Gagasan Islam Nusantara, Racun Berbalut Madu

MuslimahNews, EDITORIAL — Reaksi penolakan umat terhadap wacana Islam Nusantara yang digaungkan pemerintah melalui MUI Pusat dan Kemenag makin hari makin tak terbendung. Berbagai kritik keras muncul secara masif, baik dalam bentuk tulisan-tulisan opini para aktivis Islam, maupun pernyataan sikap lembaga kemasyarakatan yang tersebar di media massa, termasuk media sosial.

Penolakan keras misalnya disampaikan ICMI Pusat dan pengurus MUI Sumbar. Bahkan, meski ditegur keras oleh pimpinan MUI Pusat karena dianggap menyalahi keputusan lembaga, Pimpinan MUI Sumbar Buya Gusnizar Gazahar, tetap bersikukuh menyatakan bahwa sikap lembaganya adalah sikap yang benar dan sudah final.

Penolakan masif ini memang wajar, mengingat tak bisa ditutup-tutupi bahwa pengarusutamaan gagasan Islam Nusantara merupakan bagian dari agenda liberalisasi Islam di Indonesia yang sudah berlangsung cukup lama dan diaruskan dengan berbagai cara dan diksi yang beraneka ragam.

Terlebih pasca bergulirnya gagasan ini, muncul berbagai gagasan turunan, termasuk wacana dan praktik fikih baru yang merekonstruksi, bahkan mendekonstruksi prinsip-prinsip dan praktik Islam yang sudah berurat-akar di tengah umat. Ada salat dan azan berbahasa Indonesia, membaca Alquran dengan memakai langgam jawa, mencuatnya kembali narasi bahwa hijab adalah budaya arab, seruan-seruan sarkastis soal cadar, jenggot dan baju cingkrang, hingga penolakan atas gagasan formalisasi syariat Islam dan perjuangannya dengan dalih radikalis dan tak sesuai dengan visi keindonesiaan.

Para penggagas Islam Nusantara yang rata-rata dikenal sebagai pengusung Islam moderat dan Islam liberal ini, memang kerap melontarkan propaganda yang menyudutkan pendukung dan penyeru penerapan Islam kafah sebagai pengganti sistem bobrok demokrasi kapitalisme.

Pemahaman kelompok yang mereka serang ini kemudian mereka sebut sebagai Islam Arab. Yakni Islam yang mereka identifikasi sebagai Islam intoleran, penuh kekerasan, mendiskriminasi perempuan, suka mengkafir-kafirkan dan menginginkan Islam tegak dalam seluruh aspek kehidupan sebagai sebuah negara (Khilafah), yang digambarkan akan menegasikan budaya lokal dan memberangus hak-hak kaum minoritas.

Sebaliknya, Islam yang mereka agung-agungkan lantas mereka identifikasikan sebagai Islam yang ramah terhadap kearifan budaya lokal, sangat toleran, pluralis dan humanis, serta mengedepankan perdamaian, keadilan dan kesetaraan. Itulah Islam Nusantara.

Bagi yang bersih nalar, berbagai narasi ini tentu tak bisa dipandang remeh karena menyangkut masalah akidah dan berimplikasi pada berbagai ketetapan syariah. Paham pluralisme yang menjadi dasar gagasan Islam nusantara ini jelas-jelas bertentangan dengan prinsip keimanan Islam dan mengebiri banyak hukum Islam.

Gagasan yang berasal dari fisafat relativisme ini memandang bahwa klaim kebenaran bukan hanya milik umat Islam. Agama hanya soal keyakinan. Dan keyakinan bergantung pengalaman-pengalaman dan doktrin-doktrin yang ditanamkan. Sehingga yang diyakini benar oleh seseorang, belum tentu benar pada keyakinan orang lain, bahkan bisa jadi semuanya benar.

Konsekuensi logisnya, bagi paham ini syariat Islam menjadi tidak mutlak. Pelaksanaannya hanya merupakan pilihan-pilihan. Dan pilihan-pilihan ini tak boleh dipertentangkan. Berhijab atau tidak, itu pilihan. Salat atau tidak, itu pilihan. Salat menggunakan bahasa Arab atau tidak, itu juga soal pilihan. Tak boleh sesat menyesatkan.

Adapun aktivitas dakwah amar ma’ruf nahi munkar dipandang sebagai sebuah pelanggaran atas hak berkeyakinan, bahkan bisa masuk dalam delik kekerasan verbal. Sementara seruan penerapan syariat Islam dianggap sebagai pencederaan terhadap kebebasan. Apalagi menerapkan hukum jihad, akan dihukumi sebagai bentuk kejahatan bagi kemanusiaan.

Bagi mereka, toleransi adalah ketika Muslim harus berdiam atas praktik-praktik kesyirikan yang dibalut diksi kebudayaan. Toleran adalah ketika Muslim boleh ikut hadir di misa gereja, ikut menjaganya saat natal tiba, melakukan doa bersama entah pada tuhan yang mana, serta membiarkan ketika seseorang memilih berpindah-pindah agama, atau menikah berbeda agama.

Sementara keadilan dan kesetaraan bagi Islam Nusantara adalah ketika umat Islam tak boleh menolak dipimpin oleh orang non Islam alias kaum kafir. Atau membiarkan kaum perempuan bertukar peran dengan laki-laki, termasuk dalam urusan mencari nafkah dan kepemimpinan rumahtangga maupun negara. Atau membagi hak waris secara rata antara laki-laki dan perempuan karena keduanya sama-sama anak yang tak layak dibeda-beda.

Inilah label baru yang mereka (kalangan moderat dan liberalis) sematkan pada Islam yang hendak dicerabut dari akarnya, hingga yang tersisa hanya sekadar ajaran tentang prinsip-prinsip hidup minus dorongan penerapan syariatnya. Mereka katakan, yang penting substansi alias hakikat, bukan simbol-simbol semata. Karena bagi mereka syariat hanyalah sekadar simbol yang bisa diabaikan keberadaannya.

Dari sini, nampak nyata betapa bahayanya pemikiran Islam Nusantara. Karena gagasan ini, lambat tapi pasti, telah mengebiri Islam yang sejatinya merupakan ideologi (mabda). Yakni agama yang memiliki pemikiran (fikrah) dan bagaimana cara mewujudkan pemikiran-pemikirannya (thariqah), menjadi sekadar kumpulan pemikiran (fikrah) saja. Dengan demikian, Islam pun berubah menjadi sekedar agama ruhiyah, yang dihilangkan sisi politisnya sebagai solusi dalam seluruh aspek kehidupan (poleksosbudhanhukkam).

Dan ini tentu tak sesuai dengan karakter Islam sesungguhnya. Di mana Islam telah datang sebagai agama sempurna, yang mengajarkan aspek ruhiyah (mengatur aspek ritual & moral), sekaligus mengajarkan aspek siyasiyah. Yakni bagaimana mengatur kehidupan ini dengan syariat yang dibawanya, yang dipastikan akan membawa manusia dalam kehidupan sejahtera penuh berkah, tak hanya untuk kaum Muslim tapi menjadi rahmat bagi sekalian alam, termasuk kalangan non Muslim.

Di pihak lain, bahaya ide Islam Nusantara ini nampak ketika berhasil memolarisasi umat Islam dalam berbagai faksi pemikiran hingga tataran keyakinan. Padahal perbedaan memang diniscayakan oleh Islam, tapi hanya dalam batas wilayah ijtihadiyah yang dibolehkan, bukan dalam soal keyakinan seperti soal kewajiban menerapkan syariat Islam secara kafah dalam naungan institusi Khilafah.

Bagi Islam Nusantara, sistem yang diterapkan sekarang sudah final meski tak sesuai syariat Islam. Sementara tuntutan menerapkan syariat secara kafah jelas-jelas tertuang dalam berbagai nash, baik Alquran maupun sunah Rasulullah saw.

Pemahaman inilah yang akan terus menjadi penghalang perjuangan menegakkan sistem Islam dan justru melanggengkan kekufuran. Padahal sistem yang diterapkan hari ini jelas-jelas telah membawa umat Islam pada kehancuran, keterjajahan, dan kehinaan. Sekaligus menjauhkan kaum Muslimin dari karakternya sebagai sebaik-baik umat (khairu ummah) dan sebagai pionir peradaban, sebagaimana pernah tersemat di pundak mereka selama belasan abad, dimulai saat Rasulullah saw berhasil menegakkan sistem Islam di Madinah dan dilanjutkan oleh khalifah-khalifah setelahnya, hingga sistem Khilafah ini runtuh tahun 1924 atas konspirasi penjajah dan antek-anteknya di negeri kaum Muslimin. Saat itulah umat Islam dan negeri-negerinya mulai masuk dalam cengkraman penjajahan kapitalisme hingga menjadi umat yang tak berdaya sama sekali.

Ini pulalah yang harus diwaspadai umat Islam hari ini. Saat geliat kebangkitan Islam mulai menggema, dan keinginan umat untuk bangkit kembali dengan Islam, maka musuh tentu berupaya agar itu tak terjadi.

Maka mereka akan berusaha keras menjauhkan umat dari rahasia kebangkitannya yaitu tak lain ada pada ajaran Islam sebagai sebuah ideologi yang ditegakkan oleh kekuatan penopangnya berupa negara Khilafah. Inilah yang pernah disampaikan Lord Curzon, mantan Perdana Menteri Inggeris, beberapa saat setelah berhasil meruntuhkan Khilafah ustmani melalui anteknya, Mustafa Kemal, “Kita telah berhasil meruntuhkan kekuatan umat Islam dan memastikan mereka tak akan bangkit kembali, karena kita telah menghapus dua kekuatannya, yakni Islam dan Khilafah!”

Ya, inilah yang sedang terjadi hari ini. Musuh Islam tengah berusaha keras mencegah kebangkitan Islam yang mulai menggeliat dengan melalui berbagai cara. Salah satunya adalah dengan melakukan serangan pemikiran untuk meragu-ragukan umat akan keparipurnaan Islam sebagai sebuah ideologi yang menjadi lawan, bahkan ancaman besar bagi hegemoni kapitalisme yang sedang mencengkeram kehidupan umat Islam hari ini.

Adalah Rand Corporation, salah satu organisasi think tank kebijakan strategis AS yang telah merekomendasikan strategi pelemahan perjuangan mengembalikan sistem Khilafah di era kekinian. Salah satunya adalah dengan memecah kekuatan umat dengan menghadirkan faksi-faksi pemikiran yang menjadi lawan apa yang mereka sebut dengan fundamentalisme Islam.

Pemikiran itu tak lain adalah pemikiran Islam moderat (liberal) yang direkomendasikan untuk terus difasilitasi agar tumbuh subur di negeri-negeri Islam, dengan kucuran dana dan sokongan media massa, dengan target membangun dukungan kaum tradisionalis, lembaga-lembaga pendidikan termasuk pesantren serta para tokohnya. Dan strategi inilah yang sudah berjalan dengan berbagai nama, salah satunya dengan nama Islam Nusantara. Islam yang menampakkan wajah ramah tapi sejatinya sedang menebar racun mematikan bagi benih kebangkitan umat yang sedang berkembang.

Inilah yang seharusnya disadari umat Islam. Bahwa di balik gagasan Islam Nusantara sejatinya ada makar yang sedang berjalan. Yang siap menjerumuskan mereka ke jurang kehinaan lebih dalam dan lebih lama dalam kubangan sistem demokrasi kapitalis buatan musuh-musuh Islam.

Semestinya umat ini segera bangkit dengan kembali kepada Islam ideologi warisan Rasulullah saw, serta berjuang bersama menegakkannya dalam institusi yang telah terbukti membawa umat dalam kemuliaan. Yakni sistem Khilafah Islamiyah, satu-satunya institusi penerap syariah kafah yang akan menjadi penjaga sekaligus mempersatukan seluruh kekuatan umat Islam di seluruh dunia.[]

%d blogger menyukai ini: