; Krisis Air Bersih dan Darurat Kekeringan, Buah dari Peradaban Sekuler - Muslimah News

Krisis Air Bersih dan Darurat Kekeringan, Buah dari Peradaban Sekuler

MuslimahNews.com — Krisis air bersih dan darurat kekeringan akut tengah melanda hampir seluruh wilayah Indonesia bahkan berbagai penjuru dunia. Hal ini ditanggapi oleh Pemerhati Kemaslahatan dan Kebijakan Publik, Dr Rini Syafri kepada MNews, Ahad (26/8/2018).

Menurut Rini, kejadian fakta kekeringan itu merupakan petunjuk bahwa di tangan peradaban barat sekuler, bumi tengah menderita kerusakan lingkungan yang sangat parah.

“Sebab, sesungguhnya AIlah SWT telah menciptakan sumber daya air yang berlimpah. Berikut mekanis daur air agar air lestari bagi kehidupan. Tidak hanya itu Allah SWT juga menciptakan keseimbangan pada segala aspek yang dibutuhkan bagi keberlangsungan daur air. Mulai dari hamparan hutan, iklim, sinar mata hari, hingga sungai danau dan laut,” ungkap Rini.

Penelitian terkini para ahli iklim dan lingkungan, kata Rini, menunjukan laju deforestasi yang sangat cepat adalah yang paling bertanggungjawab terhadap darurat kekeringan dan krisis air bersih, di samping iklim ekstrem dan pemanasan global. “Keduanya, baik deforestasi maupun iklim ekstrem faktor penghambat yang sangat besar dalam keberlangsungan daur air.”

Rini lalu menepis dugaan tekanan populasi manusia, dia katakan, “Penting diingat, laju deforestasi yakni alih fungsi hutan yang begitu pesat selama beberapa dekade terakhir bukan karena tekanan populasi manusia sebagaimana yang banyak disangkakan. Akan tetapi lebih karena tekanan politik globalisasi dengan sejumlah agenda neoliberal yang hegemoni. Berupa liberalisasi sumber daya alam kehutanan, pertambangan, hingga pembangunan kawasan ekonomi khusus dan energi baru terbarukan.”

Kondisi ini, menurutnya, diperparah dengan eksploitasi mata air oleh pebisnis air minum kemasan, pencemaran sungai dan liberalisasi air bersih perpipaan.

“Semuanya, yakni deforestasi, eksploitasi mata air, pencemaran sungai dan liberalisasi air bersih perpipaan memiliki ruang yang subur dan luas dalam sistem kehidupan sekuler. Khususnya sistem ekonomi kapitalisme dan sistem politik demokrasi yang melegalkan kelalaian negara. Sementara itu, penanggulangan dan pencegahan dalam bingkai neoliberal telah gagal. Karena begitu banyak peraturan perundang-undangan dan program yang telah dijalankan pemerintah. Termasuk agenda SDGs dan pembentukan Dewan Sumber Daya Air Nasional,” tukasnya.

Rini lalu menjelaskan, “Pun demikian pelaksanaan agenda dari forum tingkat regional dan internasional. Seperti forum kerangka kerja perubahan iklim tahunan di bawah PBB – UNFCCC (United Nation Framework Convention on Cilmate Change) dan forum PBB untuk kehutanan (The Committee on Forestry – COFO) yang sudah berlangsung 24 kali.”

Hasilnya, ungkap Rini, puluhan juta jiwa tetap tidak ada akses terhadap air bersih dan sanitasi yang baik. Kian parah serta makin meluas tiap kali musim kemarau datang. Menurut BMKG ancaman kekeringan tahun ini meliputi sebagian besar Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Maluku Utara, Bagian Selatan Papua Barat dan Papua sekitar Merauke. Ratusan ribu warga terdampak kekeringan, harus berjalan berkilo meter untuk mendapatkan se-ember dua ember air, gagal panen hingga minum air kubangan.

“Tidak saja mengancam kesehatan jutaan jiwa, namun juga kelestarian kehidupan di bumi. Bukan saja menimpa Indonesia, akan tetapi seluruh dunia. Tiap hari 3800 anak jiwanya melayang sia-sia,” paparnya.

Krisis Air Bersih dan Darurat Kekeringan serta Kebutuhan Dunia pada Khilafah

“Realitas ini semakin memperpanjang daftar kegagalan peradaban barat dengan sistem kehidupan sekulernya. Di tengah-tengah kian menguat kesadaran dunia untuk mengembalikan bumi dan segala isinya ke dalam pangkuan sistem kehidupan dari Penciptanya, Allah SWT. Yakni, sistem kehidupan Islam, Khilafah,” tukas Rini seraya mengungkapkan fakta sejarah peradaban Islam yang agung.

” Sejarah merekam dan menunjukan kota-kota Islam abad pertengahan sudah memiliki sistem manajemen dan pasokan air yang sangat maju untuk mengalirkan air ke semua tujuan. Seluruh dunia Muslim, ditandai dengan air yang mengalir di sungai, kanal, atau qanat (saluran bawah tanah) ke kota,” bebernya.

Kata Dr Rini Syafri, saat itu air disimpan dalam tangki, untuk disalurkan melalui pipa-pipa di bawah tanah ke berbagai tempat. Seperti, tempat tinggal, bangunan umum dan kebun. Air yang berlebih mengalir keluar dari kota ke sistem irigasi.

Lalu dia contohkan, “Di Spanyol, pemandian umum dapat ditemukan bahkan di desa terkecil. Kaum Muslim memiliki kebiasaan mandi setiap hari, dan karenanya, pemandian umumnya disediakan untuk pria di pagi hari dan wanita di sore hari. Tidak hanya perkotaan, pemukiman penduduk dan pedesaan, lahan-lahan pertanianpun terairi dengan memadai.”

Menurut Rini, semua ini mengindikasikan bagaimana di bawah naungan peradaban Islam daur air dan segala aspek yang menjaga keberlangsungannya terjaga. Baik hutan, iklim, sungai, dan danau.

“Karenanya kehadiran Khilafah adalah kebutuhan yang mendesak. Tidak saja bagi Indonesia tapi juga dunia. Lebih dari pada itu, Khilafah adalah ajaran Islam yang disyari’atkan Allah SWT. ‘Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan'”, tutupnya mengutip Alquran surah Al-Anfal ayat 24.[]

Gambar: Merdeka.com

Bagaimana menurut Anda?