Gelombang Protes Insiden Pembakaran Bendera Tauhid, Sinyal Persatuan Islam?

MuslimahNews, FEATURE — Ustazah Ratu Erma diminta MNews, Ahad (28/10/2018), untuk menjawab beberapa pertanyaan terkait peristiwa menggemparkan dibakarnya kain hitam bertuliskan kalimat tauhid, di Garut beberapa waktu lalu.

Berikut wawancara MNews dengan Ustazah Ratu Erma R, kami menggunakan singkatan MN untuk MNews, dan UR untuk Ustazah Ratu Erma. Silakan disimak.

MN: Ustazah, ada kejadian pembakaran kain hitam bertuliskan kalimat tauhid di Garut, bisa dijelaskan kain hitam itu apa sebenarnya?

UR: Yang dibakar itu adalah Ar-Raayah Rasulillah SAW, atau panji Rasulullah SAW, dalam salah satu riwayat dari Ibnu Abbas hadis disebutkan:

كَانَتْ رَايَةُ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم سَوْدَاءَ وَلِوَاءُهُ أَبْيَضَ مَكْتُوْبٌ فِيْهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ

Panji Rasulullah Saw berwarna hitam dan benderanya berwarna putih, tertulis padanya Laa Illa illa Allah Muhammad Rasulullah.

Kain hitam tersebut adalah panji yang digunakan oleh para komandan pasukan dalam jihad fii sabiilillah, riwayat tentang hal ini banyak. Saat tidak dalam jihad, ia dipasang di kantor-kantor pemerintahan, di rumah-rumah kaum Muslimin, baik dalam kondisi suka dan duka. Jadi Ar-Rayah ini adalah identitas umat Islam, dalam kondisi aman dan damai.

MN: Benarkah bendera itu milik kelompok tertentu? Hizbut Tahrir, seperti yang dituduhkan?

UR: Tidak benar.. Itu adalah lambang umat Islam. Identitas umat Islam di seluruh dunia. Banyak sekali hadis yang meriwayatkan hal ini. Sirah Rasulullah, tarikh Khilafah serta umat Islam, menunjukkan bahwa Ar-Rayah (panji warna hitam) dan satu lagi bernama al-Liwa (berwarna putih) digunakan oleh Rasulullah, sahabat, para Khalifah dan umat Islam sebagai lambang eksistensi.

Baca juga:  Ustaz Ismail Yusanto: Yang Dibakar Banser adalah Bendera Rasulullah

Hizbut Tahrir saat ini tengah mengenalkan kembali pada umat Islam bahwa kita punya panji pemersatu. Mengingatkan bahwa kita tidak boleh berpecah belah dan mengkultuskan negara bangsa masing-masing. Mengingatkan bahwa sesama umat tidak boleh konflik hanya karena perbedaan kelompok.

MN: Bagaimana sikap seorang Muslim terhadap bendera itu?

UR: Harus mengagungkannya, karena lafadz yang tertulis padanya adalah komitmen Muslim terhadap Allah dan Rasul-Nya dalam mengamalkan risalah Islam. Kalimat ‘Laa Ilaaha illa Allah’, menuntut konsekuensi bahwa Muslim hanya tunduk, patuh dan mengabdi pada Allah dengan cara menggunakan hukum-hukum Allah ketika melaksanakan setiap aktivitasnya, baik untuk dirinya sendiri (hukum akhlak, makanan, pakaian), saat berinteraksi dengan yang lain (hukum jual-beli, pernikahan, pergaulan dengan lawan jenis, dll), dan saat seorang Muslim menjadi seorang pemimpin umat, bagaimana ia mesti mengatur kebijakannya sesuai dengan hukum ekonomi, pendidikan, hukum, politik, dll).

Lafadz ‘Muhammad ar-Rasulullah’, komitmen pengakuan bahwa hamba Allah yang bernama Muhammad adalah utusan Allah yang menjadi teladan bagi seluruh umat manusia hingga hari akhir nanti dalam menjalani kehidupan dunia. Sehingga setiap apa yang dilaksanakan oleh Rasul, terkait dengan urusan umat, maka kita punya komitmen untuk melanjutkan pelaksanaannya. Termasuk ketika Rasul mendirikan negara di Madinah yaitu Daulah Islam, dan sepeninggal beliau dilanjutkan oleh para Khalifah, maka umat Islam wajib melanjutkan warisan pemerintahan Islam ini (Khilafah), tegak kembali saat ini. Karena Khilafah yang akan mewujudkan realisasi dari kalimat Laa Ilaaha Illa Allah, Muhammad ar-Rasulullah.

Kalimat tauhid ini jugalah yang menyatukan seluruh umat Islam dengan berbagai latar belakang bangsa, warna kulit dan bahasa. Persatuan ini yang menjadikan umat Islam kuat, eksis dan berkontribusi besar bagi peradaban. Membakar panji umat Islam tersebut berarti melecehkan lafadz agung ini dan mengingkari makna yang luar biasa pentingnya.

MN: Kelompok penolak bendera tauhid adalah juga bagian dari kaum Muslimin, bagaimana tanggapan Ustazah?

Baca juga:  Simbol

UR: Ya. Benar. Mereka Muslimin.. Hanya saja tidak paham dan tergoda iming-iming duniawi.

MN: Ada tuduhan bahwa bendera tauhid justru memecahbelah NKRI, benarkah?

UR: Tuduhan yang tidak ada buktinya.. Baik sebelum maupun sesudahnya.. Apakah memang sudah terbukti hari ini bahwa Panji Rasulullah memecah belah? Yang terjadi justru panji tersebut menyatukan umat.. Dari Sabang sampai Merauke tak ada yang tidak membela dan merasa memiliki panji tersebut.

Spanduk massa Aksi Bela Tauhid di Jakarta

[Foto: Spanduk massa Aksi Bela Tauhid, Jakarta (26/10/2018). (Dok.MMC)]

Adapun mereka yang begitu benci terhadap panji ini, muncul karena rasa takut akan tekanan musuh yang tidak suka umat ini bersatu. Kemudian mereka menebar fitnah bahwa Panji Rasul membuat perpecahan, Panji Rasul sumber ketegangan dan sebagainya..

Sikap ini tak lebih dari islamofobia yang makin akut, ditularkan kepada Muslim yang pengecut. Bukalah mata dan lihatlah fakta.. Umat begitu heroik dan bersuka cita membelanya dan rindu bersatu di bawah naungan Panji Rasul ini.

MN: Gelombang protes atas pembakaran bendera tauhid muncul di berbagai wilayah Indonesia, bagaimana tanggapan Ustazah Ratu Erma?

UR: Umat Islam memang harus membela panjinya, panji agamanya dan panji Rasulnya. Umat wajib marah atas tindakan yang menyakiti hatinya, melecehkan identitas keagungan mereka. Ini sikap tabi’iy (alami) umat.

Baca juga:  Lima Tuntutan Umat dalam Aksi Bela Tauhid 211

Umat bergerak karena pemahaman yang dimilkinya. Ini pertanda bahwa pemahaman umat tentang misi hidup di dunia ini yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, masih kuat. Rasulullah SAW bersabda:

: أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ،

Aku diperintahkan untuk memerangi orang-orang hingga mereka bersaksi dan menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah. Tentunya, saat ada yang menghinakan misi mulia ini, maka umat siap melawan. Justru jika umat diam, membiarkan tindak pelecehan ini, maka berarti umat mati, dan itu pertanda kebinasaan.

Subhaanallahu, Allahu Akbar wa Lilaahi al-hamdu. Peristiwa pembakaran ar-rayah ini menjadi berkah bagi umat Islam tidak hanya di Indonesia saja, melainkan juga di seluruh penjuru dunia. Membuka mata umat yang selama ini ditutupi oleh slogan negara bangsa, nasionalisme, dan membuka hati umat untuk membela harga diri dan kehormatannya.

Gelombang protes di berbagai kota dan di penjuru dunia adalah indikator nyata bahwa umat Islam rindu persatuan, butuh institusi yang menjaga dan melindungi mereka. Dan butuh pemimpin yang akan membawa mereka dalam kehidupan aman, sejahtera dan damai.

Saya berkeyakinan bahwa setelah ini, umat akan senantiasa terjaga dan bergerak ketika kepentingan mereka diusik. Allahu Akbar… Yaa Rabbanaa.. umat ini kembali hidup, dan akan tetap hidup hingga janji-Mu terwujud.[]

Bagaimana menurut Anda?