Krisis Air Bersih dan Darurat Kekeringan serta Kebutuhan Dunia Pada Khilafah

Oleh: Dr. Rini Syafri(*)

MuslimahNews, FOKUS — Krisis air bersih dan darurat kekeringan akut tengah melanda hampir seluruh wilayah Indonesia bahkan berbagai penjuru dunia. Petunjuk bahwa di tangan peradaban barat sekuler bumi tengah menderita kerusakan lingkungan yang sangat parah.

Sebab, sesungguhnya AIlah swt telah menciptakan sumber daya air yang berlimpah. Berikut mekanis daur air agar air lestari bagi kehidupan. Tidak hanya itu Allah swt juga menciptakan keseimbangan pada segala aspek yang dibutuhkan bagi keberlangsungan daur air. Mulai dari hamparan hutan, iklim, sinar mata hari, hingga sungai danau dan laut.

Penelitian terkini para ahli iklim dan lingkungan menunjukan laju deforestasi yang sangat cepat adalah yang paling bertanggungjawab terhadap darurat kekeringan dan krisis air bersih, di samping iklim ekstrim dan pemanasan global. Keduanya, baik deforestasi maupun iklim ekstrim faktor penghambat sangat keberlangsungan daur air.

Penting diingat, laju deforestasi yakni alih fungsi hutan yang begitu pesat selama beberapa dekade terakhir bukan karena tekanan populasi manusia sebagaimana yang banyak disangkakan. Akan tetapi lebih karena tekanan politik globalisasi dengan sejumlah agenda neoliberal yang hegemoni. Berupa liberalisasi sumber daya alam kehutanan, pertambangan, hingga pembangunan kawasan ekonomi khusus dan energi baru terbarukan. Kondisi ini diperparah dengan eksploitasi mata air oleh pebisnis air minum kemasan, pencemaran sungai dan liberalisasi air bersih perpipaan.

Semuanya, yakni deforestasi, eksploitasi mata air, pencemaran sungai dan liberalisasi air bersih perpipaan memiliki ruang yang subur dan luas dalam sistem kehidupan sekuler. Khususnya sistem ekonomi kapitalisme dan sistem politik demokrasi yang melegalkan kelalaian negara.

Sementara itu, penanggulangan dan pencegahan dalam bingkai neoliberal telah gagal. Karena begitu banyak peraturan perundang-undangan dan program yang telah dijalankan pemerintah. Termasuk agenda SDGs dan pembentukan Dewan Sumber Daya Air Nasional. Pun demikian pelaksanaan agenda dari forum tingkat regional dan internasional. Seperti forum kerangka kerja perubahan iklim tahunan di bawah PBB – UNFCCC (United Nation Framework Convention on Cilmate Change) dan forum PBB untuk kehutan (The Committee on Forestry – COFO) yang sudah berlangsung 24 kali.

Hasilnya, puluhan juta jiwa tetap tidak ada akses terhadap air bersih dan sanitasi yang baik. Kian parah serta makin meluas tiap kali musim kemarau datang. Menurut BMKG ancaman kekeringan tahun ini meliputi sebagian besar Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Maluku Utara, Bagian Selatan Papua Barat dan Papua sekitar Merauke. Ratusan ribu warga terdampak kekeringan, harus berjalan berkilo meter untuk mendapatkan se ember dua ember air, gagal panen hingga minum air kubangan. Tidak saja mengancam kesehatan jutaan jiwa, namun juga kelestarian kehidupan di bumi. Bukan saja menimpa Indonesia, akan tetapi seluruh dunia. Tiap hari 3800 anak jiwanya melayang sia-sia.

Realitas ini semakin memperpanjang daftar kegagalan peradaban barat dengan sistem kehidupan sekulernya. Di tengah-tengah kian menguat kesadaran dunia untuk mengembalikan bumi dan segala isinya ke dalam pangkuan sistem kehidupan dari Penciptanya, Allah swt. Yakni, sistem kehidupan Islam, khilafah.

Potensi Sumber Daya Air Berlimpah

Subhanallah, hampir 71% permukaan bumi terdiri dari air, yang kelimpahan itu begitu menonjol di negeri ini. Karena sekitar 21% total sumber air di wilayah Asia-Pasifik berada di wilayah Indonesia., Disamping itu, juga tampak dari begitu banyaknya jumlah Daerah Aliran Sungai (DAS) dan cekungan. Yaitu, 470 DAS, dan telah teridentifikasi 232 cekungan air tanah. Ada 53 cekungan di Sumatra, 70 cekungan di Jawa, 15 cekungan di Kalimantan, 40 cekungan di Sulawesi, 3 cekungan di Bali, 8 cekungan di Nusa tenggara Barat, 20 cekungan di Nusa Tenggara Timur, 6 cekungan di Maluku dan 17 cekungan di Irian Barat.6,

Di samping itu, meski volume air tawar kurang dari 1%, namun bila dibagi rata kepada seluruh penduduk di bumi ternyata lebih dari cukup. Bila penduduk bumi ada 7 miliar orang, maka setiap orang mendapatkan 1457 m3 per hari. Sementara kebutuhan minimal air bersih setiap orang menurut standar WHO hanya 50 m3.6

Ketersediaan air yang berlimpah di bumi ditegaskan Allah SWT, yang artinya, “…….dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (TQS Al Anbiyaa, ayat 2). Tidak hanya berlimpah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia tapi juga bagi lestarinya kehidupan di bumi. Artinya, darurat kekeringan dan krisis air bersih bukan karena kurangnya sumber daya air.

Daur Air dan Keseimbangan Alami

Allahu akbar, tidak saja menciptakan air yang memadai, supaya lestari dan terbarukan Allah SWT juga menciptakan mekanisme kolosal ilmiah yang menakjubkan. Yaitu, siklus hidrologi atau daur air. Sehingga secara fisik jumlah air tidak pernah berkurang. Melalui presipitasi 107.000 – 119.000 km3 uap air terkondensasi setiap tahun. Jumlah yang sangat memadai bagi pemenuhan kebutuhan dasar kehidupan dan aktivitas manusia. Tentunya selagi daur air berlangsung normal.6

Betapa pentingnya hutan bagi keberlangsungan daur air digambarkan sebagai berikut. Pohon mengambil kelembaban dari tanah dan mengolahnya, mengangkatnya ke atmosfer. Sebuah pohon yang sudah dewasa melepaskan 1.000 liter air uap setiap hari ke atmosfer: Seluruh hutan hujan Amazon mengirimkan 20 miliar ton per hari. Uap air menciptakan awan, yang diunggulkan dengan gas-gas yang mudah menguap seperti terpena dan isoprena, yang dipancarkan oleh pepohonan secara alami, untuk membentuk hujan. Bank-bank awan yang kaya akan air ini menempuh perjalanan panjang, jarak yang digerakkan oleh angin, sabuk konveyor untuk pengiriman pengendapan yang oleh para ilmuwan disebut sungai terbang.

Subhanallah, agar siklus air berlangsung normal Allah swt pun telah menciptakan segala sesuatu dalam keseimbangan. Mulai dari hamparan hutan, intensitas mata hari, temperatur hingga sungai, lautan dan danau. “Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?” (TQS Ar Rahmaan:13). Indonesia sendiri memiliki hamparan hutan hujan tropis terluas di dunia.

Namun, hari ini keseimbangan alamiah tersebut dirusak. Cuaca ekstrim dan pemanasan global serta deforestasi ditenggarai para ahli sebagai faktor yang paling bertanggungjawab terhadap gangguan siklus air. Berujung pada darurat kekeringan dan krisis air bersih. Di samping pencemaran sungai dan danau serta eksploitasi mata air. Kondisi ini diperparah oleh liberalisasi air bersih perpipaan. Sungguh kerusakan yang begitu nyata.

Ketika Keseimbangan Dirusak: Cuaca Ekstrem dan Deforestasi

Dampak buruk cuaca ekstrem serta pemanasan global terhadap keberlangsungan daur air telah dinyatakan para ahli lingkungan. Seperti pemerhati dan pakar lingkungan dari Universitas Riau, Tengku Ariful Amri, “Bayangkan, sirkulasi air yang seharusnya tidak pernah berhenti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfir melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi kini terasa kian tersendat sehingga terjadi penumpukan penguapan akhirnya menyebabkan kondisi ekstrim di berbagai wilayah Tanah Air.”

Selanjutnya ia berujar, “Hal ini bisa jadi karena alam di wilayah kita tidak lagi terjaga dengan baik dan mengalami kerusakan parah.” Bisa jadi pula, kondisi ini disebabkan berbagai hal antara lain hutan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) sudah tidak memadai, ditambah dengan kondisi lingkungan yang kian kritis.

Artinya, iklim ekstrem dan pemanasan global sendiri terjadi karena ulah manusia juga khususnya deforestasi. Yakni, penebangan hutan untuk penggunaan bukan hutan. Bahkan deforestasi hutan tropis adalah yang paling bertanggungjawab terhadap pemanasan global dan ikim ekstrim. Dinyatakan, kerusakan hutan tropis bertanggungjawab atas seperlima dari emisi gas rumah kaca di bumi, lebih dari akumulasi jumlah emisi yang dihasilkan kereta, pesawat dan mobil di seluruh dunia.

Dijelaskan pula dalam artikel bertajuk “Deforestation and Drought”, bahwa penebangan hutan mengakibatkan pelepasan karbon dioksida yang tersimpan, yang memerangkap panas dan berkontribusi terhadap pemanasan atmosfer. Tetapi hutan juga mempengaruhi iklim dengan cara lain, yaitu menyerap lebih banyak energi matahari daripada padang rumput, misalnya, atau melepaskan sejumlah besar uap air. Banyak ahli percaya bahwa deforestasi dan penggundulan hutan yang sedang terjadi dalam skala besar, terutama di Amerika Selatan, secara signifikan telah mengubah iklim dunia – meskipun dinamikanya tidak dipahami dengan baik.9

Sementara laju deforestasi di seluruh dunia berlangsung begitu dahsyat. Lebih dari satu juta hektar hutan yang sebagian besar merupakan hutan tropis hancur setiap bulannya di dunia – setara dengan area hutan seluas satu lapangan bola hancur setiap detik.

Indonesia dengan tutupan hutan hujan tropis terluas di dunia setelah Barzil dan Kongo kondisinya tak kalah memprihatinkan. Laju deforestasi termasuk yang tercepat di dunia. Mencakup hutan di Aceh hingga Papua. Karenanya tidak heran kekeringan terutama di musim kemarau menimpa dari ujung timur di Mereuke hingga ujung barat di Aceh.

Seperti deforestasi hutan tropis Gunung Slamet, mengakibatkan dalam kurun waktu sepuluh tahun (2001-2011) 1.321 mata air hilang. Gunung Slamet terletak di antara lima kabupaten di Provinsi Jawa Tengah, yaitu Brebes, Banyumas, Purbalingga, Tegal dan Pemalang. Puluhan ribu waga di puluhan desa di ke lima Kabupaten saat ini menderita kekeringan.

Deforestasi pegunungan Cycplos di Kabupaten Jayapura. Diperkirakan dari sekitar 35 sungai yang mengelilingi Cagar Alam Cyclops, saat ini 11-13 sungai yang telah kering.

Deforestasi hutan Gunung Rinjani di Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat, mengakibatkan DAS yang kritis di Pulau Lombok mencapai 71,59% dari 482 DAS, di Pulau Sumbawa mencapai 73,09 persen dari 482 DAS. Dari 1,07 juta hektar luas hutan NTB, lahan kritis mencapai 578 ribu ha. Saat ini sejumlah wilayah NTB mulai mengalami kekeringan. Kondisi bendungan besar baik di Pulau Lombok maupun Sumbawa sudah kritis.

Gunung Muria di wilayah utara Jawa Tengah bagian timur, termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Kudus di sisi selatan, di sisi barat laut berbatasan dengan kabupaten Jepara, dan di sisi timur berbatasan dengan kabupaten Pati. Deforestasi 43 ribu hektare dari 63 ribu hektarare hutan gunung Muria mengakibatkan sekitar 25 sumber mata air yang mengalir ke daerah Kudus mengering.

Di Aceh deforestasi dapat mencapai 20,79 hektar setahun. Demikian pula di wilayah Sumatera yang lain, Kalimantan, dan Sulawesi. Berdampak nyata terhadap kekeringan sungai dan mata air. Sungguh mengkhawatir.

Liberalisasi SDA, Agenda Neolib KEK dan EBT Akibatkan Laju Deforestasi Kian Cepat

Penting untuk dicatat, laju deforestasi yang begitu tinggi bukanlah karena tekanan populasi manusia sebagaimana yang banyak disangkakan. Akan tetapi lebih karena tekanan politik globalisasi dengan berbagai agenda neoliberal yang hegemoni. Baik liberalisasi sumber daya alam kehutanan, dan pertambangan. Maupun pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (Special Economic Zone (SEZ) dan proyek Energi Baru Terbarukan (EBT) terutama biofuel.

Targis, liberalisasi sumber daya alam kehutanan melenyapkan jutaan hektar hutan hujan tropis yang begitu berharga bagi keberlangsungan daur air. Demikian pula liberalisasi sektor pertambangan, mengakibatkan sedikitnya 6,3 juta hektare hutan lindung terancam. Kondisi diperparah oleh pembangunan 12 kawasan KEK.

Laju deforestasi yang mengkhawatir akibat pembukaan KEK setidaknya tergambar dari pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api-Api (KEK TAA). Kawasan seluas 2.030 hektare di Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Berada di wilayah pesisir timur kabupaten Banyuasin yang umumnya berupa hutan mangrove dan rawa gambut dengan luas wilayah mencapai 3.632 kilometer persegi atau lima kali luas Singapura. KEK TAA mengaharuskan alih fungsi hutan lindung pantai Air Telang yang luasnya mencapai 12.360 hektare untuk pelabuhan termasuk Pelabuhan Internasional Tanjung Carat. Selebihnya untuk perkebunan sawit, perumahan, jalan dan pembangunan lain.

Sementara ada 12 KEK di Indonesia, yaitu KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan, KEK Sorong, KEK Morotai, KEK Bitung, KEK Palu, KEK Mandalika, KEK Tanjung Lesung seluas 1500 hektare, KEK Tanjung Kelayang, KEK Tanjung Api-Api, KEK Sei Mangkei, dan KEK Arun Lhokseumawe.

Presiden Joko Widodo pada Confrence of Parties ke 21 (COP 21) di Paris tahun 2015 menyampaikan pernyataaan nasional di hadapan 196 Negara tentang komitmen Indonesia mengikuti agenda perubahal iklim global, termasuk dalam penggunaan energi biofuel. Komitmen yang sama kemudian dipertegas pada KTT 20 Juli lalu di Jerman. Dan saat ini Indonesia telah mengadopsi mandatori biodiesel blending 20 persen (B-20) dan ditargetkan 30 persen (B-30) pada tahun 2025.

Komitmen politik neoliberal ini sungguh bayarannya sangat mahal. Laporan Greenpeace berjudul ‘How The Palm Oil Industry is Cooking the Climate’ menyatakan bahwa Indonesia telah kehilangan 74 juta hektar hutan sejak 50 tahun terakhir untuk keperluan industri kehutanan, minyak kelapa sawit adalah salah satunya. Angka kehilangan hutan Indonesia hingga 2010, adalah sekitar 1,8 juta hektar pertahun.

Sementara itu organisasi lingkungan Jerman Naturschutzbund melaporkan pada laman dw.com, 2 juni 2016; yang bertajuk Bagaimana Ambisi Iklim Eropa Membunuh Hutan Indonesia, menegaskan bahwa penggunaan minyak sawit sebagai bahan campuran untuk biodiesel meningkat enam kali lipat antara tahun 2010 dan 2014. Jumlah minyak sawit yang diimpor Eropa dari Indonesia tahun 2012 saja membutuhkan lahan produksi seluas 7000 kilometer persegi.

Hutan basah Kalimantan yang menjadi habitat alami bagi berbagai jenis satwa adalah yang paling terancam oleh ekspansi perkebunan kelapa sawit, penambangan dan pertanian. Menurut WWF Kalimantan akan kehilangan 10-13 juta hektar hutan antara 2015 hingga 2020.

Ditegaskan menjauhi bahan bakar fosil jauh lebih berbahaya. Seperti termaktub dalam laporan terbaru Rainforest Foundation Norway, bahwa biofuel berbasis minyak sawit lebih buruk dampaknya terhadap iklim dari pada bahan bakar fosil itu sendiri. Laporan bertajuk “For Peta’s Sake” yang ditulis Dr. Chris Malins pakar kebijakan bahan bakar rendah karbon terkenal dari Rainforest Foundation Norwegia berkesimpulan, “Terdapat bukti yang meyakinkan penggunaan biofuel kelapa sawit lebih buruk beberapa kali terhadap iklim dari pada bahan bakar fosil.” (https://www.regnskog.no/en/news/norway-bans-palm-oil-based-biofuel-in-its-public-procurement)

Pada akhirnya, baik liberalisasi sumber daya alam dan pertambangan, pembangunan KEK dan program EBT biofuel semakin mempercepat laju deforestasi.

Industrialisasi Mata Air AMDK Harus Bertanggngjawab

Eksploitasi mata air pebisnis Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) disinyalir kuat bertanggungjawab terhadap darurat kekeringan dan krisis air bersih hari ini. Sebagai contoh kekeringan yang diderita penduduk Desa Caringin Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Desa yang terletak di kaki gunung Salak ini memiliki enam sungai dengan air yang melimpah. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2009 menunjukan industrialisasi air minum dalam kemasan pada lahan seluas 5,5 ha oleh 5 perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) telah menghilangkan wilayah tangkapan air (catchment area).

Selain itu, berdasarkan studi tentang sumber daya air tanah yang dilakukan oleh Direktorat Geologi Tata Lingkungan, Departemen Energi dan Sumber daya Mineral pada tahun 1998, di Desa Caringin tersebut, menunjukkan terjadi eksploitasi air bersih secara besar-besaran. Debit sumber air yang dieksploitasi oleh salah satu perusahaan AMDK di desa Caringin tersebut, yaitu PT Ega Tirta Kalista mencapai 200 liter per detik. Kemungkinan 4 perusahaan AMDK yang lain juga memiliki debit yang hampir sama. Oleh karena itu secara total debit air yang dieksploitasi oleh semua perusahaan AMDK pasti sangat tinggi.24

Berapa banyak air yang dieksploitasi? Fantastis, dari tahun ke tahun jumlahnya terus meningkat. Pada tahun 2009 total produksi AMDK 12,8 miliar liter, pada tahun 2010 meningkat menjadi 13,7 miliar liter.24 Dan Tahun 2016 seiring perluasan pabrik dan hadirnya pabrik-pabrik baru di tanah air, produksi mengalami peningkatan menjadi sebesar 26,90 miliar liter.

Selain di Sukabumi, kekeringan juga melanda Klaten, Kudus, Kulon Progo, Ungaran, dan di banyak wilayah yang perusahaan air minum dalam kemasan berproduksi.

Kian Runyam oleh Liberalisasi Air Bersih Perpipaan

Air bersih perpipaan dengan berbagai teknologi terkini semestinya menjadi solusi cepat darurat kekeringan dan krisis air bersih. Namun liberalisasi dan komersialisasi semakin menambah beban penderitaan masyarakat. Karena bagi korporasi untung di atas segalanya. Akibatnya, tidak saja harga yang sangat mahal, jangkauan dan kualitasnyapun jauh dari harapan. Fenomena air bersih perpipaan Ibu kota Jakarta adalah contoh terbaik. Dinyatakan, mayoritas masyarakat miskin Jakarta, sulit mendapatkan air bersih terlebih setelah PAM Jaya diprivatisasi. Tak itu saja, harga air di Jakarta pun, lebih tinggi dari beberapa negara di Asean, seperti Singapura, Malaysia maupun Filipina! Tuntutan publik agar pengelolaan air bersih perpipaan sepenuhnya berada di tangan negara hanyalah harapan kosong belaka. Tampaknya kontrak dengn Palyja dan Aetra akan diperpanjang hingga tahun 2024.

Sistem Kehidupan Sekuler Biang Keladi

Bila ditelaah secara mendalam semua aspek yang berkontribusi terhadap darurat kekeringan dan krisis air bersih, baik itu aspek deforestasi, liberalisasi mata air oleh pebisnis AMDK dan liberalisasi air bersih, semuanya memiliki ruang subur dan lapang dalam sistem kehidupan sekuler, khususnya sistem ekonomi kapitalism dan sistem politik demokrasi. Berikut dengan paradigma dan logika-logika yang batil yang menjadikan air, hutan sebagai barang komersial.

Bagaimana sistem ekonomi kapitalis bertanggungjawab terhadap kerusakan lingkungan termasuk deforestasi ditegaskan para peneliti eonomi kapitalis sendiri. Masoud Movahed misalnya, peneliti ekonomi pada New York University dan Harvard Economics Review dalam makalahnya yang berjudul “Does capitalism have to be bad for the environment?

Makalah yang disampaikannya pada pertemuan tahunan ekonomi World Economic Forum tahun 2016 memaparkan bahwa pertumbuhan dan konsumerisme adalah inti sistem ekonomi kapitalisme. Tuntutan untuk terus meningkatkan produksi dan konsumsi telah mendorong eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran. Demi menekan biaya produksi dan memenangkan persaingan para corporate tidak segan-segan mengorbankan kelestarian lingkungan.

Sementara model pemerintahan neoliberalisme rezim sistem pemerintahan demokrasi justru menyokong hal itu. Mereka enggan menghentikannya, bahkan menjadi fasilitator bagi kerusakan ini. Ujungnya, petaka lingkungan perubahan iklim.

Sungguh Allah SWT telah mengingatkan kita dalam QS Ar Rum, 30:41, yang artinya,” Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan oleh perbuatan tangan manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Yaitu, kembali pada syariat Allah yang dalam hal ini mengatasi persoalan darurat kekeringan dan krisis air bersih. Sistem kehidupan Islam, Khilafah.

Solusi Islam

Sungguh Allah swt menciptakan kadar, karakter alamiah pada setiap makhluk ciptaan-Nya, sebagaimana ditegaskan dalam QS Al A’la ayat 3, yang artinya, “Dan yang menentukan kadar (masing-masing ciptaan-Nya) dan memberi petunjuk)”. Pada semua ciptaan-Nya Allah SWT ciptakan pula keseimbangan, “Dia ciptakan keseimbangan” (TQS Al A’la: 7 ). Sungguh Allah telah mengingatkan agar keseimbangan itu jangan dirusak, “Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu” (TQS Al A’la: 8). Artinya, kesejahteraan di seluruh penjuru alam hanya akan terwujud, termasuk bebas dari darurat kekeringan dan krisis air bersih manakala syariat Allah swt sjalah yang diterapkan. Karena Allah swt sendiri telah menegaskan, yang artinya,”Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam” (TQS Al An-Anbiyaa: 107).

Bagaimana pandangan dan tata aturan syariat Islam mengatasi aspek-aspek yang berkontribusi pada deforestasi, eksploitasi mata air dan liberalisasi air bersih perpipaan? Semuanya berlangsung di atas prinsip-prinsip yang benar, di antaranya adalah:

Pertama, faktanya hutan secara umum memiliki fungsi ekologis dan hidrologis yang dibutuhkan jutaan orang di Indonesia bahkan dunia. Demikian sumber-sumber mata air yang berpengaruh luas terhadap kehidupan masyarakat. Karena itu pada hutan dan sumber-sumber mata air, sungai danau dan alutan secara umum melekat karakter harta milik umum sebagaimana ditegaskan Rasulullah saw yang artinya, “Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara, yaitu padang rumput/hutan, air dan api”(HR Abu Dawud dan Ahmad).

Status hutan dan sumber-sumber mata air, danau, sungai dan laut sebagai harta milik umum, menjadikannya tidak dibenarkan dimiliki oleh individu. Akan tetapi tiap individu publik memiliki hak yang sama dalam pemanfaatannya. Hanya saja pemanfaatan itu tidak menghalangi siapapun dalam pemanfaatannya. Karena jika tidak akan menimpakan bencana pada diri sendiri maupun orang banyak, yang hal ini diharamkan Islam. Rasulullah saw bersabda, artinya, “Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun membahayakan orang lain” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Kedua, negara wajib hadir secara benar. Negara tidak berwenang memberikan hak konsesi (pemanfaatan secara istimewa khusus) terhadap hutan, sumber-sumber mata air, sungai, danau dan laut, karena konsep ini tidak dikenal dalam Islam. Negara wajib hadir sebagai pihak yang diamanahi Allah swt, yakni bertanggungjawab langsung dan sepenuhnya terhadap pengelolaan harta milik umum. Rasulullah saw menegaskan, artinya, ”Imam adalah ibarat penggembala dan hanya dialah yang bertanggungjawa terhadap gembalaannya (rakyatnya),” (HR Muslim).

Pemanfaatan secara istimewa (himmah) hanyalah ada pada tangan negara, dengan tujuan untuk kemashlahatan Islam dan kaum muslimin. Rasulullah saw bersabda yang artinya, “Tidak ada hima (hak pemanfaatan khusus) kecuali bagi Allah dan Rasulnya” (HR Abu Daud).

Ketiga, negara berkewajiban mendirikan industri air bersih perpipaan sedemikian rupa sehingga terpenuhi kebutuhan air bersih setiap individu masyarakat kapanpun dan dimanapun berada. Dan status kepemilikannya adalah harta milik umum dan atau milik negara. Dikelola pemerintah untuk kemashlahatan Islam dan kaum muslimin. Hal ini kembali pada kaedah bahwa status hukum industri dikembalikan pada apa yang dihasilkannnya. Untuk semua itu, Negara harus memanfaatkan berbagai kemajuan sain dan tekhnologi, memberdayakan para pakar yang terkait berbagai upaya tersebut, seperti pakar ekologi, pakar hidrologi, pakar tekhnik kimia, tekhnik industri, dan ahli kesehatan lingkungan. Sehingga terjamin akses setup orang terhadap air bersih gratis atau murah secara memadai, kapanpun dan dimanapun ia berada.

Keempat, bebas dari agenda penjajahan apapun bentuknya termasuk agenda hegemoni climate change dan global warming, karena Islam telah mengharamkan penjajahan apapun bentuknya. Allah SWT berfirman dalam QS Al Maaidah (4): 141, artinya, “Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin”.

Inilah sejumlah prinsip sohih untuk mengakhiri krisis akut air bersih dan darurat kekeringan. Keseluruhan konsep ini adalah aspek yang terintegrasi dengan sistem kehidupan Islam. khilafah Islam. Sistem politik yang didesain Allah swt sesuai dengan fitrah, karakter alamiah makhluk cipataan-Nya.

Peradaban Islam, Air & Lingkungan Lestari

Fakta sejarah peradaban Islam yang agung menunjukan bagaimana sistem kehidupan Islam sukses menjaga kelestarian air berikut segala faktor lingkungan yang dibutuhkannya. Tampak dari berlimpahnya air di kota-kota besar, seluruh pemukiman penduduk hingga desa dan wilayah pertanian.

Kota-kota Islam abad pertengahan sudah memiliki sistem manajemen dan pasokan air yang sangat maju untuk mengalirkan air ke semua tujuan. Di Samarra, air dibawa oleh hewan dan saluran pengumpan, yang mengalir sepanjang tahun. Jalan raya yang luas dan panjnag hingga luar kota, dengan saluran pengumpan yang membawa air minum mengapit kedua sisi jalan.

Keahlian teknik serupa disponsori oleh Zubaida, istri Khalifah Harun al-Rashid untuk memasok Mekah dengan air. Baghdad, dengan populasi lebih dari 800.000 (abad ke 10) dilayani oleh sistem kanal yang memberikan akses kota ke laut. Pada tahun 993, terhitung 1500 pemandian umum.

Seluruh dunia Muslim, di tandai dengan air yang mengalir di sungai, kanal, atau qanat (saluran bawah tanah) ke kota. Air disimpan dalam tangki, untuk disalurkan melalui pipa-pipa di bawah tanah ke berbagai tempat. Seperti, tempat tinggal, bangunan umum dan kebun. Air yang berlebih mengalir keluar dari kota ke sistem irigasi.

Kota Suriah,dan Damaskus paling disukai karena memiliki sistem air yang luas dan lengkap. Sungai Barada, Qanawat, dan Banyas memasok kota melalui dua set kanal bawah tanah, satu untuk air tawar, yang membawa air ke masjid, sekolah, pemandian, air mancur umum, dan rumah pribadi, dan yang lainnya untuk drainase.

Samarkand memiliki sistem perpipaan timah. Air dialirkan melalui saluran berjajar. Ahli geografi al-Istakhri (pertengahan abad ke-10) mengatakan bahwa di kota, ada persediaan air untuk yang kehausan, dan jarang sekali ia melihat penginapan, sudut jalan, atau lapangan tanpa pengaturan air es. Dia menambahkan bahwa air bersirkulasi dan dialirkan ke pasar pipa timah.

Muslim di Barat, di Marrakech, air dialirkan ke kota untuk minum dan irigasi melalui saluran bawah tanah, terutama dari pegunungan yang berjarak dua puluh mil ke selatan. Di Fes, ahli geografi Ibn Hawqal, pada abad ke-10, mencatat pasar dicuci setiap hari, sementara tiga abad kemudian, diamati, sebagian besar rumah disilangkan oleh ‘sungai’, dan di setiap rumah, terlepas dari ukurannya, ada air mancur yang mengalir. Air di kota juga digunakan untuk mencuci jalan dan beroperasi antara 300 dan 400 kincir air.

Kota-kota besar di wilayah Timur memiliki saluran air mengalir; dan di mana-mana dapat ditemukan banyak kolam dan pemandian. Banyak pemandian seperti itu (dialirkan dari mata air mata Tiberias) masih berfungsi pada tahun 1914, selama 24 jam sehari. terdapat hostel bagi para pelancong yang datang dari negeri yang jauh untuk bermalam dengan hangat dan nyaman.

Di Spanyol, pemandian umum dapat ditemukan bahkan di desa terkecil; di pertengahan abad ke-10, Cordova sendiri memiliki 900, sementara, seperti catatan Scott, pada abad ke-18, sebaliknya, tidak ada banyak di seluruh Eropa. Kaum Muslim memiliki kebiasaan mandi setiap hari, dan karenanya, pemandian umumnya disediakan untuk pria di pagi hari dan wanita di sore hari.

Tidak hanya perkotaan, pemukiman penduduk dan pedesaan, lahan-lahan pertanianpun terairi dengan memadai. Semua ini mengindikasi bagaimana di bawah naungan perdaban Islam daur air dan segala aspek yang menjaga keberlangsungannya terjaga. Baik hutan, iklim, sungai, dan danau.

Karenanya kehadiran khilafah adalah kebutuhan yang mendesak. Tidak saja bagi Indonesia tapi juga dunia. Lebih dari pada itu, khilafah adalah ajaran Islam yang disyari’atkan Allah swt. “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan” (TQS Al Anfal (8): 24). Allahu a’lam.[]

(*) Pemerhati Kemaslahatan dan Kebijakan Publik

Apa komentar Anda?