; Spirit 212: Merajut Persatuan Hakiki – Muslimah News

Spirit 212: Merajut Persatuan Hakiki

Menakar kecintaan seorang warga negara atau suatu kelompok masyarakat terhadap Indonesia pada beberapa tahun terakhir ini tampaknya hanyalah hak prerogatif rezim dan pengikut rezim.


Oleh: Endiyah Puji Tristanti, S.Si (Penulis dan Pemerhati Politik Islam)

MuslimahNews, ANALISIS — Slogan “Saya Pancasila, Saya NKRI” menjadi sangat sakral mengangkangi apapun, baik norma, hukum bahkan agama. Pancasila dan NKRI menjadi alat gebuk kekuasaan. Ulama dipersikusi, tokoh agama dikriminalisasi, simbol-simbol agama distigmatisasi, ajaran agama dimonsterisasi.

Ketidakadilan dan kesewenang-wenangan menjadi sangat telanjang dipertontonkan di hadapan khalayak. Siapa saja tak berdiri bersama rezim harus lapang dada menanti giliran dimejahijaukan. Kritik masyarakat dibungkam, media-media tersandera kuasa pengusaha, sosial media dinarasikan menebar hoax, partai politik pun menjadi lacur kekuasaan. Bangsa beradab menjelma menjadi biadab.

Jeritan anak negeri tak terperih menahan lapar dan dahaga kemiskinan struktural, kerusakan moral dan akal generasi menghiasi laman media dan jagad sosial media, kesehatan menjadi barang langka yang dijual dengan harga sangat keji. Teror kriminalitas bertebaran di setiap sudut desa dan kota mulai perampokan, pemerkosaan hingga pembunuhan.

Perselisihan dan perpecahan internal terus menggerogoti cita-cita persatuan. Nyawa anak bangsa digadaikan atas nama perlindungan HAM kaum pemberontak. Masyarakat kehilangan jaminan rasa aman dan ketentraman. Intervensi dan ketergantungan terhadap asing dipandang sebagai solusi harga mati. Kedaulatan negara bukan lagi perkara asasi.

Inilah wajah kezaliman tersistem. Setiap akal sehat dan jiwa yang waras akan senantiasa bergolak berupaya menemukan jalan menuju perubahan. Tak cukup berubah menjadi lebih baik, namun harus perubahan secara mendasar dan total. Bangsa Indonesia dan umat Islam Indonesia membutuhkan persatuan hakiki yang selama 70 tahun lebih belum memanen cita-cita bangsanya.

Kepemimpinan atas Dasar Tauhid

Harus diakui spirit Aksi 212 yang berhasil menghimpun belasan juta manusia dalam damai dan berkah adalah spirit Islam. Menjaga kebersihan, menjaga rumput dan tanaman, saling memberi makanan dan minuman, menjaga ketertiban, semuanya merupakan implementasi keimanan, ketaatan dan kasih sayang murni berharap rida dan pahala. Tendensi materi menjadi sangat rendah bahkan aib untuk dihadirkan dalam komunitas Islam sadar syariah.

Sambutan panitia 212 dan peserta yang berasal dari ibukota Jakarta terhadap masyarakat pendatang dari luar Jakarta seolah menjadi duplikasi sambutan kaum Anshar terhadap Muhajirin. Penjagaan terhadap peserta 212 non Muslim, perlakuan tanpa diskriminasi terhadap mereka, wajah bahagia yang menyeruak serta testimoni positif non muslim di tengah komunitas muslim mayoritas menjadi bukti umat Islam sadar syariah bukan kaum marah dan pemecah belah.

Di sisi lain bersatu dalam keberagaman yang ditampilkan Aksi Bela Tauhid 212 kembali menegaskan kebutuhan umat akan kepemimpinan atas dasar Tauhid. Tauhid di dada umat baik dengan keyakinan maupun pemahaman akan esensi kemaslahatannya akan menghantarkan pada ketundukan terhadap syariat yang terpancar darinya.
Ketaatan dan ketundukan pada pemikiran, bukan pada figur kepemimpinan semata. Maka siapa saja yang menginginkan kepemimpinan atas seluruh umat hendaknya dia melayakkan diri untuk menjadi pemimpin atas dasar Tauhid.

Otoriterisme, diktatorisme atas nama undang-undang bertentangan dengan fitrah kepemimpinan atas dasar Tauhid. Siapapun pemimpinnya akan kesulitan mendapatkan loyalitas dari masyarakat, kecuali atas dusta dan tipuan keji. Umat setelah menyadari segala tipu daya akan menarik loyalitasnya dan mengalihkan loyalitasnya. Ini perkara yang alami yang pasti terjadi.

Sejak awal Islam datang di Jazirah Arab untuk menyatukan bukan memecah belah. Tuduhan musyrik Quraisy bahwa Muhammad SAW dan para Shahabatnya memecah belah hanyalah upaya untuk mencegah manusia mengarahkan pandangan fitrahnya terhadap Islam.
Gambaran spirit persatuan benar-benar lahir dari Islam tertoreh pada sejarah keberhasilan negara Madinah menyatukan kaum Muhajirin dan Anshar, setelah sebelumnya cikal bakal negara Madinah berhasil menyatukan suku Aus dan Khajraj suku yang senantiasa saling berperang.

Piagam (Konstitusi) Madinah yang dibuat oleh Muhammad SAW kepala negara Madinah yang pertama berhasil membangun integritas dan kemajemukan antar unsur masyarakat yang hidup di Madinah, sehingga tercipta stabilitas dan keamanan wilayah. Bahkan konsep strategis dan pengalaman politik praktis yang dimiliki Islam mampu menempatkan Jazirah Arab sebagai suatu daerah yang memiliki keistimewaan.

Keistimewaan lain dari negara Madinah yang berasaskan Islam terlihat dari meningkatnya kualitas kehidupan di sekitar Madinah, juga memicu terjadinya gerakan sosial dalam memberikan kemaslahatan beberapa profesi yang ada. Madinah menjadi percontohan yang paling makmur dan aman di seantero Jazirah Arab, hingga banyak orang yang terobsesi untuk tinggal di sana.

Sungguh sejarah baru Aksi Bela Tauhid, 2 Desember 2018 merupakan fenomena yang sulit dibayangkan dapat terwujud di duapuluh atau sepuluh tahun yang lalu. Ini adalah berkah dakwah Tauhid, dakwah tanpa kekerasan yang istiqomah digulirkan dengan kesabaran selama berpuluh-puluh tahun. Hasil tak kan pernah menghianati usaha. Bila masih ada tuduhan ajaran Islam memecah belah bangsa, sungguh terlalu![]

Bagaimana menurut Anda?