; Pidato Tegas Khalifah Umar bin Khaththab - Muslimah News

Pidato Tegas Khalifah Umar bin Khaththab

MuslimahNews.com — Kepemimpinan Umar bin Khaththab menorehkan tinta emas dalam sejarah peradaban Islam. Rasulullah ﷺ memberikan gelar al-Faruq kepadanya yang bermakna sosok yang mampu memilah dan memilih kebenaran di atas kebatilan.

Sebagai seorang khalifah, ia dikenal tegas. Sikapnya keras terhadap orang zalim, tetapi lemah-lembut terhadap orang-orang yang teraniaya dan menderita. Khalifah penakluk Dinasti Sassanid Persia ini hidup sederhana.

Baginya, doa rakyatnya sendiri yang merasa terzalimi lebih menakutkan ketimbang rongrongan imperium Romawi-Persia sekalipun. Inilah jiwa pembela keadilan yang selalu tertanam dalam diri Khalifah Umar.

Selaku pucuk pimpinan, Umar bin Khaththab menghendaki agar keadilan tegak dan terasa merata di seluruh jajarannya. Saat itu, wilayah kekuasaan kaum Muslim meluas ke barat dan timur. Itu mencakup Afrika Utara hingga sebagian Persia.

Untuk mengurus administrasi, di setiap daerah ada gubernur yang tugasnya melayani kepentingan publik seadil-adilnya serta taat pada perintah Khalifah Umar di Madinah. Tak heran jika sejarah mencatat Umar sebagai khalifah yang banyak menorehkan prestasi.

Tokoh yang berasal dari Suku Adi itu, juga dikenal memiliki reputasi yang kuat setelah memeluk Islam terkait pembelaannya terhadap Islam dan Nabi Muhammad ﷺ. Umar didaulat sebagai khalifah menggantikan Abu Bakar, pada 634 Masehi hingga meninggal akibat dibunuh oleh Abu Lukluk, saat menunaikan shalat Subuh pada Rabu, 25 Dzulhijah 23 H/644 M. Di antaranya adalah sebagai berikut sosok pertama yang berjuluk Amirul Mukminin.

Gelar tersebut belum pernah disematkan kepada siapa pun selain Umar, tokoh pertama yang mengaktifkan baitul mal, figur pertama yang membiasakan blusukan kepada rakyat di tengah malam hari. Ini dilakukan untuk melihat dan memantau langsung kondisi warganya.

Umar juga Khalifah pertama yang melakukan ekspansi secara masif ke berbagai wilayah. Di bawah pemerintah Umar, kekuasaan Islam tumbuh dengan sangat pesat.

Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan Dinasti Sassanid Persia (yang mengakhiri masa Kekaisaran Sassanid) serta mengambil alih Mesir, Palestina, Suriah, Afrika Utara, dan Armenia dari Kekaisaran Romawi (Bizantium).

Bagaimana cara Khalifah Umar mengendalikan dan mengawasi jajarannya di daerah-daerah? Buku Fatawa wa Aqdhiyah Amiril Muminin Umar bin Khaththab karangan Muhammad Abdul Aziz al-Halawi memaparkannya. Al-Halawi memuat riwayat dari Abu Yusuf.

Bahwa Umar bin Khaththab bila mengangkat seorang gubernur, ia akan mengambil sumpah jabatan di hadapan orang-orang Anshar serta para sahabat Nabi ﷺ.

Ada sedikitnya empat perkara yang selalu disebutkan dalam teks sumpah jabatan.

Pertama, hendaknya seorang gubernur tidak naik kuda pengangkut barang-barang berat. Hal ini bermakna bahwa seorang pemimpin tidak akan memamerkan harta kepunyaannya.

Kedua, seorang gubernur tidak akan memakai baju berbahan kain halus nan mahal.

Ini bermakna seorang pemimpin tidak tampil lebih mewah ketimbang rakyatnya.

Ketiga, tidak makan roti putih. Artinya, seorang gubernur tidak mengutamakan perutnya sendiri di atas perut rakyat.

Keempat, seorang gubernur tidak boleh menutup pintu rumahnya. Ini agar ia bisa melayani kebutuhan rakyatnya. Seorang gubernur juga tidak boleh mengangkat ajudan.

Kisah berikut ini menggambarkan bagaimana kerasnya Khalifah Umar terhadap gubernur yang terbukti melanggar salah satu dari keempat poin tersebut.

Suatu hari, Umar bin Khaththab sedang berjalan-jalan di Madinah setelah melantik seorang pejabat. Tiba-tiba, seorang pria berlari mendatangi dan menyeru kepadanya, Wahai ‘Amirul Mukminin!

Benarkah keempat syarat-syarat itu bisa menyelamatkan Tuan dari siksa Allah, sedangkan gubernur Tuan sendiri, Ayyadh bin Ghanam di Mesir telah memakai baju berbahan kain halus dan mengangkat seorang ajudan.

Khalifah Umar terkejut mendengar keterangan pria ini. Untuk menyelidiki kebenaran kata-katanya, Umar kemudian memanggil kurir negara, Muhammad bin Maslamah. Ia memang bertugas khusus untuk selalu siap sedia bilamana Khalifah perlu berkorespondensi dengan gubernur-gubernurnya.

Kau, pergilah ke tempat Ayyadh. Bawalah dia kepadaku dalam keadaan persis sebagaimana engkau saksikan sendiri ia pada saat bertemu,” perintah Khalifah Umar.

Maka, berangkatlah Muhammad bin Maslamah ke Mesir. Setelah mengarungi perjalanan beberapa waktu lamanya, ia sampai di kediaman sang gubernur, Ayyadh bin Ghanam. Ternyata, Gubernur Ayyadh memang berpenampilan mewah.

Ia mengenakan baju dari kain berbahan halus kualitas tinggi. Tidak hanya soal pakaian. Kini, Gubernur Mesir itu, bahkan, telah mempekerjakan seorang ajudan pribadi.

Gubernur Ayyadh menyambut Muhammad bin Maslamah dengan baik. Tanpa berbasa-basi, sang kurir menyampaikan maksud kedatangannya. “Wahai, Gubernur Ayyadh. Engkau dipanggil amirul mu`minin Khalifah Umar ke Madinah,”kata Muhammad.

Baiklah. Tetapi, saya minta waktu sebentar saja untuk saya menaruh baju mantel ini,” jawab Ayyadh bin Ghanam. “Tidak. Jangan lakukan itu karena Khalifah ingin agar pakaian itu tetap engkau kenakan, sebagaimana aku mendapatimu sekarang ini,”kata Muhammad.

Dengan sedikit bertanya-tanya, sang gubernur pun menyanggupi. Keduanya berangkat ke Madinah untuk menemui Khalifah Umar. Sampai di tujuan, `Amirul Mukminin menerima tamu yang dinanti-nanti itu.

Demi melihat sang gubernur, pandangan mata Umar memperhatikannya. Wajahnya menyiratkan rasa tidak suka. “Tanggalkan baju mantel itu!” Perintah Khalifah Umar. Kemudian, Umar bin Khaththab meminta kepada Muhammad untuk mengambilkan sebuah jubah yang terbuat dari bulu hewan ternak.

Tidak hanya itu, Khalifah Umar menyuruh Muhammad mengumpulkan sekawanan kambing serta sebatang tongkat. Semua itu diberikannya kepada Gubernur Mesir ini.

Pakailah baju bulu ternak ini. Ambil tongkat ini. Lalu, pergilah kamu kembali ke Mesir dengan menggembalakan kambing-kambing ini. Berilah minum kepada orang- orang yang lewat di depanmu dalam perjalanan pulang. Jagalah pemberian saya ini. Mengerti!?” Kata Khalifah Umar dengan nada tinggi kepada Ayyadh bin Ghanam.

Saya mendengarnya, wahai Khalifah,” jawab Gubernur Ayyadh. Namun, sejurus kemudian ia menggerutu. “Sungguh, saya lebih baik mati daripada tampil begini.

Rupanya, Ayyadh bin Ghanam merasa malu berpenampilan layaknya tukang gembala kambing di hadapan publik. Mendengar ucapannya ini, Khalifah Umar kian keras berkata, “Mengapa engkau tidak senang dengan pekerjaan seperti ini? Ayahmu dahulu dikenal sebagai ghanam karena ia menggembala kambing. Tahukah engkau? Apa kau kini merasa lebih baik daripada ayahmu?”

Benar, wahai `Amirul Mukminin. “Engkau berkata benar,” jawab Gubernur Ayyadh.

Maka, tunggu apa lagi? Ayo, lepas mantel itu dan kenakan jubah bulu domba ini.
Teruskan kembali tugasmu!” Perintah Khalifah `Umar.

Sejak peristiwa ini, sosok Ayyadh bin Ghanam dikenal rakyat Mesir sebagai gubernur yang tawadhu. Ia menjadi salah satu gubernur terbaik yang pernah memimpin Mesir.

Demikian riwayat Abu Yusuf.

Dalam riwayat lainnya, Umar bin Khaththab diketahui berpidato kepada sekalian rakyatnya suatu ketika.

Wahai umat manusia! Sesungguhnya aku tidak mengutus para gubernur kepada kalian untuk memukul kalian atau merampas harta kekayaan kalian.

Akan tetapi, aku mengutus mereka untuk mengajarkan kepada kalian mengenai agama dan sunah Rasulullah ﷺ. Maka, barang siapa di antara kalian diperlakukan zalim, dengan perlakuan yang menyimpang dari tugas mereka, silakan lapor kepadaku.

Demi Dzat yang diri Umar ada di Tangan-Nya.

Sungguh, aku akan melakukan qishash terhadapnya (gubernur yang zalim akan dibalas dengan hukuman setimpal)!

Demikian petikan pidato Khalifah `Umar bin Khaththab.[]

Sumber: Republika.co.id

Bagaimana menurut Anda?