; Perempuan Jangan Mau Jadi Tumbal Kebangkrutan Kapitalisme - Muslimah News

Perempuan Jangan Mau Jadi Tumbal Kebangkrutan Kapitalisme

MuslimahNews, EDITORIAL — Isu empowering women dan gender equality secara istimewa diangkat pada beberapa event diskusi di rangkaian acara Annual Meeting IMF-World Bank Group Forum 2018 beberapa waktu lalu. Salah satunya, tak tanggung-tanggung. Diskusi menghadirkan para perempuan yang dianggap merepresentasi perempuan sukses berdaya masa kini, seperti Menkeu Sri Mulyani Indrawati, Managing Director IMF Christine Lagarde, Excutive Secretary of UN Economic Comission for Africa Vera Songwe, Executive Director of International Women’s Right Action Watch Pacific Pryanthi Fernando dan Governor of the Bank of Canada Steve Poloz.

Beberapa simpulan yang mengemuka di berbagai forum diskusi itu adalah bahwa kontribusi perempuan dalam bekerja memberikan manfaat untuk ekonomi keluarga dan masyarakat. Dengan kata lain, perempuan dipandang sangat besar kontribusinya dalam menyelesaikan problem ekonomi yang sedang melanda berbagai negara di dunia, yakni kemiskinan.

Namun mereka mencatat, saat ini perempuan masih menjadi prioritas kedua dalam mencari nafkah untuk sebuah keluarga. Terkhusus di negara-negara seperti Indonesia yang budaya patriarkinya dianggap masih kental.

Perempuan di Indonesia misalnya, disebut-sebut memiliki keterbatasan masa waktu untuk berkarier. Bagi perempuan yang awalnya semangat bekerja, satu saat akan dihadapkan pada pilihan untuk menikah dan memiliki keturunan. Dan para perempuan yang memilih menikah, berkeluarga, mengandung dan memiliki keturunan ini akan menganggap kegiatan mengurus keluarga sebagai beban tambahan.

Untuk itu, disimpulkan bahwa perlu ada kebijakan dan dukungan yang dapat meringankan beban perempuan bekerja dan memberi support agar perempuan tak sungkan masuk ke dunia kerja. Misalnya dengan menciptakan lingkungan kantor yang ramah dan nyaman, kebijakan cuti hamil dan menyusui, penyediaan jasa day care, memberi kemudahan atas layanan pendanaan, juga mendorong kaum perempuan untuk memanfaatkan kemajuan teknologi digital sebagai wahana mencari penghasilan. Sehingga terbukanya akses pendidikan bagi perempuan dan perubahan budaya yang mendiskriminasi kaum perempuan mutlak diperlukan.

Sepintas, catatan dan simpulan yang mengemuka di forum tersebut nampak sangat positif bagi kaum perempuan. Bahasa pujian tentang “kontribusi perempuan dalam menyelesaikan problem ekonomi” atau “upaya memperjuangkan kesetaraan gender melalui ekonomi” seolah-olah sedang mengangkat harkat martabat kaum perempuan, sekaligus menyiratkan adanya awareness terhadap nasib kaum perempuan. Padahal, di saat yang sama ada jebakan opini yang justru akan membahayakan kaum perempuan, bahkan membahayakan bangunan keluarga dan masyarakat Islam di masa depan.

Nampak jelas, ada upaya pengarusan opini bahwa penyebab problem ekonomi di dunia adalah minimnya kontribusi perempuan dalam proses produksi alias pertumbuhan ekonomi. Dan bahwa minimnya kontribusi perempuan dalam ekonomi disebabkan oleh diskriminasi gender yang berurat akar dalam masyarakat yang patriarkis dalam keseharian.

Oleh karenanya, wajib bagi pemerintahan negara-negara yang ada di dunia untuk mendorong perempuan bekerja dan mengaruskan opini bahwa perempuan bekerja sudah menjadi sebuah keharusan dan tuntutan jaman. Gerakan pemberdayaan perempuan pun bahkan sudah fokus pada terminologi mempekerjakan perempuan. Sehingga definisi perempuan berdaya adalah perempuan yang produktif secara ekonomi dan memberi kontribusi pada pertumbuhan ekonomi alias pada proses produksi barang dan jasa.

Sementara, mengingat pada implementasinya gerakan pemberdayaan ekonomi perempuan ini dianggap mendapat tantangan dan hambatan dari budaya patriarki, dan budaya dimaksud adalah ajaran Islam, maka tak heran jika mainstreaming ide Keadilan & Kesetaraan Gender juga terus dideraskan, seraya menohok pada aturan-aturan Islam. Bahkan semua kebijakan di seluruh level harus menyertakan aspek KKG ini sebagai pertimbangan. Harapannya, budaya yang ada bergeser pada kesetaraan, dan laki-laki perempuan bisa bersaing penuh dalam pasar kerja yang sudah dikondisikan harus bebas tanpa hambatan.

Inilah impian para kapitalis global pen-support eksistensi hegemoni kekuatan negara adidaya di seluruh dunia. Menciptakan sebuah planet 50:50 di mana perempuan dan laki-laki bebas memilih peran yang diinginkan. Tentu saja dengan definisi keinginan yang sudah dibentuk melalui berbagai iklan atau propaganda soal definisi modern dan kemajuan bagi kaum perempuan. Bukan keinginan yang disetir oleh nilai-nilai budaya (baca : agama) yang dimonsterisasi bahkan dikriminalisasi sebagai pengungkung kaum perempuan sekaligus penyebab diskriminasi terhadap kaum perempuan.

Jika dipandang dari kacamata Islam, tentu saja propaganda mereka adalah propaganda yang konspiratif dan berbahaya. Semua terminologi yang diaruskan terkait dengan ikhtiar memajukan perempuan hakekatnya adalah racun berbalut manisan.

Kadar racunnya juga sudah sangat tinggi karena menyerang benteng terakhir kekuatan umat Islam. Yakni peran perempuan di dalam lembaga perkawinan yang dalam Islam memiliki fungsi politis dan strategis sebagai basis membangun sebuah peradaban cemerlang.

Sebelumnya serangan racun memang bersifat kasar dan frontal. Tapi hari ini, serangannya sangat halus tapi mematikan. Perempuan tak lagi didorong untuk menjadi berdaya di luar rumah. Mereka boleh tetap di rumah, namun mereka harus bekerja. Karena dengan bekerjalah mereka dinilai berdaya. Dan tanpa bekerja, mereka hanyalah beban ekonomi bagi keluarga, masyarakat dan negara.

Padahal dalam Islam, bekerja bagi seorang perempuan hukumnya hanyalah mubah alias pilihan semata. Perempuan justru diberi tempat mulia dengan peran dan fungsi utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga (ummun wa rabbatul bait/URB). Sementara bekerja hanyalah pilihan bagi mereka yang siap dan mampu memikul beban ganda atau bagi mereka yang telah terbebas dari sebagian amanah rumah tangga dan memiliki ilmu yang bisa didedikasikan untuk kemuliaan umat.

Peran URB inilah yang justru wajib dijamin keoptimalan pelaksanaannya oleh mereka yang diberi kewajiban memenuhinya, yakni oleh suami atau walinya, masyarakat sebagai habitat kehidupannya, serta oleh negara sebagai pengurus dan pengatur urusan rakyat, termasuk dirinya.

Hak-hak perempuan yang wajib dijamin oleh mereka adalah hak-hak yang akan membantu perempuan menunaikan peran strategisnya sebagai pencetak generasi cemerlang. Yakni, hak finansial melalui hukum penafkahan oleh suami atau walinya. Bahkan ketika suami atau walinya tidak ada, maka kewajiban itu jatuh pada negara.

Berikutnya adalah hak berupa jaminan pendidikan, yang secara individual wajib ditunaikan oleh suami atau walinya. Dan secara komunal wajib ditunaikan oleh negara. Negaralah yang menyediakan berbagai sarana dan prasarana gratis agar kaum perempuan beroleh pendidikan bermutu. Agar mereka punya bekal cukup mendidik anak dengan berbagai ilmu yang dibutuhkan untuk target mencetak generasi yang berkepribadian Islam, sehat, kuat, cerdas dan punya visi hidup sebagai pembangun peradaban.

Hak lainnya adalah hak atas jaminan keamanan. Hak ini wajib ditunaikan oleh ketiga unsur tadi, mulai dari fungsi perlindungan dari suami atau wali, perlindungan masyarakat melalui tegaknya budaya amar ma’ruf nahi munkar dan oleh negara melalui penegakkan aturan hidup termasuk sanksi hukum yang tegas bagi pelaku pelanggaran.

Sistem yang ada sekarang, yakni sistem sekuler demokrasi kapitalis neoliberal justru sangat tak ramah dengan perempuan. Bahkan mengeksploitasi kaum perempuan yang jumlahnya lebih dari separuh laki-laki dan menghinakan kedudukan mereka hanya sebatas mesin penggerak roda perekonomian. Dan itu artinya, mereka hanya menempatkan kaum perempuan sebatas bemper bahkan tumbal bagi kerusakan ekonomi yang mereka ciptakan, yakni kemiskinan.

Inilah perbedaan sistem Islam dan kapitalisme dalam mendudukan kaum perempuan. Yang satu, yakni islam, sangat memuliakan, sementara kapitalisme justru menghina dinakan.

Bahkan tak salah jika ada kesimpulan bahwa pemberdayaan perempuan ala kapitalisme adalah salah satu jalan mengukuhkan penjajahan. Karena gerakan ini akan berimplikasi pada abainya kaum perempuan terhadap tugas mulia dan politis sebagai ibu arsitek peradaban masa depan Islam serta mengubah pola relasi antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat dan lembaga perkawinan yang berujung keguncangan struktur bangunan keduanya.

Inilah yang realitasnya banyak terjadi sekarang. Kasus-kasus perceraian demikian mudah terjadi. Beban ganda yang dihadapi perempuan bekerja, membuat kaum perempuan mengalami disfungsi keibuan hingga tak optimal mendidik anak-anak mereka dan dekadensi moral generasipun menjadi sebuah fenomena. Belum lagi, kekerasan terhadap perempuan, termasuk pelecehan di tempat kerja juga menjadi hal yang memprihatinkan, yang semuanya membuat kehidupan keluarga dan masyarakat jauh dari ketentraman.

Terlebih tak dipungkiri bahwa hari ini benturan peradaban sedang masuk pada klimaksnya. Seruan-seruan untuk kembali menerapkan syariat Islam dalam naungan sistem politik global bernama Khilafah terus bertambah kuat gaungnya di berbagai level umat.

Adalah wajar jika para kapitalis pemegang kendali dunia merasa terancam. Hingga mereka melakukan berbagai upaya yang bisa memberangus suara-suara kebangkitan. Salah satunya adalah dengan melakukan konspirasi meracuni benak-benak kaum muslimin terutama kaum perempuan untuk melepas tanggungjawabnya terhadap Islam dan masa depan agamanya. Sekaligus menjadikan mereka tumbal kebangkrutan ekonomi kapitalisme dengan menggenjot proses produksi sekaligus menjadikan perempuan berpenghasilan sebagai target pasar.

Demikian jahatnya konspirasi mereka. Sehingga ada kewajiban bagi kita membongkar setiap modus penjajahan sekalipun dibungkus dengan kemasan indah bernama pemberdayaan ekonomi perempuan. Karena Islam telah memberi kedudukan yang jauh lebih mulia dan hakiki serta bernilai ukhrawi kepada kaum perempuan, yakni sebagai ibu peradaban cemerlang.[]SNA

Bagaimana menurut Anda?