You are Too Smart to Be Moslem

Oleh: Ismail Yusanto

MuslimahNews.com — “Anda tidak mau disebut radikal. Tidak mau juga disebut fundamentalis. Lantas maunya disebut apa?” tanya wartawan Newsweek pada saya dalam satu kesempatan wawancara.

++++

Sebutan Islam radikal (radical Islam) dan Islam fundamentalis (fundamentalist Moslem), juga istilah Islam garis keras (hard-liner moslem) atau ekstrimis Islam memang harus ditolak karena itu semua adalah istilah peyoratif. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah peyoratif adalah unsur bahasa yang memberikan makna menghina dan merendahkan.

Bahasa membawa cerita. Demikianlah, tiap sebutan juga pasti mengandung citra dan cerita tertentu yang telah terbentuk atau dibentuk sebelumnya. Dan celakanya semua sebutan tadi telah memiliki citra yang buruk. “Radikalis”, “Fundamentalis”, “Ekstrimis”, “Garis Keras” adalah istilah-istilah dalam wacana (discourse) yang dikembangkan oleh Barat untuk menyebut kelompok atau individu Muslim yang menurut mereka eksklusif, doktriner, anti dialog, dan memusuhi Barat serta cenderung pada kekerasan.

Dan sekali Anda melakukan kekerasan, baik benar-benar Anda melakukan ataupun dibuat seolah-olah Anda melakukan, maka cap teroris akan melekat. Dan sekali dicap teroris, maka Anda akan menjadi pesakitan selamanya.

Itulah dahsyatnya hegemoni wacana. Dan melalui hegemoni itu, Noam Chomsky, profesor linguistik dari Institut Teknologi Massachusetts (MIT), AS, menyebut media Amerika Serikat telah memproduksi consent (imaji lewat media untuk memberikan sekutunya semacam hak untuk melakukan sesuatu yang salah secara hukum tapi berhak untuk tidak dituntut) ke dalam benak masyarakat.

Imaji lewat media itu dilakukan melalui serangkaian istilah-istilah yang terus disemburkan ke ruang publik melalui media yang memang telah didominasi oleh Barat. Jadilah publik, termasuk orang Islam sendiri, percaya bahwa janganlah menjadi orang Islam yang radikal, fundamentalis, ekstrimis, dan jangan pula masuk kepada kelompok garis keras (hard liner) karena itu semua adalah buruk.

Jadi, Anda maunya disebut apa? Kepada wartawan Newsweek, saya katakan, “Sebut kami, the Truly Moslem atau Muslim yang sebenarnya”. Ini istilah yang saya reka sendiri, meniru jargon pariwisata Malaysia yang dalam advetorialnya, mereka menyebut Malaysia sebagai the Truly Asia atau Asia yang sebenarnya.

Saya sendiri tidak tahu apakah istilah itu tepat atau tidak. Insya Allah sih, tepat. Maksudnya, istilah itu menggambarkan bahwa kita, dan tentu umat Islam lain, adalah orang-orang yang meyakini Islam sepenuhnya dan memahami serta mengamalkan seluruh ketentuan Islam dengan sebaik-baiknya.

Kenapa tidak digunakan saja istilah Muslim kaffah? Betul. Semestinya kita tidak kesulitan untuk menyebut siapa diri kita. Tapi itulah yang terjadi. Di era globalisasi seperti sekarang ini di mana Barat mendominasi hampir seluruh sendi kehidupan termasuk mendominasi ruang opini publik, ternyata kita direpotkan dengan istilah-istilah, sampai-sampai kita kesulitan menyebut diri kita sendiri.

Setelah sekian lama wawancara, saya balik bertanya kepada wartawan Newsweek, TV ABC dan NBC yang berbarengan mewawancarai saya, “Apakah Anda percaya orang seperti saya ini adalah teroris?”. Serentak mereka menjawab, “Oh, no, no…”. Sementara wartawan The Washington Post setelah wawancara dengan enteng nyelethuk, “You are too smart to be Moslem”.

Jadi benarlah, meeting makes changing. Pertemuan akan mengubah semua. Karena itu, mari kita rajin bertemu atau kontak dengan orang lain. Tentu bukan sekadar kontak, tapi kontak yang terarah (ittishalah maqsudah). Dengan kesungguhan dan penjelasan yang jelas dan tegas disertai keikhlasan yang berangkat dari semangat tauhid, pertemuan-pertemuan itu Insya Allah akan mampu mengubah sikap orang dari yang semula antipati menjadi simpati; dari menentang menjadi pendukung. Yakin.[]

%d blogger menyukai ini: