2018, Fenomena Kehancuran Keluarga Muslim Semakin Parah

Angka perceraian di Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Peningkatan angka cerai hampir merata di berbagai daerah di Indonesia. Rata-rata angka perceraian naik 3 persen per tahunnya.


Oleh: Dr Rahma Qomariyah

MuslimahNews, FOKUS — Setiap pasangan yang akan menikah pasti ingin keluarganya mencapai bahagia, sakinah mawaddah warahmah, sebagaimana dalam surat Ar Rum ayat 21 yang artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.

Akan tetapi tidak sedikit bahtera rumah tangga itu kandas karena terpaan badai rumah tangga yang tak kunjung reda. Gagal mencapai apa yang dicita-citakan, sebuah pernikahan langgeng bahagia, sakinah mawaddah warahmah. Gagal menjadikan keluarganya dan rumahnya adalah suganya. Upaya perdamaian antara suami istri  juga tidak membuahkan hasil, akhirnya terjadilah perceraian sebagai solusinya. Berdasarkan sumber data Direktorat jenderal Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung tahun 2017 terjadi kasus perceraian di Indonesia  sebanyak  485.362 orang. (sumber data: Direktorat jenderal Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung tahun 2017).

Angka perceraian di Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Peningkatan angka cerai hampir merata di berbagai daerah di Indonesia. Rata-rata angka perceraian naik 3 persen per tahunnya.”Memang dari tahun ke tahun angka perceraian di kita ini terus meningkat,” kata Direktur Pembinaan Administrasi Peradilan Agama Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung, Hasbi Hasan (Republika.co.id)

Faktor-Faktor Penyebab Perceraian

Adapun faktor-faktor penyebab perceraian antara lain:

Pertama, Faktor turut melatarbelakangi meningkatnya jumlah angka perceraian, salah satunya faktor ekonomi . Menurut Hasbi, data yang diterima pihaknya, faktor ekonomi menjadi penyebab paling dominan yang menyebabkan angka perceraian semakin tinggi. (Republika.co.id)

Kedua, Kasus perselingkuhan juga merupakan faktor yang menyebabkan perceraian. Hasil Survei yang dilakukan Just Dating aplikasi mencari teman kencan menemukan bahwa 40% laki-laki dan perempuan di Indonesia pernah mengkhianati pasangannya. Prosentase ini membuat Indonesia menempati posisi kedua sebagai Negara dengan kasus perselingkuhan terbanyak dibandingkan Negara yanga ada di Asia tenggara. (Suara.com)

Ketiga, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) juga menjadi salah satu penyebab perceraian. “Jumlah kekerasan terhadap perempuan mencapai 348.446 kasus, dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan kasus terbanyak,” ujar Erna di Jakarta, Senin (30/4). Erna mengatakan hal itu ketika memberikan paparan dalam diskusi “Perempuan dan Pengawasan Terhadap Aparat Penegak Hukum” yang diselenggarakan oleh Komisi Yudisial dalam rangka memperingati Hari Kartini. Erna kemudian memaparkan dari 348.446 kasus, kasus KDRT mencapai 335.062 kasus, sementara sebanyak 13.384 kasus dari lembaga mitra.”Kasus dari lembaga mitra tersebut terbagi menjadi tiga ranah yaitu, ranah privat, ranah publik, dan ranah negara,” ujar Erna. Berdasarkan data tersebut, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan di ranah privat mencapai 9.609 kasus, sementara kekerasan di ranah publik mencapai 3.528 kasus. (Hukumonline.com)

Keempat, meningkatnya permasalahan perkawinan dan keluarga salah satunya disebabkan karena ketidakmampuan suami-istri dalam mengelola kebutuhan keluarga maupun membangun hubungan satu sama lain. (Republika.co.id)

Akar Masalah

Permasalahan yang menyebabkan perceraian di Indonesia semakin meningkat karena penerapan ide liberalisme-kapitalisme. Pemerintah  tidak memberi regulasi yang dapat menghentikan ide kapitalisme-liberalisme, bahkan sebaliknya.

Faktor penyebab perceraian yang dominan adalah faktor ekonomi. Ini artinya banyak sekali para suami yang tidak bisa memberi nafkah atau nafkahnya kurang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sementara roda kehidupan sudah berjalan, tentu saja akan terjadi permasalahan.

Berbeda kalau seandainya pemerintah menerapkan politik ekonomi Islam yaitu menjamin seluruh kebutuhan rakyatnya terpenuhi. Pemerintah menyediakan pendidikan yang berkualitas dan gratis; Layanan kesehatan berkwalitas dan gratis; Keamanan gratis; Birokrasi, jalan, pasar dan beberapa fasilitas umum yang lain berkualitas dan gratis. Sedangkan sandang, pangan dan papan (Perumahan) murah.

Dengan politik ekonomi Islam ini, biaya hidup menjadi murah. Seandainya tetap ada keluarga yang tidak mampu memenuhi kebutuhannya, maka Khilafah akan memberi bantuan dan menyediakan lapangan kerja bagi para laki-laki yang berkewajiban memberi nafkah. Dengan demikian biaya hidup murah. Sekalipun demikian, jika tetap tidak bisa memenuhi kebutuhannya karena menganggur atau keuangannya tidak mencukupi, maka Khilafah/pemerintahan Islam akan memberikan bantuan dan menyediakan lapangan kerja bagi laki-laki yang sudah berkewajiban memberi nafkah.( (Sistem Keuangan dalam Negara Khilafah, Abdul Qadim Zallum).

Baca juga:  Pemimpin Penipu Rakyat Diharamkan Masuk Surga

Selanjutnya penyebab perceraian yang kedua adalah perselingkuhan. Di era digital sekarang, hampir semua orang menggunakan media sosial untuk berkomunikasi. Media sosial bisa menjadikan orang yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh. Pemerintah yang tidak menerapkan regulasi berkaitan dengan sistem pergaulan laki-laki dan perempuan sesuai Islam, termasuk saat menggunakan media sosial inilah yang menyebabkan perselingkuhan.

Aturan Pergaulan, Pergaulan Bebas & Perzinahan dalam Pandangan Islam

Islam dengan tegas mengharamkan perzinahan dan hal-hal yang memdekati perzinahan antara lain: wajib menutup aurat An Nur 31 dan Al Ahzab 59; larangan khalwat-berdua-duan laki-laki dan perempuan, larangan komunikasi tidak ada kebutuhan syar’i antara laki-laki dan perempuan, kewajiban menundukkan pandangan An Nur 31 (Taqiyuddin an Nabhani , Nizham Ijtima’I fil Islam). Firman Allah:

وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk “ (QS. Al-Isra : 32).

وَالَّذِينَ لاَ يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ وَلاَ يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلاَ يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً  يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَاناً

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosanya, yakni akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina” (QS. Al-Furqan: 68 – 69)

Sanksi bagi Pelaku Pergaulan Bebas & Pelaku Zina menurut Pandangan Islam

  1. Bagi pezina yang belum menikah, maka wajib didera 100 kali cambukan, dan boleh diasingkan selama satu tahun. firman Allah:

الزّانِيَةُ وَالزّانى فَاجلِدوا كُلَّ وٰحِدٍ مِنهُما مِا۟ئَةَ جَلدَةٍ ۖ وَلا تَأخُذكُم بِهِما رَأفَةٌ فى دينِ اللَّهِ إِن كُنتُم تُؤمِنونَ بِاللَّهِ وَاليَومِ الءاخِرِ ۖ وَليَشهَد عَذابَهُما طائِفَةٌ مِنَ المُؤمِنينَ.

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. (TQS. An Nur[24];2)

Baca juga:  Sinetron (Drama TV): Industri yang Memasukkan Bayangan Berbahaya kepada Keluarga dan Masyarakat

Adapun dalil tentang diasingkan selama satu tahun, berdasarkan hadits rasulullah SAW: Artinya: Dari Abu Hurairah r.a: Bahwa Rasulullah SAW menetapkan bagi orang yang berzina tetapi belum menikah diasingkan selama satu tahun, dan dikenai had kepadanya. (Abdurrahman al Maliki, Sistem Saksi dalam Islam, Bogor, Pustaka Tariqul Izzah, 2002, hlm. 30-32)

  1. Bagi pezina yang sudah menikah maka harus dirajam hingga mati. Sabda Rasulullah SAW:

Bahwa seorang laki-laki berzina dengan perempuan. Nabi SAW memerintahkan menjilidnya, kemudian ada khabar bahwa dia sudah menikah (muhshan), maka Nabi SAW memerintahkan untuk merajamnya.

Adapun sanksi orang yang termasuk memfasilitasi orang lain untuk berzina dengan sarana apapun dan dengan cara apapun, baik dengan dirinya sendiri maupun orang lain, tetap akan dikenakan sanksi. Sanksi bagi mereka menurut pandangan Islam adalah penjara 5 tahun dan dicambuk. Jika orang tersebut suami atau mahramnya, maka sanksi diperberat menjadi 10 tahun. (Abdurrahman al Maliki, Sistem Saksi dalam Islam, Bogor, Pustaka Tariqul Izzah, 2002, hlm. 238)

Pemerintah seharusnya melarang perzinahan dan mendekati zina dengan  memasukkan aturan pergaulan sesuai dengan Islam dalam Kurikulum PAI dari SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi dan memberi pembinaan kepada keluarga secara insidental. Di samping itu Pemerintah juga seharusnya mengontrol media agar tidak memertontonkan pornografi-pornoaksi, diganti dengan media yang mendorong ketakwaan, bukan mendorong nafsu syahwat. Dan Pemerintah seharusnya juga mengeluarkan aturan pergaulan, haramnya zina dan mendekatinya, berikut sanksinya. Pun pemerintah wajib memberi kemudahan menikah dan menyiapkan kematangan agar siap menikah.

Ingat sabda Rasulullah SAW:Idza dhahara azzina wa arriba fi qaryatin, faqad ahalluu bi anfusihim adzaballahi, yang artinya: Jika zina dan riba sudah menyebar disuatu negeri, maka sesungguhnya mereka telah menghalakan azab Allah atas diri mereka sendiri (HR al Hakim, al Baihaqi dan athabrani)

Adapun faktor ketiga dan ke empat adalah kasus kekerasan dalam rumah tangga dan ketidakmampuan suami-istri dalam mengelola kebutuhan keluarga maupun membangun hubungan satu sama lain. Hal ini terjadi karena tidak ada bekal ilmu untuk mengarungi bahtera rumah tangga agar menggapai keluarga bahagia, sakinah mawaddah warahmah.  Seharusnya Pemerintah membekali ilmu untuk berumah tangga, fiqhu annikah dan aturan pergaulan laki-laki dengan perempuan dalam perspektif Islam.

Materi ini dimasukkan dalam kurikulum SMP dan SMA, Perguruan Tinggi  dan Pembinaan keluarga secara periodik. Jadi tidak cukup pembekalan dilakukan menjelang menikah saja. Di samping pembekalan   ilmu untuk berumah tangga, fiqhu annikah dan aturan pergaulan laki-laki dengan perempuan dalam perspektif Islam, pemerintah juga harus menerapkan aturan yang terkait dan memberi sanksi bagi yang melanggarnya.

Secara garis besar rumah tangga akan mencapai keluarga bahagia, sakinah mawaddah warahmah, jika masing-masing anggota keluarga melaksanaan kewajibannya. Pelaksanaan kewajiban berati pemenuhan hak yang lain. Di samping itu  masing-masing anggota keluarga harus mengedepankan pelaksanaan kewajibannya dari pada menuntut haknya.

Dalam rumah tangga, Allah memberikan peran bagi suami  adalah sebagai pemimpin rumah tangga dan wajib memimpin, melindungi dan memberi nafkah kepada anggota keluarganya. Sedangkan peran istri sebagai ibu dan pengatur rumah tangga yang bertanggung jawab mengatur rumah tangganya di bawah kepemimpinan suami. Sesuai dengan fitrah perempuan, maka hukum tersebut diikuti hukum tentang kehamilan, menyusui, mengasuh dan mendidik anak. ( Qadir, al Mar’ah Baina Takrim Al Islam wa ihanat al Jahiliyah, hlm. 125-127).

Baca juga:  Seruan Mendunia “Keluarga: Tantangan & Solusi Islami” Diluncurkan oleh Divisi Muslimah Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir

Sebagaimana firman Allah surat al Nisa’ ayat 34 :

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”.

Wanita adalah penanggung jawab dalam rumah tangga suaminya dan anak-anaknya. Dari Abdillah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda :

وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ

..Wanita adalah penanggung jawab rumah suaminya dan anak-anaknya, maka akan dimintai pertanggung jawaban mengenai mereka (Hadits shahih riwayat Bukhari, bab karahiyah attathawul ‘ala al raqiq waqauluh abd wa ummah, hadits no 2368; Muslim, kitab al imarah, hadits no 3408).

Peran suami sebagai pemimpin keluarga juga ditunjukkan dengan banyaknya nash-nash yang mewajibkan ketaatan dan perizinan istri kepada suami, karena ketaatan merupakan konsekwensi dari kepemimpinan. ( Syaikh Taqiyuddin an Nabhani, al Nizham al Ijtima’i fi al Islam, hlm.143). Pergaulan suami-istri perspektif Islam sangat harmonis, bagaikan dua sahabat (Shahabani) sebagaimana dikatakan Syekh Taqiyuddin al Nabhani dalam al Nizham  al Ijtima’i fi al Islam, sehingga mampu mengantarkan keluarga sakinah mawaddah warahmah. Karena sekalipun kepemimpinan ada pada suami, tidak menjadikan suami otoriter dan menzalimi istri, karena relasi suami istri bukan seperti komandan dengan prajurit atau terdakwa dengan polisi. ( Syaikh Taqiyuddin an Nabhani, al Nidzam al Ijtima’i fi al Islam, hlm. 141-146).

Di samping itu pada saat beban istri sangat banyak dan berat, sehingga istri tidak kuat untuk mengerjakannya misalnya mengasuh balita 3 anak, masih harus mencuci, menyeterika, memasak dan lain lain. Maka bukan berarti dia harus tetap mengerjakan semua itu  sampai sakit-sakitan, bahkan akhirnya sampai melalaikan kewajiban yang  lain  misalnya berdakwah. Akan tetapi pada saat itu, suami berkewajiban membantunya, untuk meringankan beban istri. (Syaikh Taqiyuddin an Nabhani, al Nidzam al Ijtima’i fi al Islam, hlm. 146). Bantuan itu baik dibantu dengan tangannya sendiri maupun dengan menggaji pembantu.

Semuanya ini termasuk dalam cakupan pemberian nafkah secara ma’ruf. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 233 yang artinya:

Dan kewajiban ayah memberi makan dan Pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya.

Dengan uraian tersebut di atas, jelas sekali perceraian yang semakin tinggi karena pemerintah tidak menerapkan aturan/ hukum yang berkaitan fiqhu annikah dan aturan pergaulan laki-laki dengan perempuan dalam perspektif Islam. Karenanya untuk menghentikan kehancuran kehidupan keluarga yang semakin parah, tidak ada jalan yang lain kecuali menerapkan hukum Islam. Firman Allah surat Thaha ayat 124:

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ ١٢٤

  1. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”[]

Bagaimana menurut Anda?