Hijrah dengan Dakwah Ekstra Parlemen

Oleh: Nindira Aryudhani (Relawan Opini dan Media)

MuslimahNews, ANALISIS — Hijrah, adalah momentum pewujud keinginan dan harapan menuju kehidupan yang lebih baik. Hijrah dalam makna bahasa, berarti berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain, atau dari suatu keadaan menuju keadaan lain yang lebih baik.

Memang benar, makna hijrah dapat dilekatkan pada perubahan seorang individu dari kondisi kemaksiatan menuju kondisi Islami. Atau kondisi seseorang di mana sebelumnya berkubang riba menuju muamalah yang syar’iy. Pun seorang Muslimah yang tadinya belum menutup aurat, berubah menjadi sosok yang berkhimar dan berjilbab seutuhnya. Kondisi-kondisi ini disebut juga taubat. Rasulullah ﷺ bersabda saat beliau ditanya: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang berhijrah (muhajir) itu? Beliau menjawab: Orang yang meninggalkan perkara yang telah Allah larang atas dirinya.” (HR. Ahmad). Hijrah yang demikian ini disebut pula hijrah bathiniah (hijrah secara batin).

Di samping itu, ada pula makna hijrah yang dilekatkan dengan kata “zhahirah”, yaitu hijrah secara lahiriah, atau secara fisik. Ibnu Hajar menjelaskan hijrah fisik ini, yakni pergi menyelamatkan agama dari fitnah. Al-Jurjani menguatkan penjelasan ini, bahwa hijrah secara fisik adalah meninggalkan negeri yang berada di tengah kaum kafir dan berpindah ke Darul Islam, yakni wilayah yang menerapkan aturan Islam secara sempurna dan keamanannya sepenuhnya berada di tangan kaum Muslimin.

Jadi berdasarkan asal katanya, “hijrah” adalah meninggalkan apa saja larangan Allah, yang meliputi berbagai kemaksiatan, termasuk dalam rangka meninggalkan negeri yang penuh kejahiliyahan untuk tinggal di Darul Islam. Jika kita napak tilas sejarah Rasulullah ﷺ, hijrah adalah peristiwa beralihnya dakwah beliau yang sebelumnya di Makkah, menuju ke Madinah yang merupakan Darul Islam itu sendiri. Demikianlah wujud hijrah lahiriah. Peristiwa hijrah beliau ﷺ ini bertepatan dengan awal bulan Muharram, yang di kemudian hari ditetapkan menjadi Tahun Baru Hijriyah.

Pada saat Rasulullah ﷺ berhijrah ke Madinah, Madinah kemudian menjadi pusat pemerintahan Islam yang pertama. Yang dengannya, aturan Islam dapat diterapkan secara kaffah, hingga mampu menyebar ke seluruh penjuru dunia. Tercatat selama tegaknya Daulah Khilafah Islamiyyah selama kurang lebih 13 abad, luas wilayahnya mencapai dua per tiga dunia. Mulai dari Maroko hingga Merauke. Inilah urgennya bagi umat Islam abad ini. Hendaknya kita merekonstruksi momentum hijrah, dari sekedar sejarah menjadi pendorong perubahan ke arah Islam kaffah.

Di satu sisi, tentu sangat perlu diapresiasi adanya fenomena hijrah artis. Sejumlah artis diketahui sedikit demi sedikit meninggalkan dunia gemerlap dan hedonisme keartisan. Di antaranya seperti Tengku Wisnu, Dude Herlino, Arie Untung, Nikita Mirzani, Kartika Putri, dsb. Tak lupa juga Alm Ust Hari Moekti yang telah masyhur sebagai pelopor hijrah artis. Namun perlu disadari, hijrah bukanlah tujuan akhir. Karenanya, Allah pun menguji dengan adanya artis lain yang malah mengolok-olok rekannya sesama artis yang telah dan tengah hijrah ini.

Padahal lihatlah kondisi umat saat ini. Di satu sisi, mereka hidup dalam tatanan sekuler yang sangat banyak terjadi pelanggaran hukum syara’ di dalamnya. Umat seharusnya butuh sentuhan Islam, butuh kembali terikat dengan aturan Allah. Tapi di sisi lain, para penjaga Islam (ulama, ustaz, aktivis Islam) dikriminalisasikan oleh rezim penguasa saat ini. Jadi tidak selayaknya kita mengolok-olok orang yang hijrah, padahal diri kita sendiri belum tentu baik.

Atas seluruh uraian ini, maka jelaslah bahwa untuk hijrah, umat butuh solusi yang tidak setengah-setengah. Hijrah memang harus kaffah. Pada tataran individu, negeri yang baldatun thayibatun wa rabbun ghafur memerlukan individu-individu bertakwa. Mereka siap untuk hijrah dan istiqamah, berproses dari individu yang sekuler menuju kaffah. Selanjutnya pada tataran masyarakat, masyarakat sebagai tempat penerapan aturan Islam yang kaffah tadi, hendaklah memiliki pemikiran dan perasaan yang sehat serta landasan kehidupan yang benar, sehingga mampu menjaga penerapan aturan Islam beserta keistiqamahan individu terikat dengan aturan Islam.

Kemudian pada tataran negara selaku pengambil kebijakan, hijrah adalah momen kebangkitan peradaban mulia, peradaban Islam. Yang mana, hanya dengan penerapan Islam secara kaffah, umat Islam akan kembali bangkit dari keterpurukan akibat hegemoni sistem sekuler-demokrasi-kapitalisme-neoliberal.

Jadi sangat tidak beralasan jika dakwah “Khilafah” itu dihalangi, bahkan dikriminalisasi. Karena memang hanya dengan Khilafah, syariat Islam bisa diterapkan secara sempurna. Selayaknya kita juga memegang erat peringatan Allah SWT dalam QS Al-Maidah ayat 50, yang artinya: “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?

Dengan demikian, sungguh tidak mungkin perjuangan penerapan Islam kaffah berikut penegakan Khilafah, direstui oleh sistem yang enggan terikat pada aturan Sang Khaliq. Sistem demokrasi-sekular takkan pernah rela berbagi ruang dengan sistem yang meniscayakan penerapan Islam secara kaffah.

Landasan pemikirannya saja sudah bertolak belakang. Jangankan kesempatan, bermimpi saja sebaiknya tak usah kita lakukan. Satu-satunya solusi hijrah bagi umat hanyalah dengan kembali pada khiththah dakwah Rasulullah ﷺ yang tiada meniscayakan intra parlemen, melainkan dengan dakwah ekstra parlemen. Itulah perjuangan yang lurus, insya Allah. Yang oleh karenanya, dakwah harus tetap berkumandang.[]

Apa komentar Anda?