Peningkatan Kasus Bunuh Diri, Kapitalisme Pemicu Prevalensi Gangguan Mental dan Patologi Sosial

Oleh: Nindira Aryudhani
(Relawan Opini dan Media)

MuslimahNews, ANALISIS — Berdasarkan data tahun 2012 yang dimuat dalam Statistik Kesehatan Dunia oleh WHO tahun 2016, diperkirakan orang yang bunuh diri mencapai 800 ribu kematian per tahun. Data menyebutkan, bahwa depresi merupakan penyebab utama bunuh diri. Bunuh diri diketahui sebagai penyebab utama kedua kematian pada usia 15-29 tahun. Sebesar 75% dari kasus bunuh diri, terjadi negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Cara umum yang digunakan untuk bunuh diri adalah dengan menelan pestisida, gantung diri, dan menggunakan senjata api.

Masih dari sumber yang sama, di ASEAN, negara yang tercatat dengan angka bunuh diri tertinggi adalah Thailand. Sementara itu di Indonesia, meski menjadi negeri berpenduduk Muslim tertinggi di dunia, diakui atau tidak, angka bunuh diri di Indonesia termasuk cukup tinggi. Angka bunuh diri berdasarkan data dari Kepolisian Republik Indonesia pada 2014, terdapat sekitar 457 kasus bunuh diri. Kemudian pada 2015, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat setidaknya ada 812 kasus bunuh diri di seluruh wilayah Indonesia. Jawa Tengah menjadi provinsi dengan kasus bunuh diri terbanyak dengan 331 kasus, disusul oleh Jawa Timur dengan 119 kasus. Angka tersebut hanyalah yang tercatat. Jumlah riil di lapangan bisa jadi jauh lebih tinggi lagi.

Menurut Kapolda Jawa Timur, Ponorogo masuk dalam 10 kota rawan bunuh diri di Jawa Timur. Dari data Kepolisian Resort Ponorogo kejadian bunuh diri tahun 2014-2015 terdapat 44 kasus dengan berbagai motif bunuh diri. Kota-kota lainnya di Jawa Timur yang juga memiliki catatan angka bunuh diri tinggi hingga tahun 2017 di antaranya Blitar, Surabaya, Malang, Ngawi, dan Bojonegoro.

Baca juga:  Suramnya 2019 Ibarat Musim Gugurnya Bisnis Ritel

Sementara untuk Kediri, berbagai kasus bunuh diri rata-rata bermotif putus asa. Misalnya, ada seorang siswi yang bunuh diri karena ponselnya dijual oleh ibunya, ada juga seorang siswa yang hampir bunuh diri karena tidak naik kelas, atau sekedar cekcok melalui SMS dengan pacarnya. Dari semua ini, bagaimana pun bunuh diri merupakan salah satu kondisi gangguan kesehatan mental akut. Gangguan kesehatan mental merupakan hambatan utama bagi kesejahteraan penduduk pada suatu negara.

Menurut WHO dalam Global Burden of Disease 2004, bunuh diri termasuk dalam 20 penyebab utama kematian untuk semua usia. Penyakit mental terutama depresi, pelecehan, kekerasan, latar belakang sosial dan budaya merupakan faktor risiko utama yang menyebabkan bunuh diri. Perilaku bunuh diri dapat dijadikan salah satu pendekatan untuk prevalensi gangguan kesehatan mental di suatu negara.

Tak heran, hidup dengan hukum rimba kapitalisme yang menghamba harta, pastilah meniscayakan kehidupan yang berstandar fisik. Bagi pihak-pihak yang papa dan tak mampu meraih materi, sementara poros kebahagiaannya hanya dipusatkan pada capaian nominal, cepat atau lambat akan mengalami depresi dan putus harapan.

Ini sekaligus menjadi bukti nyata, bahwa kapitalisme sangat tidak manusiawi mengelola eksistensi diri orang-orang yang bernaung dengan tata aturannya.

Dalam kapitalisme, yang menang adalah yang berharta. Yang kuat adalah yang punya dana. Sementara yang tak berada, dipersilakan minggir dan menonton saja. Akibatnya, semakin lama peningkatan prevalensi gangguan mental dan patologi sosial pun tak terhindarkan.

Baca juga:  Metode Distribusi Harta dalam Islam

Di Indonesia, jumlah kasus gangguan jiwa terus bertambah yang berdampak pada penambahan beban negara dan penurunan produktivitas manusia untuk jangka panjang. Sayangnya sampai dengan saat ini, gangguan kesehatan mental masih tergolong low priority issue di mayoritas negara berkembang.

Hal ini menunjukkan kurangnya komitmen para pengambil kebijakan untuk serius menangani masalah kesehatan mental, meskipun data-data epidemiologis menunjukkan bahwa problem ini tak lagi bisa dianggap remeh. Data Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi ganggunan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 14 juta orang atau 6% dari jumlah penduduk Indonesia.

Inilah mengapa sedemikian urgennya muara pengelolaan eksistensi diri manusia dikembalikan pada posisi manusia sebagai seorang hamba. Yang tak lain, ada Sang Khaliq yang tak hanya selaku pembuat aturan bagi kehidupannya, tapi juga legislator atas cara kematian sang hamba. Bunuh diri begitu dilaknat oleh Islam. Orang-orang yang tertimpa kasus bunuh diri, dapat dipastikan ia sudah depresi mengharapkan dunia namun sayangnya tak kunjung beranjak pada aturan Sang Pencipta.

Demikian halnya dengan negara, sang pengampu kebijakan. Akan ke mana bahtera pemerintahan hendak dibawa, ketika harta dunia terlalu dipuja. Padahal harta ada batasnya. Tak pelak, inilah yang tengah dialami tanah air kita.

Negara menumpuk utang, segala dana didalihkan untuk infrastruktur, impor menggunung, pajak ditarik di setiap sudut kantong warga; namun pembinaan jiwa dan kesejahteraan sosial diabaikan. Lihat saja, biaya kesehatan dikapitalisasi, dunia pendidikan disekularisasi, kegiatan-kegiatan keislaman dipersekusi dan ajaran-ajaran Islam dikriminalisasi. Salah satu dampaknya, angka bunuh diri pun meningkat. Bagaimana mental hendak sehat jika ranah-ranah pengobatan menuju ilmu dan taqarrub kepada Allah SWT, malah diaborsi di segala sisi.

Baca juga:  Mesin Penyedot Uang (Kapitalis) Bag. 2/2

Karenanya, mari kita renungkan firman Allah SWT berikut dengan sungguh-sungguh:
.
إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Alquran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS At-Taubah [09]: 40).[]

Bagaimana menurut Anda?