Politik Kemunafikan dan Kesombongan di Balik Pembakaran Bendera Tauhid

Oleh: Indira Sabet Rahmawaty, SIP MAg (Pengajar Ilmu Politik Perguruan Tinggi Negeri Islam di Bandung)

MuslimahNews, ANALISIS — Di depan mata! Tanda-tanda kemunafikan yang terjadi di dunia politik kita hari ini. Kasat mata kemunafikan tersebut bagi mereka yang jeli membandingkan pemberitaan bahkan mungkin terlibat langsung di lapangan dalam berbagai peristiwa yang terjadi di negeri ini khususnya peristiwa pembakaran bendera tauhid.

Hal ini menjadi tak terhindarkan. Salah satunya karena masyarakat hari ini memiliki referensi berita yang tidak tunggal hanya dari media mainstream khususnya televisi tapi ada beberapa referensi berita lain yaitu media sosial. Media sosial ini mulai dari Facebook, Instagram, Twitter, WhatsApp serta media sosial lainnya.

Berita yang berseliweran seolah-olah menjadi alat uji kewarasan logika dan tentu saja menjadi bukti terjadinya ghazwul fikr (perang pemikiran) dan ghazwul tsaqafi (perang peradaban atau benturan peradaban dalam istilah Samuel P. Huntington). Peristiwa pembakaran bendera tauhid menjadi satu alat uji dan bukti yang begitu nyata. Dimulai dengan kontrasnya pemberitaan antara media mainstream dan media sosial tentang pembakaran bendera tauhid atau pembakaran bendera HTI. Media mainstream menyebutnya sebagai pembakaran bendera HTI sementara media sosial menyebutnya sebagai pembakaran bendera tauhid.

Baca juga:  Pembakar Bendera Divonis 10 Hari, Busyro Muqaddas: Sama saja Menghina Agama

Selanjutnya kekontrasan tersebut terlihat dari janggalnya penanganan. Pembawa bendera ditangkap dan begitu disudutkan, pembakar bendera ditangkap tapi tidak semuanya dan tidak begitu disudutkan. Aksi bela tauhid di suatu kota diberitakan media mainstream batal diselenggarakan padahal berita yang berkembang di media sosial yang terjadi adalah pemukulan dan pengusiran warga yang ingin mengadakan aksi bela tauhid tersebut. Contoh-contoh lain bisa pembaca tambahkan. Sungguh, ini menguji kewarasan logika kita.

Maka kalau hari ini dikenalkan apa yang disebut politik kebohongan maka bagi penulis lebih dari sekadar kebohongan, ini kemunafikan! Kebohongan hanyalah 1 di antara tanda kemunafikan. 3 (tiga) ciri yang lain adalah janji yang diingkari, amanah atau kepercayaan yang dikhianati dan curang ketika berdebat. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis Rasulullah Saw yang mulia, “Ada 4 (empat) perkara, siapa saja yang memilikinya, maka ia menjadi munafik yang sempurna. Barangsiapa yang memiliki salahsatunya, maka ia memiliki salahsatu sifat kemunafikan hingga ia meninggalkannya. Yaitu apabila seseorang diberi amanat, ia khianati; apabila ia bicara, ia dusta; apabila berjanji, ia tidak menepatinya; dan apabila ia berdebat, ia akan berbuat curang.” (H.R ‘Muttafaq Alaih)

Dalam hadis lain, Rasulullah Saw bahkan menyertakan ancaman neraka untuk pelakunya, “…Kalian harus menjauhi dusta, karena dusta akan bersama dengan kejahatan dan keduanya ada di neraka.”(HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

Baca juga:  Simbol

Jika hari ini ada pernyataan “bukan politik kalau tidak bohong” maka itu senyatanya yang terjadi di sistem demokrasi-sekuler hari ini. Dalam kasus pembakaran bendera tauhid ini, kebohongan yang dilakukan adalah kebohongan tingkat tinggi: Membohongi firman Allah SWT dan sabda Rasul-Nya. Kebohongan apa lagi yang bisa begitu besar selain membohongi Sang Pencipta dan manusia utusan Sang Pencipta?

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan pintu langit (ampunan) dan mereka tidak (pula) masuk surga hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah kami membalas orang-orang yang berbuat kejahatan.” (TQS. Al-A’raaf ayat 40)

Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengadakan kedustaan terhadap Allah SWT atau mendustakan ayat-ayatNya? Sesungguhnya tidaklah beruntung orang-orang yang berbuat dosa.” (TQS. Yunus ayat 17)

Dan dengan berat hati, harus dikatakan bahwa selain kemunafikan, politik hari ini ditambah dengan kesombongan. Kesombongan yang dimaksud sebagaimana yang disampaikan Rasulullah Saw dalam hadisnya yang mulia, “….Sombong adalah menolak kebenaran dan menyepelekan manusia.” (HR Muslim)

Ayat-ayat Allah SWT dan sabda Rasul-Nya tentulah kebenaran. Maka menolak aturan-aturan Allah SWT termasuk simbol-simbol sebagaimana yang dikabarkan dalam hadis Rasulullah Saw. Menolak atau membantah kebenaran dari orang yang mengatakannya pun menjadi ciri kesombongan.

Ya Allah Ya Ghaffar, kami berlindung dari sifat-sifat munafik dan sombong. Masukkanlah kami ke dalam orang-orang yang membenarkan, menjalankan dan membela ayat-ayatMu yang haq dan seluruh sabda Rasul-Mu yang Engkau bimbing dengan wahyu-Mu. Hidupkan, matikan dan bangkitkan kami dengan kalimat tauhid, Ya Rabb… Kalimat Laa Ilaaha illallaah, Muhammad Rasulullaah. Walllahu a’lam bishshawab.[]

Bagaimana menurut Anda?