Tak Ada Tempat bagi Ulama dalam Sistem Demokrasi

Oleh: Arini Retraningsih

MuslimahNews, FOKUS –Fenomena digandengnya para ulama dalam kancah politik praktis di Indonesia, menjadikan Pilpres 2019 terasa berbeda dari yang sebelumnya. Aroma politisasi agama seketika menyeruak. Bukan semata-mata karena ulama dijadikan sebagai calon pemimpin negara, namun lebih pada dimanfaatkannya status keulamaannya.

Kita semua tahu bahwa wakil presiden di masa ini hampir tak memiliki fungsi dan wewenang sebagaimana yang dimiliki presiden. Wakil hanya menjadi alat untuk mendulang suara.

Posisi sebagai alat ini telah nampak jelas bahkan sebelum pelaksanaan pilpresnya. Di salah satu kampanye kubu perekrut ulama, sang ulama dikondisikan ikut menikmati musik dangdut dari biduan perempuan yang berlenggak lenggok. Beliau ikut bertepuk-tepuk dengan senyum merekah. Padahal, semestinya posisi keulamaan beliau justru dimanfaatkan untuk menghilangkan kemungkaran, bukan malah melegitimasinya.

Memang inilah demokrasi. Yang bisa naik sebagai penguasa hanya orang yang mampu mengumpulkan suara terbanyak. Yang menjadi tolok ukur bukan hanya kompetensi dan kemampuan. Bisa jadi standarnya adalah popularitas, uang, bahkan wajah! Tak heran banyak artis yang terpilih sebagai kepala daerah atau wakilnya.

Rupanya rezim saat ini menyadari bahwa berbagai kebijakannya yang menzalimi umat Islam bisa membuatnya tergeser. Sehingga diangkatlah seorang ulama sebagai calon wapres agar bisa meraup suara umat. Mereka paham bahwa kultur masyarakat masih “sendika dhawuh”, tunduk patuh, pada Sang Kyai, tak butuh pembuktian prestasi, tak butuh rencana kerja, tak butuh program. Cukup angkat Sang Kyai dan suruh ia bertitah.

Kondisi ulama seperti ini membuat umat seperti berenang di air keruh. Mereka tak mampu melihat dan menilai dengan jernih ulama yang harus diikutinya. Padahal Islam telah meninggikan kedudukan para ulama dan memberikan kepada mereka amanah dan tanggung jawab yang besar kepada Allah, kepada Islam dan kepada umat. Amanah untuk menuntun umat berjalan di atas koridor hukum syara’ dan menjaganya agar tidak menyimpang. Amanah inilah yang dijaga para ulama sejati di sepanjang sejarahnya.

Ulama dalam Pandangan Islam

Secara syar’iy, Allah SWT dan Rasul-Nya menjelaskan berbagai sifat siapa ulama itu. Diantaranya adalah :

Pertama, ulama adalah orang-orang yang merupakan lambang iman dan harapan umat, memberikan petunjuk untuk berpegang kepada aturan Islam. Mereka mewarisi karakter Nabi dalam keterikatannya terhadap wahyu Allah SWT. Rasulullah Saw bersabda : “Sesungguhnya perumpamaan ulama di bumi adalah seperti bintang-bintang di langit yang memberi petunjuk di dalam kegelapan bumi dan laut. Apabila dia terbenam maka jalan akan kabur” (HR. Ahmad).

Dalam hadits lain beliau Saw menyatakan :“Sesungguhnya kedudukan seorang alim sama mulianya dengan bulan di tengah-tengah bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para Nabi” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Kedua, ulama itu benar-benar takut kepada Allah SWT; dalam hati, ucapan dan perbuatannya. Ia senantiasa berpegang kepada aturan Allah SWT. Firman Allah SWT :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir [35] : 28).

Ketiga, ulama senantiasa menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dan tidak takut terhadap risikonya.

Rasulullah Saw. telah bersabda:
Tidak, demi Allah, kamu harus amar ma’ruf dan nahi munkar, dan kamu harus mencegah perbuatan orang yang zalim, membujuknya untuk mengikuti jalan yang benar atau kamu paksa dia untuk mengikuti jalan yang benar. Jika tidak, niscaya Allah akan menjadikan kamu saling bertentangan kemudian Allah akan mengutukmu sebagaimana mengutuk orang-orang Yahudi.” (H.R. Abu Daud dan Tirmizi dari Ibnu Mas’ud).

Baca juga:  Mantan Dekan Universitas Madinah, Syekh Saudi Ahmed Al-Amari Wafat Seminggu setelah Dibebaskan dari Penjara

Inilah yang dikatakan sebagai ulama. Dengan sifat-sifat ini tidak banyak orang yang bisa dikatakan sebagai ulama karena menyandang gelar ulama adalah beban berat bagi seorang Muslim. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

Ingatlah, sejelek-jelek keburukan adalah keburukan ulama dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama.” (HR ad-Darimi).

Antara Ulama dan Penguasa

Dua macam golongan manusia yang apabila keduanya baik maka akan baiklah masyarakat. Tetapi, apabila keduanya rusak maka akan rusaklah masyarakat itu. Kedua golongan manusia itu adalah ulama dan penguasa” (HR. Abu Na’im).

Islam memandang bahwa politik dan pemerintahan negara merupakan salah satu bagian dari syari’at Islam. Karena itulah, kita mendapati banyak nash, baik dari Alquran maupun As-sunnah bicara tentang penguasa, kepemimpinan dan penyelenggaraan negara. Upaya untuk memisahkan antara Islam dengan kekuasaan sama saja dengan memutilasi Islam.

Sepanjang sejarah Islam yang membentang dari abad pertama Hijriyah sampai abad 14, kita dapati para penguasa yang sekaligus juga faqihufiddiin, paham tentang agama, atau para penguasa yang selalu meminta masukan dan nasehat para ulama, atau para ulama yang tidak segan mengkritik dan meluruskan penguasa. Semua yang menunjukkan bahwa kekuasaan adalah instrumen penerapan syariat sekaligus bagian tak terpisahkan dari syari’at. Berkaitan dengan hal ini Imam Al Ghazali (Ihya ‘Ulumiddin, juz 7, hal. 92) menyatakan :

Dulu tradisi para ulama mengoreksi dan menjaga penguasa untuk menerapkan hukum Allah SWT. Mereka mengikhlaskan niat dan pernyataannya membekas di hati. Namun sekarang, terdapat penguasa yang tamak namun ulama hanya diam. Andaikan mereka berbicara, pernyataannya berbeda dengan perbuatannya sehingga tidak mencapai keberhasilan. Kerusakan masyarakat itu akibat kerusakan penguasa, dan kerusakan penguasa akibat kerusakan ulama. Adapun kerusakan ulama akibat digenggam cinta harta dan jabatan. Siapa saja yang digenggam oleh cinta dunia niscaya tidak mampu menguasai ‘kerikilnya’, bagaimana lagi dapat mengingatkan penguasa dan para pembesar.”

Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
Akan ada setelah (wafat)ku (nanti) umara’ –para amir/pemimpin—(yang bohong). Barangsiapa masuk pada mereka lalu membenarkan (menyetujui) kebohongan mereka dan membantu/mendukung kezaliman mereka maka dia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan dia tidak (punya bagian untuk) mendatangi telaga (di hari kiamat). Dan barangsiapa yang tidak masuk pada mereka (umara’ bohong) itu, dan tidak membenarkan kebohongan mereka, dan (juga) tidak mendukung kezaliman mereka, maka dia adalah dari golonganku, dan aku dari golongannya, dan ia akan mendatangi telaga (di hari kiamat). (HR An-Nasaa’i)

Orang yang paling mengerti terhadap kesalahan dan kebodohan penguasa adalah para ulama. Itulah sebabnya para ulama mengemban tugas terdepan dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar terhadap mereka.

Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menggelari ulama-ulama yang tidak menjalankan amar ma’ruf nahi munkar sebagai ulama-ulama suu’. Beliau menyebutkan salah satu ciri ulama suu’ adalah ulama yang merapat ke pemimpin yang zalim dan melegitimasinya.

Menurut Ghazali, orang beragama harusnya menentang kezaliman si pemimpin. Kalau tak mampu, menyingkir dari mereka. Tapi ulama suu’ tersebut malah mendekat ke penguasa zalim, demi harta dan jabatan. Dengan melegitimasi mereka, ulama justru bersekutu dengan kezaliman.

Baca juga:  Menjaga dan Memuliakan Ulama

Ibrah dari Para Ulama Salaf

Ulama-ulama salaf adalah ulama yang paling layak untuk ditiru karena keteguhan mereka dalam berpegang pada agama, keberanian mereka dalam menasehati para penguasa dan sikap istiqamah mereka sekalipun mereka ditekan dan diancam.

Sikap berani dilakukan oleh Imam Nawawi terhadap Sultan Dhahir Baibras. Tatkala Dhahir hendak berperang melawan tentara Tartar di negeri Syam, dalam baitul mal tidak terdapat biaya yang cukup untuk perbekalan tentara dan biaya bagi yang ikut perang.

Para ulama negeri Syam memberi fatwa boleh mewajibkan pungutan terhadap rakyat untuk membantu Sultan dan tentara dalam memerangi musuh dan untuk menutupi biaya-biaya yang diperlukan. Mereka menuliskan fatwa tersebut kecuali Imam Nawawi. Kemudian beliau diminta hadir dan beliau pun datang.

Sultan berkata kepadanya: “Berikan tanda tangan anda bersama para ulama lain!” Imam Nawawi tidak bersedia. Sultan menanyakan apa alasan penolakannya. Beliau berkata: “Saya mengetahui bahwa dahulu Sultan adalah hamba sahaya dari Amir Bunduqdar, anda tak mempunyai apa-apa, lalu Allah memberikan kekayaan dan menjadikan raja. Saya mendengar anda memiliki 1000 orang hamba, setiap hamba memiliki pakaian kebesaran dari emas, dan anda pun memiliki 200 orang jariyah, setiap jariyah mempunyai perhiasan. Apabila anda telah nafkahkan itu semua dan hamba-hamba itu hanya memakai kain wol saja sebagai pengganti pakaian indah itu, begitu pula jariyah-jariyah itu hanya memakai pakaian-pakaian saja tanpa perhiasan, maka saya berfatwa boleh memungut biaya dari rakyat.” Sultan Dhahir pun marah atas kata-kata Imam Nawawi dan mengusir beliau dari Damaskus. (Min Akhlaqil ‘Ulama Juz 9).

Ketika Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi berkuasa di Iraq, ia bertindak sewenang-wenang dan zalim. Hasan al Bashri adalah termasuk sedikit orang yang berani menentang dan mengecam keras akan kezaliman penguasa itu secara terang-terangan.
Suatu ketika Hajjaj membangun istana yg megah dikota Wasith. Ketika pembangunan selesai diundanglah orang-orang untuk melihat dan mendoakannya. Hasan al Bashri tiba di tempat itu dan melihat begitu banyak manusia mengelilingi istana yang megah dan indah dengan halaman yang luas. Beliau berdiri dan berkhutbah. Di antara yang beliau sampaikan adalah, “Kita mengetahui apa yang dibangun oleh manusia yang paling kejam dan kita dapati Fir’aun membangun istana yang lebih besar dan lebih megah dari ini. Namun kemudian Allah membinasakan Fir’aun beserta apa yang dibangunnya. Andai saja Hajjaj sadar bahwa penghuni langit telah membencinya dan penduduk bumi telah memperdayakannya.”

Beliau terus mengkritik dan mengecam hingga beberapa orang yang mengkhawatirkan keselamatannya memintanya berhenti, “Cukup wahai Abu Sa’id, cukup….”. Namun Hasan al Bashri berkata, ” Wahai saudaraku, Allah telah mengambil sumpah dari ulama agar menyampaikan kebenaran kepada manusia dan tidak boleh menyembunyikannya.”

Hajjaj yang marah memerintahkan pengawalnya utk menyiapkan pedang beserta algojonya dan menyuruh polisi untuk menangkap Hasan al Bashri. Dibawalah Hasan al Bashri, semua mata mengarah kepadanya dan hati mulai berdebar menunggu nasibnya. Begitu Hasan al Bashri melihat algojo dan pedangnya yang terhunus dekat tempat hukuman mati, beliau menggerakkan bibirnya membaca sesuatu. Lalu berjalan mendekati Hajjaj dengan ketabahan seorang mukmin, kewibawaan seorang Muslim dan kehormatan seorang dai di jalan Allah.

Baca juga:  Respons Ijtima 3.000 Ulama di Bogor: Layakkah Perjuangan Menegakkan Khilafah disebut Makar?

Melihat ketegaran yang demikian, mental Hajjaj menjadi ciut. Terpengaruh oleh wibawa Hasan al Bashri, dia justru memperlakukannya dengan ramah dan membiarkan pergi dengan aman.

Ujian yang berat pernah menimpa Imam Abu Hanifah, ketika beliau didatangi utusan penguasa Irak yang durjana, Yazid bin Hubairah yang menawarkan jabatan qadhi bersama sejumlah ulama lainnya. Sebagai seorang yang berilmu dan berpikiran tajam, Abu Hanifah sadar bahwa penguasa durjana hanya bertujuan menjadikan dirinya dan para ulama lain sebagai justifikasi bagi perbuatan jahat mereka.

Justifikasi para ulama ini akan dimanfaatkan para penguasa untuk mengelabui masyarakat, bahwa kejahatan mereka sah. Dengan tegas beliau menolak jabatan tersebut. Penolakan ini membuat pemimpin tirani berang. Ia menjebloskan Abu Hanifah ke penjara selama dua minggu dengan harapan, berubah pikiran. Selama dalam penjara, Abu Hanifah dicambuk 10 kali setiap hari selama 10 hari, hingga nyaris nyawanya terenggut.

Saat penguasa berpindah ke tangan Al-Manshur, Imam Abu Hanifah juga ditawari jabatan yang sama dan beliau menolaknya karena pemimpin baru ini tidak lebih baik dari sebelumnya. Al Manshur berang dan memvonis hukuman cambuk pada Abu Hanifah. Hukuman inilah akhirnya merenggut nyawanya. Beliau wafat setalah mendapat cambukan kali ke-130.

Bukan hanya Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I dan Imam Hambali juga pernah mendapatkan ujian dari penguasa karena keteguhan mereka dalam agama bertentangan dengan kehendak penguasa.

Kedekatan ulama dengan penguasa merupakan sesuatu hal yang dianggap sebagai aib oleh para ulama saat itu. Bahkan Abu Hazim mengatakan,”Sebaik-baik umara, adalah mereka yang mendatangi ulama dan seburuk-buruk ulama adalah mereka yang mencintai penguasa.”

Selain Abu Hazim, Wahab bin Munabih (110 H), ulama dari kalangan tabi’in juga pernah menyatakan agar para ulama menghindari pintu-pintu para penguasa, karena di pintu-pintu mereka itu ada fitnah, ”Kau tidak akan memperoleh dunia mereka, kecuali setelah mereka membuat mushibah pada agamamu.” (Riwayat Abu Nu’aim).

Menurut para ulama, keakraban dengan penguasa bisa menyebabkan sang ulama kehilangan keikhlasan. Karena ketika mereka mendapatkan imbalan dari apa yang mereka berikan kepada penguasa, maka hal itu dapat menimbulkan perasaan ujub, dan akan kehilangan wibawa dihadapan penguasa.

Ujung-ujungnya, mereka tak mampu lagi melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, jika para penguasa itu melakukan kesalahan. Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa tinggal di padang pasir, dia kekeringan. Barangsiapa mengikuti buruan ia lalai. Dan, barangsiapa yang mendatangi pintu-pintu penguasa, maka ia terkena fitnah”. (Riwayat Ahmad)

Apalah lagi ulama yang bersedia mendampingi penguasa, menganggap benar kesalahannya, melanggengkan kezalimannya, dan bekerja sama menjauhkan penerapan syariat dari umat. Dulu, para ulama menolak kekuasaan yang diberikan penguasa yang menyimpang.

Saat ini, sistem yang diterapkan bukan hanya menyimpang, bahkan telah keluar dari jalan Islam. Demokrasi yang menjadikan kekuasaan membuat aturan di tangan manusia, jelas bertentangan dengan perintah Allah untuk hanya berhukum dengan hukum-Nya.

Seorang ulama seharusnya menentang sistem ini dan berdakwah untuk mengembalikan sistem Islam. Bukan malah menerima jabatan dan melegitimasi kerusakan sistem dengan fatwa-fatwanya. Dari sisi inilah kita bisa membedakan mana ulama sejati yang harus diikuti dan mana ulama yang harus ditinggalkan.[]

Bagaimana menurut Anda?