; Nikah Muda Bukan Ancaman bagi Generasi - Muslimah News

Nikah Muda Bukan Ancaman bagi Generasi

Tingkat kematangan organ reproduksi pada anak-anak pada zaman sekarang tidak diimbangi dengan kematangan cara berpikir. Tontonan dan gaya hidup bebas pada saat ini cenderung mendorong anak-anak dan remaja untuk pacaran, bersenang-senang sesuai keinginan mereka dan mengumbar syahwat.


Oleh: Emma LF (Aktivis ForMind (Forum Muslimah Indonesia))

MuslimahNews, ANALISIS — Mahkamah Konstitusi mengabulkan gugatan mengenai usia perkawinan perempuan dalam pasal 7 ayat 1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang berbunyi: Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun. Anggota Komnas Perempuan, Masruchah merekomendasikan agar batas minimal usia pernikahan perempuan ditetapkan berdasarkan kematangan kesehatan reproduksi yakni 20 tahun. Tetapi untuk mempertimbangkan kesetaraan usia perkawinan dengan laki-laki adalah 19 tahun.

Hingga saat ini batas usia kawin perempuan dalam pasal 7 ayat 1 UU Perkawinan adalah 16 tahun. Menurut mereka, pernikahan pada usia 16 tahun yang masih dalam kategori anak berarti menghilangkan hak belajar 12 tahun yang diwajibkan pemerintah. Selain itu, menikah pada usia 16 tahun membuat perempuan sangat rentan menghadapi masalah kesehatan, eksploitasi, ancaman kekerasan hingga perceraian. Namun Mahkamah Konstitusi (MK) tak menetapkan usia minimum bagi perempuan untuk menikah dan menyerahkannya pada DPR, dengan batas waktu maksimal tiga tahun.
Namun demikian, Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Saadi mengingatkan bahwa UU Perkawinan ini masih relevan untuk tetap diberlakukan tanpa revisi atau perubahan. Menurut beliau, UU Perkawinan ini bagi umat Islam bukan sekadar mengatur norma hukum positif dalam perkawinan tetapi juga mengatur sah dan tidaknya sebuah pernikahan menurut ajaran Islam. Beliau juga mengingatkan bahwa jangan sampai putusan MK ini hanya dijadikan pintu masuk untuk mengamandemen UU Nomor 1 Tahun 1974 secara keseluruhan.

Syariat Islam Perihal Usia Pernikahan

Islam tidak menentukan usia pernikahan baik bagi laki-laki maupun perempuan. Dalil yang menunjukkan bahwa Islam tidak menentukan usia pernikahan ialah bahwa di dalam Alquran dan As-sunnah tidak pernah ditemukan keterangan tentang batasan usia pernikahan.

Sebaliknya, justru banyak dalil yang menunjukkan kebalikannya misalnya pernikahan Rasulullah Saw dengan Ummul Mukminin Aisyah. Di dalam Shahih Muslim dituturkan sebuah riwayat dari Aisyah, beliau berkata:
Rasulullah Saw menikahiku pada usiaku yang keenam. Dan beliau tinggal serumah denganku pada usiaku yang kesembilan. (HR. Muslim)

Abu Fuad dalam Penjelasan Kitab Sistem Pergaulan dalam Islam (2017) menyimpulkan hadis tersebut sebagai berikut: Pernikahan seorang gadis yang masih kecil (belum baligh) dapat dilakukan tanpa harus mendapatkan izinnya.

Dibolehkan bagi seorang ayah menikahkan putrinya sebelum menginjak usia baligh. Al-Muhallab berkata: Para ulama telah sepakat bahwa seorang ayah boleh menikahkan putrinya yang masih kecil dan perawan, kendati belum dapat digauli.

Boleh menikahkan gadis yang masih kecil dengan laki-laki yang sudah tua (cukup usia). Secara khusus al-Bukhari membuat bab dalam masalah ini di dalam kitabnya dan mengemukakan hadis Aisyah. Ibnu Hajar di dalam kitabnya, Fath al-Bari menceritakan adanya ijma (konsensus) ulama tentang kebolehannya. Bahkan beliau mengatakan: Kendati anak gadis itu masih dalam ayunan. Akan tetapi, tentu belum diserahkan kepada suaminya, sampai memungkinkan untuk digauli.

Jadi Islam membolehkan laki-laki menikahi perempuan yang belum baligh namun belum boleh digauli sampai menginjak pada usia di mana dia telah memiliki keinginan terhadap hal ini. Dengan demikian, tidak mengakibatkan pada rusaknya anggota badan bagian reproduksinya, yang akhirnya justru berseberangan dengan tujuan pernikahan itu sendiri (menjaga kesehatan anggota badan termasuk organ reproduksi).

Saat menikahi Aisyah, usia Rasulullah Saw genap lima puluh empat tahun, sementara Aisyah baru berusia sembilan tahun. Pernikahan Rasulullah Saw dengan Aisyah ini atas perintah Allah, di mana Allah memperlihatkan wajah Aisyah kepada Rasulullah Saw dalam mimpinya. Aisyahlah satu-satunya isteri beliau yang perawan. Begitu juga dengan Ummu Kultsum, putri Ali. Dia masih sangat kecil, sedangkan Umar telah menginjak usianya yang ke-enampuluh.

Kita memahami bahwa segala perbuatan Rasulullah Saw termasuk perkataan dan diamnya beliau adalah hukum syariat bagi kaum Muslimin. Sehubungan dengan perihal usia pernikahan ini, apa yang dilakukan Rasulullah Saw juga para sahabat Nabi tentu memberikan banyak pelajaran untuk kita bahwa hal itu bukan untuk mengeksploitasi anak-anak.

Kids Zaman Now vs Zaman Islam

Kondisi anak-anak pada zaman dulu dan sekarang berbeda. Pada zaman dulu di mana Islam dijadikan sebagai way of life dan diterapkan oleh sebuah Negara (ad-Daulah) tingkat kematangan psikologis anak-anaknya sudah jauh lebih siap dibandingkan anak-anak zaman sekarang.

Dalam naungan negara yang menerapkan Islam secara kafah, pendidikan (taklim) dan pembinaan (tasqif) akidah anak-anak betul-betul berjalan optimal. Kepribadian (syakhsiyah) mereka digembleng sehingga saat balig mereka telah siap menerima taklif hukum syariat, termasuk perihal pernikahan. Jadi, kesiapan untuk menikah pun telah ada sejak dini.

Tidak seperti sekarang. Tingkat kematangan organ reproduksi pada anak-anak pada zaman sekarang tidak diimbangi dengan kematangan cara berpikir. Tontonan dan gaya hidup bebas pada saat ini cenderung mendorong anak-anak dan remaja untuk pacaran, bersenang-senang sesuai keinginan mereka dan mengumbar syahwat saja.

Organ reproduksi bisa jadi berkembang lebih cepat, namun bagaimana dengan kematangan kepribadian (syakhsiyah) yang mencakup kematangan berpikir dan sikapnya?

Secara umum kita bisa lihat fenomenanya masih sangat jauh dari harapan. Jadi wajar saja akibat gaya hidup bebas saat ini membuat anak-anak yang usianya masih di bawah batas usia pernikahan kebelet untuk menikah namun kurang siap dari sisi mental, kematangan berpikir (dewasa, bijak) dan juga sisi ekonominya. Maka terjadilah banyak masalah setelah menikah karena mereka gagap tanggung jawab dalam berumah tangga.

Belum lagi fenomena seks bebas yang berujung pada kehamilan yang tidak diinginkan (KTD). Maka sangat wajar jika kemudian menikah di usia yang masih belia menjadi pilihan dan pelarian sekaligus sebagai solusi pragmatis dari permasalahan sosial ini. Padahal bisa jadi, ini justru menjadi awal dari permasalahan-permasalahan selanjutnya dalam biduk rumah tangga. Masalah sosial (KTD) ini menjadi salah satu pendulang maraknya anak-anak ABG yang menikah di usia muda.

Maka sebenarnya bukan soal berapa batas usia menikahnya yang perlu kita soroti, tapi tentang bagaimana menyiapkan generasi muda kita agar siap menghadapi kehidupannya ketika dewasa, termasuk agar mereka siap untuk menikah.

Nikah Muda, Ancamankah?

Menurut kacamata Islam, nikah muda tidak menjadi masalah jika syarat dan rukun nikah dipenuhi dan tidak ada pelanggaran hukum syara di dalamnya. Selama semua hal tersebut dipenuhi maka menikah muda menjadi sah-sah saja. Boleh menikah muda asalkan bertanggung jawab terhadap pilihan tersebut, bukan untuk main-main atau berbekal nekat bin kebelet.

Pelanggaran syariat Islam yang dimaksud salah satunya adalah kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) karena perempuan yang menikah dalam kondisi hamil jelas diharamkan dan akad nikahnya menjadi batal. Penjelasan detilnya dapat dibaca dalam kitab-kitab fikih Islam. Risiko yang mungkin terjadi pada nikah muda seperti kematian ibu dan anak pada fase hamil-melahirkan bisa diminimalisir dengan menyiapkan diri (lahir-batin) termasuk dengan melakukan pendidikan seks secara intensif di tengah keluarga, bahkan sejak anak masih belum balig. Islam memberikan panduan lengkap tentang ini semua.

Dalam konsep Islam, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam memberikan pendidikan seks bagi anak-anak kita:

  1. Seksualitas adalah anugerah Allah Subhanahu wa taala agar manusia dapat mengemban misi hidupnya tanpa mengalami kepunahan.
  2. Seks hanya dipenuhi dengan jalan pernikahan.
  3. Sejak dini anak dihindarkan dari tayangan atau informasi yang berbau pornografi dan pornoaksi.
  4. Membiasakan izin masuk kamar orang tua sejak usia dini.
  5. Memberikan informasi yang tepat sesuai perkembangan anak (termasuk sesuai usia anak) tentang proses reproduksi dan kesehatan reproduksi.
  6. Menanamkan unsur keimanan kepada anak dalam setiap jawaban yang kita berikan untuk pertanyaan mereka.
  7. Memahamkan anak tentang konsep pendidikan dan pergaulan Islam secara kafah.

Dengan demikian, yang menjadi ancaman bagi generasi bukanlah nikah muda tapi sistem liberal-sekular yang melahirkan pergaulan bebas. Maka yang harus kita lakukan adalah bagaimana agar sistem yang menaungi para remaja kita tidak lagi sistem liberal-sekular, namun sistem Islami yang membentuk pribadi yang kokok imannya, kuat kepribadiannya dan tangguh menghadapi tantangan zaman.

Perubahan sistem harus dilakukan pada semua aspek kehidupan, tidak hanya pada aspek/ bidang sosial karena satu sama lain saling terkait.[]

Bagaimana menurut Anda?