Memperdaya Perempuan sebagai Arus Utama Ekonomi Era Digital

“In Asia, the future is female.” Keyakinan ini disampaikan Menkeu Sri Mulyani pada World Economic Forum on ASEAN di Hanoi, Vietnam pada 13 September 2018.  Tekad itu sejalan seruan mantan Menlu AS, Hillary Clinton dalam Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) High-Level Policy Dialogue on Women and the Economy di San Francisco, 16 September 2011. Dikatakannya, “Women are vital in the participation age.”


Oleh: Arum Harjanti

MuslimahNews, ANALISIS — Pemberdayaan perempuan menjadi arus utama tujuan ke-5 –kesetaraan gender- dalam Sustainable Development Goals (SDGs), sekaligus diyakini berperan penting dalam mengurangi kemiskinan yang menjadi tujuan pertama SDGs.

Upaya Tingkatkan Partisipasi Perempuan

Pentingnya peran perempuan meningkatkan ekonomi dunia menjadi keniscayaan.  Menurut Bank Dunia, kesenjangan gender menyebabkan rata-rata 15 persen pendapatan hilang di negara-negara anggota OECD, 40 persen diantaranya disebabkan oleh entrepreneurship gaps.  Konsultan manajemen global, McKinsey, memperkirakan ekonomi global juga akan kehilangan PDB sebesar US $ 4,5 triliun pada tahun 2025 jika melepaskan potensi ekonomi perempuan. Indonesia diramalkan bakal meningkat PDB tahunannya sebesar US$ 135 miliar pada 2025 atau 9 persen di atas kondisi normal jika meningkatkan partisipasi perempuan dalam dunia kerja.

Pada era Revolusi Industri 4.0 ini pun perempuan dipaksa untuk melibatkan diri secara penuh. Lagi-lagi klaim lembaga kapitalis global yang menjadi rujukan. IMF memperkirakan, 26 juta perempuan di 30 negara akan kehilangan pekerjaan karena peran mereka tergantikan oleh teknologi. Oleh karena itu, seruan keterlibatan perempuan dalam revolusi digital makin kuat. Tak kurang Ketua DPR RI Bambang Soesatyo pun meminta pemerintah meningkatkan peran perempuan dalam menghadapi revolusi digital dengan berbagai program.

Indonesia, dengan 63 persen dari 5 juta pelaku ekonomi yang didominasi perempuan telah menyusun langkah. Organisasi perempuan menjadi pilot project perkawinan wirausaha perempuan dan ekonomi digital. Seperti PT Telkom bersama BUMN lain yang membentuk Rumah Kreatif BUMN (RKB) yang tersebar di 514 kabupaten dengan program pembinaan startup Indigo Creative Nation di 18 kota.  Tujuannya, perempuan pelaku wirausaha akan menjadi sasaran marketplace dalam memasarkan produknya secara online.

Target pada generasi muda perempuan lebih besar. Pada forum WEF on ASEAN di Hanoi, Sri Mulyani menekankan keterlibatan perempuan muda dalam ekonomi digital, selaras dengan program yang diaruskan UNWomen. Bahkan sejak Hari Keterampilan Pemuda Sedunia (World Youth Skills Day), 15 Juli 2016, UNWomen meluncurkan Global Coalition of Young Women Entrepreneurs untuk mempromosikan inovasi dan kewirausahaan perempuan muda.

Investasi pada perempuan muda dalam era Revolusi Industri 4.0 dilakukan melalui peningkatan pendidikan vokasi dan training. Mereka menjadi obyek program perempuan dalam sains, teknologi, perekayasaan dan matematika (STEM/ Science, Technology, Engineering and Mathematics). Peningkatan keterlibatan perempuan menjadi kebutuhan karena baru 30 persen pekerja perempuan di bidang industri sains, teknologi, engineering, dan matematik.  Pemerintah tentu tidak ingin ketinggalan langkah dalam memanfaatkan era revolusi digital ini untuk mendapatkan target ekonomi seperti yang diramalkan Mc Kinsey.

Persoalan Keluarga Meningkat

Peningkatan partisipasi perempuan dalam dunia kerja pada faktanya justru  membawa berbagai masalah dalam kehidupan. Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PPP Okky Asokawati mengemukakan, persoalan perempuan di era digital ini semakin kompleks, Hal yang sama disampaikan oleh Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Dr Giwo Rubianto Wiyogo. Pernyataan ini terbukti dengan makin meningkat perceraian dari tahun ke tahun, sebagaimana yang disampaikan oleh Dirjen Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung. Banyaknya industri yang mempekerjakan perempuan menjadi salah satu penyebab tingginya angka gugat cerai seperti yang terjadi di Kabupaten Majalengka.

Perempuan bekerja juga membawa persoalan pada anak. Erica Komisar mengatakan  riset yang ia lakukan menunjukkan absennya seorang ibu dalam hidup anak sehari-hari memang mempengaruhi kesehatan mental mereka. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan rendahnya kualitas pengasuhan orang tua menjadi penyebab tingginya angka kekerasan anak. Terabaikannya pendidikan generasi, memunculkan berbagai permasalahan anak lainnya seperti keterlibatan anak dalam narkoba, pergaulan bebas, tawuran dan kriminalitas, bahkan mengakibatkan anak menjadi korban kekerasan seksual.

Islam Benteng Keluarga

Pembangunan yang hanya difokuskan pada peningkatan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan ketrampilan perempuan pada era digital, jelas akan mengakibatkan munculnya berbagai persoalan pada keluarga seperti tersebut di atas. Semua terjadi karena visi negara hanya terfokus pada pembangunan kapitalis yang materialistik.  Mengukur keberhasilan negara hanya dari PDB, sehingga negara tega memperdaya perempuan demi menggerakkan roda perekonomian.

Padahal, rezim ini telah menunjukkan kegagalan demi kegagalan pembangunan, karena visinya yang hanya terfokus pada aspek materi. Negri ini lupa dalam membina SDM, termasuk menyiapkan perempuan sebagai aset penting keberlangsungan kehidupan sebuah bangsa. Kegagalan pembangunan Revolusi Mental menunjukkan bukti salah arahnya pembangunan yang dilaksanakan rezim Jokowi-JK.

Padahal Kemenko PMK telah menggelontorkan 22.5 M untuk sosialisasi pada Oktober 2016. Pada program tahun kedua, uang lebih banyak digelontorkan untuk pelatihan. Kemendagri menyiapkan Rp1,2 miliar untuk menggelar sarasehan bertajuk “Revolusi Mental Menuju Good Governance.” Namun hasilnya tidak membawa dampak signifikan, karena ibu generasi yang mengawal proses pertumbuhan dan perkembangan mereka telah tercerabut dari habibatnya, demi mengejar target ekonomi.

Realitas ini berbeda jauh dengan tatanan Islam. Islam sangat memperhatikan kualitas ketakwaan individu, bahkan menjadikannya sebagai asas kehidupan.  Islam memiliki mekanisme yang menjamin kesejahteraan individu rakyatnya, baik laki-laki maupun perempuan. Islam hanya mewajibkan laki-laki sebagai pencari nafkah untuk keluarga.

Meskipun perempuan boleh bekerja, namun Islam menentukan peran utama perempuan sebagai istri dan pengurus keluarga serta pendidik generasi, bukan sebagai penanggung nafkah. Penerapan Sistem ekonomi Islam akan dapat menjamin kesejahteraan rakyat, dan tentu saja pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Karena sistem kehidupan saling bterkait, maka penerapan sistem Islam haruslah bersifat menyeluruh dan total.  Allah SWT telah berjanji dalam QS Al A’raf ayat 96, yang artinya “Kalau seandainya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, maka pastilah akan Kami turunkan keberkahan dari langit dan bumi.”[]

%d blogger menyukai ini: