Hakikat Islam Nusantara

Oleh : KH.Hafidz Abdurrahman, MA

MuslimahNews, ANALISIS — Proyek Islam Nusantara tidak bisa dipisahkan dari proyek penjajahan. Proyek yang justru melemahkan kekuatan Islam. Karena mencabut Islam dari akarnya

Harus diakui, kekuatan Indonesia ada pada Islam dan kaum Muslim. Maka, cara yang paling mudah menguasai Indonesia adalah dengan terus-menerus melemahkan kekuatan Islam dan kaum Muslim.

Mulai dari membenturkan Islam dengan Pancasila. Setelah itu, Islam dipaksa melepaskan identitas budaya, politik, ekonomi, dan lain-lain. Dengan satu tujuan, agar Islam ditinggalkan oleh umatnya.

Setelah umatnya meninggalkan Islam, saat itulah umat Islam akan lemah karena tidak mempunyai daya tahan saat menghadapi serangan masif yang sengaja dilakukan penjajah untuk merampok kekayaan negeri mereka.

Islam hakikatnya satu. Tidak ada Islam Arab, Islam Eropa, Islam Nusantara, atau Islam-Islam yang lain. Dikotomi ini bagian dari strategi devide et impera.

Selain itu, Islam Nusantara, menurut Gus Najih, justru bisa melestarikan kesyirikan. Jika Islam Nusantara digunakan untuk melanggengkan budaya Hindu dan Budha yang ada di Nusantara

Misi Islam masuk ke Nusantara adalah mengislamkan Nusantara, bukan menusantarakan Islam, atau mengindonesiakan Islam. Mengindonesiakan Islam artinya memaksa Islam tunduk pada batas-batas keIndonesiaan, juga batas-batas kenusantaraan.

Ini seperti analogi yang pernah disampaikan KH Zainuddin, kalau beli kopiah mestinya disesuaikan dengan kepalanya, bukan kepalanya disesuaikan dengan kopiahnya.

Jadi, mestinya Indonesia atau Nusantara yang harus diislamkan, bukan Islam yang harus diindonesiakan atau dinusantarakan. Kalau itu terjadi, sama dengan menganggap orang Indonesia lebih hebat daripada Nabi Muhammad, atau bahkan menganggap lebih hebat daripada Allah SWT. Apa iya?

Tepat sekali MUI Sumbar dan Sumut menolak Islam Nusantara.[]

%d blogger menyukai ini: