; Aksi Unjuk Rasa Tidak Dicontohkan oleh Generasi Salaf? Wanita Tidak Boleh Ikut Aksi Massa? - Muslimah News

Aksi Unjuk Rasa Tidak Dicontohkan oleh Generasi Salaf? Wanita Tidak Boleh Ikut Aksi Massa?

Oleh: Ustaz Azizi Fathoni

Menjelang digelarnya Aksi Massa 212 di Jakarta, bermunculan tulisan dan ceramah dari kalangan mereka yang menisbatkan manhajnya kepada generasi salaf yang isinya mengecam dan membid’ahkan aksi tersebut, terlebih bagi kaum muslimah. Dengan alasan tidak pernah dicontohkan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم dan sahabat, tabi’in dan pengikut mereka (generasi salaf). Benarkah demikian?


MuslimahNews.com — Aksi massa atau unjuk rasa dalam rangka menyampaikan aspirasi, mengadukan permasalahan, menuntut solusi, memberi masukan, menyerukan kebenaran, melarang dari kemungkaran, dan semacamnya hukumnya boleh, baik bagi laki-laki maupun bagi wanita. Selama tidak melanggar batasan-batasan syari’at terkait. Misal tidak dengan kekerasan, tidak merusak fasilitas umum, tidak mencabut tanaman, tidak menampakkan aurat, tidak bercampur baur selama memungkinkan, khusus wanita: mendapat izin suami atau wali, tidak ber-tabarruj, disertai mahram jika perjalanan panjang, dan sebagainya.

Kebolehannya masuk dalam dalil umum dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar yang tidak terbatas waktu dan tempat, sehingga boleh dilakukan di manapun (termasuk di area sekitar monas) dan kapanpun (termasuk tanggal 2/12) oleh siapapun dari kaum muslimin, dan dengan uslub (cara) atau media apapun (termasuk bendera tauhid, banner seruan, taushiyah dengan pengeras suara, dsb) selama tidak melanggar batasan-batasan syara’ semisal di atas tadi.

Jadi amalan itu untuk dikatakan boleh tidak harus ada dalil spesifik yang menunjukkannya, dan juga tidak harus pernah dicontohkan oleh generasi salaf. Misalnya berdakwah via sosmed atau di dunia maya sebagaimana juga banyak dilakukan oleh kalangan salafiyun. Jika ditanya mana dalil spesifik yang membolehkan serta mana contohnya oleh generasi salaf tentu tidak akan ada, apakah berarti selama ini hal tersebut perbuatan bid’ah yang dicela? Mengingat kegiatan berkenaan dengan agama (amar ma’ruf nahi munkar), tidak ada dalil spesifiknya, dan tidak pernah dicontohkan oleh generasi salaf. Tidak bukan? Alasannya tentu sama, yaitu bahwa kebolehannya lantaran dinaungi oleh keumuman dalil dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar.

Terlebih lagi terdapat bukti bahwa di masa Nabi صلى الله عليه وسلم pun telah ada aksi unjuk rasa yang melibatkan banyak massa. Bahkan dilakukan oleh kaum wanita, dan berlangsung di malam hari!

عن إياس بن عبد الله بن أبي ذباب، قال: قال النبي – صلى الله عليه وسلم -: “لا تضربن إماء الله” فجاء عمر إلى النبي – صلى الله عليه وسلم – فقال: يا رسول الله، قد ذئر النساء على أزواجهن، فأمر بضربهن. فضربن فطاف بآل محمد – صلى الله عليه وسلم – طائف نساء كثير، فلما أصبح قال: “لقد طاف الليلة بآل محمد سبعون امرأة، كل امرأة تشتكي زوجها، فلا تجدون أولئك خياركم”. رواه ابن ماجة ، وقال الشيخ شعيب الأرنؤوط: إسناده صحيح
Dari Iyas bin Abdillah bin Abi Dzubab beliau berkata, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Janganlah kalian memukul hamba-hamba wanita Allah”. Lalu datanglah Umar kepada Nabi dan berkata: “Wahai Rasulullah, kaum wanita telah berani terhadap suami-suami mereka”, maka beliau memerintahkan untuk memukulnya, maka merekapun dipukul. Kemudian datang sekelompok wanita dalam jumlah besar mengintari kediaman keluarga Nabi Muhammad. Maka di pagi harinya beliau berkata: “Tadi malam keluarga Muhammad telah dikelilingi oleh kaum wanita dalam jumlah sangat banyak, setiap mereka mengadukan suaminya. Maka kalian tidak akan menjumpai mereka itu (para lelaki yang memukul istrinya tersebut) sebagai orang-orang yang terbaik di antara kalian.” (HR. Ibnu Majah, Syu’aib al-Arnauth: sanadnya Shahih)

Dalam riwayat Ibnu Hibban dengan redaksi:

عن إياس بن أبي ذباب قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «لا تضربوا إماء الله» قال: فذئر النساء وساءت أخلاقهن على أزواجهن فقال عمر بن الخطاب: ذئر النساء وساءت أخلاقهن على أزواجهن منذ نهيت عن ضربهن فقال النبي صلى الله عليه وسلم: «فاضربوا» فضرب الناس نساءهم تلك الليلة فأتى نساء كثير يشتكين الضرب فقال النبي صلى الله عليه وسلم، حين أصبح: «لقد طاف بآل محمد الليلة سبعون امرأة كلهن يشتكين الضرب وايم الله لا تجدون أولئك خياركم». رواه ابن حبان
Dari Iyas bin Abi Dzubab beliau berkata, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Janganlah kalian memukul hamba-hamba wanita Allah”. Perawi berkata: Maka kemudian kaum wanita menjadi lancang dan berakhlak buruk, maka Umar bin Khaththab berkata: “Kaum wanita telah menjadi lancang dan berakhlak buruk (terhadap suami mereka) sejak Engkau mengeluarkan larangan untuk memukul mereka”, maka beliau berkata: “Maka pukullah”. Kemudian orang-orang pada memukul istri-isitri mereka malam itu, lalu datanglah kaum wanita dalam jumlah besar mengadukan pukulan tersebut. Maka saat pagi hari tiba Nabi berkata: “Tadi malam keluarga Muhammad telah didatangi dan dikelilingi kaum wanita dalam jumlah sangat banyak, semua mereka mengadu telah dipukul. Demi Allah, kalian tidak akan menjumpai mereka itu (para lelaki yang memukul istrinya tersebut) sebagai orang-orang yang terbaik di antara kalian.” (HR. Ibnu Hibban – Syu’aib al-Arnauth: hadits Shahih)

Dari segi periwayatan, hadis di atas memiliki sanad yang kuat, dan kecenderungannya sebagai hadis sahih. al-Imam al-Hakim meriwayatkannya dalam al-Mustadrak (hadits nomor 2765 dan 2774) dengan memberi keterangan: hadits ini shahih meski tidak dikeluarkan oleh Syaikhani, dan al-Imam al-Dzahabi menyepakati kesahihannya dalam al-Talkhish nya. Al-Imam Ibnu Hibban mencantumkan hadits ini di kitab shahih nya, dan dinyatakan shahih pula oleh pentahqiq kontemporer al-Syaikh Syu’aib al-Arnauth.

Kedatangan kaum wanita dalam jumlah besar ke kediaman keluarga Nabi صلى الله عليه وسلم dalam hadis tersebut memenuhi kriteria sebagai aksi massa di muka publik dalam jumlah besar. Juga kriteria sebagai unjuk rasa menyampaikan keluhan sekaligus meminta solusi kepada Nabi atas persoalan yang sedang mereka hadapi dan rasakan. Mengingat kedudukan Nabi صلى الله عليه وسلم di situ sebagai penguasa yang memiliki kewenangan dalam menentukan kebijakan. Dan bagian penting yang berimplikasi hukum dari riwayat tersebut adalah sikap Nabi صلى الله عليه وسلم yang tidak mengingkari adanya aksi massa tersebut, tapi justru menyambut baik serta mengakomondasi keluhan mereka.

Adapun terkait jumlah massa yang datang dalam riwayat tersebut disebutkan ada 70 orang wanita. Hal ini mengandung dua kemungkinan: pertama dengan makna hakiki bahwa jumlah mereka benar-benar 70 orang persis, atau dengan makna kiasan bahwa bilangan 70 disitu disebutkan untuk menunjukkan jumlah yang sangat banyak. Karena merupakan kebiasaan orang Arab, menjadikan bilangan 70 untuk mubalaghah (melebih-lebihkan) dalam ucapan mereka. Al-Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya atas surah At-Taubah 80 mencantumkan penjelasan:

… لأن العرب في أساليب كلامها تذكر السبعين في مبالغة كلامها، ولا تريد التحديد بها
“… Sebab orang Arab itu dalam gaya berbicara mereka menyebutkan bilangan 70 dalam rangka melebih-lebihkan ucapan mereka, bukan maksud membatasi dengan angka tersebut.”

Dalam bahasa Indonesia yang semisal ini adalah bilangan 7 pada ungkapan “pusing tujuh keliling”. Bukan berarti benar-benar pusingnya seperti pusing disebabkan tujuh kali keliling, melainkan berarti sangat pusing. Jadi kemungkinan di riwayat di atas adalah dengan makna ini (mubalaghah), juga mengingat keadaan malam kala itu tidak seterang saat ini.

Selain aksi massa di atas, para sahabat juga pernah menggelar pertemuan massal di tempat umum yang menydeot perhatian sekaligus menjadi pintu hidayah penguasa setempat kala itu dan selanjutnya menjadi jalan bagi tegaknya kejayaan Islam. Al-Imam Ibnu Hisyam (w. 213 H) mengabadikan kejadian tersebut dalam kitab sirah-nya:

… على بئر يقال لها: بئر مرق ، فجلسا في الحائط، واجتمع إليهما رجال ممن أسلم، وسعد بن معاذ، وأسيد بن حضير، يومئذ سيدا قومهما من بني عبد الأشهل، وكلاهما مشرك على دين قومه، فلما سمعا به قال سعد بن معاذ لأسيد بن حضير: لا أبا لك، انطلق إلى هذين الرجلين اللذين قد أتيا دارينا ليسفها ضعفاءنا، فازجرهما وانههما عن أن يأتيا دارينا، فإنه لولا أن أسعد بن زرارة مني حيث قد علمت كفيتك ذلك، هو ابن خالتي، ولا أجد عليه مقدما، قال: فأخذ أسيد بن حضير حربته ثم أقبل إليهما، فلما رآه أسعد ابن زرارة، قال لمصعب بن عمير: هذا سيد قومه قد جاءك، فاصدق الله فيه، قال مصعب: إن يجلس

أكلمه. قال: فوقف عليهما متشتما، فقال: ما جاء بكما إلينا تسفهان ضعفاءنا؟ اعتزلانا إن كانت لكما بأنفسكما حاجة، فقال له مصعب: أوتجلس فتسمع، فإن رضيت أمرا قبلته، وإن كرهته كف عنك ما تكره؟ قال: أنصفت، ثم ركز حربته وجلس إليهما، فكلمه مصعب بالإسلام، وقرأ عليه القرآن، فقالا: فيما يذكر عنهما: والله لعرفنا في وجهه الإسلام قبل أن يتكلم في إشراقه وتسهله، ثم قال: ما أحسن هذا الكلام وأجمله! كيف تصنعون إذا أردتم أن تدخلوا في هذا الدين؟ قالا له: تغتسل فتطهر وتطهر ثوبيك، ثم تشهد شهادة الحق، ثم تصلي. فقام فاغتسل وطهر ثوبيه، وتشهد شهادة الحق، ثم قام فركع ركعتين، ثم قال لهما: إن ورائي رجلا إن اتبعكما لم يتخلف عنه أحد من قومه، وسأرسله إليكما الآن، سعد بن معاذ، ثم أخذ حربته وانصرف إلى سعد وقومه وهم جلوس في ناديهم.
“… di sebuah sumur yang dinamakan sumur Maraq. Mereka berdua (Mush’ab bin ‘Umair dan As’ad bin Zurarah) pun duduk di atas sebuah dinding pembatas. Dan berkumpullah kepada mereka berdua orang-orang yang telah masuk Islam. Sedangkan Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudhair kala itu sama-sama pemuka kaum dari kalangan Bani ‘Abdil Asyhal, dan keduanya masih musyrik menganut agama kaumnya. Ketika keduanya mendengar akan hal tersebut (kedatangan juru dakwah Nabi صلى الله عليه وسلم dan berkumpulnya orang-orang yang telah ber-Islam), Sa’ad bin Mu’adz berkata kepada Usaid bin Hudhair: “Celaka, pergilah kamu kepada dua orang yang telah mendatangi perkampungan kita untuk melakukan pembodohan terhadap pengikut kita. Cegah dan laranglah keduanya untuk mendatangi perkampungan kita. Sungguh, jika saja bukan karena kekerabatanku dengan As’ad bin Zurarah sebagaimana kau tahu, niscaya aku tidak membutuhkanmu untuk melakukan ini. Ia adalah saudara sepupuku (ibnu khaalatiy). Dan aku tidak menemukan orang yang bisa diandalkan untuk menghadapinya.” Usaid bin Hudhair segera mengambil tombaknya lalu bergegas menemui mereka berdua. Tatkala As’ad bin Zurarah melihatnya, ia berkata kepada Mush’ab bin ‘Umair: “Orang ini adalah pemuka kaum, telah datang kepadamu. Yakinlah kepada Allah dalam menghadapinya.” Mush’ab berkata: “Kalau dia mau duduk, akan aku ajak bicara”. Berdirilah Usaid bin Hudhair di hadapan keduanya dengan penuh caci-maki. Lalu berkata: “Apa yang membawa kalian datang kemari? mau membodohi para pengikut kami? Pergilah jika kalian masih butuh hidup!” Berkatalah Mush’ab: “Bagaimana kalau anda duduk dan mendengarkan kami dulu. Jika anda setuju silahkan anda terima. Jika tidak suka silahkan menolaknya?” Dia menjawab: “Usulan yang adil”. Kemudian ia menancapkan tombaknya di tanah dan duduk bersama keduanya. Mush’ab memberitahunya tentang Islam. Membacakan untuknya al-Qur`an. (Keduanya menceritakan: “Demi Allah, kami telah mengetahui ke-Islam-an di wajahnya sebelum ia mengungkapkannya, dari melihat sinar di wajahnya dan sikapnya yang mudah menerima.”) Lalu berkata (Usaid): “Alangkah bagus dan indah perkataan ini! Apa yang kalian lakukan jika ingin masuk agama ini?” Keduanya menjawab: “Kamu mandi besar, bersuci diri dan pakaian lalu shalat”. Maka ia bangkit untuk mandi besar, mensucikan pakaiannya, membaca syahadat. Lalu ia berdiri dan shalat dua raka’at. Selanjutnya ia berkata: “Sungguh di belakangku sana ada seorang lelaki yang apabila ia sampai mengikuti kalian niscaya tidak ada satu orangpun dari kaumnya yang berani berpaling darinya. Akan aku pertemukan dia dengan kalian sekarang juga, yaitu Sa’ad bin Mu’adz.” Kemudian dia mengambil tombaknya dan pergi menemui Sa’ad dan kaumnya yang sedang duduk di tempat perkumpulan mereka.” (Ibnu Hisyam, al-Sîrah al-Nabawiyyah, juz 2 hlm 83-84)

Dapat dipahami bahwa pertemuan tersebut adalah pertemuan besar dan bersifat terbuka di depan publik. Karenanya penguasa Bani Abdil Asyhal menjadi resah dan berniat hendak mempersekusinya. Meski akhirnya kemudian masuk Islam dan memberikan kekuasaannya kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Walhasil, aksi massa dalam rangka untuk menyampaikan aspirasi, dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, menyiarkan Islam dan kalimat tauhid, serta menyiarkan persatuan umat Islam, adalah boleh hukumnya. Bahkan dalam kondisi tertentu menjadi suatu tuntutan yang harus, yakni agar opini yang berkembang di tengah masyarakat tidak didominasi oleh kabatilan, diskriminasi terhadap ajaran islam, persekusi terhadap para habaib, ulama, dan pengemban dakwah, tuduhan radikal dan teroris, dan sebagainya. Dan jika dalam riwayat tadi wanita bisa dan boleh berunjuk rasa, maka untuk kaum laki-laki tentu lebih utama akan kebolehannya (min bâbil-awlâ). Wallâhu a’lam wa ahkam.[]Sumber

Bagaimana menurut Anda?