; Membangun Kesadaran Anak Mendirikan Salat - Muslimah News

Membangun Kesadaran Anak Mendirikan Salat

(Pembatas) antara seorang Muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257)


Oleh: Ustazah Yanti Tanjung

MuslimahNews.com — Salat adalah tiang agama, amalan yang pertama dihisab ooleh Allah SWT dan juga pembeda antara iman dan kekufuran. Muslim yang mengaku beriman lalu sengaja meninggalkan salat akan dapat ancaman yang keras dari Allah dimasukkan kedalam neraka. Dalil tentang ini sangatlah banyak di antaranya :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قاَلَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ ، قَالَ الرَّبُ – عَزَّ وَجَلَّ – : اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ، فَيُكَمَّلُ مِنْهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ تَكُونُ سَائِرُ أعْمَالِهِ عَلَى هَذَا )) رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيثٌ حَسَنٌ ))

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pas hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah Ta’ala berfirman, ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan hadis tersebut hasan.) [HR. Tirmidzi, no. 413 dan An-Nasa’i, no. 466. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini shahih.]

خمس صلوات كتبهن الله على العباد، فمن جاء بهن، لم يضع منهن، شئ استخفافاً بحقهن، كان له عند الله عهد أن يدخله الجنة، ومن لم يأتي بهن فليس له عند الله عهد، إن شاء عذبه، وإن شاء أدخله الجنة

Shalat lima waktu telah difardhukan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya. Barangsiapa yang mengerjakannya, dengan tidak menyia-nyiakan hak-hak shalat sedikitpun, maka Allah berjanji akan memasukkannya ke dalam surga, dan barangsiapa yang tidak mengerjakannya maka tidak ada janji Allah baginya. Jika Allah berkehendak maka Dia akan menyiksanya, dan jika Allah berkehendak maka Dia akan memasukkannya ke surga”.

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

(Pembatas) antara seorang Muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257)

Wajar jika orang tua sangat khawatir jika anaknya malas salat, selalu banyak alasan dan banyak lalai. Kesedihan semakin memuncak jika menyaksikan anak sudah usia 11 tahun salatnya masih disuruh-suruh dan belum memiliki kesadaran sendiri. Ada juga orang tua merasa bangga sejak usia 2 tahun anak sudah rajian salat bahkan rajin ke mesjid meski belum sempurna, namun tiba-tiba di usia 4 tahun atau 5 tahun anak off salat, bangun subuh pun sulit, asik bermain dan lupa shalat.

Karena dorongan untuk membangun ketaatan anak dalam shalat orang tua seringkali hanya memerintah, menyuruh sambil ngomel sambil mengancam tanpa membangun sebuah keasadaran bahwa salat adalah konsekuensi dari keimanan. Maka seringkali anak salah terima tentang salat dan anak melakukannya dengan beban berat, ngantuk pun menjadi alasan untuk tidak salat, menunda salat atau telat salat.

Pendidikan salat dalam Islam berdasarkan hadis berikut :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا، وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ»

Suruhlah anak-anakmu melakukan shalat di waktu dia berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka kalau sudah berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur di antara mereka (maksudnya antara anak laki-laki dan perempuan)”. (HR. Abu Daud)

Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa mendidik anak tentang salat di samping berbasis akidah Islam dan berbasis orang tua juga berbasis usia. Strategi membangun kesadaran anak mendirikan salat harus memerhatikan tumbuh kembang baik tumbuh kembang akal anak maupun naluriyah anak. Dari sini akan dibuat seperangkat kurikulum dan program untuk membangun kesadaran anak dan yang lebih kuat untuk mendorong anak untuk melaksanakan salat muncul dari kesadaran rasional bukan dari kesadaran emosional.
.

  1. Untuk membangun kesadaran anak dalam mendirikan salat maka langkah-langkah berikut bisa ditempuh :Mulai dari keteladanan orang tua, orang tua harus rajin salat dan memilih waktu-waktu utama, ayah rajin ke mesjid dan mengajak semua anak-anaknya untuk melaksanakan salat, tidak perlu banyak perintah segera kondisikan saja dan buat suasana bahwa shalat adalah bagian dari pola hidup seorang muslim dan bagian ibadah utama keluarga.
  • Sejak usia dini 0-6 tahun bangun pondasi akidah Islam yang kokoh pada diri anak, tuntaskan bahasan iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada para Rasul, iman kepada kitab, iman kepada hari kiamat, iman kepada qadha dan qadar di usia ini secara berkala. Pondasi akidah yang kokoh akan mendorong anak untuk taat pada Allah. Mengingat usia ini akal anak belum sempurna dan kesadaran anak lebih kepada kesadaran emosional maka konsep pembelajarannya di usia ini adalah memberikan stimulus-stimulus berpikir tentang tsaqafah Islam wa bil khusus tentang salat dan stimulus-stimulus naluri beragama (gharizah tadayyun). Anak melaksanakan salat karena dorongan dirinya bukan karena dipakasa. Jika anak tidak mau melaksanakan salat tidak mengapa namun stimulusnya harus tetap berjalan.
  • Usia 7 tahun perintahkan anak shalat secara rutin dan disiplin karena dorongan iman. Usia 7 tahun adalah sinyal akal anak sudah sempurna (‘aqil), anak sudah memahami konsekuensi salat bila dilaksanakan akan Allah masukkan ke surga-Nya dan jika meninggalkan maka ancaman adalah dosa yakni neraka. Pada usia ini kesadaran rasional anak berjalan dengan baik maka berikan tsaqafah Islam lebih rinci tentang fikih salat agar salat ananda semakin sempurna dan butuh untuk dibiasakan salat dan didisiplinkan dengan ketat. Berikan juga tsaqafah lainnya terutama untuk semakin mengokohkan pondasi akidah Islam.
  • Jika anak sudah menginjak 10 tahun diharapkan orang tua sudah tidak memiliki masalah lagi tentang kesdaran anak dalam melaksanakan salat karena usia ini diharapkan kepribadian Islam anak sudah terbentuk. Namun jika usia ini anak tidak salat maka pukullah dengan pukulan dalam rangka ta’dib bukan dalam rangka emosional yang membuat anak terluka. Namun orang tua harus adil, pukulan itu bisa ditempuh ketika pendidikan tentang shalat sudah diberikan sempurna.
  • Orang tua senantiasa banyak berdoa untuk kemudahan dalam salat ananda.
  • Dalil

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang senantiasa mendirikan salat, Wahai Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)
Wallaahu’a’lam bishshawab.[]

Bagaimana menurut Anda?