Islam Moderat, Konspirasi Menjegal Kebangkitan Islam Politik

Alih-alih bisa membawa umat kepada kebangkitan, justru yang terjadi adalah akan semakin menjauhkan umat dari kebangkitan. Oleh sebab itu, umat Islam harus membendung pemikiran Islam moderat dari akarnya dan membuangnya jauh-jauh.


Oleh: Najmah Saiidah

MuslimahNews, FOKUS — Beberapa tahun terakhir ini, ide-ide Islam Liberal yang diusung dengan berbagai nama: Islam Indonesia, Islam Nusantara, Islam Moderat, Islam Wasathiyah, Islam Inklusif, dll terus menerus mengepung umat Islam. Belum reda, prokontra ide “Islam Nusantara”, muncul (kembali) ide” Islam moderat”. Agar nampak “lebih Islami”, ide “Islam Moderat” dibungkus dalam term Islam Wasathiyah, yang diambil dari kutipan ayat di QS 2:143 yakni Ummatan Wasathan. Dan nampaknya juga, pemerintah sangat serius menggarap ide ini sebagai wawasan wajib bagi umat Islam di Indonesia.

Terbukti, awal bulan Mei lalu, pemerintah Indonesia menyelenggarakan KTT Ulama dan Cendikiawan Muslim se-Dunia Wasathiyah Islam di Ruang Garuda, Istana Presiden Bogor, Jawa Barat. Dalam pidatonya, Presiden RI mengatakan, “Indonesia menyambut gembira menguatnya semangat moderasi dalam gerakan besar dunia Islam. Keterlibatan ulama menjadi sangat penting karena ulama adalah pewaris nabi dan obor keteladanan bagi umat. Jika ulamanya bersatu padu dalam satu barisan untuk membumikan moderasi Islam, poros wasathiyah Islam dunia akan menjadi arus utama, akan memberikan harapan bagi dunia yang aman, damai, sejahtera dan berkeadilan”. Selain itu, utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar-agama dan Peradaban Din Syamsudin mengatakan, “Konsultasi Tingkat Tinggi ini diharapkan dapat mendorong gerakan bersama Islam moderat di dunia sekaligus menyingkirkan wawasan Islam yang bersifat fundamentalis, ekstremis dan radikalis yang belakangan menyebabkan krisis peradaban”.

Strategi Barat Melemahkan Umat Islam

Kata ‘moderat’ atau jalan tengah sendiri mulai dikenal luas pada masa abad pencerahan di Eropa. Sebagaimana diketahui konflik antara pihak gerejawan yang menginginkan dominasi agama dalam kehidupan rakyat dan kaum revolusioner yang berasal dari kelompok filosof yang menginginkan penghapusan peran agama dalam kehidupan menghasilkan sikap kompromi. Sikap ini kemudian dikenal dengan istilah sekularisme, yakni pemisahan agama dari kehidupan publik.

Amerika Serikat memang merancang pendekatan yang amat halus dalam pertarungan ideologi antara Islam dan Kapitalisme. Cheryl Benard –peneliti RAND Corporation– menyebutkan bahwa dunia Islam harus dilibatkan dalam pertarungan tersebut dengan menggunakan nilai-nilai (Islam) yang dimilikinya. AS harus menyiapkan mitra, sarana dan strategi demi memenangkan pertarungan. Tujuannya adalah pertama, mencegah penyebaran Islam politik. Kedua, menghindari kesan bahwa AS “menentang Islam.” Ketiga, mencegah agar masalah ekonomi, sosial, dan politik tidak akan menyuburkan radikalisme Islam (Civil democratic Islam, partners, resources, and strategies / Cheryl Benard. Copyright 2003 RAND Corporation).

Rancangan Rand Corporation menjadikan Indonesia sebagai poros Islam moderat dan sebagai penjaganya. Islam moderat terus dipropagandakan. Dalam peringatan Isro Mi’raj di Istana Bogor, Menag mengatakan ‘Dengan spirit Isra’ dan Mi`raj, mari kita hadirkan wajah agama yang moderat dan unggul dengan karakter wasathiyyah. Indonesia sebagai bangsa yang besar telah menunjukkan kepada dunia bahwa Islam dengan karakter wasathiyyah-nya dapat merawat kemajemukan yang ada…” (Kemenag.go.id)

Baca juga:  Penguasa yang Dicintai VS Penguasa yang Dibenci

Dari berbagai pernyataan para politisi dan intelektual Barat terkait klasifikasi Islam menjadi ‘Islam moderat’ dan ‘Islam Radikal’ atau Ekstremis, akan kita temukan bahwa yang mereka maksud ‘Islam Moderat’ adalah Islam yang tidak anti Barat (baca: anti Kapitalisme); Islam yang tidak bertentangan dengan sekularisme Barat, serta tidak menolak berbagai kepentingan Barat.

Substansinya, ‘Islam Moderat’ adalah Islam sekuler, yang mau menerima nilai-nilai Barat seperti demokrasi dan HAM, serta mau berkompromi dengan imperialisme Barat dan tidak menentangnya. Kelompok yang disebut ‘Islam Moderat’ ini mereka anggap sebagai ‘Islam yang ramah’ dan bisa jadi mitra Barat.

Muslim moderat sendiri bagi sejumlah pemikir Barat dipandang sangat cocok untuk hidup damai dengan seluruh orang di dunia. Sebaliknya, Muslim radikal sangat berbahaya karena bermaksud menyingkirkan Barat dan memperoleh kembali kejayaan Islam yang telah hilang.

Oleh karena itu, pemerintah Barat dituntut untuk mengembangkan berbagai strategi untuk melindungi kelompok moderat dan melakukan tindakan persuasif terhadap mereka yang mengancam pemerintahan Barat. Bahkan jika perlu mereka dapat menempuh berbagai cara, antara lain: menggunakan sarana militer dan politik untuk mengalahkan kelompok radikal demi mengamankan kepentingan mereka; membantu kelompok moderat untuk mereformasi akidah dan syariah Islam; mengisolasi kelompok ekstremis serta membangun komunitas Muslim yang dapat menjadi komonitas dunia yang demokratis.

Sejumlah strategi pun disusun untuk memberdayakan kelompok moderat agar mengubah Dunia Islam sehingga sesuai dengan demokrasi dan tatanan internasional. Strategi tersebut antara lain: mempublikasikan pemikiran mereka di media massa; mengkritik berbagai pandangan Islam fundamentalis; memasukkan pandangan mereka ke dalam kurikulum serta mengentalkan kesadaran budaya dan sejarah mereka yang non Islam dan pra Islam ketimbang Islam itu sendiri, serta memberikan ruang politik dan publik bagi mereka yang pro Barat.

Islam Moderat Menghalangi kebangkitan Islam

Ide Islam Moderat pada dasarnya adalah bagian dari rangkaian proses sekularisasi pemikiran Islam ke tengah-tengah umat, yang diberi warna baru. Ide ini menyerukan untuk membangun Islam inklusif yang bersifat terbuka dan toleran terhadap ajaran agama lain dan budaya. Di samping itu, nampak jelas bahwa gagasan Islam Moderat ini mengabaikan sebagian dari ajaran Islam yang bersifat qath’i, baik dari sisi redaksi (dalâlah) maupun sumbernya (tsubût), seperti: superioritas Islam atas agama dan ideologi lain (QS Ali Imran [3]: 85); kewajiban berhukum dengan hukum syariah (QS al-Maidah [5]: 48); keharaman wanita Muslimah menikah dengan orang kafir (QS al-Mumtahanah [60]: 10); dan kewajiban negara memerangi negara-negara kufur hingga mereka masuk Islam atau membayar jizyah (QS at-Taubah [9]: 29) dan sebagainya.

Baca juga:  Korupsi dalam Kubangan Lumpur Demokrasi

Tujuannya tidak lain adalah meragu-ragukan dan menjauhkan umat Islam dari pemahaman Islam, agar nilai-nilai dan praktek Islam khususnya yang berhubungan dengan politik Islam dan berbagai hukum-hukum Islam lainnya dapat dieliminasi dari kaum muslim dan diganti dengan pemikiran dan budaya barat. Islam dengan berbagai labelnya seperti “Islam Indonesia” atau “Islam Timur Tengah” sebenarnya sama dengan istilah “Islam Radikal”, “Islam Militan”, “Islam Moderat” atau yang lain.

Pengkotak-kotakan seperti ini sebenarnya murni merupakan bagian dari strategi Barat untuk menghancurkan Islam. Ini sebagaimana yang dituangkan dalam dokumen Rand Corporation. Strategi penghancuran ini dibangun dengan dasar falsafah “devide et impera” atau politik pecah-belah.

Dengan demikian penjajahan atas kaum muslim dapat tetap langgeng. Jelas, klasifikasi demikian menggambarkan cara pandang Barat terhadap Islam dan kaum Muslim sesuai ideologi mereka. Karena itu, umat Islam wajib menyadari, pemilahan atau pengkotak-kotakan Islam menjadi moderat, fundamentalis radikal dan sebagainya adalah demi kepentingan Barat, yakni untuk memunculkan satu kelompok Islam dan menekan kelompok Islam yang lain. Dengan begitu, Barat berambisi, hanya ada satu Islam, yakni Islam yang mau menerima ideologi, nilai-nilai, dan peradaban Barat serta berbagai kepentingan mereka.

Dari sini, nampak nyata betapa bahayanya pemikiran Islam moderat, karena gagasan ini, pelan tapi pasti, tidak hanya mengebiri Islam yang sejatinya merupakan ideologi (mabda) — yakni agama yang memiliki pemikiran (fikrah) dan bagaimana cara mewujudkan pemikiran-pemikirannya (thariqah), menjadi sekadar kumpulan pemikiran (fikrah) saja sehingga Islam pun berubah menjadi sekedar agama ruhiyah, yang dihilangkan sisi politisnya sebagai solusi dalam seluruh aspek kehidupan.

Lebih dari itu, ide Islam moderat ini telah berhasil memolarisasi umat Islam dalam berbagai faksi pemikiran hingga tataran keyakinan, yang menjadikan umat Islam terpecah belah dan semakin jauh dari Islam. Hal inilah yang akan terus menjadi penghalang perjuangan menegakkan sistem Islam dan justru melanggengkan kekufuran.

Islam Moderat telah digunakan untuk menghadang upaya penegakan syariah dan Khilafah. Hal ini sama saja dengan menghalangi terjadinya kebangkitan Islam di muka bumi ini. Musuh-musuh Islam sangat menyadari bahwa tegaknya kembali Khilafah di tengah-tengah kaum muslimin yang akan menerapkan syariah Islam secara kaffah, menyatukan umat Islam diseluruh dunia, melindungi dan membebaskan umat Islam yang tertindas dan menyebarluaskan Islam ke seluruh penjuru dunia sehingga menjadi rahmatan lil ‘alamin, akan mengancam dominasi mereka. Oleh karena itu, tegaknya kembali Khilafah harus dicegah dengan segala cara. Salah satunya dengan menggunakan politik belah bambu. Umat Islam yang mendukung mereka diangkat, dipuji-puji dan dijuluki Muslim Moderat, sedang yang bertentangan harus ditekan habis.

Karenanya mereka berupaya keras agar umat Islam dijauhkan dari aturan Islam dengan menerapkan sistem demokrasi kapitalis, sistem yang diterapkan hari ini yang jelas-jelas telah membawa umat Islam pada kehancuran, keterjajahan, dan kehinaan. Sekaligus menjauhkan kaum Muslimin dari karakternya sebagai sebaik-baik umat (khairu ummah) dan sebagai pionir peradaban, sebagaimana pernah tersemat di pundak mereka selama belasan abad, dimulai saat Rasulullah saw berhasil menegakkan sistem Islam di Madinah dan dilanjutkan oleh Khalifah-khalifah setelahnya, hingga sistem Khilafah ini runtuh tahun 1924 atas konspirasi penjajah dan antek-anteknya di negeri kaum Muslimin. Saat itulah umat Islam dan negeri-negerinya mulai masuk dalam cengkraman penjajahan kapitalisme hingga menjadi umat yang tak berdaya sama sekali.

Musuh-musuh Islam akan berusaha keras mencegah kebangkitan Islam dengan menjauhkan umat dari rahasia kebangkitannya — yang tidak lain adalah ajaran Islam sebagai sebuah ideologi (mabda) — yang ditegakkan oleh kekuatan penopangnya berupa negara Khilafah.

Inilah yang pernah disampaikan Lord Curzon, mantan Perdana Menteri Inggeris, beberapa saat setelah berhasil meruntuhkan Khilafah ustmani melalui anteknya, Mustafa Kemal, “Kita telah berhasil meruntuhkan kekuatan umat Islam dan memastikan mereka tak akan bangkit kembali, karena kita telah menghapus dua kekuatannya, yakni Islam dan Khilafah!” (Eramuslim.com).

Baca juga:  Ide Islam Nusantara Dikritik Keras Putra KH Maemoen Zubair

Khatimah

Telah sangat jelas bahwa ide Islam moderat tidak berasal dari Islam, terlebih lagi bahaya ide ini sangat nyata. Penyebaran paham ini akan memecah belah persatuan umat, memalingkan perjuangan kaum Muslimin dan menjauhkan penerapan Islam kaaffah, serta semakin melanggengkan penjajahan Barat. Alih-alih bisa membawa umat kepada kebangkitan, justru yang terjadi adalah akan semakin menjauhkan umat dari kebangkitan. Oleh sebab itu, umat Islam harus membendung pemikiran Islam moderat dari akarnya dan membuangnya jauh-jauh.

Semua pihak, termasuk negara harus berperan aktif dan turut serta dalam melindungi umat dari setiap upaya yang ditujukan untuk menggerus, menistakan dan melenyapkan akidah Islam serta memberikan keleluasaan kepada umat untuk belajar dan melaksanakan hukum-hukum Islam secara sempurna. Semua ini hanya mungkin dilakukan jika syariah Islam diterapkan secara total dalam sistem pemerintahan Islam yakni Khilafah ala minhaj an-nubuwah. Telah sangat jelas sesungguhnya bahwa Allah SWT memerintahkan kita untuk mengamalkan Islam secara kaaffah, ajaran Islam yang dicontohkan dan dibawa oleh Rasulullah Muhammad Saw, bukan Islam moderat. Baik menyangkut kehidupan pribadi, keluarga, maupun ketika bermasyarakat dan bernegara. Dengan kata lain , kita diminta untuk mengatur seluruh urusan kehidupan dengan Islam. Sebagaimana firman Nya :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (TQS. Al-Baqarah [2]: 208)

Wallahu a’lam bishawwab.[]

Bagaimana menurut Anda?