Antara Azan dan Cadar: Sinyal Kental Islamofobia

Oleh: Pratma Julia Sunjandari

MuslimahNews, ANALISIS — Ketika Meiliana, -perempuan yang mengeluhkan volume azan di Tanjungbalai, Sumatera Utara-, dijatuhi hukuman penjara selama 1,5 tahun, publik langsung bereaksi negatif. Beberapa petinggi lembaga keislaman, bahkan Wapres serempak membela ibu empat anak itu.

Sejumlah aktivis menyebut vonis itu mencederai keadilan, tak pantas dikenai pasal penodaan agama. Sekalipun Meiliana harus mendekam di penjara, tapi dia terus menuai simpati masyarakat sipil yang membelanya bagai martir.

Berbedalah ‘nasib’ Meiliana dengan nasib Hartatik. Kelalaian Hartatik mendandani siswi-siswinya dengan jilbab hitam dan cadar berikut replika senjata yang mereka bawa pada pawai HUT Kemerdekaan ke-73 RI berbuntut pada pencopotan jabatannya sebagai Kepala TK Kartika V-69 Probolinggo sejak 23 Agustus 2018. Sekalipun tema yang diusung TK-nya ‘Bersama Perjuangan Rasulullah Kita Tingkatkan Keimanan dan Keimanan kepada Allah SWT’ tak ada nada simpati dari publik. Sebaliknya, publik mengecam atribut anak-anak TK tersebut dan menyebutnya sebagai personifikasi tentara ISIS, teroris yang dibenci dunia.

Dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pejabat terkait dan elit organisasi Islam tertentu mengaitkan aksi tersebut dengan radikalisme. Bahkan ada yang melakukan simplifikasi dengan mengatakan bahwa radikalisme sudah mulai mengakar pada anak TK.

Dua realitas yang bertentangan itu biasa terjadi di era kebebasan informasi ini. Begitulah publik hari ini. Amat mudah opini mereka disetir oleh pendapat mainstream. Persepsi yang saling bertolak belakang dalam memandang perkara ‘azan’ dan ‘cadar’ itu terjadi karena arus informasi yang diterima publik hanya satu arah. Informasi tunggal yang disuplai kalangan Islamophobic. Kalangan yang sengaja dipelihara oleh musuh Islam dalam menjegal ghirah umat akan agamanya. Kalangan Islamofobis mencegah kecintaan umat itu berakhir pada semangat perlawanan terhadap penjajahan kufur, baik secara idea ataupun nyata.

Baca juga:  Mahfud MD “Mengharamkan” Tiru Sistem Pemerintahan Rasulullah, Analis Politik Pratma Julia: Nalar Intelektual Tumpul Demi Eksistensi Kekuasaan

Pasukan Islamofobis akan ‘bertempur’ melawan Islam dalam medan apapun. Setiap hal yang terkait dengan Islam, bahkan sekadar ‘simbol’-nya akan dibuat seram dan dipandang ‘rendah’, karena tidak sesuai dengan budaya Barat.

Peradaban Barat diklaim lebih agung karena dianggap lebih rasional, humanis, toleran dan meliberalisasi setiap hasrat dan akal manusia. Karenanya, salah satu permainan yang dibuat Islamofobis adalah penggambaran syariat Islam yang kaku, inkontekstual, irrelevan, bahkan tidak manusiawi.

Fenomena inilah yang kini dimunculkan di belahan dunia manapun. Setiap yang berasal dari Islam atau dilakukan Muslim beratribut ‘ekslusif’ akan dipersoalkan karena dianggap menodai kebhinekaan, pluralisme. Maka jika berpuluh-puluh tahun kumandang azan dengan speaker tak pernah dipermasalahkan masyarakat, hatta nonmuslim, sekarang kaum Islamofobis sudah berani unjuk gigi. Berdalih wilayah privatnya terusik, mereka mulai mempersoalkan panggilan salat itu.

Di saat yang bersamaan, mereka tak pernah mempersoalkan goyang dangdut atau dentuman musik rock yang memekakkan kuping saat warga menggelar hajatan. Alasannya, toh musik lebih universal, mudah diterima oleh siapapun, tak peduli agamanya apa.

Ekslusivisme Islam kian dilekatkan dengan atribut tertentu. Atribut yang telah distigma lekat dengan kelompok radikal adalah cadar. Cadar dianggap mewakili konservatisme Islam. Ini bertentangan dengan liberalisme Barat, karenanya Prancis, Belgia dan Austria telah melarang pemakaiannya. Swiss dan Jerman akan mengeluarkan undang-undang senada, sekalipun berlaku terbatas.

Dunia Islam, turut meributkannya. Suriah sempat melarang pemakaian cadar di lingkungan kampus tahun 2010, kendati hanya bertahan setahun. Kampus Indonesia yang terdeteksi radikal turut terkena test the water kalangan Islamofobis untuk menilai konservatisme [baca : keterikatan pada syariah] terhadap pemakaian cadar. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mencoba menerapkan larangan bercadar. Namun ‘air masih beriak’. Aturan ini dibatalkan karena menuai protes keras masyarakat.

Baca juga:  Fenomena Islamofobia: Wanita Berhijab seperti Kotak Surat dan Bandit Bank

Apalagi ketika Barat menginterpretasikan jihadis sebagai teroris, aktivis harakah sebagai radikalis, dan perindu syariah sebagai fundamentalis. Stigma tersebut didukung serentetan peristiwa politik yang didakwa sebagai kelanjutan dari stigma tersebut. Ambil contoh, berbagai aksi ‘teror’ yang melibatkan perempuan –dan mencapai puncaknya saat pelibatan anak-anak dalam aksi pemboman beberapa gereja di Surabaya- kian memperkuat klaim mereka bahwa radikalisme sudah menyusup dalam keluarga. Kampanye ini menuai hasil. Masyarakat yang sudah ‘diteror’ dengan berita terorisme, kian terintimidasi untuk ikut-ikutan paranoid dengan stigma yang dideraskan atas mereka.

Bagaimanapun juga, akibat penderasan opini yang dilakukan Islamofobis –dengan bantuan rezim, media mainstream, tokoh masyarakat dan lembaga antek- publik telah teredukasi oleh pemahaman yang meliberalisasi akal. Apapun yang dipandang baik oleh akal dan selera mayoritas, akan digunakan untuk menilai baik buruk sesuatu. Sayangnya, standar baku yang mereka gunakan adalah persepsi Barat yang telah menyatu dalam sistem kemasyarakatan yang kapitalistik.

Tak perlu berkecil hati. Menjelang keruntuhan peradaban kapitalis Barat ini, sungguh meniscayakan benturan peradaban (clash of civilization) kian menguat dan makin tajam. Benturan perabadan yang pasti terjadi antara ideologi Barat –baik itu demokrasi, sekularisme, pluralism, ataupun liberalism– dengan ideologi Islam.

‘Perang’ ini melibatkan siapapun, dan menggunakan sarana apapun. Begitu kerasnya benturan, hingga tak jarang kaum Muslimin tak nyaman sampai-sampai mereka memilih menjadi pihak moderat. Tetap menjalankan ibadah mahdlah namun –demi menjaga relasi dan ‘ketentraman’ perasaan- mereka tak mau masuk golongan ‘keras’. Tak jarang mereka rela masuk kelompok yang turut memberi stigma dan menolak saudara muslimnya sendiri. Mau tak mau terceburlah mereka sebagai bagian Islamofobis. Naudzu billahi min dzalika.

Allah SWT telah memberi tuntunan agar umat tidak mudah terperosok pada isu yang membelah mereka, apalagi masuk dalam barisan yang mencerca atribut, kebiasaan dan cara hidup Islam. “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (TQS Al Hujurat ayat 6).

Baca juga:  Muslim Dizalimi India

Beda penyikapan isu ‘azan’ dan ‘cadar’ ini sepatutnya tidak terjadi jika umat bersatu dalam standar perbuatan, yakni syariat Islam. Selayaknya umat tidak mudah terbelah dengan stigma dan monsterisasi yang dilakukan musuh Islam. Setiap yang berasal dari idea Barat harus dikritisi, apalagi bila terindikasi bertentangan dengan syari’at Islam. Biasakan tabayyun dan berdiskusi dengan kepala jernih dengan selalu merujuk pada tuntunan Alquran, As-Sunnah, IjmaShahabat dan nasihat salafush shalih dalam menilai sebuah peristiwa politik. Dan yang lebih utama, jangan pernah takut untuk memberikan pembelaan kepada syari’at Islam.

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa” (TQS. Al Hajj ayat 40).[]

Bagaimana menurut Anda?