Mewaspadai Pembatalan Pernikahan yang Sah

Oleh: Dedeh Wahidah Achmad (Ketua Lingkar Studi Tsaqofah Islam)

MuslimahNews, FOKUS — Pernikahan merupakan sebuah akad yang diizinkan syara keberlangsungannya. Akad pernikahan yang sudah sempurna dilaksanakan dan diakui keabsahannya menurut hukum syara’ tidak boleh dibatalkan kecuali memenuhi ketentuan pembatalan yang telah ditetapkan syariat Islam.

Kontroversi Pembatalan pernikahan pasangan muda di Kabupaten Tapin Kalimantan Selatan bukan saja menjadi topik yang menarik diperbincangkan, namun juga memunculkan pertanyaan di seputar kasus tesebut yang penting untuk dibahas, diantaranya: Bagaimana hukum pembatalan pernikahan menurut syariat Islam? Dan yang tidak kalah pentingnya untuk diungkap apa dampak kasus pembatalan pernikahan ini bagi keberlangsungan penerapan syariat Islam?

Islam Menganjurkan Pernikahan Bukan Menghalang-halangi, apalagi Membatalkan

Allah SWT menciptakan manusia dengan naluri untuk melanggengkan keturunan. Setiap manusia yang normal dan nalurinya telah berkembang dengan sempurna akan tertarik pada lawan jenis. Hadirnya rasa ketertarikan ini bukanlah perkara yang diharamkan. Namun, Islam tidak membiarkan pemenuhan naluri ini dengan cara yang liar dan bebas dari aturan. Demi terealisasinya tujuan penciptaan naluri ini, yakni melangsungkan keturunan, maka Islam mensyariatkan pernikahan sebagai jalan yang diridai Allah SWT. Bahkan Islam telah memerintahkan orang yang mampu segera melaksanakan pernikahan. Anjuran tersebut tercantum dalam banyak nash, baik dalam Alquran maupun hadis Rasulullah saw. Di antaranya dalam Alquran surat An-Nuur[24] ayat 32, yang artinya:

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.” (TQS. An Nuur : 32)

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ayat ini adalah perintah untuk menikah. Terkait ayat tersebut Ibnu Katsir juga menambahkan,”Dari Ibnu Mas’ud ra,”Memohonlah kalian (kepada Allah) akan kekayaan melalui menikah.” diriwayatkan oleh Ibnnu Jarir, al Baghowi juga menyebutkannya dari Umar yang semisal dengannya.

Rasulullah saw pernah menikahkan seorang lelaki yang tidak mempunyai apa-apa selain kain sarung dan ia tidak memiliki apa-apa walaupun hanya sebatas cincin besi, namun demikian Rasulullah saw tetap menikahkannya dengan seorang wanita dan menjadikan maharnya adalah mengajarkannya Alquran yang telah dihafalnya.” (Tafsir Ibnu Katsir juz VI hal 51 – 52).

Aturan Islam memudahkan siapapun untuk menikah. Kemiskinan dan kekurangan harta bukan perkara yang dianggap bisa menghalangi pernikahan. Menikah menurut Islam bukan sekadar memenuhi dorongan naluri seksual, namun merupakan benteng yang akan menjaga siapapun dari terjerumus pada perbuatan dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.
Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).”[HR. Al-Bukhari (no. 5066) kitab an-Nikaah]

Betapa pentingnya posisi pernikahan di dalam Islam. Bahkan orang yang menikah dengan niat untuk menjaga kesucian diri dari melakukan yang haram menjadi salah satu yang pasti akan ditolong oleh Allah SWT sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُمْ: اَلْمُكَـاتَبُ الَّذِي يُرِيْدُ اْلأَدَاءَ، وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيْدُ الْعَفَافَ، وَالْمُجَاهِدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ.

Ada tiga golongan yang pasti akan ditolong oleh Allah; seorang budak yang ingin menebus dirinya dengan mencicil kepada tuannya, orang yang menikah karena ingin memelihara kesucian, dan pejuang di jalan Allah.”[HR. At-Tirmidzi (no. 1352) kitab an-Nikaah, Ibnu Majah (no. 1512)]

Selain menganjurkan menikah, Islam pun melarang para wali menghalang-halangi atau melarang anaknya melakukan pernikahan. Allah SWT berfirman, yang artinya:
Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma’ruf.” [Al-Baqarah: 232]

Larangan menghalang-halangi seorang wanita untuk menikah merupakan larangan yang pasti sehingga bermakna haram. Bahkan dalam kitab an Nizhom ijtima’iy fil Islam Syaikh Taqiyuddin An Nabhani menyebutkan setiap orang yang menghalang-halangi wanita untuk menikah dinilai fasik karena perbuatannya tersebut.

Islam juga menjaga agar ikatan pernikahan yang sudah dijalin tidak mudah dipisahkan. Sekalipun perceraian merupakan salah satu solusi masalah rumah tangga yang dibolehkan Islam, namun pilihan tersebut merupakan jalan terakhir setelah berbagai upaya perbaikan tidak membuahkan hasil.

Berdasarkan beberapa dalil di atas bisa disimpulkan bahwa Islam sangat menganjurkan terselenggaranya pernikahan dan memerintahkan untuk mempertahankan keberlangsungan.

Mewaspadai Pembatalan Pernikahan

Dalam Fiqih Islam dikenal istilah nikah batil yaitu akad pernikahan yang tidak memenuhi salah satu syarat sahnya pernikahan. Akad tersebut dianggap batil sejak dari dasarnya. Syarat-syarat tersebut adalah: Pertama, ijab-qabul dilangsungkan dalam satu majlis. Jika antara calon pengantin terpisah tempat pernyataan calon pengantin laki-laki bisa lewat surat dan wajib dibacakan dengan disaksikan oleh dua orang saksi.

Kedua, pihak yang berakad harus mendengar perkataan satu sama lain dan memahaminya. Ketiga, ucapan qabul tidak boleh menyalahi ucapan ijab. Keempat, syariah Islam membolehkan pernikahan tersebut berlangsung, yakni antara laki-laki muslim dengan perempuan muslimah atau ahli kitab dan antara perempuan muslimah dengan seorang Muslim.

Selain keempat syarat di atas, sebuah pernikahan juga harus memenuhi syarat sahnya, yaitu: 1) mempelai wanita harus benar-benar orang yang halal dinikahi. 2) ada wali yang menikahkan. 3) dihadiri dua orang saksi laki-laki muslim, balig, berakal, serta mendengar dan memahami ucapan ijab-qabul. Jika ketiga syarat tersebut tercukupi maka sahlah akad nikahnya. Sebaliknya jika ada salah satu yang tidak terpenuhi maka akad pernikahan itu fasad (rusak) dan tidak boleh dilanjutkan.

Kondisi lain yang dibolehkan mem-fasakh pernikahan adalah ketika akad nikah dilangsungkan tanpa izin dari pengantin wanita atau dia dipaksa oleh walinya. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Baginda Nabi Saw, ketika ada seorang wanita mengadukan pernikahan paksa yang telah dialaminya. Rasululllah Saw memberikan pilihan kepada dia untuk melanjutkan atau menghentikan pernikahannya.

Kemudian wanita itu berkata:
قَدْ أَجَزْتُ مَا صَنَعَ أَبِي ، وَلَكِنْ أَرَدْتُ أَنْ تَعْلَمَ النِّسَاءُ أَنْ لَيْسَ إِلَى الْآبَاءِ مِنْ الْأَمْرِ شَيْءٌ
Sebenarnya aku telah merelakan apa yang dilakukan ayahku. Hanya saja, aku ingin agar para wanita mengetahui bahwa ayah sama sekali tidak punya wewenang memaksa putrinya menikah.” (HR. Ibn Majah 1874, dan dishahihkan oleh al-Wadhi’I dalam al-Shahih al-Musnad, hlm. 160).

Demikianlah kondisi-kondisi yang dibolehkan mem-fasakh pernikahan menurut syariat Islam. Selain keadaan tersebut, maka tidak boleh membatalkan pernikahan yang sudah diakui keabsahannya menurut hukum syara.

Tidak selayaknya seorang Muslim berupaya membatalkan akad yang sudah sah secara hukum Islam dengan pertimbangan apapun, seperti alasan bahwa pengantin belum cukup umur (padahal mereka sudah baligh dan telah berkeinginan untuk menikah) atau dalih demi Hak asasi manusia dan perlindungan hak anak.

Kita harus mewaspadai berlangsungnya pembatalan hukum syara tersebut. Karena di balik itu boleh jadi ada rencana terselubung untuk merongrong otoritas hukum Allah dan menggantikannya dengan hukum kufur. Jelas ini merupakan kemaksiatan yang besar yang tidak boleh dibiarkan terus terjadi.

Bahayanya bukan saja bagi pelakunya dicap sebagai pelaku dosa besar, namun yang lebih parah lagi akan menjauhkan umat dari penerapan Islam kaffah. Hukum Allah dikalahkan oleh aturan buatan manusia. Naudzu billahi min dzalika.

Padahal Allah SWT mengingatkan kita untuk tidak menyalahi ketetapan Allah dan Rasul (Al Ahzab[33] ayat 36). Allah juga menyampaikan pertanyaan retoris dalam firman Nya: “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS. Al Maidah[5], ayat 50).[]

%d blogger menyukai ini: