KTT Antara Presiden AS dan Presiden Korut

بسم الله الرحمن الرحيم

Jawab Soal

KTT Antara Presiden AS dan Presiden Korut

Soal:

Telah diselenggarakan KTT antara presiden AS dan presiden Korut yang mempertemukan presiden kedua negara Trump dan Kim Jong Un pada 12 Juni 2018 di Singapura. Keduanya menandatangani dokumen bersama di penutupan KTT.

Kesepakatan itu dicapai dengan cepat. Perlu diketahui bahwa ketegangan antara AS dan Korut telah mencapai puncaknya pada tahun lalu di mana masing-masing mengancam akan menyerang yang lain dengan senjata nuklir. Lalu bagaimana tercapai kesepakatan dengan kecepatan semisal itu? Apa isi dan hasil dari kesepakatan itu?

Jawab:

Agar kami jelaskan perkara tersebut kami paparkan perkara-perkara berikut:

1- Amerika berupaya melalui ancaman yang berulang dan makin kuat untuk membuat Korea Utara sepakat berlepas diri dari senjata nuklirnya. Akan tetapi berbagai ancaman ini tidak bermanfaat. Korea Utara tidak tunduk dan tidak berlepas diri dari program dan senjata nuklirnya… Ketika itu, Amerika merujuk kepada cara-cara lain, yaitu cara diplomasi, politik dan tekanan-tekanan ekonomi. Di antara cara-cara ini adalah Amerika mengerahkan daya upaya untuk membuat China menekan Korea Utara.

Kami telah menyebutkan di Jawab Soal tanggal 23 April 2018: (karena semua itu, Amerika tidak siap untuk berperang di Korea Utara saat ini. Dan Amerika tidak memiliki solusi lain yang tepat. Amerika menunggu China melakukan tekanan. Amerika berusaha mempercepat hal itu. Seolah Amerika mengancam China atas wajibnya berpihak kepada Amerika dan terlibat dalam menekan Pyong Yang untuk melucuti senjata nuklirnya…).

Amerika pada waktunya mengumumkan dengan jelas melalui lisan asisten menteri luar negeri untuk urusan Asia Timur dan lautan Pasifik Susan Thornton bahwa Amerika ingin menyelesaikan masalah dengan Korea Utara melalui pelucutan senjata nuklir secara damai di semenanjung Korea (Russia today, 19/4/2018).

Maka dimulailah komunikasi diplomatik di antara kedua pihak melalui China dan dengan tekanan China. Tekanan dilakukan melalui penjatuhan sanksi-sanksi ekonomi, embargo politik dengan mengisolasinya secara internasional dan propaganda melawan Korut untuk memaksanya tunduk dan siap untuk melucuti senjata nuklirnya. Hal itu masih ditambah dengan rayuan berupa janji-janji perekonomian makmur secara langsung dan melalui Korea Selatan yang mulai saling mendekat dengan Korut dan dengan keterbukaan internasional terhadap Korea Utara.

2- Komunikasi diplomasi rahasia mulai dilakukan melalui China di mana mantan menteri luar negeri Tillerson melakukan kontak dengan para pejabat Korea Utara melalui China pada Juli 2017.

Dia menampakkan penentangannya terhadap pendekatan ceroboh Trump yang mengancam akan melenyapkan Korut dari muka bumi sementara Tillerson secara rahasia melakukan pembicaraan dengan Korea Utara di China! Ketika para pejabat Korut mendengar ancaman-ancaman Trump mereka meninggalkan pembicaraan dan meninggalkan China kembali ke negara mereka… Kemudian Tillerson marah dan menggambarkan Presidennya sebagai bodoh pada 20/7/2017 seperti yang diungkap oleh saluran televisi NBC Amerika pada 4/10/2017 ketika mengutip hal itu dari tiga orang pejabat Amerika.

Trump ketika itu menulis dalam tweet-nya sehari setelah Tillerson mengumumkan bahwa Amerika memiliki saluran komunikasi langsung dengan Korea Utara. Trump menulis dalam tweet-nya “Saya telah katakan kepada Rex Tillerson menteri luar negeri kami yang luar biasa bahwa dia membuang waktu dalam upaya negosiasi dengan pria rudal kecil”. Penggunaan ancaman semisal ini juga terjadi selama pembicaraan ketika wapres Mike Pence bertemu dengan orang-orang Korea Utara di Korea selatan saat Pence datang ke Korsel dengan alasan berpartisipasi dalam olimpiade musim dingin. Pence mengungkapkan hal itu melalui pidatonya pada 7/2/2018 di depan pasukan Amerika yang ada di pangkalan udara militer Yokota di Jepang.

Dia mengatakan bahwa “Negaranya akan terus berusaha untuk perdamaian dan kami akan bekerja lebih dari waktu sebelumnya untuk masa depan yang lebih baik…” (Reuters, 7/2/2018).

Dia mengatakan hal itu ketika sedang bersiap pergi ke Korea Selatan dalam upaya bertemu dengan para pejabat Korea Utara di bawah kover menghadiri pembukaan olimpiade musim dingin di Pyeongchang 80 km dari perbatasan Korea Utara.

Akan tetapi Pence tiga hari setelah itu pada 10/2/2018 menyatakan: “Penting sekali terus mengisolasi Korea Utara secara ekonomi dan diplomasi sampai ketika Korea Utara berlepas diri dari program nuklir dan rudal balistiknya” (Al-‘Arabiya, 10/2/2018). Ini yang mendorong Korea Utara menghapus pertemuan dengan Pence.

Semua itu menunjukkan bahwa pendekatan politik Amerika yang digunakan Trump adalah penggunaan berbagai ancaman untuk menekan guna mencapai hasil akhir selama pembicaraan dan komunikasi diplomatik untuk membuat hasil akhir itu tunduk pada apa yang diinginkan oleh Amerika.

Hal itu juga ditegaskan oleh apa yang dikatakan oleh Mike Pompeo ketika menerima jabatan Direktur CIA, “Presiden Trump memfokuskan pada solusi diplomatik untuk krisis dengan Korea Utara tetapi CIA memasoknya dengan sejumlah opsi lainnya” (Reuters, 23/1/2018).

Begitulah, bersama solusi diplomasi itu dicampurkan juga opsi-opsi lainnya yang memberikan ancaman. Tampaknya pendekatan ini -yakni ancaman selama pembicaraan solusi diplomatik- tidak membuat takjub Tillerson, karena di dalamnya ada masalah baginya sebagai menteri luar negeri, maka Trump pun memecatnya.

3- Begitulah, pendekatan ini tidak berguna terhadap Korea Utara. Korea Utara memutus negosiasi jika ada semacam ancaman. Seandainya tidak ada intervensi China niscaya KTT tersebut tidak bisa diselenggarakan. Karena itu Trump pasca KTT dengan Kim Jong Un dalam konferensi pers di Singapura, Trump menyampaikan terima kasihnya kepada presiden China Xi Jinping yang telah mengerahkan daya upaya pada bulan-bulan lalu untuk memfasilitasi KTT bersejarah ini (AFP, 12/6/2018).

China telah melakukan tekanan-tekanan terhadap Korea Utara agar memberikan konsesi. Kantor berita resmi China Xinhua pada 28/3/2018 menyebutkan bahwa pemimpin Korea Utara Kim Jong Un melakukan kunjungan tak resmi ke China dari hari Ahad 25/3/2018 hingga Rabu 28/3/2018. Keduanya (Kim Jong Un dan Xi Jinping) mendiskusikan secara menyeluruh situasi di dunia dan semenanjung Korea. Dan bahwa presiden China Xi Jinping menyampaikan kepada sejawatnya presiden Korea Utara bahwa “China berkomitmen dengan tujuan pelucutan senjata nuklir di semenanjung Korea dan jaminan adanya perdamaian dan kestabilan, dan begitu juga solusi permasalahan melalui dialog dan negosiasi.” Kantor berita Korea Utara mengutip bahwa pemimpinnya Kim Jong Un melakukan kunjungan ke China untuk memberi ucapan selamat secara pribadi kepada Xi Jinping atas terpilihnya kembali sebagai presiden China, sesuai dengan tradisi persahabatan kedua negara… Dan bahwa “Kim Jong Un mengungkapkan harapannya agar kunjungan pertamanya ke China berkontribusi pada tegaknya perdamaian dan kestabilan di semenanjung Korea seraya dia mengumumkan kesiapannya untuk melakukan dialog dengan Amerika dan Korea Selatan terlebih melakukan pertemuan dengan para pemimpin AS dan Korsel”.

Kim Jong Un menambahkan, “Pelucutan senjata nuklir di Korea mungkin ketika Washington mengambilnya dan akan menjadi langkah-langkah simetris dan koaktif untuk merealisasi perdamaian”. Karena itu Trump dalam akun Twitter-nya mengumumkan pada 28/3/2018 bahwa dia gembira dengan apa yang dicapai dari kunjungan Kim Jong Un itu. “Saya kemarin sore menerima pesan dari presiden China yang isinya bahwa pertemuannya dengan Kim Jong Un berjalan dengan baik sekali dan bahwa Kim mengharapkan pertemuan dengan saya”.

Maka China menyodorkan Korea Utara sebagai pengorbanan untuk Amerika demi kepentingan China. China melakukan tekanan-tekanan terhadap Korea Utara sampai membuat presiden Korea Utara siap memberikan konsesi dan bertemu dengan si arogan Trump.

Apalagi bahwa China telah ikut serta secara riil dalam tekanan-tekanan politik dan dalam mengambil keputusan di Dewan Keamanan dan menetapkan sanksi-sanksi terhadap Korea Utara. Maka hal itu menjadi faktor berpengaruh dalam membuat Korea Utara siap memberikan konsesi terkait program nuklirnya. Korea Utara berpandangan jika kehilangan dukungan dan topangan China dan kemudian China mengembargonya dan mempersulitnya, maka Korea Utara akan merasakan dua kepahitan sekaligus! Oleh karena itu Korea Utara memberikan konsesi!

Kementerian luar negeri China mengungkap perannya yang berpengaruh dalam keputusan Korea Utara. Kementerian luar negeri China mengumumkan bahwa “Peking melakukan peran positif di semenanjung Korea” (Reuters, AFP, 23/5/2018).

China menampakkan diri concern terhadap pencapaian kepentingan perdagangannya dengan Amerika lebih banyak dari perhatiannya terhadap sekutu China yang tidak China merealisasi keuntungan perdagangan darinya, tetapi boleh jadi malah mengalami bahaya secara ekonomi disebabkan sekutunya itu meski sekutunya itu merupakan teman komunis. Tampak bahwa perhitungan-perhitungan negara komunis besar adalah keuntungan perdagangan dan bukannya perlindungan terhadap negara komunis lain yang menjadi sekutunya! Seolah China tidak paham bahwa Amerika, yang sedang berupaya melucuti senjata Korea Utara, tidak lain memanfaatkan masalah ini untuk mengepung China dan menghalangi kontrol China terhadap wilayah laut China timur dan selatan!

4- Hal itu ditegaskan oleh pengumuman China atas sambutannya terhadap KTT tersebut dan pengumuman sekutunya Korea Utara atas konsesinya dari senjata nuklirnya untuk Amerika. Diplomat senior China dan anggota Dewan Negara China Wang Bi pasca KTT tersebut menyebutkan, “Peking menyambut baik dan mendukung KTT antara presiden Amerika Trump dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Peking berharap kedua negara (AS dan Korea Utara) mencapai kesepakatan mendasar terhadap pencapaian pelucutan senjata nuklir”. Dia menambahkan, “Pada waktu yang sama, di situ ada kebutuhan kepada mekanisme perdamaian untuk semenanjung Korea guna memupus kekhawatiran keamanan Korea Utara yang bersifat regional” (Reuters, 12/6/2018).

China seandainya memiliki kesadaran politik yang memadai dan kehendak politik yang kuat niscaya tidak menekan Korea Utara yang menjadi sekutunya dengan bentuk ini! Tetapi, terbukti bahwa cakrawala dan kesadaran politik China terhadap politik internasional masih sempit dan kehendak politiknya masih lemah, sehingga China mencukupkan diri dengan hubungan perdagangannya dengan Amerika tetap baik sebagai kompensasi China menundukkan Korea Utara. China tidak melihat jauh ke depan seputar bagaimana perkara itu ke depannya. Tidak dijauhkan kemungkinan, Amerika merekrut Korea Utara dan akhirnya Korea Utara menjadi lebih dekat ke Amerika daripada ke China. Amerika telah berusaha untuk membuat persatuan atau federasi antara dua Korea menjadi Korea baru yang terpisah dari pengaruh China. Contoh Vietnam tidaklah jauh di mana Vietnam menjadi menentang China setelah Amerika menyatukan Vietnam Selatan dengan Vietnam Utara dalam perjanjian Paris tahun 1975!

5- China memiliki peran mendasar dalam membuat Korea Utara menyetujui pertemuan KTT dan membuat masalah pelucutan senjata nuklir ada dalam daftar pembicaraan tanpa disertai pembahasan pelucutan senjata nuklir Amerika padahal Amerika adalah satu-satunya negara yang pernah menggunakannya dan menyebar kerusakan di muka bumi, tetapi tekanan China memiliki pengaruh efektif untuk terjadinya hal itu! Begitulah akhirnya diselenggarakan KTT tersebut… Dimungkinkan KTT itu berlangsung selama dua hari dan diperpendek menjadi satu hari dan disepakati kerangka menyeluruh, satu hal yang menunjukkan cepatnya tanggapan positif Korea Utara dengan apa yang diinginkan oleh Amerika.

Korea Utara menghancurkan situs eksperimen uji coba nuklir untuk membuktikan kesiapannya melepaskan program nuklirnya. Demikian juga Korea Utara melepaskan tiga orang warga Amerika yang ditahan di Korea Utara. Trump menampakkan kegembiraannya atas apa yang diraihnya. Dia berkata, “KTT itu sangat luar biasa dan meraih kemajuan besar”. Sementara itu Kim Jong Un menganggap KTT itu sebagai peristiwa bersejarah. Dia mengatakan, “Dunia akan melihat perubahan besar” (Reuters, 12/6/2018).

Trump dan Kim menandatangani pernyataan bersama yang terdiri dari empat poin:

Pertama, kedua pihak berkomitmen membangun hubungan baik sesuai dengan harapan kedua bangsa itu terhadap perdamaian dan kemakmuran.

Kedua, kedua pihak akan bekerja membangun dan memperkuat perdamaian yang langgeng dan stabil di semenanjung Korea.

Ketiga, Korea Utara berkomitmen mengambil langkah-langkah untuk melucuti secara menyeluruh senjata nuklir di semenanjung Korea.

Keempat, berkaitan dengan aspek kemanusiaan dengan janji mengembalikan jasad yang hilang dan tawanan Amerika sejak perang Korea Amerika (1950-1953). Trump menggambarkan perjanjian itu sebagai “Menyeluruh dan sangat penting”. Dan Kim berjanji di dalam pernyataan itu ke arah “Pelucutan menyeluruh senjata nuklir di semenanjung Korea” (BBC, 12/6/2018).

Pernyataan itu menunjukkan bahwa ada kesepakatan yang bersifat kerangka, dan bukan kesepakatan poin-poin yang menentukan apa yang disepakati dan tata cara pelaksanaan pelucutan senjata nuklir, mekanisme, waktu dan pengawasan atas pelaksanaannya dan perkara lainnya yang harus disepakati menjelang pelaksanaannya segera sebagaimana yang terjadi dalam perjanjian nuklir dengan Iran, di mana semua rinciannya dituliskan di dalam perjanjian…

6- Berdasarkan hal itu maka kemungkinannya Amerika akan melakukan negosiasi dan pembicaraan panjang dengan Korea Utara yang boleh jadi berlangsung bertahun-tahun. Tampak bahwa Trump ingin merealisasi kesepakatan awal yang cepat dan mengenyampingkan masalah dengan Korea Utara di mana Trump telah mengeluarkan berbagai ancaman dan dia tidak bisa menarik diri darinya kecuali dengan mencapai sesuatu yang menampakkan bahwa dia berhasil sehingga Korea Utara tunduk. Seperti yang kami katakan di atas, seandainya tidak ada tekanan-tekanan China niscaya ancaman-ancaman Trump tidak akan menghasilkan KTT ini dan tidak menghasilkan pengumuman Korea Utara atas kesiapannya untuk melucuti senjata nuklirnya dan mau menandatangani hal itu, dan berikutnya Trump pun mencatatkan kemenangan bersejarah untuk dirinya yang mungkin saja bisa memudahkannya berhasil dalam pemilu keduanya sebagai presiden Amerika ketika diselenggarakan dua setengah tahun mendatang, menutup semua skandal yang diungkap atas dirinya dan belum berhenti hingga sekarang, dan tuduhan-tuduhan kegagalannya serta kritik pihak lain terhadap kecerobohan dan kebodohannya.

Hal itu dibuktikan oleh pernyataan Trump sendiri. Dia mengatakan, “Kim Jong Un menyampaikan kepada saya bahwa negaranya secara riil mulai bekerja menghancurkan fasilitas eksperimen penggerak rudal… Kami akan mencabut sanksi-sanksi ketika kami memastikan langkah-langkah penting dalam masalah pelucutan senjata nuklir… Kami tidak mundur dari sesuatupun selama perundingan… Kami akan menghentikan manuver militer yang menyasar Korea Utara…. Saya akan mengundang Kim Jong Un ke Gedung Putih pada waktu yang tepat”.

Trump mengatakan bahwa dia bersama Kim Jong Un menandatangani perjanjian pelucutan senjata nuklir. “Saya yakin bahwa kami punya kerangka kerja yang dibutuhkan untuk persiapan pelucutan senjata nuklir Korea Utara” (Al-Jazeera, 12/6/2018). Begitulah, Trump ingin menghentikan ketegangan dengan Korea Utara untuk menampakkan bahwa dengan itu dia meraih kemenangan besar.

7- Penghentian ketegangan dengan Korea Utara atau peredaannya membantu Trump agar bisa leluasa untuk perang dagangnya dengan para sekutu dan musuhnya! Hubungannya dengan sekutu-sekutunya mengalami ketegangan ketika dia mengumumkan bahwa dia mewajibkan bea masuk yang tinggi untuk ekspor baja dan aluminium para sekutu itu ke Amerika. Trump menganggap perjanjian perdagangan dengan mereka terdahulu tidak adil. Maka Trump menulis di akun twitter-nya pada 8/6/2018 sementara dia pergi ke KTT G7 di Quebec Kanada, “Saya mengharapkan penilaian berbagai perjanjian dagang yang tidak adil dengan negara-negara G7. Jika ini tidak terjadi maka kami akan keluar dalam situasi yang lebih baik untuk kami”. Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau dan presiden Perancis Macron dalam konferensi pers bersama, menolak langkah-langkah Trump itu. Keduanya mengatakan di dalam konferensi pers itu, “Bahwa keduanya tidak siap menerima segala hal untuk dikeluarkan pernyataan bersama dengan Amerika” (AFP, 6/6/2018).

Trump pun menuduh Perancis dan Kanada menetapkan pajak besar terhadap komoditi Amerika. Trump menuduh perdana menteri Kanada, Trudeau bahwa dia “sangat dengki”. Pejabat Kanada mengatakan kepada para wartawan pada 7/6/2018: “Di situ ada beberapa perbedaan pendapat besar tentang banyak masalah” (Reuters, 8/6/2018). Sampai-sampai presiden Perancis Macron yang bekerja membangun kedekatan Perancis Amerika, tidak lagi bisa menahan emosinya, berusaha mengkomplain Amerika dan berusaha secara tidak langsung dan berputar-putar yang tidak menjadi keahlian orang-orang Perancis sebaliknya menjadi keahlian orang-orang Inggris, Macron mengatakan: “Enam anggota G7 mungkin untuk membentuk kelompok mereka sendiri jika masalahnya mengharuskan hal itu”. Dia menambahkan, sebagai kritik terhadap Trump bahwa dia “Tidak ada pemimpin yang bertahan selamanya” (Reuters, 8/6/2018).

Kelicikan Inggris tampak ketika Inggris ingin memperlihatkan tidak menerima reaksi ini agar sebelah kakinya tetap ada di Amerika sementara Inggris memobilisasi pihak lain menentang Amerika. Perdana Menteri Inggris Mae mengatakan di depan para wartawan, “Bahwa dia ingin agar Uni Eropa berkomitmen menahan diri dalam merespon cukai Amerika, dan jika menolak maka harus sesuai hukum” (Reuters, 8/6/2018).

Kanselir Jerman mengatakan dalam sebuah wawancara dengan televisi Jerman ARD pada 10/6/2018 seputar keputusan Trump menarik tanda tangannya: “Ini mengecewakan, ini memupus harapan kali ini, tetapi ini bukan akhir”. Menteri luar negeri Jerman Haiku Mas dalam tweet-nya di Twitter merespon tweet Trump mengatakan, “Tweet Trump menghancurkan kepercayaan yang sangat besar”. Ketegangan di KTT G7 yang digelar di Kanada mencapai puncak dengan adanya serangan terhadap Trump oleh para pemimpin negara lainnya yang berpartisipasi dalam KTT G7 itu. Trump menarik kembali tanda tangannya terhadap pernyataan bersama KTT G7 itu. Trump menuduh perdana menteri Kanada yang memimpin KTT bahwa dia tidak netral dan lemah (AFP, 10/6/2018).

Trump meninggalkan KTT sebelum berakhir, seperti halnya dia datang terlambat. Begitulah, tampak bahwa ada perang dagang yang telah meletus. Trump telah mengumumkannya pada 2/3/2018 ketika ia menulis tweet-nya, “Ketika negara merugi miliaran dolar dalam perdagangan dengan semua negara yang bertransaksi dengan Amerika kurang lebih, maka perang dagang adalah baik dan mudah mendapatkannya”.

Semua ini menunjukkan bahwa masalah perang dagang sangat penting bagi Amerika. Di mana Amerika masih terus menderita dari dampak krisis finansial yang meletus tahun 2008. Utang Amerika mencapai lebih dari 20 triliun dolar. Presiden Trump yang memiliki pola pikir bisnis bekerja menyelamatkan perekonomian Amerika, dia mengangkat slogan “America first”. Hal itu memperingatkan terpecahnya institusi-institusi global selama digunakan oleh Amerika untuk memaksakan pengaruhnya secara global, dan berikutnya terpecah pula sistem global dan muncul sikap internasional baru yang menganggap Amerika tidak mau berkorban demi tetap memimpin dunia dengan bantuan negara-negara lain dan mentolerir neraca perdagangan condong ke negara lain. Tetapi Amerika hanya berpikir tentang kepemimpinan disertai keuntungan komersial, tanpa bantuan sekutunya agar sekutu-sekutu Amerika itu tetap di bawah payungnya dan berjalan di belakangnya.

8- Amerika tidak mau terikat dengan perjanjian apapun dan segera membatalkannya atau berlepas diri darinya jika memandang bahwa kepentingannya mengharuskan melanggar dan mengingkarinya. Amerika telah melakukan semisal itu dengan Korea Utara tahun 2003 pada masa George Bush Jr. Amerika membatalkan perjanjian yang ditandatangani dengan Korea Utara tahun 1994 pada masa Clinton. Dan presidennya sekarang, Trump menandatangani pernyataan bersama dengan sekutu-sekutunya di KTT G7 di Kanada dan berikutnya sehari setelahnya dia membatalkan perjanjiannya dan menarik kembali tanda tangannya. Trump telah membatalkan perjanjian nuklir Iran yang ditandatangani pada masa Obama tahun 2015. Perjanjian dengan Korea Utara pun tidak terjamin. Amerika akan mengancam membatalkannya untuk menekan Korea Utara agar menjalankan ketika Amerika mulai bernegosiasi seputar hal itu dan setiap kali ada penolakan darinya atau penolakan salah satu poin!

Melanggar perjanjian, arogansi, kesombongan dan tidak peduli orang lain dan bekerja memeras mereka menjadi ciri melekat pada Amerika. Semua perkara ini termasuk faktor-faktor kejatuhan Amerika cepat atau lambat… Dan Daulah al-Khilafah ar-Rasyidah akan kembali menyiapkan posisi sebagai negara adidaya dengan izin Allah untuk menegakkan keadilan, menjaga perjanjian, menyebarkan petunjuk, membenarkan yang haq dan membatilkan yang batil agar umat manusia merasakan kebahagiaan dan ketenangan dalam keamanan dan rasa aman di semua bidang. Rasulullah saw telah memberi kabar gembira dengannya setelah penguasa diktator ini.

«ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ»، رواه أحمد عن حذيفة رضي الله عنه

“… kemudian ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian” (HR Ahmad dari Hudzaifah ra).

Dan Allah Maha Perkasa atas yang demikian.

2 Syawal 1439 H

16 Juni 2018 M

http://hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer/political-questions/53081.html

%d blogger menyukai ini: