Pengamat Ekonomi: Menkeu Hanya ‘Menghibur’, Faktanya tak Ada Uang Berlebih dari Melemahnya Rupiah

MuslimahNews.com — “Kalau yang jadi pembandingnya adalah asumsi dasar APBN, tidak bisa disebut surplus riil. Kalau dalam istilah ekonomi-akuntansi, itu baru disebut potensial. Alias belum ada uangnya. Ibarat kita buat anggaran, ternyata realisasinya tidak sama, apakah layak disebut sebagai surplus?” Ungkap Nida Saadah kepada MNews, Pengamat Ekonomi dan Dosen Ekonomi Syariah di Surabaya (27/7/2018).

Sebelumnya, Menkeu Sri Mulyani mengatakan, “Setiap dolar mengalami kenaikan, kita masih surplus. Pos pendapatan lebih besar dari belanjanya. Untuk Rp 100 depresiasi, kita mendapatkan Rp1,7 triliun net,” sebagaimana dikutip Republika, Rabu (25/3/2018).

Jauh panggang dari api, kata Nida Saadah, bandingkan dengan APBN berbasis syariah yang disebut Baitul Mal. Penerimaan yang didapat adalah riil, tanpa ada dasar asumsi anggaran. Tidak ada upaya menganalisis APBN semata untuk menghibur diri, sementara faktanya tidak ada uang yang berlebih sama sekali.

“Baitul Mal di masa Khalifah Harun Al Rasyid, seorang Khalifah di era Abbasiyyah, surplus APBN nya diatas 900 dinar setara dengan nilai total penerimaan APBN Indonesia hari ini. Dan asset riil nya benar-benar ada di depan mata. Bukan hanya berupa hitungan potensial semata,” tukasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan yang menjadi sebab defisit APBN Indonesia, “Problem mendasar APBN Indonesia yang selalu defisit mulai dari Indonesia berdiri sampai hari ini, adalah karena terjerat utang dan mempraktekkan riba. Sementara pemasukan Baitul Mal dalam Negara Khilafah (pengelolaan harta negara, harta milik umat, harta zakat) terbukti menyejahterakan, dan membawa pahala. Sudah saatnya negeri Muslim terbesar di dunia ini, tunduk taat hanya kepada aturan Allah SWT semata.[] MNews

%d blogger menyukai ini: