Melawan Narasi Sumir tentang Khilafah

Oleh: Pratma Julia Sunjandari

MuslimahNews, FOKUS — Menuju ujung dekade kedua abad 21 ini, ghirah –semangat beragama- kaum Muslimin kian menguat. Berbagai peristiwa politik yang mengusik keimanan, mendorong umat meluaskan ‘amar ma’ruf nahi munkar. Sayangnya, rezim merespon fenomena ini sebagai ancaman bagi negara. Ketakutan pemerintah mewujud dalam menderaskan narasi ‘ancaman pengkhianatan kepada negara’. Bahkan Menkopolhukam Wiranto di akhir bulan Oktober 2018 pernah mengancam siapapun yang ingin mengembalikan ‘paham-paham anti pancasila’, harus hengkang dari Indonesia.

Memosisikan Islam sebagai Common Enemy

Kemarahan Wiranto itu bukanlah hal baru. Secara umum, pemerintah dunia Islam memang represif terhadap pergerakan kebangkitan Islam. Amerika Serikatlah yang menyetir seluruh negeri muslim untuk memerangi ekstrimisme Islam. Definisi semena-mena tentang ekstrimisme dan radikalisme sesungguhnya adalah framing terhadap gerakan Islam yang lantang menyuarakan pembebasan diri dari penjajahan asing.

Presiden AS Donald Trump sengaja mengadakan Arab Islamic America Summit (KTT Arab Islam Amerika) di Riyadh, Arab Saudi (21/5/2017) untuk mengingatkan komitmen 55 negeri muslim dalam memerangi Islam radikal. Betapa pentingnya agenda tersebut, hingga Trump menjadwalkan KTT itu sebagai lawatan perdananya ke luar negeri setelah pelantikannya sebagai presiden AS Ke-45. Rupanya Trump mengulang pidato Barack Obama di Kairo pada tahun 2009, di mana ia berbicara tentang ekstremisme di dunia Islam.

Indonesia pun konsisten terhadap dikte AS perihal ‘mengamankan’ negara dari ekstremisme dan radikalisme. Menhan Ryamizard Ryacudu mengatakan kelompok-kelompok ekstremis seperti (yang ingin mendirikan) negara Islam “adalah musuh kita bersama”.

Hal itu dikemukakannya saat bertemu jurnalis Australia dan menegaskan Indonesia akan mendukung koalisi pimpinan AS jika mencoba untuk membasmi Islamic State dengan pendekatan militer.

Demikianlah, Islam masih menjadi monster bagi Barat. Firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 120 memang menegaskan bahwa Islam selalu akan menjadi common enemy bagi Yahudi dan Nasrani yang merepresentasikan diri sebagai dunia Barat. Islam senantiasa menjadi ancaman serius, apalagi bila mewujud dalam bentuk entitas politik.

Zeyno Baran, – peneliti di Hudson Institute, AS- menyatakan, ancaman paling serius bagi Amerika dan sekutunya adalah kebangkitan Islam dan tegaknya kembali Khilafah Islamiyah. Secara lugas Baran menegaskan bahwa gerakan yang paling berbahaya adalah Hizbut Tahrir. Sebab, Hizbut Tahrir adalah satu-satunya organisasi yang sangat memahami Khilafah dan metode menegakkannya. Meskipun belum sampai pada suatu titik berdirinya Khilafah, Hizbut Tahrir telah mengalami kemajuan yang luar biasa dalam perjuangannya.

Karena itulah, bisa dimengerti bila mayoritas rezim di dunia Islam melarang Hizbut Tahrir, melakukan monsterisasi terhadap organisasi itu, merepresi dan mengkriminalisasikan aktivisnya. Bahkan para ulama yang bukan anggotanya, seperti Ustaz Abdul Somad turut mengalami persekusi, hanya gara-gara menyampaikan Khilafah –yang selalu dilekatkan dengan Hizbut Tahrir- sebagai ajaran Islam.

Khilafah Mulai Menjadi Opini

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. (TQS Al Maidah ayat 15)

Dalam ayat tersebut Allah SWT mengingatkan betapa banyak ajaran Islam yang sengaja disembunyikan oleh musuh-musuhNya, termasuk Khilafah Islamiyyah. Dan karena kejahilan yang menjangkiti umat, mereka pun tak paham akan keunggulan ajaran Islam itu. Namun atas perjuangan kaum muslim yang ingin mengembalikan izzah Islam dan membebaskan umat dari penjajahan asing, Allah mulai menolong mereka dengan menyibakkan tabir yang menutupi keindahan ajaranNya.

Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan mInilah sistem yang diridai Allah SWT. Tidak hanya berkah karena menjadi representasi perwujudan Islam kaaffah, namun juga menjadi problem solver atas seluruh masalah manusia, yang tidak mampu diselesaikan oleh sistem dan pemimpin manapun di bumi saat inienunjuki mereka jalan yang lurus. (TQS Al Maidah ayat 16)

Karena itu, perlahan-lahan dakwah Khilafah mulai mendapat respon positif umat. Beberapa media nasional mulai memuat tulisan dan program acara tentang Khilafah. Demikian pula tokoh umat.

Seperti pernyataan Din Syamsuddin (3/11) bahwa khilafah merupakan ajaran islam yang tak perlu ditakuti. Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu menilai khilafah merupakan salah satu bagian ajaran islam yang berasal dari Alquran.

Setahun lalu, sebuah survei yang dilakukan Alvara Research Centre dan Mata Air Foundation yang dimaksudkan untuk mengatasi radikalisme, hasilnya justru mengejutkan. Responden dari kalangan profesional di enam kota besar Indonesia -yang disurvei sejak 10 September hingga 5 Oktober 2017- menunjukkan 29,6 persen setuju memperjuangkan negara Islam untuk penerapan Islam secara kafah. Dan ketika dijabarkan bentuk negara yang dimaksud adalah Khilafah, 16 persen responden menyetujuinya.

Lembaga yang sama juga melakukan survei pada pelajar dan mahasiswa. Hasil yang dirilis pada 31 Oktober 2017 menyebutkan sebanyak 23,4 persen mahasiswa dan 23,3 persen pelajar di Indonesia siap berjihad demi tegaknya Khilafah. Respondennya tak main-main. Mereka adalah mahasiswa dari 25 perguruan tinggi ternama di Indonesia dan pelajar SMA unggulan di dalam dan luar Jawa. Jumlah tersebut meningkat dari survei serupa yang dilakukan pada tahun 2009. Kala itu kurang dari 12 persen responden pelajar dan mahasiswa yang menerima Khilafah.

Realitas tersebut sebenarnya kian membuktikan janji Allah, bahwa umat mulai melihat jalan lurus. Fatalnya, rezim dan punggawa-punggawa deradikalisasi kian gelisah. Mereka merasa kecolongan. Padahal mereka telah melakukan upaya sistematis yang melibatkan semua aktor kekuasaan untuk membendung opini tentang Khilafah. Melalui lisan para ulama su’ mereka diskreditkan Khilafah. Lewat tangan akademisi, komunitas dan media antek Barat, mereka rusak kerinduan umat untuk segera menikmati keberkahan syari’at Islam kaaffah.

Namun umat makin cerdas karena taqarrub-nya kepada Allah dan kecintaan mereka kepada sunnah Rasulullah Saw, tak serta merta mengikuti opini sumir yang disetir mereka. Akibatnya bisa diprediksi. Gerakan para pembenci Islam makin tidak terkontrol. Mereka kian aktif melontarkan opini penuh kebencian terhadap Islam dan syari’atnya, makin mudah melakukan persekusi dan kian represif, demi menunjukkan arogansi mereka sebagai pemilik kekuasaan.

Tapi ingat! Pemilik segala kuasa hanyalah Allah Al Aziz. Sungguh mudah bagiNya untuk membalikkan kondisi. Realitas kapitalisme di dunia Barat –bersama demokrasi dan liberalismenya- saat ini telah menunjukkan tanda-tanda kehancuran.

Barat sendiri tidak pernah benar-benar bersatu. Mereka saling menelikung demi mengejar kekuasaan dunia. Demikian pula rezim di dunia Islam. Pergiliran kekuasaan pasti akan terjadi. Salah satu indikatornya, Khilafah, yang mereka halang-halangi mewujud kembali, saat ini mulai dibicarakan masyarakat. Dan tidak mustahil, jika dalam waktu dekat, Khilafah akan menjadi opini umum.

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (TQS. At-Taubah ayat 32)

Melawan Narasi Sumir terhadap Khilafah

Allah memang pasti menolong agamaNya. Namun, apa peran kita untuk menjadi seperti kaum hawariyun yang menjawab permintaan Nabi Isa a.s dengan, “Kamilah penolong-penolong agama Allah…” (Ash Shaff ayat 14)?

Menolong agama Allah adalah bersungguh-sungguh memperjuangkan Kalimatullah kembali berjaya di muka bumi. Jika seorang ‘yang ditokohkan’ di Jawa menyatakan Khilafah akan masuk ke Asia Tenggara pada tahun 2024, bagi kita, aminkan itu sebagai doa.

Realisasinya, dakwah harus lebih clear dalam menjelaskan keberkahan hidup dalam ketaatan kepada Allah dalam segala aspek kehidupan. Juga lebih lugas dalam menarasikan keunggulan komparatif Khilafah dibandingkan sistem pemerintahan apapun di dunia.

Misalkan saja, perbedaan cara Khilafah dan rezim hari ini mengatasi masalah ketenagakerjaan. Masalah demo 70.000 guru honorer di depan Istana (30/10 sampai 1 /11/18) yang berakhir sia-sia -sekalipun mereka menginap di depan Istana- adalah contoh kezaliman negara terhadap pahlawan tanpa tanda jasa itu.

Padahal mereka hanya menagih janji sebagaimana ungkapan Ketua Forum Honorer K2 Indonesia (FHK2I) Titi Purwaningsih. Juli lalu Jokowi berjanji dalam acara Asosiasi Pemerintah Daerah akan menyelesaikan masalah pengangkatan guru honorer. Nyatanya, pemerintah hanya membuka kesempatan guru honorer yang berusia dibawah 35 tahun yang bisa mengikuti tes CPNS.

Masalah ini tidak akan terjadi dalam sistem Khilafah, karena semua rakyat –apapun profesinya, bahkan kalangan yang tidak bisa bekerja karena udzur syar’I, atau, apapun agamanya asalkan dia adalah warga negara Khilafah- berhak mendapatkan tunjangan kebutuhan pokok personal. Sedangkan kebutuhan pokok komunal seperti pendidikan, kesehatan, keamanan ataupun penyediaan air bersih diberikan secara gratis. Kalaupun harus membayar –untuk keperluan transportasi, energi dan air bersih- harganya bukan harga keekonomian yang memperhitungkan laba, namun hanya sekedar pengganti ongkos instalasinya saja.

Artinya, yang dibutuhkan warga negara Khilafah semua sudah dijamin negara. Jadi kalau warga Khilafah bekerja, maka gaji yang diperolehnya benar-benar dipergunakan untuk kemaslahatan hidupnya. Jadi tak menjadi soal, apakah harus jadi pegawai Khilafah (PNS) atau tukang kayu, semua warganegara akan tercukupi kebutuhan mendasarnya secara layak.

Sumber dananya? Khilafah amat mungkin memenuhi kebutuhan anggaran kemashlatan rakyat karena SDA yang diberikan Allah SWT kepada dunia Islam ini amat berlimpah. Selain itu ada sumber pemasukan dari khoroj, jizyah, zakat dan sebagianya. Untuk pengeluarannya, negara tak perlu mengeluarkan dana sia-sia karena tak memiliki utang luar negeri yang menjerat leher. Tak ada pula proyek-proyek mercusuar atau leisure economy yang tidak berpengaruh pada kesejahteraan rakyat.

Akuntabilitas anggaran negara juga terjaga karena ketakwaan para pejabat Khilafah. Kejujuran Umar dalam mengelola Baitul Mal dicatat lbnu Katsir. Sang Khalifah berkata, “Tidak dihalalkan bagiku dari harta milik Allah ini melainkan dua potong pakaian musim panas dan sepotong pakaian musim dingin, serta uang yang cukup untuk kehidupan sehari-hari seorang di antara orang-orang Quraisy biasa. Dan aku adalah seorang biasa seperti kebanyakan kaum Muslimin.”

Pada masa kepemimpinan Umar, kesetaraan dapat dirasakan oleh setiap orang. Sang Khalifah memilih kehidupan sederhana. Ketika seseorang terluka atau kehilangan kemampuannya sehingga tidak dapat bekerja, maka negara bertanggung jawab memenuhi kebutuhan dasarnya termasuk ‘keamanan sosial’ bagi orang lanjut usia. Mereka yang telah berhenti bekerja bisa tetap memperoleh upah tetap dari kas publik. Bahkan, bayi-bayi yang dicampakkan orang tua mereka dipelihara negara, dan menghabiskan 100 dirham uang negara setiap tahunnya. Saat kekhalifahan dilanda kekeringan hebat pada 18 H, Umar memberlakukan kupon makanan bagi masyarakat yang dapat ditukar dengan gandum dan tepung.

Keindahan hidup di masa Khilafah hendaknya terus menerus disampaikan kepada umat, demi melawan narasi sumir dan propaganda jahat yang dideraskan Islam haters . Inilah sistem yang diridai Allah SWT. Tidak hanya berkah karena menjadi representasi perwujudan Islam kaaffah, namun juga menjadi problem solver atas seluruh masalah manusia, yang tidak mampu diselesaikan oleh sistem dan pemimpin manapun di bumi saat ini. []

%d blogger menyukai ini: