; Framing Islam dalam Kasus Qunun – Muslimah News

Framing Islam dalam Kasus Qunun

Berbagai negara dan PBB memberi perhatian besar pada Qunun, demi pencitraburukan Islam sekaligus mendeklarasikan bahwa HAM, gender dan liberalisasi amat krusial bagi hidup manusia, daripada hubungannya dengan Sang Pencipta.


Oleh: Retno Sukmaningrum

MuslimahNews, ANALISIS — Luar biasa…. Begitu kompleksnya aturan Islam. Begitu sempurna dan utuh. Tak ada satupun yang tak tersentuh dalam aturan Islam. Islam mampu mengatur seluruh aspek kehidupan, dari urusan dapur hingga urusan negara. Mengatur manusia mulai dari hidup hingga matinya. Bagi pihak yang mencari jawaban di setiap persoalan kehidupan, bisa mencari jawabannya dalam Islam. Begitu pula bagi pihak yang membenci Islam, bisa mencari dari berbagai sisi untuk membuat framing buruk tentangnya.

Termasuk dalam kasus terbaru, Qunun-perempuan murtad yang lari dari suami dan negerinya. Sebagaimana diberitakan di media, Rahaf Mohammed al-Qunun seorang putri gubernur al-Sulaimi -di salah satu bagian Arab Saudi-. Qunun yang berusia 18 tahun, kabur dari keluarganya ketika mereka sedang melakukan perjalanan ke Kuwait. Ia semula berencana melarikan diri ke Australia melewati Bandar Udara Suvarnabhumi, Bangkok, ibu kota Thailand. Namun setibanya di Bangkok, ia mengaku paspornya disita oleh pejabat Arab Saudi dan dipaksa kembali ke Kuwait untuk menemui keluarganya.

Sebagai upaya mencegah pengusiran pihak berwenang Thailand, Rahaf membarikade diri dalam kamar hotel di lingkungan bandara, sambil mencuitkan kondisinya via Twitter, perlakuan yang dialami dan permintaan suaka ke Australia, Inggris, Kanada dan Amerika Serikat. Ia mengaku sudah keluar dari agama Islam dan akan dibunuh oleh keluarganya jika ia dipaksa pulang.

Persoalan Qunun bukan lagi menjadi masalah sebagaimana gadis yang minggat dari keluarga pada umumnya. Persoalan Qunun sudah melibatkan Lembaga dunia, PBB. Berdasarkan informasi dari Kepala Imigrasi Thailand, Surachate Hakparn, ayah Qunun ingin menemui anak perempuannya. Namun, ayah dan saudara laki-laki Qunun harus menunggu izin dari PBB untuk menemui Qunun.

Komisaris Tinggi untuk Pengungsi PBB (United Nations High Commissioner for Refugees, UNHCR) telah memberikan perlindungan untuk Qunun. UNHCR juga telah menginvestigasi kasus yang terjadi pada gadis tersebut setelah ia terbang ke Thailand.

Masalah tak hanya berhenti di situ. Kasus Qunun juga membuat Menlu Australia, Marise Payne pun melibatkan diri. Payne mengunjungi Thailand (10/1/18) setelah Canberra mengatakan akan mempertimbangkan pemberian suaka kepada Qunun. UNHCR telah memproses permohonannya untuk mendapatkan status pengungsi sebelum kemungkinan dimukimkan kembali ke Australia.

Dari keempat negara yang dituju Qunun untuk mencari suaka (Amerika, Inggris, Kanada dan Australia), akhirnya, Kanada-lah yang memberi suaka pada Qunun. Menlu Kanada Chrystia Freeland (12/1/18) mengatakan bahwa Kanada “sangat meyakini hak-hak perempuan adalah hak asasi manusia.” Qunun tiba di Toronto Sabtu pagi, dari Thailand lewat Seoul, Korea Selatan. PM Kanada Justin Trudeau sebelumnya mengukuhkan bahwa negaranya telah memberi Qunun suaka dan mengatakan remaja itu telah memilih tinggal di Kanada.

Masalah Qunun seolah makanan terbuka yang siap diserbu oleh lalat-lalat. Barat yang selalu mencari sisi buruk Islam, seolah mendapatkan peluang besar untuk menjatuhkan Islam melalui kasus Qunun. Berbagai negara dan PBB memberi perhatian besar pada Qunun, demi pencitraburukan Islam sekaligus mendeklarasikan bahwa HAM, gender dan liberalisasi amat krusial bagi hidup manusia, daripada hubungannya dengan Sang Pencipta.

Kasus Qunun mengulang kisah Salman Rushdi, ataupun Irshad Manji. Ketiganya memiliki moyang Muslim, menista Islam dan ajarannya sehingga mendapatkan perlindungan dan pembelaan dari Barat dan kaum liberal.

Kasus-kasus tersebut juga menjadi pembuktian bahwa Barat amat hipokrit dengan kasus-kasus yang melibatkan hak asasi. Coba jika yang berpersoalan itu perempuan Indonesia, atau orang melayu lainnya, apakah mereka sepeduli itu? Begitu pula, di mana Barat saat ribuan perempuan Bosnia dibantai dan diperkosa? Di mana Lembaga dunia saat perempuan Rohingya terlunta-lunta? Di mana negara yang peduli HAM saat masyarakat Uyghur diperlakukan biadab oleh rezim Cina? Mereka tak bersuara. Karena sikap dan statement mereka untuk kasus-kasus tersebut tidak memberi dampak negatif bagi Islam. Namun sebaliknya, membuat masyarakat dunia akan berpihak pada Islam.

Sebaliknya masalah Qunun bagi Barat adalah keuntungan besar bagi mereka. Qunun yang dari Timur Tengah, tempat lahirnya Islam. Qunun yang melawan orang tua dan lari dari pernikahannya. Qunun yang murtad dari Islam karena merasa terkekang dengan syariat Islam. Kesemuanya adalah jalan luas untuk membuat framing buruk tentang Islam.

Di media yang dibentuk oleh Barat, persoalan Qunun dibesarkan sedemikian rupa. Memaksa semua mata memperhatikan apa yang terjadi atas Qunun. Seperti layaknya melihat melalui jendela, maka akan membentuk kesimpulan yang berbeda atas fakta sebenarnya dikarenakan keterbatasan pandangan. Barat mengajak masyarakat dunia membaca peristiwa yang hari ini terjadi dengan jendela (frame)nya dan membuat konstruksi peristiwa sesuai sudut pandangnya. Apa akibatnya? Melihat kasus Qunun yang terkait erat dengan lingkungan Islam dan aturan Islam dengan frame barat, justru menjauhkan akan pemahaman hakiki tentang Islam.

Penyebaran sekularisme berikut turunanya –seperti hurriyatul mar’ah, kesetaraan gender- yang deras di Timur Tengah, telah mendorong perlawanan terhadap sistem perwalian pria di Saudi. Mereka menganggap sistem tersebut masih menjadi kendala utama pada perempuan Saudi untuk bebas beraktivitas, meskipun ada upaya dari negara Muslim konservatif itu untuk membuka diri.

Beberapa kebebasan telah diberikan kepada perempuan Saudi di bawah kepemimpinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS). Ia mengakhiri larangan mengemudi bagi perempuan, mengurangi pembatasan pencampuran gender, dan mengizinkan perempuan untuk bertugas di angkatan bersenjata.

Pendek kata, Saudi yang sudah mulai mengarah liberal saat ini, masih terus menjadi ladang hujatan. Seakan-akan Saudi lebih memposisikan dirinya sebagai pihak tertuduh. Satu sisi berupaya memenuhi tuntutan negara global, satu sisi berupaya menjaga aturan Islam yang mentradisi. Aturan Islam yang tidak diiringi pencerdasan dan pemahaman kepada rakyat akan kebutuhan terhadap syariat, walhasil dalam penerapannya diwarnai demo dan penolakan dari warga yang telah termakan oleh ide-ide barat.

Sekali lagi kasus Qunun menjadi jalan bagi dunia Barat menyoroti masalah hak-hak perempuan di Arab Saudi. Para pemimpin Barat berkelindan denga para aktivis HAM menjadikan kasus ini membesar. Wajah dan peradaban manis yang mereka tawarkan, telah membius Qunun dan para perempuan yang belum mampu melihat kemuliaan Islam di tengah kehidupan kapitalis liberal hari ini.

Kesalahan yang mungkin dilakukan oleh suami ataukah keluarga terhadap Qunun tidak bisa digunakan untuk mengeneralisasi bahwa Islam salah. Begitu pula adalah bentuk kesempitan berpikir jika Arab Saudi dianggap menerapkan Islam secara sempurna dalam sistem masyarakatnya, sehingga ada tuntuntan melepaskan Islam demi kelonggaran kebebasan para perempuannya.

Persoalan keluarga dan perempuan yang dialami perempuan manapun di dunia, tidak akan mampu diselesaikan oleh sistem kapitalis liberal yang berkuasa hari ini. Adalah juga kesalahan fatal, jika perlakuan oknum muslim yang menyimpang dari Syariah (jika memang terjadi pada kasus Qunun) membuat seseorang melepaskan diri dari ikatan Islam (murtad).

Hanya syariahlah yang mampu selesaikan persoalan dengan tuntas dan adil. Bukan jebakan ide kapitalis sekuler yang tampil manis di permukaan, namun nyatanya kehinaan yang akan diperolehnya.

Terakhir, framing buruk terhadap Islam dan para pengembannya tidak akan pernah sepi. Karena kebencian orang-orang kafir dan orang-orang yahudi pun tak pernah surut. Upaya menjatuhkkan Islam akan terus dilakukan, demi upaya mereka untuk menjajakan ide-ide kapitalis dan demokrasi yang makin menuju jurang kehancurannya. Mereka sudah tak mampu lagi menjual idenya yang busuk dan rusak, hingga mereka pun mengais celah di persoalan yang dihadapi pribadi Muslim yang rapuh. Wallahu ‘alam.[]

Bagaimana menurut Anda?