KTT Menteri Luar Negeri Dunia Bahas Kebijakan Luar Negeri Feminis

MuslimahNews.com — Para menteri luar negeri perempuan bertemu dalam KTT pertama di Kanada, Sabtu (21/9/2018). Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan untuk memprioritaskan “perspektif perempuan” dalam kebijakan luar negeri.

Pertemuan dua hari, yang dimulai Jumat di Montreal Kanada ini diikuti lebih dari separuh diplomat wanita dunia. Fokus diskusi mereka mengenai topik-topik seperti pencegahan konflik, pertumbuhan demokratis dan penghapusan kekerasan berbasis gender.

“Pertemuan ini merupakan peristiwa bersejarah,” kata diplomat penting Kanada, Chrystia Freeland, yang dalam kesempatan itu juga mengumumkan pembentukan duta besar pertama Kanada untuk perempuan, perdamaian dan keamanan.

“Ini menyoroti pentingnya peran dan hak-hak perempuan dan anak perempuan di dunia,” kata Freeland sebagaimana dikutip France24.

Menurut dia, konferensi itu membahas bagaimana agar perempuan dalam posisi kepemimpinan dapat secara khusus terlibat dalam memperjuangkan hak-hak perempuan.

Kebijakan Luar Negeri Feminis

Ide kebijakan luar negeri feminis pertama kali diinisiasi oleh Menteri Luar Negeri Swedia Margot Wallström.

“Dalam iklim yang semakin memburuk di mana hak-hak asasi manusia dan hak-hak perempuan dan anak perempuan semakin dipertanyakan dan diancam, dan di dunia yang mengecilkan ruang demokrasi, kebijakan luar negeri feminis diperlukan lebih dari sebelumnya,” kata Wallst röm.

Baca juga:  Islam, Jalan Pembebasan bagi Perempuan

Sebelumnya, Kanada telah lebih dulu menerima kebijakan itu. Negara ini mengganti nama program bantuan luar negerinya pada tahun 2017, sekarang dikenal sebagai Kebijakan Bantuan Internasional Feminis yang menarget pemberdayaan perempuan dan anak perempuan.

Namun beberapa pemimpin LSM perempuan mempertanyakan kebijakan itu, “Jangan hanya menyebutnya feminis – jangan hanya menuliskan labelnya,” kata Beth Wonoriuk dari MATCH International Women’s Fund, salah satu dari 10 pemimpin masyarakat sipil yang bertemu dengan menteri luar negeri selama KTT itu.

“Kami akan mengukur Anda dengan tindakan Anda, kami akan mengukur investasi Anda, kami akan mengukur dan memantau koherensi di semua bidang,” kata Woroniuk. “Karena tidak masuk akal untuk memiliki inisiatif membela hak perempuan, tapi mendukung perusahaan pertambangan Kanada yang mempersulit hidup para pembela HAM. Tak masuk akal untuk mengatakan bahwa kami percaya pada hak asasi perempuan, tapi kemudian menjual senjata ke Arab Saudi. ”

Menanam Benih

Para menteri akan menyampaikan hasil dari pertemuan ini dalam agenda Majelis Umum PBB di New York pada minggu mendatang.

Para pemimpin diplomatik dari 17 negara berjanji untuk mengadakan pertemuan intensif – meskipun secara informal – dalam tahun depan.

Baca juga:  Tidak Ada Kesetaraan Gender dalam Islam

“Kami menanam benih yang akan tumbuh, saya percaya, sebuah tanaman dengan bunga-bunga indah,” kata kepala diplomatik Uni Eropa Federica Mogherini yang memimpin pertemuan dengan Freeland.

Selain Freeland dan Mogherini, konferensi itu mempertemukan para menteri dari Andorra, Bulgaria, Kosta Rika, Kroasia, Republik Dominika, Ghana, Guatemala, Honduras, Indonesia, Kenya, Namibia, Norwegia, Panama, Rwanda, Saint Lucia, Afrika Selatan dan Swedia.

Pada akhir pertemuan, selusin peserta secara simbolis menempatkan bunga di batu nisan yang didirikan di taman Montreal untuk mengenang 14 wanita yang terbunuh pada tahun 1989 di sekolah teknik Ecole Polytechnique.[]Diolah dari laporan France24

Bagaimana menurut Anda?