Menjawab Spekulasi Kondisi Muslim Uyghur

Posisi Cina sebagai sebuah kekuatan ekonomi global telah memengaruhi secara politik pemerintahan negara-negara di seluruh dunia termasuk negeri-negeri Muslim. Tak satu pun dari 49 negara mayoritas Muslim yang ada di seluruh dunia mempertanyakan ke pihak Cina atau bahkan mengecam keras atas pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi secara masif dan sistemik di Xinjiang. Inilah gambaran hipokrit wajah “HAM” yang diagung-agungkan dunia.


MuslimahNews, FEATURE — Spekulasi yang muncul terkait apa yang dialami Muslim Uyghur dijawab tuntas oleh Ustazah Rezkiana Rahmayanti. MNews berkesempatan mewawancarai beliau, Ahad (30/12/2018). Berikut petikan wawancaranya:

Apa sebenarnya yang dialami Muslim Uyghur?

Diskriminasi bahkan genosida berskala besar dan sistematis terhadap komunitas muslim Uyghur oleh pemerintah Cina. Sekitar sejuta warga Muslim itu diambil dan ditangkapi dari rumah-rumah mereka dan dimasukkan ke kamp-kamp konsentrasi untuk dilakukan “edukasi ulang”.

Warga Muslim yang terlihat taat beribadah & melakukan perintah agama di wilayah barat laut Xinjiang, seperti: salat, puasa, tidak makan babi dan minum alkohol, memelihara jenggot, atau berpakaian secara islami, ditahan oleh pihak aparat dan diperlakukan seolah mereka adalah para penderita kelainan jiwa.

Di dalam kamp konsentrasi mereka dipaksa mengikuti propaganda Partai Komunis, seperti menyanyi lagu mars partai, meneriakkan yel-yel & slogan komunis, serta menghadiri penataran komunisme setiap hari untuk dicuci otak. Jika menolak atau tidak mengikuti acara, para tahanan akan disiksa sedemikian rupa, termasuk tidak diberi kesempatan tidur, diisolasi, dan disiksa secara fisik.

Muslim Uyghur telah diperlakukan sebagai “musuh negara” hanya karena identitas agama mereka, yaitu sebagai Muslim. Artinya, yang dimusuhi oleh Pemerintah Cina adalah segala hal yang berkaitan dengan Islam. Itu pula yang hendak mereka musnahkan dari bangsa Uyghur. Mereka melucuti segala yang berbau Islam.

Baca juga:  Kisah Uighur, Pemurtadan Massal ala Rezim Komunis Cina

Ada propaganda yang berkembang bahwa Uyghur adalah separatis yang melawan pemerintah Cina, bagaimana tanggapan Ustazah?

Ini merupakan kebohongan yang besar dan upaya melegalisasi kekerasan dan intimidasi pemerintah kepada Muslim Uyghur. Pemerintah Cina sejak awal saat menjajah wilayah yang sebelumnya bernama Turkistan Timur memang ingin mengeluarkan Muslim Uyghur dari wilayah yang di sebut dengan Xinjiang sekarang (Negeri Baru).

Turkistan Timur adalah bagian dari Negara Turkistan yang saat ini telah lenyap dari peta dunia. Pada abad ke-16 sampai abad ke-18, bangsa Cina dan Rusia mulai mengerlingkan nafsu angkaranya ke Turkistan dan mulai berpikir tentang kemungkinan untuk melakukan ekspansi pencaplokan wilayah teritorial. Xinjiang menjadi wilayah yang kaya akan sumber daya dan menjadi produsen minyak kedua terbesar di Cina dengan menghasilkan minyak 24.7 juta ton.

Kalaupun ada perlawanan dari Muslim Uyghur, suatu hal yang wajar karena mereka ditindas dan diperlakukan secara tidak adil. Cina secara sengaja telah mengirim Suku Han ke Xinjiang dengan segala fasilitas dan kemudahan untuk menikmati kehidupan di Xinjiang.

Awalnya suku Han hanya berjumlah enam persen dari jumlah total penduduk China pada 1949 silam. Namun saat ini jumlah populasinya sudah mencapat lebih dari 40 persen. Dikutip dari Uyghur American, adanya imigrasi massal suku Han ke Xinjiang di masa lalu membuat lahan dan sumber daya air semakin terbatas. Tak hanya itu, Han juga menjadi etnis yang paling banyak menikmati kebebasan sipil. Hal tersebut justru menimbulkan ketimpangan yang membuat Han menjadi makmur meski mereka adalah suku pendatang.

Baca juga:  Biadabnya Cina: Jual Organ Tubuh Muslim Uyghur dan Dilabeli Halal

Terkait tuntutan kecaman dan memutus hubungan diplomatik pemerintah Indonesia dan Cina yang tak kunjung terwujud, bagaimana Ustazah melihatnya?

Pemerintah Cina jelas-jelas telah melanggar HAM bahkan melakukan aktivitas teroris secara nyata kepada warganya sendiri. Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim, seharusnya mengambil tindakan tegas untuk memutus hubungan diplomatik dengan Cina.

Sayang Pemerintah Indonesia tidak merespons, Presiden Jokowi tidak bersuara. Wakil Presiden JK menganggap Indonesia tak dapat ikut campur dalam permasalahan ini karena itu merupakan masalah dalam negeri Cina (Cnnindonesia.com).

Posisi Cina sebagai sebuah kekuatan ekonomi global telah memengaruhi secara politik pemerintahan negara-negara di seluruh dunia termasuk negeri-negeri Muslim. Tak satu pun dari 49 negara mayoritas Muslim yang ada di seluruh dunia mempertanyakan ke pihak Cina atau bahkan mengecam keras atas pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi secara masif dan sistemik di Xinjiang. Inilah gambaran hipokrit wajah “HAM” yang diagung-agungkan dunia.

Bila itu terkait dengan dunia Islam dan pembantaian kaum Muslimin oleh “negara-negara teroris hakiki’, maka dunia seakan bisu termasuk media-media mainstream. Inilah kondisi kaum Muslimin ketika tidak ada Kepemimpinan Islam yang melindungi dan menjamin keamanan dari berbagai gangguan dan ancaman dunia luar.

Apa yang menghalangi pembelaan pemerintah dan Muslim Indonesia terhadap Uyghur?

Sekat nasionalisme, cinta dunia dan hilangnya “ukhuwah” sesama Muslim. Tak ada seorang pemimpin Muslim pun yang mau dan berani mengirimkan pasukan untuk menyelamatkan mereka. Sungguh tak ada yang peduli. Termasuk penguasa negeri ini, yang penduduk Muslimnya terbesar di dunia. Jangankan memberikan pertolongan secara riil, bahkan sekadar kecaman pun tak terdengar dari penguasa negeri ini.

Baca juga:  Cina Lakukan Penghancuran Masjid Besar-besaran di Xinjiang

Bagaimana menghilangkan halangan itu?

Kembali kepada akidah Islam dan tuntunan syara’ dalam menyelesaikan ketidakadilan yang menimpa kaum Muslimin di manapun mereka berada. Perintah Alquran kepada kaum Muslim sangat jelas. Saat saudara mereka ditindas dan meminta pertolongan, kaum Muslim wajib memberikan pertolongan kepada mereka. Allah SWT berfirman:
وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ
Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama maka kalian wajib memberikan pertolongan (TQS al-Anfal [8]: 72).

Uyghur telah lama menjerit meminta tolong kepada kaum Muslim. Mereka ingin diselamatkan. Karena itu wajib atas kaum Muslim sedunia, termasuk Pemerintah dan rakyat Indonesia, melindungi mereka; memelihara keimanan dan keislaman mereka; sekaligus mencegah mereka dari kekufuran yang dipaksakan kepada mereka.

Hal yang seharusnya dilakukan oleh penguasa-penguasa Muslim adalah:

Pertama, menyerukan jihad (perang) dan membuka pintu-pintu kemerdekaan bagi Muslim Uyghur dan wilayah-wilayah terjajah lainnya, seraya menggerakkan semaksimal kekuatan tentara yang mereka miliki. Penguasa Muslim seharusnya mengubur rasa takut dan kecemasan atas kekuatan semu Cina dan bangsa-bangsa pendukungnya.

Kedua, para penguasa negeri Islam seharusnya meninggalkan sistem jahiliah saat ini dengan cara menerapkan syariah Islam secara total. Atau umat yang akan memaksa untuk mengganti mereka, cepat atau lambat, hingga kesatuan dan persatuan umat Islam seutuhnya kembali mewujud di bawah satu kepemimpinan seorang Khalifah, lalu umat akan berperang di belakang Khalifah—yang berfungsi sebagai perisai—untuk menghancurkan eksistensi para penjajah dan menghentikan penjajahan bagi Muslim Uyghur dan negeri-negeri Islam lainnya.[]

Bagaimana menurut Anda?