Penjara dalam Pandangan Islam: Manusiawi tetapi Tidak Mengistimewakan

Oleh: Agus Trisa

MuslimahNews, FOKUS — Beberapa waktu yang lalu publik sempat dihebohkan dengan ditemukannya beberapa fasilitas mewah di dalam lembaga pemasyarakatan (penjara) Sukamiskin, Bandung oleh KPK. Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) 24 Juli 2018 mengungkapkan tentang adanya fakta adanya jual beli fasilitas di dalam Lapas Sukamiskin. Febri mengungkapkan adanya permintaan dan tawar menawar sebuah mobil dari seorang napi kepada kepala lapas.

Dalam sebuah tayangan visual bahkan sempat terlihat beberapa fasilitas mewah di dalam lapas seperti adanya pendingin ruangan (AC), televisi LCD, dispenser, peralatan fitnes, kasur busa, lemari kabinet, toilet duduk, dan shower air panas seperti yang ada di hotel-hotel mewah, juga terdapat alat komunikasi elektronik, dan sebagainya. Febri juga mengungkapkan adanya pemasangan tarif untuk ruangan penjara yaitu berkisar antara 200 sampai 500 juta rupiah. Luar biasa.

Peristiwa serupa pernah terjadi beberapa tahun yang lalu. Misalnya pada tahun 2010 yaitu ditemukannya fasilitas mewah kepada Artalyta Suryani alias Ayin. Pada tahun yang sama, mafia pajak Gayus Tambunan malah bisa jalan-jalan keluar sel. Kemudian tahun 2013, ditemukan fasilitas mewah dalam penjara Agusrin Najamuddin dan Freddy Chandra. Tahun 2017 ditemukan sel mewah milik Haryanto Chandra di Lapas Cipinang.

Tentu saja, berbagai fasiltas mewah ini hanya bisa didapat oleh para warga binaan (narapidana) yang memang memiliki harta banyak. Bagaimana dengan warga binaan yang tidak memiliki uang banyak? Jelas, mereka tidak akan mampu membayar fasilitas mewah seperti itu.

Peristiwa di atas jelas sekali melukai hati nurani masyarakat. Bagaimana bisa orang yang seharusnya dihukum atas suatu tindak kriminal, yang dengan hukuman itu diharapkan ada efek jera, tetapi malah mendapatkan fasilitas mewah seolah-olah kehidupan mereka sama sekali tidak merasakan seperti di dalam penjara?

Sudah seharusnya, sanksi yang dijatuhkan pengadilan harus mampu memberikan efek jera, sehingga bisa mencegah siapa saja untuk melakukan tindak kriminal. Ini tentu tidak sejalan dengan semangat pemberantasan kriminalitas.

Penjara dalam Pandangan Islam

Islam memandang bahwa penjara adalah salah satu jenis dari ta’zir. Ta’zir adalah sanksi yang kadarnya ditetapkan oleh Khalifah. Syaikh Abdurrahman al-Maliki dalam buku Sistem Sanksi dalam Islam menjelaskan, bahwa pemenjaraan memiliki arti mencegah atau menghalangi seseorang untuk mengatur diri sendiri. Artinya, kebebasan atau kemerdekaan individu untuk benar-benar dibatasi sebatas apa yang dibutuhkannya sebagai seorang manusia. Sanksi dengan model pemenjaraan, telah dicontohkan oleh Rasulullah saw dan Khulafaur Rasyidin.

Pada masa Rasulullah saw dan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, sanksi pemenjaraan itu kadang ditempatkan di dalam rumah, kadang di masjid. Artinya, belum dibuatkan ruang penjara secara khusus. Kemudian pada masa Khalifah Umar bin Khathab ra, beliau telah menjadikan rumah Shafyan bin Umayyah sebagai penjara setelah dibeli dari pemiliknya seharga 400 dirham. Kemudian Khalifah Ali bin Abu Thalib ra pernah membuat penjara yang diberi nama Nafi’an dan Makhisan.

Dalam buku Sistem Sanksi dalam Islam dijelaskan, bahwa penjara adalah tempat untuk menjatuhkan sanksi bagi orang yang melakukan kejahatan. Ini artinya, penjara adalah tempat dimana orang menjalani hukuman, yang dengan pemenjaraan itu seorang penjahat menjadi jera dan bisa mencegah orang lain melakukan kejahatan serupa.

Karena itu, penjara harus memberi rasa takut dan cemas bagi orang yang dipenjara. Tidak boleh ada lampu yang terang (harus remang-remang) dan segala jenis hiburan. Tidak boleh ada alat komunikasi dalam bentuk apapun. Hal itu karena ‘dia’ adalah penjara, tempat untuk menghukum para pelaku kejahatan. Tidak peduli, apakah dia miskin atau kaya; tokoh masyarakat atau rakyat biasa. Semua diperlakukan sama.

Namun demikian, bukan berarti negara bersikap tidak manusiawi. Seorang narapidana, tetap mendapatkan makan dan minum, hanya saja dibatasi. Boleh tidur, atau istirahat. Boleh dikunjungi keluarga atau kerabat dekat, dengan waktu kunjungan yang singkat. Bahkan, jika kepala penjara memandang perlu khusus untuk mendatangkan istri si narapidana, hal itu diperbolehkan. Tentu dengan melihat bagaimana perilaku si narapidana dan latar belakangnya.

Jadi, sungguh sangat manusiawi, namun bukan mengistimewakan. Bahkan di masa Khalifah Harun al-Rasyid, para narapidana dibuatkan pakaian secara khusus. Jika musim panas tiba, dipakaikan pakaian yang terbuat dari katun, sedangkan pada musim dingin dibuatkan pakaian dari wol. Dan secara berkala, kesehatan para narapidana ini diperiksa. Hal-hal semacam ini diperbolehkan.

Keunggulan Sistem Sanksi Islam

Dengan model penjara seperti di atas, tentu akan menimbulkan efek jera bagi pelaku kejahatan. Efek jera inilah yang memiliki fungsi sebagai zawajir (pencegah). Artinya, sanksi yang dijatuhkan akan mencegah pelaku yang bersangkutan atau orang lain untuk melakukan kejahatan serupa. Bahkan, setiap sanksi yang dijatuhkan oleh seorang qadhi atau hakim, juga berfungsi sebagai jawabir atau penebus dosa bagi para pelaku kejahatan. Sebab, setiap kejahatan yang dilakukan secara sadar dan sengaja merupakan dosa, dan dosa akan berbalas siksa atau adzab. Karena itulah, sanksi dari hukum Islam akan mampu menebusnya.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ubadah bin Shamit ra, bahwa Rasulullah saw bersabda,

بَايِعُونِي عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا تَسْرِقُوا وَلَا تَزْنُوا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ وَلَا تَأْتُوا بِبُهْتَانٍ تَفْتَرُونَهُ بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ وَلَا تَعْصُوا فِي مَعْرُوفٍ فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا ثُمَّ سَتَرَهُ اللَّهُ فَهُوَ إِلَى اللَّهِ إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ

Berbai’atlah kalian kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kalian, tidak membuat kebohongan yang kalian ada-adakan antara tangan dan kaki kalian, tidak bermaksiat dalam perkara yang ma’ruf. Barangsiapa diantara kalian yang memenuhinya maka pahalanya ada pada Allah dan barangsiapa yang melanggar dari hal tersebut lalu Allah menghukumnya di dunia maka itu adalah kafarat (denda, penebus) baginya, dan barangsiapa yang melanggar dari hal-hal tersebut kemudian Allah menutupinya (tidak menghukumnya di dunia) maka urusannya kembali kepada Allah, jika Dia mau, dimaafkannya atau disiksanya“.

Hadis ini menjelaskan bahwa sanksi dunia diperuntukkan untuk dosa tertentu, yakni sanksi yang dijatuhkan negara bagi pelaku dosa, dan ini akan menggugurkan sanksi akhirat. Karena itulah, Ma’iz bin Malik al-Aslami mengakui perzinaannya di hadapan Rasulullah dan meminta beliau untuk merajamnya. Ma’iz berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي قَدْ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَزَنَيْتُ وَإِنِّي أُرِيدُ أَنْ تُطَهِّرَنِي

Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku, karena aku telah berzina, oleh karena itu aku ingin agar anda berkenan membersihkan diriku.”

Setelah Rasulullah memastikan bahwa pengakuannya benar, maka Rasulullah saw. pun membuatkan lubang eksekusi dan merajamnya hingga meninggal dunia.

Begitu juga dengan seorang wanita dari Bani Ghamidiyah. Dia datang kepada Rasulullah saw, meminta untuk dihukum rajam karena mengaku telah berzina sebagaimana Ma’iz bin Malik. Kemudian Rasulullah memintanya untuk melahirkan bayinya terlebih dahulu. Setelah bayi yang dikandungnya lahir dan selesai disapih, wanita itu datang lagi kepada Rasulullah saw. dan minta dihukum rajam. Kemudian Rasulullah saw. pun merajamnya.

Bisa kita renungkan, apa yang menyebabkan seorang Ma’iz dan seorang wanita Ghamidiyah meminta untuk dirajam hingga tewas? Hal ini tidak lain karena mereka mengetahui bahwa kejahatan yang mereka lakukan, kelak akan dibalas oleh Allah di akhirat seandainya kejahatan tersebut tidak ditebus di dunia. Ini artinya, sanksi atau sistem hukum Islam tidak hanya berperan sebagai pencegah (pencegah manusia berbuat kejahatan), namun juga berfungsi sebagai penebus dosa atas kejahatan yang dilakukannya.

Dan kita lihat, betapa negara berhasil mendidik ketakwaan warga negaranya, sampai-sampai rasa takutnya kepada Allah jauh lebih tinggi daripada rasa takutnya akan kematian. Bahkan, kematian itu sama sekali tidak ditakutinya. Wallahu a’lam[]

%d blogger menyukai ini: