Menimbang Politik Islam Mendesain Kebangkitan

Oleh: Endiyah Puji Tristanti S.Si (Penulis dan Pemerhati Politik Islam)

MuslimahNews, FOKUS — Islam adalah Din yang diturunkan Allah SWT kepada Muhammad SAW melalui perantaraan Jibril untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dan hubungan manusia dengan manusia yang lain. Inilah definisi Islam yang jami’ wal mani’. Definisi yang menyeluruh sekaligus mencegah unsur eksternal menginfiltrasi masuk dalam pendefinisian.

Realitas menunjukkan kehidupan manusia di sepanjang masa senantiasa terkait dengan manusia lainnya. Interaksi timbal balik yang kontinyu antar manusia membentuk suatu pola hubungan yang khas dalam kehidupan dimana menempatkan sebagain manusia sebagai pihak yang diurus (rakyat) dan sebagian lainnya menjadi pihak yang mengurusi (penguasa). Dari pola hubungan inilah muncul istilah politik (siyasah).

Politik sebagai kekhasan pola hubungan rakyat terhadap penguasa dan sebaliknya ditentukan oleh sudut pandang tertentu yang diadopsi oleh manusia sebagai perkara asasi. Islam yang memandang kehidupan berasal dari Pencipta dan untuk diatur oleh-Nya membawa konsekuensi penolakan konsep pemisahan agama dari kehidupan termasuk pemisahan agama dari ranah politik (sekularisme).

Menolak konsep politik Islam untuk mempertahankan dominasi sekularisme melalui praktek labelling, kriminalisasi, monsterisasi ajaran Islam, bahkan persekusi para penganutnya sungguh sangat disayangkan. Berarti telah terjadi pemangkasan hak dasar manusia, kebebasan untuk memilih sudut pandang pemikiran keagamaan yang seharusnya dilindungi oleh undang-undang.

Apalagi bila pelanggaran serupa ditimpakan kepada para ulama sebagai pewaris para nabi, penerus risalah kenabian yang telah sempurna.
Peristiwa yang dekat terjadi pada pembatalan sejumlah kegiatan UAS lantaran mendapat ancaman dan intimidasi hanya karena ceramah bertemakan ukhuwah dan keumatan. Bahkan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) turut menyebut ceramah Ustaz Abdul Somad di beberapa tempat kerap menuai pro dan kontra di masyarakat sehingga perlu mengevaluasi materi ceramahnya. Juga sikap Kepolisian Resor Tanggerang Selatan yang memberikan catatan agar ceramah Ustaz Abdul Somad (UAS) tidak memuat unsur politik praktis dan hanya berfokus pada agama, jelas termasuk bentuk upaya sekulerisasi ajaran Islam.

Baca juga:  RUU HIP Merah Membara, Saatnya Koreksi Total Haluan Negara

Membangun Kesadaran Politik Umat

Sejarah panjang umat Islam yang terbentang selama belasan abad baik pada masa kegemilangan maupun masa kelemahannya cukup menjadi bahan diskusi panjang untuk sampai pada titik kesimpulan bahwa politik Islam merupakan pilar penting peradaban Islam. Sementara trauma sejarah peradaban Barat justru memposisikan agama sebagai faktor destruktif, politisasi doktrin gereja yang melahirkan penindasan, keterbelakangan, dan ancaman perkembangan ilmu pengetahuan. Ketakutan terhadap agama sampai pada taraf Barat memonopoli produksi literatur dan buku-buku politik.

Trauma Barat terhadap agama (gereja) menghasilkan pergolakan antara kaum cendikiawan dan kaum gerejawan yang berakhir dengan lahirnya konsep jalan tengah-hallu al washthi– di mana agama harus dipisahkan dari ranah kehidupan publik terutama ranah hukum dan pemerintahan. Tak soal manusia mengakui konsep ketuhanan atau sama sekali menolaknya (atheisme), selama agama berperan sebatas ranah privat tak lebih. Konsep jalan tengah kemudian dikenal dengan sekularisme yang menjadi asas sekaligus sudut pandang kehidupan bagi ideologi Barat (kapitalisme).

Bertolak belakang dengan Islam. Islam memandang dunia secara keseluruhan dengan sudut pandang yang khas yakni aqidah Islam “Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah“. Seorang Muslim karena mengimani akidah Islam dia pun menjadikannya sebagai sudut pandang khas dalam menilai dan menjalani kehidupan mereka termasuk dalam masalah politik-pengaturan urusan umat. Dengan demikian kesadaran politik Islam terbentuk dalam diri Muslim.

Baca juga:  Jadilah Penyelamat Umat

Adanya kesadaran politik Islam menghasilkan tanggung jawab politik. Seorang muslim yang berkesadaran politik secara alamiah akan berinteraksi dengan manusia lain, dengan pemahaman dan pemikiran lain di lingkungan tempat dia berada. Interaksi ini terkadang bertemu dengan pemikiran yang sejalan sehingga semakin memantapkan kesadaran politiknya. Terkadang berhadapan dengan pemikiran yang bertolak belakang sehingga memunculkan benturan dan upaya mempertahankan pemikirannya, demikian seterusnya semua berjalan secara alami.

Semakin kuatnya kesadaran politik pada sebagian kaum muslimin telah disadari oleh Barat. Oleh karenanya setelah kegagalan narasi perang melawan terorisme (War on Terrorism) melalui kebijakan kontraterorisme, Barat beralih pada narasi perang melawan radikalisme (War on Radicalism) berupa paket kebijakan de-radikalisasi melaui penyebaran paham islam moderat yang prinsipnya menolak islam sebagai ajaran politik.

Sesuai rekomendasi Rand Corporation yang membagi umat Islam menjadi beberapa kelompok fundamentalis, tradisionalis, modernis, dan sekuler dengan ciri -ciri khusus, kaum Muslimin diposisikan saling berhadapan.

Akibatnya di tengah masyarakat acapkali terjadi benturan antar kelompok atau antar anggota masyarakat. Umat Islam hanya diposisikan sebagai obyek permainan kepentingan Barat tanpa menyadari hakikat permasalahan yang terjadi. Bila terus demikian sesungguhnya kerugian hanya akan dialami oleh umat Islam. Umat Islam semakin terpecah belah dan semakin lemah.

Baca juga:  Kiprah Para Ulama yang Diidam-idamkan Umat (Bagian 1/2)

Oleh karena itu membangun kesadaran politik Islam menjadi perkara yang paling penting bagi kaum muslimin abad ini. Caranya pertama dengan memahami pemikiran, hukum dan konsep-konsep politik yang bersumber dari Islam dengan memilih dan memilah sumber dan literatur. Mewaspadai berbagai sumber dan literatur yang berasal dari kaum orientalis sebab pemikiran mereka mengadopsi pemikiran sekulerisme.

Kedua, dengan mencermati dan mengamati secara mendalam setiap peristiwa yang menimpa kaum Muslimin baik yang dekat seperti di tingkat lokal maupun nasional, atau yang jauh seperti di tingkat kawasan maupun internasional.

Ketiga, menilai berbagai peristiwa yang berkaitan dengan kaum muslimin dengan pemikiran dan konsep politik yang hanya mengambil sudut pandang Islam saja. Keempat dengan berinteraksi dengan kaum muslimin yang lain untuk menjelaskan hakikat permasalahan yang menimpa umat Islam. Bahwasannya semua permasalahan umat disebabkan tidak diterapkannya syariat Islam secara kaffah dalam kehidupan serta belum adanya institusi politik yang mampu menjaga umat dari serangan pemikiran di luar Islam-sekulerisme maupun materialisme.

Kesadaran politik Islam yang terus menggumpal di tengah umat akan melahirkan dorongan yang kuat untuk melakukan perubahan. Hadirnya partai politik Islam yang ideologis di tengah umat akan sangat membantu mempercepat lahirnya kesadaran politik, menggerakkan perubahan serta menjaga jalannya perubahan tetap pada orientasi yang satu, diterapkannya syariat islam secara kaffah oleh institusi Khilafah. Partai politik Islam ideologis inilah yang akan senantiasa melindungi upaya perubahan dari pembajakan ideologi asing. Wallaahu a’lam bish shawab.[]

Bagaimana menurut Anda?