Ustaz Hari Moekti, Tinggalkan Gelap Panggung Hiburan menuju Terang Benderang Jalan Dakwah Islam

MuslimahNews, FEATURE — Angin di Caringin (Bogor) hari ini menghembuskan hawa dingin, namun sesak dada tak bisa disembunyikan dari kabar duka Minggu malam kemarin(24/6/2018).

Haru tercium pekat sejak kira-kira lima kilometer sebelum sampai ke tempat disemayamkan jenazahnya, Al-Liwa dan Ar-Rayah berkibar menjadi penunjuk jalan. Tak ada yang tak kenal dengannya, meski dia tak tinggal di daerah itu, tapi harum namanya semerbak. Bukan sebagai penyanyi yang dijuluki “Kutu Loncat” karena hobinya yang melompat-lompat sambil bernyanyi genre rock, tapi sebagai ahli sedekah dan pengemban risalah Nabi menyebarkan kebaikan dengan dakwah menegakkan Islam di penjuru negeri.

Ustaz Hari Moekti, dia meninggalkan gelap dunia hiburan yang membesarkan namanya, menuju cahaya dakwah yang menjadi jembatan dia menemukan bahagia yang hakiki. Hingga meninggal, beliau istikamah dalam perjuangan menegakkan Khilafah bersama saudara seakidah yang padat penuh pada prosesi pemakaman beliau. Setiap mata yang menyaksikan akan takjub, syahdu dalam haru, dan tak bisa menolak cemburu yang besar atas nikmat yang diterima Ustaz Hari Moekti menjelang kepulangannya. Penuh sesak, “Sejak semalam, pas kabar (meninggalnya Ustaz Hari Moekti) itu, banyak sekali orang yang datang,” ujar Teh Dedek, tetangga beliau. Bahkan dalam pantauan MNews, sejak pagi hingga siang, kediamannya terus didatangi peziarah, Senin (25/6/2018).

Abi bahagia di dunia barunya, dia mengajak seluruh keluarganya untuk ikut berhijrah juga. Kami sangat bahagia sekali, dakwahnya luar biasa. Dia suaranya keras, tapi penuh kasih sayang,” ujar Bunda Rina, adik kandung Ustaz Hari Moekti menjelaskan karakter dakwahnya yang lemah lembut dan tegas.

Bunda menjelaskan, pesan yang diingatnya saat masa-masa sebelum almarhum meninggal dunia, “Tiga kali pertemuan terakhir ini, pesannya untuk mencari bekal di akhirat nanti. Jadi jangan larut dalam urusan dunia, jangan menjadi pengumpul sampah, cari bekal untuk mati. Karena besok atau lusa mungkin kalian akan dipanggil. ‘Kita gak tau apakah kamu, aku yang dipanggil,’ itu yang terakhir Abi katakan,” Bunda Rina menangis tak sanggup menahan harunya.

Jadi nasehat Abi luar biasa, kata Bunda, “Kami ingin seperti Abi, kami sayang sama Abi. Abi itu luar biasa sekali,” tukasnya lalu menjelaskan bahwa Ustaz Hari berada di Bandung dalam urusan dakwahnya, terjadwal beliau mengisi sebuah forum sebelum nyawa lepas dari raganya tersebab serangan jantung.

Mantan rocker yang menurut Bunda Rina dijuluki “Si Kutu Loncat” ini mengajak seluruh keluarganya untuk melebur dalam aktivitas dakwah, “Dakwah memang wajib. Kita wajib melakukan dakwah itu. Kakak saya yang seorang rocker dia sanggup seperti ini. Ini luar biasa sekali. Dakwah ini indah, sudah suatu kebutuhan. Sulit mengungkapkannya, Abi luar biasa perjuangannya dalam dakwah ini,” kenang Bunda.

Sejak hijrahnya, Islam menjadi panglima dalam hidup. Sehingga timbangan baik buruk diletakkan Da’i tujuh belas bersaudara ini kepada syariat Islam sebagai penentu. Menjelang perginya, kata Bunda, yang dibahasnya selalu tentang kematian. Bahkan menurut Umi yang turut hadir dalam diskusi kami, buku terakhir Ustaz Hari yang dibuat tentang kematian, “Baru mau terbit, Ramadan baru selesai,” kata Umi yang merupakan adik ipar Ustaz Hari Moekti.

Umi punya pengalaman manis dalam perjalanan dakwah Ustaz Hari Moekti, “Saya ada di barisan dakwah juga berkat beliau. Beliau gak hanya dakwah di luar, di dalam keluarga selalu mengingatkan. Abi itu motivator untuk adik-adiknya,” Umi kemudian menjelaskan bahwa Ustaz Hari pun gencar mengajak taubat adik kandungnya yang ke 13, yaitu suami dari Umi yang kini mendirikan Paguyuban Artis Tobat, Ustaz Moekti Chandra.

Pesan Ustaz Hari dia kenang, “Dakwah pasti ada pro dan kontra, kita selalu berdoa, selalu istikamah. Selalu mengerjakan perintah Allah, terus menuntut ilmu, istikamah di jalan dakwah perjuangan menegakkan Islam,” sambil mengusap air matanya.

Militansinya teruji, Ustaz Hari membuktikannya kepada semua orang yang hari ini menyaksikan geliat dakwahnya sampai akhir hayat. “Pagi operasi ring jantung, siang sudah terbang ke Medan untuk dakwah. Panggilan dakwah.” Umi mengisah saat Ustaz Hari menomorsatukan dakwah, dia yakin hidup dan mati ada di tangan Allah. Selagi nyawa masih di dalam raga, maka kesempatan itu harus digunakan untuk Islam, untuk ketaatan kepada Allah.

Menurutnya, Ustaz selalu bersemangat, mereka sering berbagi cerita tentang kondisi umat, almarhum tak pernah memperlihatkan rasa sakitnya, “Gak pernah mengeluh meskipun dalam keadaan sakit. Abi itu pernah bilang, ‘Kita banyak dosa, kita kejar untuk menghapusnya dengan taubat dan dakwah.'”

Saat kami masuk menemui istri Ustaz Hari Moekti, beliau sempat berbisik, “Titip minta minta maaf, minta ridanya,” terisak tangis dia mohonkan agar seluruh jamaah yang pernah mendengar dakwahnya untuk memaafkan jika terdapat kesalahan dari suaminya.

Sesaat kemudian, saat MNews sedang berdiskusi dengan Umi dan Bunda Rina, seorang Muslimah adik kandung Ustaz Hari Moekti yang tadinya duduk bersanding menemani istri almarhum, keluar sambil menangis tersedu, “Semua orang menangis, sakit melihatnya, saya gak kuat. Sakitnya luar biasa, ditinggal pergi gitu. Semua orang ngucapin,” matanya terus basah, sesekali dia memegang kepalanya. Dia begitu kehilangan figur teladan seorang kakak.

Kesedihan mendalam tak hanya dirasakan keluarganya, tetangga-tetangga pun turut beduka. “Sedih, terharu. Suka berbagi, ke sini suka ceramah. Buka bersama. Gak sombong, selalu nanya. Beliau sering sedekah, ke tetangga di sini juga apalagi,” jelas Teh Dedek mengenang kedermawanan Sang Mantan Rocker.

Apalagi nanti kalo lebaran haji, udah pada ditungguin, beliau selalu berkurban di sini,” tukas Bu Mamas.
Para tetangga Ustaz Hari tak menyangka akan sebanyak itu manusia yang hadir dalam pemakamannya, seolah tak ada habisnya. Hal ini menambah kekaguman mereka akan sosok Da’i pejuang Khilafah itu. Pemakaman yang juga menjadi momentum mengenalkan kepada umat tentang panji Islam dan apa yang diperjuangkan oleh Ustaz Hari Moekti (yaitu Khilafah) adalah satu bagian dari banyak pahala yang dengan izin Allah akan terus mengalir kepada beliau.

Banyak kesan dari setiap pribadi. Hari ini Ustaz Hari Moekti menjadi sejarah, dia melepas jubah hitam kelam dunia hiburan, memakai jubah kemuliaan perjuangan Islam sampai nyawa terlepas dari badan. Sungguh indah, sungguh istimewa. Seorang artis terkenal yang dalam genggamannya dunia, lalu dilemparkan hina dunia itu agar tunduk patuh di hadapan dakwah. Kemudian, di jalan dakwah yang penuh duri ini pula dia temukan ketenangan dan bahagia yang tak pernah habis.

Ustaz Hari Moekti menukar dunia dengan surga dan rida Allah, dia tak terjebak nikmat semu popularitas dan segala pernak perniknya yang menghipnotis. Sebagaimana pesannya kepada adiknya tersayang, “Jangan menjadi pengumpul sampah.”

Meski jalan dakwah ini kembali kehilangan pejuangnya, tapi waktu terus bergulir menuju janji Allah yang tak tertolak. Sehingga meneruskan perjuangan Ustaz Hari Moekti dan pendahulunya adalah kewajiban kita semua, berhenti menjadi pengumpul sampah dunia dan berbelok menuju jalan Allah.

Apa yang dilakukan Ustaz Hari Moekti, semua pengorbanan dan kontribusinya untuk Islam, adalah hujjah-nya di hadapan Allah kelak, juga sebagai pembakar semangat bagi kita yang melanjutkan. Sebagaimana dia, sampai Allah menangkan agama ini, atau kita binasa dalam memperjuangkannya.[] MNews

%d blogger menyukai ini: