0 haruslah dimurnikan dari muatan ideologi sekuler yang dijiwai kebatilan dan kesesatan. Ideologi kapitalisme sekuler ini sungguh harus dijauhkan dari peradaban hari ini. Hingga kemudian dirancang ulang pemanfaatan teknologi tersebut di atas lanskap sistem kehidupan yang berlandaskan ilmu dan kebenaran. Yakni, sistem kehidupan Islam, Khilafah Islamiyah.[]

Bagaimana menurut Anda?